*tulisan ini tidak hanya pengalaman saya sebagai pengulas tetapi juga pelamar di beberapa perusahaan teknologi informasi ternama nasional maupun internasional, tentu saja kritik dan saran tetap diperlukan untuk memberikan wawasan yang lebih baik bagi para pembaca
Code Submission adalah salah satu tahap lain dari seleksi proses lamar pekerjaan yang biasa melibatkan pemecahan masalah dan pembuatan skrip code. Jika ada pelamar yang tidak bisa menyelesaikannya, tentu saja membuat tanda tanya besar dari seluruh proses belajar teknologi informasi si pelamar. Biasanya kondisinya adalah sebagai berikut: 1. Pelamar telah lulus seleksi administrasi dan CV (ini artinya para pelamar sudah menarik hati pengulas, selamat!) 2. Pelamar diberikan beberapa permasalahan untuk diselesaikan. 3. Pelamar diberikan batas waktu untuk mengumpulkan penyelesaian permasalahan tersebut. 4. Penerima lamaran akan melihat dan mencoba menjalankan code penyelesaian permasalahan tersebut. 5. Penerima lamaran akan mengevaluasi hasil code penyelesaian permasalahan tersebut dan menentukan apakah pelamar bisa lulus tahap selanjutnya. Untuk format code Format code submission yang pernah saya alami adalah: A. Pengumpulan source code via email dan menjalankannya di mesin lokal saya (poin ini saya terapkan di tempat saya bekerja sebelumnya, karena kekurangan tenaga dan waktu untuk menerapkan format seperti poin C). B. Pengumpulan yang mengharuskan pelamar membuat code submission di situs tantangan penyelesaian permasalahan daring. C. Pengumpulan code submission seperti poin 2 ditambah wawancara via telepon (sebenarnya saya lebih suka yang format ini). TIPS dan TRIK 1. Jika rekan-rekan sedang bekerja/kuliah ketika hendak menyelesaikan permasalahan tersebut, perhatikan batas waktu yang diberikan. Kerjakanlah penyelesaian permasalahan tersebut ketika pikiran sedang tenang, jangan terburu-buru. 2. Baca/dengarkan instruksi dari permasalahan yang ada dengan baik, cermat, dan teliti. Saya ulangi lagi, DENGAN BAIK, CERMAT DAN TELITI. Beberapa code yang saya terima tidak berhasil menyelesaikan permasalahan yang diberikan atau melewatkan poin-poin kecil sehingga ketika dieksekusi, hasilnya tidak sesuai harapan. 3. Setelah source code selesai, pastikan rekan-rekan memiliki waktu untuk mengulasnya kembali sebelum dikumpulkan. Silakan lakukan debug dengan baik sehingga tidak ada kesalahan penyelesaian masalah. 4. Gunakan komentar-komentar sederhana di dalam source code untuk menjelaskan alur logika yang digunakan di dalam penyelesaian permasalahan. Pada hakikatnya, sebagai pengulas, saya tidak terlalu peduli mengenai penulisan komentar ini asalkan alur logika dari kode yang dituliskan jelas namun tidak semua pelamar menuliskan alur logika dalam code dengan baik dan membuat saya bertanya-tanya mengapa begini dan begitu. 5. Melihat inspirasi dari internet tidak masalah tetapi PLAGIASI adalah masalah. Masalah. Besar. Kemampuan untuk mencari informasi di mesin pencari memang penting bagi generasi saat ini tetapi masalah yang diberikan jarang (atau hampir tidak pernah, kecuali beberapa kasus posisi tertentu) membutuhkan inspirasi yang dominan dari internet. Ketika mesin pencari bisa membantu rekan-rekan mencari kode sumber di internet, apakah para pengulas tidak bisa menggunakannya untuk memeriksa kode sumber rekan-rekan? Jika ada yang ingin bertanya-tanya, memberi kritik dan saran, silakan dikomentari. Terima kasih. Semangat |
Minggu, 10 September 2017
Tips dan Trik - Tes Coding untuk Melamar Pekerjaan
Tips dan Trik - Membuat CV
*tulisan didasarkan pengalaman saya sebagai pembaca lamaran pekerjaan yang diajukan, kritik dan saran tentu saja diharapkan karena saya sedang belajar juga. Mayoritas saya juga lumayan (lelah) dengan beberapa lamaran yang tidak sesuai standar saya.
Semangat
KONTEN
- IPK dan Kampus.
Saya akan jarang melihat angka IPK dan kampus rekan-rekan di CV. Tentu saja angka IPK nol koma atau satu koma akan menimbulkan pertanyaan besar. Tetapi saya ingin melihat bagaimana performa rekan-rekan di dalam CV tersebut. Apakah pengalaman dan proyek-proyek tersebut signifikan dan membuat saya tertarik? Ceritakanlah dalam CV rekan-rekan. Tidak punya pengalaman atau proyek yang dibanggakan? Terpaksa saya harus melihat IPK, kampus, dan transkrip untuk mengira-ngira apa yang bisa rekan-rekan unggulkan. - Riwayat Pendidikan.
Saya jelas tidak akan melihat rekan-rekan dari SD, SMP, atau SMA/SMK mana atau lulus kapan dan seterusnya. Namun, jika rekan-rekan dari SMA/SMK sudah memiliki sesuatu yang terkait dengan pekerjaan yang dilamar dan akan membuat saya tertarik, silakan dituliskan! - Proyek pekerjaan atau Tugas yang Diunggulkan.
Judul saja tidak akan membuat saya terkesima! Ceritakanlah teknologi yang digunakan, bagaimana efektivitas proyek rekan-rekan, yang penting tentu saja peran rekan-rekan dalam tim! Penggunaan angka atau metrik lainnya akan memudahkan saya mendapatkan gambaran mengenai performa rekan-rekan.
Contoh:
Implementasi Basis Data MySQL untuk Proses Isi Data Anamnesis di RS X
- Peran: Programmer UI, Desainer Kueri
- Penggunaan UI PHP 5.x dengan form x, y, z
- Implementasi kueri kompleks dan view yang melibatkan 8 tabel
- Menyangkilkan proses bisnis dari manual 30 detik menjadi 10 detik - Kepribadian.
"Saya tipe pekerja tim","Saya mampu bekerja di bawah tekanan","Saya pekerja keras". Tentu hal ini akan menghabiskan ruang. Hal-hal tersebut akan tergambar di proyek pekerjaan rekan-rekan. Dan sayangnya, saya tidak terlalu suka melihat tulisan seperti itu di CV. - Riwayat Organisasi.
Sebutkan yang relevan dengan pekerjaan atau paling tidak menggambarkan kepribadian rekan-rekan. Ketua organisasi tentu akan membuat saya tertarik, tetapi jabatan lain juga bisa membuat saya tertarik. Contoh:
Anggota bidang eksternal Himpunan Mahasiswa X
- Mengadakan kunjungan berbasis pengetahuan IT ke 3 himpunan kampus lain, salah satu temanya: Cloud Computing
- Menuliskan artikel mengenai Pro Kontra UU ITE dan dimuat di 20 ormawa internal kampus dan di media massa lokal. - Keterampilan dan Kemampuan.
Aplikasi Perkantoran? (YES jika melamar sebagai administrasi, NO untuk programmer), Basic Networking (ABSOLUTELY YES untuk programmer dan IT Support). TOEFL ITP? Tuliskan skornya. Bahasa Asing lain? Tuliskan tingkat penguasaannya (pemula, menengah, ahli). Bahasa pemrograman terentu? Tuliskan penguasaannya di bidang apa (contoh: mikrokontroler, program sederhana, pengolah citra). Tuliskan yang relevan terhadap pekerjaan. - Prestasi.
Tentu saja tuliskan prestasi yang relevan terhadap pekerjaan yang dilamar. Penerima beasiswa? Tentu itu prestasi. Tuliskan! - Dan yang paling penting: JUJUR!
PENULISAN
- Pastikan tidak ada salah eja, huruf besar, huruf kecil, tanda baca. Kesalahan eja atau tanda baca sesedikit mungkin bisa membuat saya membuang CV rekan-rekan begitu saja.
- Satu halaman lebih baik daripada dua halaman. Sesingkat mungkin dan informatif. Tiga halaman atau lebih (kecuali benar-benar MENARIK), sudah dijamin tidak saya baca.
- Kalimat penjelasan masing-masing poin dari proyek maupun pengalaman diharapkan cukup dibentuk dalam 3 poin, dan masing-masing poin cukup 1 baris.
- Gunakan fontasi yang wajar. TNR tidak disarankan untuk digunakan. Saya lebih suka fontasi tipe Sans untuk CV karena bersifat non tulisan panjang. Ukuran 10-11 untuk konten oke, 11-12 untuk judul bagian oke, 14 untuk nama oke.
- Baca lagi, lagi, lagi, dan lagi. Tanyakan kepada diri sendiri apakah CV rekan-rekan sudah layak untuk dibaca para pengulas.
(Tambahan, tidak ada di status Facebook) - Bahasa. If you are confident enough to use English, use it! Don't forget to proofread it. If you are not really confident enough, don't even try. Any error could make your CV directly thrown in the trash can.
- Desain. Saya cenderung lebih suka format dua kolom (kiri judul bagian, kanan isi) atau satu kolom saja (berbentuk daftar biasa), polos, dan hitam putih. Jika ingin diberi warna, tolong jangan berlebihan. Jika berbakat desain, gunakan desain yang menyejukkan mata. Jika ingin menambahkan ornamen (walaupun tidak disarankan), buatlah ornamen tersebut mendukung kemudahan membaca.
Semangat
Kamis, 07 September 2017
Mereka yang Merantau, Mereka yang Merindu
By Hani Ramadhan23.00doktoral, Facebook Post, motivasi, perjalanan, perjuangan, perpisahan, uneg-unegNo comments
*tulisan ini berdasarkan hasil pemikiran pribadi dan muncul dari kisah-kisah kawan seperjuangan, jika memang ada yang tersinggung mohon dimaafkan
"Selamat ya, bisa berangkat ke luar negeri"
"Titip kamu selamat aja deh"
"Semoga perjalanannya berkah dan bisa membawa manfaat"
"Ingat untuk pulang ya"
....
Alhamdulillah banyak ucapan doa yang menyertai kepergian insan Indonesia yang memilih untuk menjejakkan kaki ke luar tanah air ini. Untaian kata ini juga berlaku kepada mereka yang disertai takdir-Nya melepas tatapan keseharian dengan keluarga mereka terutama orang tua. Orang tua yang selalu kita kecup tangannya setiap hari ketika akan bertolak dari pintu rumah kita yang sederhana.
Ketika lepas dari beliau-beliau beberapa hari kemudian, mereka yang beranjak dari kampung halaman terpaut dengan segala tugas, tumpukan pekerjaan, rangkaian skenario eksperimen, atau lautan artikel ilmiah untuk disantap. Mereka yang serius mengerjakan itu tiba-tiba merasa ada perasaan aneh di dalam hati. Rasa penasaran. "Bapak di rumah bagaimana ya kabarnya? Ibu sehat-sehat tidak ya? Adik sekolahnya lancar tidak ya?"
Mereka khawatir terhadap keadaan keluarga yang mewarnai hidupnya sehari-hari. Perasaan kosong. Galau. Ya, mereka merindu. Merindukan memberi ucapan salam ketika datang ke rumah entah setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Sekali lagi, ada mereka yang tak bisa pulang dalam waktu yang mudah ditentukan. Bisa jadi baru bisa pulang 6 bulan kemudian, 1 tahun lagi, 2 tahun? Atau malah tidak ada yang tahu.
Teknologi yang canggih pun rasanya tak mampu melipur lara akibat rindu. Meski mereka melihat wajah ayah dan ibu di layar ponsel, kadang terpikir, "kapan aku pulang ya?" Berkhayal mencium pipi dan mengelus tangan yang semakin keriput dan ringkih itu. Berharap ketika mereka menyelesaikan perjuangan, sosok idaman yang memberi naungan sejak kecil itu berada di depan mereka.
--
Rindu itu menyulitkan. Rindu itu menyesakkan. Rindu itu membuat air mata kita jatuh di tiap malam. Namun, kawan, ingatkah engkau? Akan janji Tuhan yang tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya?
Kawan, jika memang rindu itu membuat kita merasa berat, maka mungkin kerinduan itu adalah salah satu ujian. Mungkin kerinduan itu adalah salah satu cara Allah untuk menunjukkan bagaimana membuat kita bisa menyampaikan kasih sayang kita terhadap orang tua dengan lebih indah dengan jarak yang jauh.
Sampaikanlah cintamu, kasih sayangmu, harapanmu lewat manapun. Namun, tentu kita ingat yang utama, bagaimana skenario kita sampai di titik perjuangan kita ini. Titipkan semua itu ke sutradara utama kisah-kisah ini, melalui sujud yang bahkan kita usahakan dengan keras. Melalui doa-doa yang kita alirkan tiap malam, pagi, siang, dan sore. Hadirkanlah cinta dan cita itu di tiap titik peluh di kursi kuliah kita, di lelahnya mata kita pada baris-baris kata pada tumpukan artikel itu, dan di kilatan-kilatan tiap titik di layar komputer itu. Kuatkan hati, sampaikan rindu, titipkan cinta.
Salam,
Dari saya yang juga sedang berjuang bersama kerinduan.
"Selamat ya, bisa berangkat ke luar negeri"
"Titip kamu selamat aja deh"
"Semoga perjalanannya berkah dan bisa membawa manfaat"
"Ingat untuk pulang ya"
....
Alhamdulillah banyak ucapan doa yang menyertai kepergian insan Indonesia yang memilih untuk menjejakkan kaki ke luar tanah air ini. Untaian kata ini juga berlaku kepada mereka yang disertai takdir-Nya melepas tatapan keseharian dengan keluarga mereka terutama orang tua. Orang tua yang selalu kita kecup tangannya setiap hari ketika akan bertolak dari pintu rumah kita yang sederhana.
Ketika lepas dari beliau-beliau beberapa hari kemudian, mereka yang beranjak dari kampung halaman terpaut dengan segala tugas, tumpukan pekerjaan, rangkaian skenario eksperimen, atau lautan artikel ilmiah untuk disantap. Mereka yang serius mengerjakan itu tiba-tiba merasa ada perasaan aneh di dalam hati. Rasa penasaran. "Bapak di rumah bagaimana ya kabarnya? Ibu sehat-sehat tidak ya? Adik sekolahnya lancar tidak ya?"
Mereka khawatir terhadap keadaan keluarga yang mewarnai hidupnya sehari-hari. Perasaan kosong. Galau. Ya, mereka merindu. Merindukan memberi ucapan salam ketika datang ke rumah entah setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Sekali lagi, ada mereka yang tak bisa pulang dalam waktu yang mudah ditentukan. Bisa jadi baru bisa pulang 6 bulan kemudian, 1 tahun lagi, 2 tahun? Atau malah tidak ada yang tahu.
Teknologi yang canggih pun rasanya tak mampu melipur lara akibat rindu. Meski mereka melihat wajah ayah dan ibu di layar ponsel, kadang terpikir, "kapan aku pulang ya?" Berkhayal mencium pipi dan mengelus tangan yang semakin keriput dan ringkih itu. Berharap ketika mereka menyelesaikan perjuangan, sosok idaman yang memberi naungan sejak kecil itu berada di depan mereka.
--
Rindu itu menyulitkan. Rindu itu menyesakkan. Rindu itu membuat air mata kita jatuh di tiap malam. Namun, kawan, ingatkah engkau? Akan janji Tuhan yang tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya?
Kawan, jika memang rindu itu membuat kita merasa berat, maka mungkin kerinduan itu adalah salah satu ujian. Mungkin kerinduan itu adalah salah satu cara Allah untuk menunjukkan bagaimana membuat kita bisa menyampaikan kasih sayang kita terhadap orang tua dengan lebih indah dengan jarak yang jauh.
Sampaikanlah cintamu, kasih sayangmu, harapanmu lewat manapun. Namun, tentu kita ingat yang utama, bagaimana skenario kita sampai di titik perjuangan kita ini. Titipkan semua itu ke sutradara utama kisah-kisah ini, melalui sujud yang bahkan kita usahakan dengan keras. Melalui doa-doa yang kita alirkan tiap malam, pagi, siang, dan sore. Hadirkanlah cinta dan cita itu di tiap titik peluh di kursi kuliah kita, di lelahnya mata kita pada baris-baris kata pada tumpukan artikel itu, dan di kilatan-kilatan tiap titik di layar komputer itu. Kuatkan hati, sampaikan rindu, titipkan cinta.
Salam,
Dari saya yang juga sedang berjuang bersama kerinduan.
Rabu, 06 September 2017
Catatan Seorang Mahasiswa - Tiba di Busan
By Hani Ramadhan06.26Busan, doktoral, kampus, kehidupan, korea selatan, mahasiswa, pendidikan, perjalanan, perjuanganNo comments
Alhamdulillah, akhirnya sampai di Busan. Kata pertama yang diramu dengan kepanikan dan gempar penasaran untuk menanti bagaimana kuliah doktoral di negeri ginseng ini. Di bandar udara Gimhae, saya menjejakkan kaki bersama dua orang mahasiswa baru PNU (Pusan National University) lainnya, Lucy dan Betha. Kami disambut oleh hawa dingin berselimut awan mendung padahal ketika itu waktunya musim panas. Beruntung, pakaian tebal luar biasa sangat membantu pertahanan tubuh yang ringkih ini.
Menunggu tidak cukup lama, kami (secara terpisah, karena ada beberapa pembagian kelompok penjemputan berdasarkan informasi dari kantor internasional PNU) segera bertolak ke PNU untuk segera beristirahat di asrama. Menumpang taksi yang cukup mewah dari bandara, saya duduk di belakang bersama koper (terdengar menyedihkankah?). Perjalanan terasa sangat.... menegangkan. Manuver pak sopir demikian membuat detak jantung sedikit naik tingkat. Alhamdulillah jantung saya sudah cukup terlatih menghadapi gaya mengemudi yang lebih menguras adrenalin di ibukota. Sedemikian hingga, saya pun tiba di depan persimpangan asrama bersama rombongan.
Di kantor pengambilan kartu asrama sementara, sekali lagi, rasa khawatir menghampiri perasaan saya. Nama saya tidak ditemukan di daftar penghuni asrama! (Laa ilaa haillallah, apa pulang kali yah, uang masih cukup untuk beli tiket sepertinya, he he.) Didampingi ahjussi yang juga panik karena nama saya tidak ada, saya pergi ke kantor asrama yang berada di depan kantor pengambilan kartu. Dan, gadis yang melayani kami kebetulan cukup bernada tinggi, "Kok tidak melihat nomor kamarnya sih?" Saya hanya diam dan berdoa agar segera diberi solusi. Seorang bapak staf yang berada di depan komputer menanyakan nomor pendaftaran saya dan langsung dicek di sistem. Eh, ternyata yang muncul seharusnya nama belakang duluan. Sebagai informasi daftar namanya ditulis di Hangeul: RAMADHAN HANI -> 라마단 하니, seharusnya HANI RAMADHAN -> 하니 라마단. Yak kesan pertama di Korea Selatan, sukses bikin panik seorang bapak tua yang baik dan seorang gadis sedikit naik darah.
Singkat cerita, di asrama Jilli cukup nyaman (walau sempit, kamar mandi luar, tempat pancuran berbagi dengan 5 bilik lainnya dengan sekat tak menutup [ehm, jangan tanya bagaimana saya mandinya, tolong, dimohon-dengan-sangat]), dan saya beristirahat dengan tenang. Siangnya, saya diajak oleh Evy, mahasiswi master teknik lingkungan di PNU yang sudah berada di Korea Selatan sejak tahun lalu. Evy adalah seorang penerima beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program), beasiswa yang memberikan kesempatan untuk berkuliah di Korea Selatan dengan biaya pemerintah Korea Selatan dengan tambahan 1 tahun di awal untuk belajar bahasa Korea. Sehingga, bahasa Korea Evy cukup lancar. Saya? Berucap nasi goreng aja memicingkan mata di huruf Hangeul sampai bengong berlama-lama, cuma bisa berkata "Annyeong, gamsahamnida" saja. Makanan halal bagaimana? Saya sangat terselamatkan dengan restoran cepat saji yang menyediakan nasi lauk ikan dengan sayur sederhana yang bisa dijangkau 5 menit berjalan kaki dari lab. Sisanya? Saya berusaha mengernyitkan dahi di hadapan huruf Hangeul yang berdoa tidak ada kandungan babi, ayam, sapi, kambing, gelatin, dan rekan-rekannya (mendadak vegetarian dan pemakan ikan).
Bagaimana kuliah dan risetnya? Kuliah baru berjalan di tanggal 4 September 2017 dan saya mengambil 4 mata kuliah, yakni Big Data Processing, Big Data Analytics, Bahasa Korea untuk Pemula, dan Etika Riset. Kedua mata kuliah pertama tersebut sudah saya jalani dan cukup menyenangkan. Sangat terkait dengan minat saya dan membuat saya penasaran mengenai beberapa hal di bidang pengolahan data. Risetnya? Saya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari profesor pembimbing saya. Kebetulan, kedatangan saya bersamaan dengan kedatangan tawaran proyek-proyek yang terkait dengan laboratorium saya (kedua hal ini memiliki nilai fakta namun tidak berhubungan). Sehingga, saya cukup menunggu waktu untuk dimanfaatkan tenaganya secara maksimal, atau mungkin lebih dari maksimal. Bismillah, mohon doanya semoga perjalanan kami semua untuk menuntut ilmu ini diberikan berkah oleh Allah subhanahu wa ta'aala.
Aaamiiin.
Busan, di sudut tempat tidur kamar lantai enam gedung asrama yang paling tinggi
nb: Pemandangan matahari terbit di atap gedung bagus lho (kalau cerah)
Menunggu tidak cukup lama, kami (secara terpisah, karena ada beberapa pembagian kelompok penjemputan berdasarkan informasi dari kantor internasional PNU) segera bertolak ke PNU untuk segera beristirahat di asrama. Menumpang taksi yang cukup mewah dari bandara, saya duduk di belakang bersama koper (terdengar menyedihkankah?). Perjalanan terasa sangat.... menegangkan. Manuver pak sopir demikian membuat detak jantung sedikit naik tingkat. Alhamdulillah jantung saya sudah cukup terlatih menghadapi gaya mengemudi yang lebih menguras adrenalin di ibukota. Sedemikian hingga, saya pun tiba di depan persimpangan asrama bersama rombongan.
Di kantor pengambilan kartu asrama sementara, sekali lagi, rasa khawatir menghampiri perasaan saya. Nama saya tidak ditemukan di daftar penghuni asrama! (Laa ilaa haillallah, apa pulang kali yah, uang masih cukup untuk beli tiket sepertinya, he he.) Didampingi ahjussi yang juga panik karena nama saya tidak ada, saya pergi ke kantor asrama yang berada di depan kantor pengambilan kartu. Dan, gadis yang melayani kami kebetulan cukup bernada tinggi, "Kok tidak melihat nomor kamarnya sih?" Saya hanya diam dan berdoa agar segera diberi solusi. Seorang bapak staf yang berada di depan komputer menanyakan nomor pendaftaran saya dan langsung dicek di sistem. Eh, ternyata yang muncul seharusnya nama belakang duluan. Sebagai informasi daftar namanya ditulis di Hangeul: RAMADHAN HANI -> 라마단 하니, seharusnya HANI RAMADHAN -> 하니 라마단. Yak kesan pertama di Korea Selatan, sukses bikin panik seorang bapak tua yang baik dan seorang gadis sedikit naik darah.
Singkat cerita, di asrama Jilli cukup nyaman (walau sempit, kamar mandi luar, tempat pancuran berbagi dengan 5 bilik lainnya dengan sekat tak menutup [ehm, jangan tanya bagaimana saya mandinya, tolong, dimohon-dengan-sangat]), dan saya beristirahat dengan tenang. Siangnya, saya diajak oleh Evy, mahasiswi master teknik lingkungan di PNU yang sudah berada di Korea Selatan sejak tahun lalu. Evy adalah seorang penerima beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program), beasiswa yang memberikan kesempatan untuk berkuliah di Korea Selatan dengan biaya pemerintah Korea Selatan dengan tambahan 1 tahun di awal untuk belajar bahasa Korea. Sehingga, bahasa Korea Evy cukup lancar. Saya? Berucap nasi goreng aja memicingkan mata di huruf Hangeul sampai bengong berlama-lama, cuma bisa berkata "Annyeong, gamsahamnida" saja. Makanan halal bagaimana? Saya sangat terselamatkan dengan restoran cepat saji yang menyediakan nasi lauk ikan dengan sayur sederhana yang bisa dijangkau 5 menit berjalan kaki dari lab. Sisanya? Saya berusaha mengernyitkan dahi di hadapan huruf Hangeul yang berdoa tidak ada kandungan babi, ayam, sapi, kambing, gelatin, dan rekan-rekannya (mendadak vegetarian dan pemakan ikan).
Bagaimana kuliah dan risetnya? Kuliah baru berjalan di tanggal 4 September 2017 dan saya mengambil 4 mata kuliah, yakni Big Data Processing, Big Data Analytics, Bahasa Korea untuk Pemula, dan Etika Riset. Kedua mata kuliah pertama tersebut sudah saya jalani dan cukup menyenangkan. Sangat terkait dengan minat saya dan membuat saya penasaran mengenai beberapa hal di bidang pengolahan data. Risetnya? Saya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari profesor pembimbing saya. Kebetulan, kedatangan saya bersamaan dengan kedatangan tawaran proyek-proyek yang terkait dengan laboratorium saya (kedua hal ini memiliki nilai fakta namun tidak berhubungan). Sehingga, saya cukup menunggu waktu untuk dimanfaatkan tenaganya secara maksimal, atau mungkin lebih dari maksimal. Bismillah, mohon doanya semoga perjalanan kami semua untuk menuntut ilmu ini diberikan berkah oleh Allah subhanahu wa ta'aala.
Aaamiiin.
Busan, di sudut tempat tidur kamar lantai enam gedung asrama yang paling tinggi
nb: Pemandangan matahari terbit di atap gedung bagus lho (kalau cerah)
Rabu, 06 Januari 2016
Cerpen: Nina Kecil Sekolah di Indonesia
“Waaaaah, kita sudah sampai di
Indonesia, Yah, Ibu!” sahut Nina dengan riang. Hamparan aspal luas
dan rerumputan hijau yang rata menyambut pendaratan burung besi yang
ditumpanginya. Jajaran huruf “SOEKARNO HATTA” turut mengiringi
arah pandangan Nina. Di dalam pesawat, Nina duduk di samping jendela.
Posisi ini didapatnya setelah bertukar tempat duduk dengan sang Ayah.
Tidak lama kemudian, kakak pramugari manis membantu rombongan kecil
itu turun dari pesawat. Yah, akhirnya kakak pramugari itu berhasil
menenangkan tingkah gadis 8 tahun itu. Nina tampaknya sedikit terlalu
bersemangat sampai di Indonesia.
Ayah
Nina dengan sigap mengambil koper yang disimpan di rak di atas tempat
duduk mereka. Ayah Nina berperawakan tinggi tetapi tidak terlalu
besar, tidak kurus dan juga tidak terlalu gendut. Rambut Ayah Nina
sudah mulai menipis namun masih sering dimainkan Nina. Sedangkan, Ibu
Nina sendiri adalah seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang
tergerai dengan garis wajah keibuan yang kentara di pipinya. Tinggi
Ibu Nina hanya sekitar berbeda 5 sentimeter dengan Ayah Nina. Nina,
buah hati mereka, tingginya mencapai sepinggang Ibunya lebih sedikit.
Mata Nina terlihat besar dengan lesung pipit dan pipinya yang tembem.
Mereka bergantian menyalurkan bawaan mereka dan berjalan di antara
kursi-kursi pesawat menuju pintu keluar.
Tidak lama, jejak langkah
keluarga kecil tersebut menjauh dari pesawat. Lalu, Nina menoleh lagi
ke belakang. Senyum si pramugari terlihat semakin kecil dari lambaian
tangan Nina. Tatkala tiba di gedung bandar udara, tiga pasang kaki
itu langsung menuju arah imigrasi dengan paspor Indonesia. Selesai
urusan di imigrasi, mereka pun dinyatakan sebagai orang yang resmi
kembali pulang di tanah air. Mereka semua siap menjalani hidup baru
di Indonesia setelah banyak kenangan indah yang terjadi selama 3
tahun di negeri Heksagon, Prancis.
***
“Nina?
Nanti malam mau Ibu masakkan apa?” tanya Ibu Nina kepada Nina.
“Mmmmmm,
Nina mau makan rawon boleh, Bu?” jawab Nina.
“Eh,
jangan Bu. Kemarin sudah soto, jangan masakan Indonesia lagi. Nanti
bumbunya cepat habis,” tiba-tiba ralat Nina dengan cepat. “Sup
ayam saja, Bu.”
“Oke,
Ayah juga mau, kan ya?” Tanya Ibu Nina kepada Ayah Nina.
“Apapun
yang Ibu masak, ayah pasti akan makan!” Sahut Ayah Nina
bersemangat.
Pembicaraan pagi hari di sudut
apartemen kecil itu mewarnai kehidupan keluarga kecil itu selama 3
tahun. Topiknya pun beragam, mulai dari menu makan malam, kegiatan
Ibu di siang hari, pelajaran Nina hari itu, rencana liburan ke luar
kota, kehebohan persiapan sidang penentuan kelulusan sang Ayah dari
studi doktoralnya, sampai rencana kepindahan keluarga kecil itu ke
Indonesia. Bagi keluarga tersebut, kesederhanaan dialog pagi tersebut
mengalahkan kemegahan menara Eiffel. Meskipun menara Eiffel bisa
mereka lihat setiap hari ketika naik bus menuju sekolah Nina atau
menuju kampus Ayah.
Ketika
baru saja tiba di Prancis, memang semua tidak berjalan lancar. Nina
merengek minta pulang tidak ada habisnya saat mendapati di Prancis
tidak ada nasi. Untungnya, perkara nasi ini baru terselesaikan ketika
Ibu Nina menemukan toko yang menjual beras kiloan seminggu kemudian.
Di kemudian hari, tangisan Nina
semakin menjadi ketika Nina mengamuk meminta nogosari2,
cemilan favoritnya.
Tentu saja makanan khas Indonesia itu hampir tidak bisa ditemukan di
Prancis, kecuali dibuat sendiri. Alhasil, dengan susah payah, Ibu dan
Ayah Nina berhasil membuat nogosari
ala kadarnya di akhir minggu. Bisa dibilang prestasi Ibu dan Ayah
Nina dalam membuat nogosari
cukup membanggakan.
Meskipun nogosari
buatan sendiri itu berbungkus kertas aluminium, beradonan tepung
beras terlalu lembek di sana-sini, dan berpisang tidak sama dengan
yang di Indonesia, Nina akhirnya maklum dengan usaha orang tuanya
itu.
“Enak
kok, Ayah, Ibu! Nina suka! Kapan-kapan buat lemper3
ya!” kata Nina.
Kedua orang tua Nina hanya saling menatap dan menghela napas panjang.
***
Seminggu
setelah tiba di Indonesia, saatnya Nina masuk sekolah sebagai murid
kelas 3 SD. Masuk SD bukan merupakan hal sulit bagi Nina karena
berbagai hal merepotkan sudah diurus oleh Ibu Nina di Prancis dan
Paman Egi di Indonesia. Mereka percaya usaha mereka akan membuahkan
hasil. Dan akhirnya, Nina dinyatakan secara resmi masuk ke SD Swasta
yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahnya.
Sehari
sebelum berangkat sekolah, Ibu Nina memeriksa jadwal pelajaran Nina
untuk hari pertama sekolah. Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran,
Matematika 1 jam pelajaran, istirahat, dan, Agama 2 jam pelajaran.
Dalam pikiran Ibu Nina, Bahasa Indonesia sepertinya tidak ada
masalah, mungkin hanya perbedaan pelafalan huruf “R” dan
mengikuti pelajaran sedikit. Di Prancis, Ibu Nina juga sudah banyak
mengajarkan cara membaca dan membentuk kalimat untuk Nina. Matematika
juga seharusnya Nina sangat cerdas menghitung, pikir Ibu Nina.
“Hmmmm….
Agama Islam ya?” ucap Ibu Nina lirih. “Nina, ke sini sebentar,
Nak!” sahut Ibu Nina.
“Iya,
Bu?” Tanya Nina ketika bergegas masuk ke kamarnya.
“Nina,
besok kan ada pelajaran Agama Islam. Di sekolah Nina yang lama kan
tidak ada,” ujar Ibu. “Nina, dengarkan pesan Ibu untuk besok,
ya.”
“He
em,” angguk Nina.
“Nina,
besok bawa kerudung untuk pelajaran Agama Islam, dipakainya ya ketika
pelajaran Agama Islam. Lalu, jika ada yang Nina tidak tahu, ditulis
dulu di kertas untuk ditanyakan ke guru Agama Islam. Ditanyakannya
nanti saja, ketika pelajaran selesai, datang ke gurunya. Kan
Agama Islam juga jam
terakhir, jadi bisa saat pulang. Jika Nina ditanyai guru tentang
sesuatu yang Nina tidak tahu atau belum pelajari, bilang saja ‘Maaf
Bapak atau Ibu, saya belum belajar mengenai hal itu’. Mengerti?”
ucap Ibu Nina menjelaskan panjang.
“Hm,
iya, Bu. Nina mengerti. Besok Nina lakukan, Bu,” angguk Nina lagi.
“Sip,
Nak. Besok ketika pulang cerita ke Ibu ya, bagaimana sekolahnya,”
pinta sang Ibu.
“Siap,
Bu!” sahut Nina bersemangat. “Nina boleh pergi lagi?”
“Iya,
main lagi, ya!”
Ibu
Nina merasa lega Nina paham dengan pesannya. Nina pun juga tidak
kalah berdebar-debar menghadapi esok hari. Apakah Nina akan memiliki
teman-teman yang baik, apakah gurunya juga baik, apakah makanannya
enak. Semua misteri itu akan terjawab esok harinya.
***
Hari
itu, Nina mengenakan baju putih-merah ketika tiba di sekolah. Namun,
pola dari baju Nina sedikit berbeda dengan anak-anak sebayanya di
sekolah itu. Rasa kurang percaya diri muncul di diri Nina. Tetapi,
setelah melihat senyum ibunya, Nina merasa semuanya akan baik-baik
saja.
Sebelum
masuk kelas, Nina diantarkan ibunya ke ruang tata usaha dan
dikenalkan dengan beberapa guru, termasuk wali kelasnya, Bu Ratih. Bu
Ratih kemudian mengantarkan Nina ke ruang kelasnya di lantai dua. Bu
Ratih sedikit menerangkan ke Nina bahwa muridnya ada 23 anak.
Ditambah Nina, akan menjadi 24 anak. Dan, perkenalan pun dimulai.
“Selamat
Pagi, perkenalkan nama saya Nina Prayogi. Saya biasa dipanggil Nina,”
begitulah pengumuman Nina di depan kelas dengan logat yang kaku dan
berbeda.
“Halo
Nina!” Ujar seisi kelas.
“Nina,
kamu duduk di sebelah Risa, ya!” Kata Bu Ratih sambil menunjuk
bangku kosong di sebelah anak berkerudung.
Nina berjalan ke arah bangku
tersebut sambil menenteng tasnya. Tiba-tiba dia diajak bicara oleh
Risa.
“Halo,
Nina, aku Risa,” kata Risa tersenyum untuk membuka pembicaraan.
“Halo,
Risa. Saya Nina,” balas Nina sambil tersenyum pula.
Selepas
itu, Bu Ratih menjelaskan bahwa Nina adalah pindahan dari Prancis.
Prancis adalah negara yang berkilo-kilometer jauhnya dari sekolah
itu. Prancis terkenal karena keju dan menara Eiffel, serta roti
panjang yang dikenal dengan nama baguette.
Riuh terdengar dari ruang kelas itu. Banyak yang penasaran bagaimana
Prancis, dan begitu juga mengenai Nina.
Pelajaran
Bahasa Indonesia, Matematika, dan jam istirahat berakhir begitu saja.
Nina berhasil mengikuti pelajaran dengan lancar walau tertinggal
beberapa minggu. Meskipun Nina tidak mengetahui beberapa kata-kata
dalam Bahasa Indonesia ketika mengerjakan soal, untunglah Risa baik
hati membantu Nina untuk memahami kata-kata tersebut. Risa berusaha
untuk menjelaskan dengan bantuan bahasa isyarat dan gerakan tubuh.
Tiba
saatnya pelajaran Agama. Nina sebenarnya agak takut mengenai
pelajaran ini, karena ini pelajaran agama Nina pertama kalinya.
Terhitung sekitar 10 anak meninggalkan kelas. Anak-anak ini
meninggalkan kelas karena beragama selain Islam. Sedangkan, siswa
lainnya bersiap untuk pelajaran Agama Islam. Anak laki-laki
mengenakan peci dan yang perempuan mengenakan kerudung, kecuali yang
sudah berkerudung seperti Risa. Tidak sampai dua menit, sesosok
wanita pendek berkacamata namun dengan paras lembut memasuki ruang
kelas Nina.
“Assalamu’alaykum
warahmatullahi wabarakatuh, anak-anak!” sapa orang itu.
“Wa’alaykum
salam warahmatullahi wabarakatuh, Bu Izzah!” balas seluruh kelas,
kecuali Nina yang hanya bisa menyebut salam tanpa sapaan.
“Wah,
kita sepertinya punya murid baru. Perkenalkan diri dulu ya ke Bu
Izzah, silakan, Nak!” kata Bu Izzah menunjuk dirinya dan setelah
itu menghampiri Nina.
Nina menatap Bu Izzah dengan perasaan yang agak grogi. Nina merasa
sedikit canggung dengan kerudung Bu Izzah ini. Bu Izzah ini sangat
terlihat lembut dan sabar. Tetapi, Nina berusaha membuka mulut.
“Bonj…
Eh, halo, Bu Izzah. Nama saya Pra… eh Nina. Nina Prayogi,” kata
Nina terbata-bata.
“Wah,
namanya Nina, ya. Nama saya Izzah. Nur Faizzah. Selamat datang, kalau
ada yang tidak tahu, tanyakan ke Ibu ya?” kata Bu Izzah.
“Iya,
Bu,” kata Nina.
***
“Anak-anak,
sebelum kita mulai pelajaran. Ayo, kita ulang dulu rukun islam dan
rukun iman! Mulai dari Yahya sampai ke Indah!” Kata Bu Izzah
menunjuk anak dari ujung belakang kanan hingga ujung depan kiri. “Ya,
Yahya! Rukun islam pertama!”
“Syahadat,
Bu!” Jawab Yahya berdiri, kemudian duduk.
“Kedua,
salat!” Jawab anak selanjutnya.
Jawaban-jawaban
bermunculan terus hingga giliran Nina, yang mendapatkan jatah
menjawab rukun iman keempat. Keringat Nina bercucuran. Rukun iman dan
islam tidak pernah diketahui oleh Nina sebelumnya. Baik ibu maupun
ayahnya belum pernah memberitahunya ketika di Prancis. Atau mungkin
pernah, tetapi Nina lupa karena terlalu grogi. Ingatan mengenai
kegiatan belajar mengaji di kedutaan besar di Paris tidak membantunya
pula. Kalau mengaji, bolehlah kemampuan Nina diadu.
Risa sebenarnya melihat
ketegangan Nina. Risa mengisyaratkan sesuatu. Namun, terlambat,
giliran Nina sudah sampai terlebih dahulu sehingga Nina. Nina pun
berdiri.
“Ehm…
Mmmm… iman kepada… kepada…,” Nina pun tertunduk malu. “Emm,
Bu Izzah. Maaf, saya be… belum pernah belajar rukun iman.”
Nina
melaksanakan pesan ibunya di hari sebelumnya. Terdengar suara tawa
anak-anak di dalam kelas. Mungkin tidak semua. Ada yang dengan nada
sedikit merendahkan. Juga terdengar sayup-sayup entah dari mana dan
siapa, “Wah, rukun islam dan rukun iman yang mudah itu saja tidak
bisa. Aku sejak TK saja bisa.”
Nina
kembali duduk setelah itu, tertunduk. Risa mengerti apa yang dihadapi
teman barunya. Kemudian, dia menepuk punggung Nina. Lalu, Risa
berkata, “Sabar ya. Teman-teman tidak serius, kok. Sabar, ya.”
“Iya,
Ris-Risa. Ti.. Tidak apa-apa kok,” suara Nina agak bergetar.
Bu
Izzah memandangi Nina dengan tatapan penuh pengertian. Nina tidak
sadar akan hal itu. Bu Izzah lalu meminta Risa menjawab jatah
pertanyaan Nina dan untuk Risa sendiri setelah menghibur Nina.
Risa kemudian berdiri dan
menjawab, “Rukun iman keempat, Iman kepada Rasul. Kelima, Iman
kepada Hari Kiamat.”
Risa kembali duduk. Pelajaran
Agama Islam berlanjut ke sifat-sifat wajib Allah. Nina sudah kembali
siap menerima pelajaran. Dalam pelajaran ini dibahas hanya lima.
Mendengar hal ini, banyak hal muncul dalam benak Nina. Nina
menuliskan semua pertanyaan yang terpikirkan ke atas kertas untuk
ditanyakan nanti ke Bu Izzah.
“Krrrrriiiiiiiing,” bel
sekolah tanda akhir pelajaran berbunyi. Itu tandanya pulang sekolah.
Lima menit sebelumnya Ibu Nina sudah datang ke sekolah untuk
menjemput Nina. Ibu Nina menunggu di depan pintu sekolah.
Risa dan anak-anak lain sudah
mengemasi tas sekolahnya dan beranjak pergi. Nina sengaja
mengakhirkan kepulangannya untuk menanyakan banyak hal ke Bu Izzah.
Bu Izzah juga berniat sama. Bu Izzah ingin mengajak Nina berbicara
lebih banyak mengenai pengalaman bersekolah di Prancis.
“Bu Izzah…”,“Nina...,”
ucap Nina dan Bu Izzah bersamaan.
“Baik, Nina dulu ya?” Tanya
Bu Izzah.
“Iya Bu. Sebelumnya maaf, Bu.
Tadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu.”
“Tidak apa-apa. Ibu maklum kok.
Ibu juga mohon maaf menanyakan hal yang mungkin belum Nina ketahui.”
“Iya Bu, saya ingin tahu rukun
iman dan rukun islam.”
“Iya, Ibu terangkan dulu ya.
Rukun Iman itu ada 6. Yang pertama, iman kepada Allah. Kedua, iman
kepada malaikat. Ketiga, iman kepada Al-Quran. Keempat, iman kepada
rasul. Kelima, iman kepada hari kiamat. Keenam, iman kepada qadha’
dan qadar. Nina paham?”
“Iya, Bu. Boleh lanjut lagi?”
Sebenarnya, muncul
pertanyaan-pertanyaan baru di benak Nina. Hal itu juga dicatat dalam
kertas catatan Nina. Lalu, langsung ditanyakan setelah Bu Izzah
selesai menerangkan rukun islam. Pembicaraan terbuka mulai dari apa
arti iman, islam itu apa, dan tak terasa sudah berlalu 30 menit.
Ibu Nina yang ingin tahu mengapa
Nina sangat lama berada di kelas segera masuk ke dalam gedung
sekolah. Mula-mula, Ibu Nina mengganti sepatu dengan sandal yang
disediakan untuk berkeliling di sekolah di penitipan sepatu. Lalu,
Ibu Nina berjalan ke ruang kelas Nina di lantai dua. Ibu Nina pun
melihat Nina sedang berkerudung dan bercakap-cakap ke seorang guru di
meja guru. Ibu Nina merasa pembicaraan Nina sangat asyik. Dan Ibu
Nina melangkahkan kaki ke dalam kelas dan mengucap,
“Assalamu’alaykum.”
Salam
Ibu Nina dibalas oleh Bu Izzah dan Nina. Ibu Nina mengajak Nina
pulang karena sudah terlalu siang. Bu Izzah memohon maaf kepada Ibu
Nina dan memperkenalkan diri ke Ibu Nina. Bu Izzah menjelaskan kepada
Ibu Nina apa yang mereka sedang diskusikan dan bagaimana tingkah Nina
ketika di dalam kelas. Ibu Nina mengangguk-angguk. Tidak lama
kemudian, mereka berpisah.
“Bagaimana
tadi sekolahnya, Nina?” Tanya Ibu Nina ke Nina.
“Asyik
sekali, Bu! Nina punya teman baru, dan gurunya baik-baik!” jawab
Nina selagi mereka menuruni tangga.
Ibu
Nina mengembalikan sandal sekolah ke penitipan barang dan mengganti
alas kaki ke sepatu lagi. Sedangkan Nina, mengganti sepatu ke lemari
yang khusus disiapkan untuk penitipan sepatu bagi para murid. Nina
mendapati ada surat di dalamnya.
“Nina,
maafkan kami ya. Kami tadi mengejek kamu. Risa tadi memberitahu kami
kalau kamu di Prancis tidak belajar agama islam seperti kami. Besok
kamu mau main ke rumah Indah tidak sepulang sekolah?” tertulis
demikian dalam surat yang diselipkan di bawah sepatu Nina.
Nina
pun tersenyum. Banyak hal yang terjadi selama hanya satu hari di
sekolah barunya. Mulai dari teman baru, guru-guru yang menyenangkan,
terutama kembali ke kue-kue yang Nina senangi. Belum lagi hal baru
yang belum atau jarang Nina pelajari sebelumnya, agama islam. Menurut
Nina, hidup barunya ini akan lebih menyenangkan lagi daripada di
Prancis. Semoga semuanya akan baik-baik saja, pikir Nina.
“Nina,
ayo pulang!” panggil sang Ibu dari ujung pintu.
“Iya,
Bu!” jawab Nina sambil berlari kecil ke arah pintu sekolah.
Begitulah
kedua pasang langkah kaki itu meninggalkan sekolah baru Nina.
Keluarga kecil itu akan mendapat banyak hal yang mewarnai hidup baru
mereka. Berbeda dengan 3 tahun sebelumnya, sebelum berangkat ke
Prancis dan di Prancis. Perbedaan pengetahuan dan pengalaman Nina
malah membuat semua hal yang dihadapinya di Indonesia menyenangkan.
Begitulah hidup baru Nina. Au
révoir!
1Bahasa
Prancis, terjemahan: “Terima kasih! Sampai jumpa, Nyonya!”
2Kue
tradisional khas Indonesia yang berupa kukusan adonan tepung beras
yang berisi pisang dan dibungkus daun pisang
3Kue
tradisional khas Indonesia yang berupa kukusan beras ketan berbentuk
kotak yang biasanya berisi daging
Minggu, 15 Maret 2015
Kelas Inspirasi Sidoarjo-Jawa Timur [2013], Yuk Dayung! #SuperFlashback
Dear All, para pembaca
Berikut penulis ingin mengenang masa-masa riweuh lagi menjad mahasiswa S1 tahun terakhir (yang seharusnya rajin mengerjakan skripsi, tapi malah keluyuran ngalor-ngidul agak tidak jelas) di tahun 2013.
Dalam momen ini, ketika berbicara mengenai anak-anak, pasti cita-cita yang mereka impikan tidak jauh-jauh dari: guru, polisi, dokter, tentara, ustaz, dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya, ada juga lho profesi menarik lainnya, seperti: teknisi lift, pegawai pajak, freelancer, desainer situs, penulis, dosen, ahli pipa, ahli pengelasan bawah laut, dan lain-lain banyaknya. Apa salah kalau si anak-anak yang lucu dan menggemaskan ini mencita-citakan profesi yang sering ditemuinya setiap hari? Tentu tidak. Wujud nyata dari kontribusi bisa menjadi inspirasi, semangat yang tinggi untuk ditularkan ke generasi dini, ya... di sanalah tersebut nama Kelas Inspirasi.
| Logo kelas inspirasi, maaf jika tidak kelihatan, karena memang resminya warnanya putih. |
| Ini yang warnanya oranye |
- jumlah anak dalam 1 sekolah yang bisa dihitung dengan jari....4 orang.
- harus menyeberangi tambak dulu agar sampai ke tujuan.
- berbenah memperbaiki diri.
- dan lain sebagainya.
Persiapan
Di tim KI SDA, beranggotakan segelintir relawan panitia (Penulis, Mas Radite, Mbak Syifa, Mbak Orysa, Mbak Irma, Mbak Shofa, Mas Adit, Mas Azzam, Mbak Fuji, Mbak Ajeng, dan nama-nama lain yang mohon maaf tidak tersebut) harus kalang kabut cari sekolah untuk lokasi Hari Inspirasi, cari relawan untuk mengisi Hari Inspirasi, dan segala macam properti sampai (mungkin) kepala pusing tujuh keliling. Berbekal semangat, bimbingan, cinta edukasi, now-or-never, dan power of kepepet terkumpul sekitar dua puluhan relawan pengajar, belasan relawan fotografer dan videografer. Tugas saya? Desainer, merangkap IT, merangkap hubungan masyarakat, merangkap lain-lain dan merangkap seadanya.
Semua berjalan sedemikian hingga, apa pun, demi terlaksananya pancaran inspirasi untuk anak-anak ini. Mulai dari menyebar poster dan brosur untuk mencari relawan, menyusup ke Car Free Day mencari orang yang berpotensi menjadi relawan, pulang pergi ke Sun City (dari kampus ITS, kalau dari rumah ketahuan bapak ibu dong #eh). Semua pengorbanan itu Lillahi Ta'aala, dalam bentuk yang bermacam-macam (Insyaa Allah).
Tapi berkat kalang kabut persiapan ini, persaudaraan kami masih terjaga lho! :)
[foto menyusul, itu pun kalau ada]
Hari Inspirasi
Ditugaskan di sebuah daerah yang riuh dari kerumunan pabrik, saya bersama partner "keren" dan "kece" dan sangat "kooperatif" (semuanya diberi tanda kutip, Syif) menyerbu SDN Sidomulyo. Berbekal persiapan survey sebelumnya, banyak hal yang kami persiapkan untuk mereka, sampai benih pohon yang nantinya kami gunakan untuk menutup Hari Inspirasi.
|
|
|
|
Mbak Zahroh, Mas Ali, Mas Doddy, Mas Yudha, ternama relawan-relawan pengajar dan relawan fotografer di Kelas Inspirasi Sidoarjo 2013 di SDN Sidomulyo. Diawali dengan upacara bendera memperingati hari Pahlawan, Hari Inspirasi dibuka dengan begitu meriah dilanjutkan dengan senam kompilasi a la Mas Ali.
![]() |
| Upacara Bendera Menyambut Hari Pahlawan 11 November 2013 |
![]() |
| Mas Ali, memimpin "senam" |
Anak-anak, begitu girang dan gemilang, menyambut kedatangan orang-orang asing yang mengajar hal yang berbeda. Kilap seragam putih merah menghambur demikian cantik di dalam arahan dan segala properti milik para relawan pengajar. Keseruan, tangisan, kemanjaan, dan semangat meraih mimpi itu tergambar di wajah riang siswa-siswi SD ini. Benar lho, menangis! Yang entah bagaimana ada seorang siswi yang menangis ketika dr. Zahroh mengajar di dalam kelas. Masing-masing dari kami, relawan panitia, dan dr. Zahroh sendiri bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun, semua itu masih menjadi misteri.
|
|
|
Saya sendiri? Seharusnya berlari ke sana ke mari untuk menangani kebutuhan relawan pengajar, tapi saya malah diseret anak kelas 3 untuk bermain. Ah ya sudah, kan sekali seumur hidup kali ya, pikir saya. Ya, Kelas Inspirasi ditujukan untuk murid-murid kelas 4, 5, dan 6 karena dianggap sudah siap menerima materi inspirasi dari para relawan pengajar. Sedangkan, kelas 1, 2, dan 3 masih butuh perhatian lebih dari gurunya untuk mengejar materi formal.
Apa sih yang diajarkan dari seorang dokter, pegawai pajak, dan teknisi lift? Biologi? Keuangan? Rumus fisika? Tidak, tentu tidak. Seperti terkata sebelumnya, Kelas Inspirasi memberikan wawasan profesi. Jadi, bukan bagaimana sistem tubuh manusia yang sakit harus diobati, tapi bagaimana cara berobat dan mengatur kesehatan yang baik. Bukan bagaimana pajak itu dihitung dari A sampai Z, tapi bagaimana menjadi seorang wajib pajak yang baik dan memberikan kesadaran bahwa membayar pajak itu penting untuk anak-anak. Bukan bagaimana terapan rumus fisika di dalam lift, tapi bagaimana misteri lift bisa naik dan turun dengan hanya perintah tombol dan peran si teknisi tersebut. Berikut properti yang bersangkutan seperti boneka a la pasien dan simulasi lift dari stik es krim.
![]() |
| Mari menanam Pohon! |
![]() |
| Kelas Inspirasi Sidoarjo - SDN Sidomulyo |
Perjalanan Hari Inspirasi ditutup dengan penanaman pohon bersama yang menandakan impian-impian kami (relawan Kelas Inspirasi, pengajar-pengajar SDN Sidomulyo, dan utamanya anak-anak kecil itu) akan tumbuh dengan indah dengan nutrisi yang baik, dan akan memberi manfaat bagi sekitar bak udara segar yang menemani mentari pagi. Mimpi itu hendaknya menjadi nyata diiringi dengan usaha dan doa untuk Indonesia yang lebih baik. Insyaa Allah. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bukan? Insya Allah adik-adik sekalian adalah bagian dari orang-orang yang paling bermanfaat tersebut. Pasti.
Pasca Hari Inspirasi - Refleksi?
Hari Inspirasi yang didominasi keseruan dan kenangan tentu layak diceritakan dan didiskusikan satu sama lain. Bersama kota-kota lainnya, cerita ini berpadu di hari Refleksi Kelas Inspirasi: Apa yang akan kita lakukan setelah itu?
Refleksi, bukan maksud untuk pemijatan dan relaksasi, adalah tempat kita semua, para relawan Kelas Inspirasi bersatu untuk berpikir bagaimana efek Kelas Inspirasi bisa menyebar ke saudara-saudara lainnya yang di luar sana. Saudara yang harus terjun langsung dalam proses birokrasi dan pemerintahan agar pendidikan di Indonesia terus maju dan lebih baik. Saudara yang tetap bekerja di dalam lingkup non-pendidikan untuk menyuarakan kebutuhan akan pendidikan yang merata dan sesuai untuk masyarakat. Saudara yang sedang berusaha menerapkan pendidikan agar makna pendidikan tidak hanya terhenti di bangku-bangku pembelajaran. Semua rangkaian usaha itu kelak bersatu untuk perwujudan mimpi yang lebih indah demi umat manusia (walau terdengar berlebihan, tapi kita semua berusaha mewujudkan manfaat terbaik dari yang bisa dimunculkan manusia. Titik-titik ide tersebut bisa terhubung menjadi garis-garis, yang nantinya berwujud gambaran konkrit masa depan, bukan?)
Ya itulah kami, di Kelas Inspirasi: Beraksi Sehari, Selamanya Menginspirasi!
Terima kasih atas pengalaman yang diberikan (mulai 1 tahun sekian bulan lalu), saya [Insyaa Allah] selalu mendukung akan kemajuan gerakan berbagi ini!
![]() |
| Sidoarjo Team - Refleksi Akbar KI Jawa Timur 2013 |
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Sabtu, 31 Januari 2015
Examen Final, Momen 1 Tahun Sebelum ini dan IFI
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...
Alangkah indahnya hari ini setelah semua beban ujian ini selesai. Sebagai informasi, di kampus saya di Perancis, ujian akhir semester seperti sebuah maha-cobaan mini (menurut saya sih). Yakni, ketika semua materi yang menggunung harus diluluhlantakkan selama semalam (untuk saya, Sistem Kebut Semalam (SKS) masih belum mengecewakan saya) untuk materi 2 mata kuliah, yang berita baiknya, keduanya open book. Tetapi, hantaman ini kurang begitu berarti. Bencana berikutnya muncul di hari berikutnya, ketika ujian 2 mata kuliah lain, salah satunya open book, dan satunya closed book.
Biasanya, para dosen yang baik hati memberikan hardcopy materi kuliah. Kasus yang tidak biasa, para dosen yang baik lainnya memberikan softcopy dalam bentuk PDF yang bisa dicetak. Nah, di ujian mata kuliah open book di hari kedua ini, Pak Dosen adalah pemberi materi kuliah dalam bentuk softcopy. Sehingga untuk mempermudah pekerjaan, saya berniat untuk belajar materinya sebelum mencetak di keesokan harinya.
Malang bukan kepalang, di hari H ujian, saya berniat mencetak dokumen tersebut di koperasi mahasiswa... yang ternyata tutup. Pergi ke perpustakaan namun saya tidak paham cara mencetak via printer perpustakaan (harus menggunakan kartu pelajar yang ada isian uangnya, sementara saya tidak tahu cara mengisinya). Terbilang 15 menit sebelum ujian, saya mencoba printer yang ada di laboratorium komputer. Seharusnya bisa mencetak dengan cepat, tetapi setelah utak-atik sana sini, printer-nya sedang bermasalah. Alhasil, 15 menit itu saya gunakan untuk menyalin materi sekenanya dari softcopy ke tulisan tangan kilat nian yang sampai-sampai butuh 1 menit untuk mengenali huruf-huruf itu. Alhasil, pekerjaan ujian itu saya kerjakan dengan penuh rasa khawatir.
Saya berusaha pasrah dan tawakkal atas semua yang terjadi. Kejutan muncul tak sampai seminggu setelahnya di perjalanan kereta pulang ke Compiègne setelah wawancara magang. Benar saja, masuklah surat elektronik yang berisi hasil ujian. Dan Alhamdulillah, kata-kata MENTION untuk mata kuliah itu muncul di ponsel saya. Paling tidak, ini yang saya bisa bilang momen pengumuman ujian paling dramatis dalam kereta (lebay, tetapi tetap bersyukur, Alhamdulillah...)
---------------------------Sekitar satu tahun sebelumnya--------------------------------------------
Panasnya Surabaya sore itu membawa si kuda besi MIO-J saya terparkir di depan gedung AJBS. Niatnya bukan membeli perkakas rumah tangga, tapi memasuki gedung klasik tempat saya harus menempuh seperempat hari saya selama 4,5 bulan untuk les bahasa Perancis. Dari luar, mungkin memang tempatnya menimbulkan kesan... bener nggak sih ini tempatnya? Tetapi, kesan itu berubah ketika masuk ke dalamnya. Tempatnya nyaman sekali dan menggunakan gaya perabot modern. Pada intinya, asyik deh!
Menjadi salah satu dari beberapa orang penerima Beasiswa Fast-Track Double Degree Indonesia Perancis (DDIP) membuat les bahasa Perancis menjadi "pelaku utama" hilangnya 5x5 jam dari sepekan. Tapi, persepi hilang tersebut berubah ketika saya, yang masih asing dengan suasana di tempat itu, melihat wanita yang memesona dan tegas berikut agak centil tiba-tiba mengarahkan kami masuk ke ruang kelas nomor 5. "Hari ini, kita akan perkenalan, dan langsung menggunakan bahasa Perancis," demikianlah 'arahan' manis dari instruktur ini.
"Kita tidak akan menuliskan sesuatu apa pun, kita harus segera langsung berbicara!" Lanjutnya. Masih roaming di beberapa ucapan, berusaha mencerna suara asing yang dilantunkan oleh beliau. "Jêmapèl? Jumapèl? Zumapèl?" Ah entahlah. Yang saya bisa pastikan, ada hurus J di sana, dengan vokal "e" pepet (maklum dulu Guru Bahasa Jawa SD saya sangat tegas, jadi artikulasi 'e' sering saya asosiasikan dengan pepet (ê) atau taling (é,è) masih menancap jelas di ingatan saya. Dan indahnya, penggunaan coretan di atas huruf 'e' ini berbeda terus, baik di Jawa, Mandarin, dan Perancis). "Jêmapel," berikut saya menirukan ucapan itu, dan diikuti nama panggilan. Dilanjutkan beberapa kisah pendek perkenalan (based on hearing) seperti ini:
Rutinitas menyenangkan dan sedikit tidak menyenangkan (karena tidak paham-paham) itu berlanjut hingga sebelum ujian DELF (sertifikasi penggunaan bahasa Perancis untuk orang asing) sesi Juni. 4 bulan memang bukan waktu yang singkat. Perjalanan menerjang badai hujan dan banjir di masa-masa Tugas Akhir, dan sempat tidak ikut les karena harus kabur ke Jakarta. Berbagi tawa, sedih, kisah di Perancis (yang menjadi nyata), kisah Tugas Akhir, kisah wisuda, kisah "Vous êtes un chien?" (sebut saja pelakunya Kumbang, bukan saya!), kisah Pak Leman (penjual mie pangsit depan AJBS), kisah perpisahan, dan begitu seterusnya berlarut menjadi memori indah yang terbagi di masing-masing kenangan. Inspirasi, motivasi, nasihat, dan doa juga menjadi saksi transfer ilmu untuk indahnya kenangan tersebut. Kami dulu bukan apa-apa, karena kadang untuk meraih suatu ilmu, ilmu lain harus dikuasai dulu.
Berawal dari titik nol 27 Januari 2014. Perjuangan bahasa Perancis ini dimulai.
Mungkin kenangan kami hanya terbilang seujung kuku di benak para Bapak Ibu Guru (gelar terindah yang pernah ada dalam hidup, selain orang tua tentunya). Namun, jasa-jasamu akan tetap abadi bersama ilmu. Karena ilmu yang dibagi tidak pernah habis.
Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk para guru di IFI tercinta, untuk peringatan hari Jêmapèl
Madame Irma, Madame Norma, Monsieur Karguna, Monsieur Tarsono, Monsieur Eri, Monsieur Dedi, Madame Wea, Riyaz, Monsieur Wawan, Monsieur Dumesnil (direktur IFI Surabaya... dulu), dan para pengajar serta staf lainnya yang tidak mungkin tersebut satu-satu.
Merci Beaucoup, Madames, Monsieur.
Best regards,
Si pendiam dalam kelas, yang bercita-cita menjadi guru, Hani Ramadhan, DDIP angkatan 3
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Alangkah indahnya hari ini setelah semua beban ujian ini selesai. Sebagai informasi, di kampus saya di Perancis, ujian akhir semester seperti sebuah maha-cobaan mini (menurut saya sih). Yakni, ketika semua materi yang menggunung harus diluluhlantakkan selama semalam (untuk saya, Sistem Kebut Semalam (SKS) masih belum mengecewakan saya) untuk materi 2 mata kuliah, yang berita baiknya, keduanya open book. Tetapi, hantaman ini kurang begitu berarti. Bencana berikutnya muncul di hari berikutnya, ketika ujian 2 mata kuliah lain, salah satunya open book, dan satunya closed book.
Biasanya, para dosen yang baik hati memberikan hardcopy materi kuliah. Kasus yang tidak biasa, para dosen yang baik lainnya memberikan softcopy dalam bentuk PDF yang bisa dicetak. Nah, di ujian mata kuliah open book di hari kedua ini, Pak Dosen adalah pemberi materi kuliah dalam bentuk softcopy. Sehingga untuk mempermudah pekerjaan, saya berniat untuk belajar materinya sebelum mencetak di keesokan harinya.
Malang bukan kepalang, di hari H ujian, saya berniat mencetak dokumen tersebut di koperasi mahasiswa... yang ternyata tutup. Pergi ke perpustakaan namun saya tidak paham cara mencetak via printer perpustakaan (harus menggunakan kartu pelajar yang ada isian uangnya, sementara saya tidak tahu cara mengisinya). Terbilang 15 menit sebelum ujian, saya mencoba printer yang ada di laboratorium komputer. Seharusnya bisa mencetak dengan cepat, tetapi setelah utak-atik sana sini, printer-nya sedang bermasalah. Alhasil, 15 menit itu saya gunakan untuk menyalin materi sekenanya dari softcopy ke tulisan tangan kilat nian yang sampai-sampai butuh 1 menit untuk mengenali huruf-huruf itu. Alhasil, pekerjaan ujian itu saya kerjakan dengan penuh rasa khawatir.
Saya berusaha pasrah dan tawakkal atas semua yang terjadi. Kejutan muncul tak sampai seminggu setelahnya di perjalanan kereta pulang ke Compiègne setelah wawancara magang. Benar saja, masuklah surat elektronik yang berisi hasil ujian. Dan Alhamdulillah, kata-kata MENTION untuk mata kuliah itu muncul di ponsel saya. Paling tidak, ini yang saya bisa bilang momen pengumuman ujian paling dramatis dalam kereta (lebay, tetapi tetap bersyukur, Alhamdulillah...)
| Sumber: http://s1152.photobucket.com/user/rumadi_aza/media/100_4972.jpg.html |
Panasnya Surabaya sore itu membawa si kuda besi MIO-J saya terparkir di depan gedung AJBS. Niatnya bukan membeli perkakas rumah tangga, tapi memasuki gedung klasik tempat saya harus menempuh seperempat hari saya selama 4,5 bulan untuk les bahasa Perancis. Dari luar, mungkin memang tempatnya menimbulkan kesan... bener nggak sih ini tempatnya? Tetapi, kesan itu berubah ketika masuk ke dalamnya. Tempatnya nyaman sekali dan menggunakan gaya perabot modern. Pada intinya, asyik deh!
Menjadi salah satu dari beberapa orang penerima Beasiswa Fast-Track Double Degree Indonesia Perancis (DDIP) membuat les bahasa Perancis menjadi "pelaku utama" hilangnya 5x5 jam dari sepekan. Tapi, persepi hilang tersebut berubah ketika saya, yang masih asing dengan suasana di tempat itu, melihat wanita yang memesona dan tegas berikut agak centil tiba-tiba mengarahkan kami masuk ke ruang kelas nomor 5. "Hari ini, kita akan perkenalan, dan langsung menggunakan bahasa Perancis," demikianlah 'arahan' manis dari instruktur ini.
"Kita tidak akan menuliskan sesuatu apa pun, kita harus segera langsung berbicara!" Lanjutnya. Masih roaming di beberapa ucapan, berusaha mencerna suara asing yang dilantunkan oleh beliau. "Jêmapèl? Jumapèl? Zumapèl?" Ah entahlah. Yang saya bisa pastikan, ada hurus J di sana, dengan vokal "e" pepet (maklum dulu Guru Bahasa Jawa SD saya sangat tegas, jadi artikulasi 'e' sering saya asosiasikan dengan pepet (ê) atau taling (é,è) masih menancap jelas di ingatan saya. Dan indahnya, penggunaan coretan di atas huruf 'e' ini berbeda terus, baik di Jawa, Mandarin, dan Perancis). "Jêmapel," berikut saya menirukan ucapan itu, dan diikuti nama panggilan. Dilanjutkan beberapa kisah pendek perkenalan (based on hearing) seperti ini:
"Vu vêné du?" [oh ini tanya asalnya dari mana]Berdasarkan pembicaraan tersebut, si Ibu dengan lidah ajaib ini (ini pujian, anggap saja artikulasi saya luar biasa parah saat itu) membuka kedoknya sebagai Irma Nurul Husnal Chotimah (sebut saja Madame Irma, tapi saya tidak ragu untuk memanggilnya Teh Irma), seorang yang dulunya pernah tinggal agak lama di Perancis. Lhoala pantesan ilate ajaib. Dan dengan ramahnya melanjutkan sesi perkenalan sambil keliling sekelas agar satu murid bahasa Perancis bisa mengenal sebisanya dalam bahasa Perancis. Dan kejutan lagi, ternyata ada peserta les bahasa Perancis di kelas itu yang ternyata dosen ITS yang masih muda yang hendak melanjutkan S3 ke Perancis juga. Polosnya saya, saya memanggil beliau dengan sapaan Mas (hanya selisih 4/5 tahun kok).
"Jê vian dê Sidoarjo."
"Kèl é votr adrès?" [adrès, alamat ya?]
"Kèl é votr dêpartêmong?" [emmmm, ini jurusan]
"Kèl é votr numéro dê télépong?" [emmmm, nomor hape?]
"Ongsyongté" [mungkin nice to meet you, ya? Mandarin: rènshi nǐ, hěn gāoxìng]
Rutinitas menyenangkan dan sedikit tidak menyenangkan (karena tidak paham-paham) itu berlanjut hingga sebelum ujian DELF (sertifikasi penggunaan bahasa Perancis untuk orang asing) sesi Juni. 4 bulan memang bukan waktu yang singkat. Perjalanan menerjang badai hujan dan banjir di masa-masa Tugas Akhir
Berawal dari titik nol 27 Januari 2014. Perjuangan bahasa Perancis ini dimulai.
Mungkin kenangan kami hanya terbilang seujung kuku di benak para Bapak Ibu Guru (gelar terindah yang pernah ada dalam hidup, selain orang tua tentunya). Namun, jasa-jasamu akan tetap abadi bersama ilmu. Karena ilmu yang dibagi tidak pernah habis.
Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk para guru di IFI tercinta, untuk peringatan hari Jêmapèl
Madame Irma, Madame Norma, Monsieur Karguna, Monsieur Tarsono, Monsieur Eri, Monsieur Dedi, Madame Wea, Riyaz, Monsieur Wawan, Monsieur Dumesnil (direktur IFI Surabaya... dulu), dan para pengajar serta staf lainnya yang tidak mungkin tersebut satu-satu.
![]() |
| Credits to Galang Amanda Dwi Pamungkas, taken from Facebook Photos |
Merci Beaucoup, Madames, Monsieur.
Best regards,
Si pendiam dalam kelas, yang bercita-cita menjadi guru, Hani Ramadhan, DDIP angkatan 3
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


.jpg)























