Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

YES Summit 2013: Beyond Expectation

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ada yang kangen tulisan perjalanan?
Boleh nih saya perbarui satu :D
Alhamdulillah telah terlaksana satu dari sekian acara keren yang begitu menghebohkan diri di minggu-minggu ini, mulai dari Young Leaders for Indonesia Forum 1 (ntar deh cerita yang ini), Majelis Akbar JMMI XXIII, Parade KMI 2013, dan yang paling akhir nih YES Summit 2013. Kali ini, saya hendak sedikit bercerita mengenai YES Summit 2013.


YES Summit 2013 adalah acara perkumpulan para insinyur dan ilmuwan muda yang sedang mengenyam pendidikan perguruan tinggi yang pertama kali diadakan di Indonesia. YES Summit yang pertama kali ini diadakan di ITS, sekaligus sebagai tuan rumah. YES Summit di sini mengangkat tiga topik utama sebagai pembahasan yang terbagi dalam tiga cluster: Energi, Urban Living and Environment, dan IT dan Digital Services. Saya masuk yang mana? Alhamdulillah termasuk IT. Hehe (apa lagi coba?) Ada sih beberapa yang nyeleneh... Anak Siskal masuk di IT (si Sanjaya tuh :P), anak Industri masuk IT (Faiz, ya... menyerempet2 kok), yang paling unik adalah yang dijalani adik kelas saya pas SMP malah nyelonong masuk acara ini padahal anak FKG (no problem sih, ya Sabila ya... Pokoknya kacamata kudanya dilepas).

Overall pelaksanaan dan konsep acaranya... OK-able, ada sedikit kekecewaan, tapi ya masa cerita kecewa di sini. Kan ruang publik dong ya.

 Menginapnya di Kompleks Asrama Haji Sukolilo, yang udah OK menurut saya. Di kamar tersebut saya dimasukkan bersama teman-teman Cluster IT yang lain, ada Mas Rofik, Mas Veo, Juang, Furqon, Ilham, sama Wiwid di kamar 214. Orang-orangnya luar biasa..... (Luar biasa gila). Di kamar isinya ngakak doang pas menghina dina Juang (hehe, sorry ya Juang). Apalagi pas ketambahan Pak LO Irzan, yang mungkin kesan LO di mata peserta lain kurang aktif dan bagaimana... Si Irzan ini malah ketularan gilanya kita. Maafkan kami, nak, di usiamu yang belia ini kami harus meracuni dirimu.

Somehow, first impression-nya keren. Pembicara pertama... Stand up comedy nya... AWESOME! Padahal membahas peran pemuda. Tapi makjleb banget juga. Lampion-lampionnya juga bagus :D

Mengenai materi dan lain-lain, kurang lebih sangat baik, walaupun ada yang sukses membius kami agar menundukkan kepala sejenak... untuk tidur.

Di sini, juga ada Focused Group Discussion dari paper yang sudah peserta kumpulkan. Outputnya adalah suatu rancangan karya yang nanti akan bisa diimplementasikan di kesempatan berikutnya. Saya dikelompokkan sama Juang, Ilham, dan Leo. Kelompok dengan anggota yang paling sedikit namun hebatnya selesai paling cepat. Komposisi 3 lelaki dan 1 perempuan, dari 3 universitas yang berbeda , Alhamdulillah tidak memberikan banyak friksi. Yang paling tegang adalah pas nunggu presentasi FGD, saya sama Leo sudah horor duluan, karena dosen pengujinya adalah dosen yang sukses membuat teman saya menangis pas presentasi PKM. Dan pas menguji presentasi di depan, sukses satu ruangan teater PENS mendadak tegang. Dan untungnya, pas FGD kami presentasi... Bapaknya memiliki kesibukan lain dan harus pergi. lalala yeyeye

Rasa kekeluargaan sih... Rada yaaa... gitu deh . Tapi alhamdulillah, temen baru tetep ada. Ini sih yang saya cari di acara-acara seperti ini. Kadang kita hanya bisa melihat semuanya dari satu sisi, tapi ada sisi lain yang bisa diberikan oleh orang-orang di sekitar kita. Terkadang bergerak sendiri pun masih butuh perjuangan begitu banyak untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik, terlebih lagi terlalu banyak orang yang bergerak sendiri, saling silang pendapat pun akan muncul begitu hebat, hal ini baik. Namun, bergerak bersama mampu memfokuskan usaha kita, yang bergerak, memasifkan ide, memaksimalkan cinta, dan meminimalisasi ketidakikhlasan. Dan mungkin beberapa hal lain yang belum bisa tersebut.

Sebagai pembuka Mei ini (kasep Mas!), acara ini adalah salah satu ajang refreshment buat kita semua untuk menuju masa depan yang lebih baik, dengan optimalisasi teknologi dan sains.
Hal yang memiliki fungsi berguna sekali, namun jika digunakan oleh tangan yang jahat, adalah omong kosong, tidak akan ada yang berubah malah lebih parah. Sama halnya dengan teknologi dan sains. Kami akan menjadi generasi terbaik dari pelopor teknologi dan sains, yang akan mengarahkan kemajuan bangsa ini menuju kebaikan, dan menjauhkan pemanfaatan teknologi dan sains ini dari tangan-tangan tak tahu aturan itu.  

-YES Summit Generasi 1, pembawa kebaikan dalam gerakan ilmuwan dan insinyur muda Indonesia-

Wassalamu'alaykum wr.wb.

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Selasa, 19 April 2011

Rembulan di Padang Biru

Ketika di sini...
Seiring langkah kaki ditapakkan menuju cahaya
Cahaya yang berada di ambang pintu
Mengusikku dalam lelah
Namun, tidak menyerah

Semakin lama dan semakin jauh
Namun semakin lelah
Namun semakin terang cahaya-Nya
Sudah dua langkah ku ada di luar pintu tersebut
Oh, apakah yang terjadi

Secercah cerah nan indahnya
Tapi tidak silau
Ketika kupacu langkahku
Aku tidak menjauh
Aku semakin dekat

Betapa indahnya, indah kebesaran-Nya
Ketika suatu cahaya rindang dihadapkan kepadaku
Cahaya bundar di langit biru yang tidak berbintang
Dengan selimut jingga pucat, begitu jelas namun sungguh samar
Sungguh indah kuasa-Nya
dan kuucap Subhanallah

Namun, langkah ini tidak boleh terhenti,
Namun, langkah ini tidak boleh terusik,
Ketika langkah ini sudah mulai melambat
Matilah sudah

Dalam jangkauan keagungan makhluk-Mu,
Sang waktu,
Aku memohon kepada-Mu, wahai Pencipta Yang Maha Esa
Cahaya-Mu di padang biru ini tidak akan pernah pudar
Padang biru ini adalah perjuangan
Padang biru ini adalah kesempatan
Untuk menjadi hamba-Mu yang senantiasa akan selalu bersimpuh di hadapan-Mu

Bismillahirrahmanirrahim