Tampilkan postingan dengan label pelajaran hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelajaran hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2014

SAKURA EXCHANGE - Day 1/2 (Kabut, Hujan, Gunung)

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
(Foto menyusul, sabar ya)

Selamat siang, sekarang sebenarnya saya sudah berada di kampung halaman dan merasakan beratnya hidup (baca: koneksi internet yang lebih lambat dari koneksi internet di Jepang). Tak apalah, berikut saya akan bercerita mengenai pengalaman hari kedua di Jepang. Secara garis besar, perjalanan Ahad 3 Agustus 2014 ini isinya jalan-jalan mencicip secuil nikmat Allah yang dihadirkan di sekitar Kumamoto.

Di sini, tersurat saya tidur pukul 01.30, dan Alhamdulillah membuka mata pukul 04.30 (waktu setempat) dan bergegas salat Subuh. Setelah menyelesaikan ibadah rutin, mandi, dan meringsek baju bengonglah saya mau melakukan apa sampai jam 7 pagi (waktu layanan sarapan di toyoko-inn.com). Alhasil pukul 6.00 saya sudah turun ke lobi (dan tetap bengong) dan duduk di meja sarapan.

Sarapan :)
 
Baru duduk beberapa saat, saya sudah takjub dengan Ibu-Ibu (hanya dua sebenarnya) paruh baya yang mempersiapkan sarapan untuk para tamu penginapan. Beliau-beliau sigap sekali mempersiapkan ini itu untuk layanan sarapan hingga pukul 09.30 itu. Teriakan “Ohayou Gozaimasu!” yang riang nian menyenangkan itu membuat saya nyaman sarapan di sana. Seketika pukul 07.00 hadir di masa yang baru, tamu-tamu yang lain dengan tertib mengantri mengambil baki untuk sarapan. Oh self-service-prasmanan ya, begitu pikirku, sambil menyesuaikan posisi diri dengan antrian. *Ambil baki, ambil nasi kepal, ambil roti, ambil sup, ambil sumpit*, sepertinya sudah oke deh (dan berdoa semoga halal). Tak lama kemudian (sebenarnya sarapan sudah hampir habis), datanglah Meladia Elok. Sejenak bercengkrama hingga makanan habis, kami pun kembali ke kamar masing-masing. Bersiap-siap hingga dijemput Pak Prof Usagawa pukul 08.30 (waktu yang sebenarnya sedikit tidak masuk akal setelah semua lelah dan peluh keberangkatan), tapi ajaibnya (dan Alhamdulillah) kami semua dengan entah bagaimana wujud cara dan bentuknya bisa hadir dengan berseri-seri ke lobi. Sementara itu, sebenarnya di Jepang sedang musim panas. Tapi, di Kumamoto musim panasnya agak-agak galau akibat topan di daerah barat daya Jepang tempo hari, sehingga hujan bisa hadir sewaktu-waktu. Sehingga, payung sebenarnya demikian esensial.

Beranjak ke stasiun tram seberang jalan penginapan. Walaupun sepi, penyeberang tidak ada yang ngawur nyelonong ke tengah jalan dengan modal nekat, apalagi pengendara yang dengan semangat '45 menerobos lampu merah. Lalu, kami serombongan pun naik tram (yang cukup sepi) yang jalurnya berada di tengah-tengah jalan lajur berlawanan. Setelah beberapa stasiun tram, rombongan ITS dipandu Pak Prof Usagawa beranjak ke stasiun kereta dari Kumamoto ke stasiun kereta di Aso. Lagi-lagi, kami dikejutkan dengan sistem pelayanan di Jepang mengenai tiket kereta. Jika uang yang Anda masukkan lebih banyak daripada harga tiket yang diinginkan, mesin pembelian tiket akan mengembalikan uang Anda secara otomatis. Saya yang waktu itu memasukkan uang 1000 yen dengan sembarangan hadapnya tetap dikenali sebagai uang 1000 yen dan kembali sesuai dengan selisih terhadap harga tiket (berbeda banget jika dibandingkan dengan mesin pembelian minuman di halte busway Jakarta itu loh #KODE, pengolahan citra dan visi komputernya mantap - sedikit bumbu mata kuliah tidak masalah kan?).

Jadwal kereta yang demikian ketat mengharuskan kita untuk menunggu sekitar 30 menit. Dalam rentang waktu tersebut, Pak Prof Usagawa memperkenalkan perangkat mobile wi-fi yang bisa digunakan ketika perjalanan secara kolektif hingga 5 orang. Namun, hal tersebut berlaku jika ada sinyal (saja), belum pernah dicoba di tengah hutan, di dalam laut, dan di luar angkasa oleh kami. Alhasil, selagi menunggu kereta tiba, ada yang usrek sama ponsel, kamera, tongsis, vending machine, dan lain sebagainya. Ketika kereta tiba, bergeletakan di kursi pun rasanya indah karen hari tersebut adalah Ahad dan mayoritas penumpang kereta ini sepertinya pulang kampung atau liburan.

Setelah beberapa saat (yang bisa digunakan istirahat sejenak), kami harus “transit” ke kota kecil Ozu. Di stasiun kecil di kota kecil ini, kami menunggu kereta yang khusus ke Aso. Di ruang tunggu yang mewah dan nyaman, kami menerima penjelasan dari Pak Prof mengenai rute yang dilalui. Cerita: nanti kereta yang sampai di Aso bukanlah kereta yang dinaiki sekarang, tapi kereta lain. Keretanya bisa mundur terus maju lagi lewat jalur lain, karena nggak kuat kalau langsung dipaksa naik ke Aso. Setelah dijelaskan begitu panjang lebar oleh Pak Prof, kami diberitahu pula bahwa kereta itu akan datang 40 menit kemudian. Berarti kami bebas melakukan apa saja hingga kereta datang. Sehingga, apa yang dilakukan rombongan pemuda pemudi ini? Petunjuk: kamera, tongsis, pemandangan. Yak benar, foto-foto. Bisa dibilang kami produktif sekali untuk hal ini.

Rekreasi tersebut selesai tepat waktu karena Pak Prof dengan baik hati mengingatkan kami untuk segera bergegas naik kereta. Ada hal yang membuat saya terkesan dengan Jepang (lagi). Di pagar antara platform untuk menunggu kereta yang saling berseberangan/berlawanan arah, digantungkan pot bunga dengan tumbuhan. Reservasi lingkungan sebaik mungkin. Ketika naik kereta, saya duduk bersama Mia dan Rizqi selagi menikmati pemandangan asyik desa-gunung di antara Ozu-Aso.

Setiba di stasiun kereta Aso, kami naik bus untuk pergi ke ropeway Gunung Aso. Yang menarik adalah... saya ngantuk dan akhirnya tidur. Bukan, pemandangannya indah sekali walaupun kabut tipis atau sinar matahari menyeruak begitu saja tanpa permisi. Selagi meletakkan pandangan ke jendela dan terkantuk-kantuk, saya mendengar para turis asing di belakang bercakap-cakap. Ils parlent français! Hendak saya ajak bicara tapi ya sudahlah. Sudah ngantuk dan malas berpikir topik, ditambah lagi faktor siapa saya. Pikiran itu dilanjutkan dengan tidur indah selama beberapa menit sampai tiba di stasiun ropeway. Apakah ropeway itu? Itu lho, kereta gantung. Mirip yang digunakan di Taman Mini Indonesia Indah.

Seharusnya di Aso kita bisa melihat pemandangan indah. Hal itu tidak didapatkan sebagaimana mestinya karena hujan-hampir-badai-sangat-deras menyapa dengan elegan. Seelegan apa? Ketika akan naik ropeway sebagian besar rombongan sudah cukup percaya diri akan naik ropeway untuk naik saja dan turun dengan jalan kaki yang sekitar 15 menit karena mendungnya mungkin masih bisa dilalui dengan baik. Namun, Alhamdulillah si hujan baik hati sekali mengingatkan kami bahwa kepercayaan diri dan rencana manusia akan selalu kalah dengan rencana Tuhan. Cara mengingatkannya sungguh tidak diduga. Sejenak saja si kereta gantung keluar dari sarang stasiun, badai datang menghampiri dengan suara air jatuh yang lincah. Sedemikian hingga, rombongan pun berpikir untuk rencana B untuk turun ke bawah (yang artinya merogoh kocek lagi untuk turun: 600 yen). Sampai di stasiun ropeway atas, kami berunding (ditemani gemuruh dan tetesan air yang lincah) untuk menentukan langkah selanjutnya. Disepakati jika sampai batas waktu tertentu, hujannya tidak kunjung reda, kami akan naik kereta gantung turun, jika sudah reda, kami akan turun dengan jalan kaki ditemani Pak Prof Usagawa. Namun, Bu Maria, Mbak Lely, dan Mia urung mengikuti kami yang pergi untuk melihat kaldera karena khawatir akan sakit. Sehingga, tersisalah 8 mahasiswa ITS agak nekat ditambah Pak Prof Usagawa pergi menembus gerimis rintik dan kabut tebal hanya untuk “melirik” (dan foto tentunya) kaldera Gunung Aso.

Singkat cerita, tantangan dapat kami selesaikan dengan mudah. Hanya saja, kabut ini mengingatkan saya pada game Silent Hill dengan jarak pandang hanya sekitar sekian meter. Tenang kok, kalau pun ada apa-apa, yang panik ada 8 orang. Misi foto pun terselesaikan, 8+Pak Prof di depan kaldera yang tidak kelihatan. Sekembalinya ke stasiun atas Gunung Aso, si hujan kembali menyapa. Sejenak kami berdelapan merasa tidak OK. Lalu, setelah reda, kami berdelapan bersama Pak Prof turun ke bawah dengan jalan kaki (tuh kan, nekat, kakek dengan dua cucu diajak sejumlah muda mudi turun gunung, mungkin kami tidak tahu diri? Tapi mah, Pak Prof iya iya aja tuh). Perjalanan pun berjalan sedikit tersendat (red: tersendat adalah berhenti sejenak untuk berfoto, ber-tongsis, dan meneriaki salah seorang dari rombongan yang ber-selfie), tapi untunglah sampai di stasiun ropeway bawah.

Merasa lelah, kami pun leyeh-leyeh sebentar bergegas ke toko es krim cone yang ada di dekat stasiun. Meninjau tiket ropeway bisa digunakan untuk diskon 30% es krim. Kami sepakat untuk meninjau cita rasa dari es krim teh hijau yang dijual. Alih-alih mendapatkan es krim teh hijau, saya mendapat es krim vanila dengan biji wijen hitam karena kehabisan (tidak apa-apalah, masih es krim kok). Lalu, kami baru keliling melihat-lihat barang yang bisa dibeli (tapi akhirnya saya tidak beli). Si Zendy beli chochobi (itu lho, jajannya Shinchan), terus saya mengandai-andai (Oh, beneran ada ya? Kekuatan pemasaran dari film animasi keren sekali kalau begitu).

Perjalanan pulang dimulai dengan naik bus setelah leyeh-leyeh cakep di depan perhentian bus. Isi perjalanan pulang ini adalah… tidur. Pindah dari bus ke kereta… lalu tidur. Pindah dari kereta ke tram… melek (karena berdiri). Setelah dari stasiun tram, menyeberang jalan, ke lobi tidur lagi, Pak Prof menjelaskan rencana perjalanan untuk besok, bagaimana naik bus dari penginapan ke kampus Kumamoto University. Saya dan Zendy pun mengajukan diri untuk mempelajari bagaimana cara naik busnya (hanya diperlihatkan sih). Lalu, kami beranjak ke halte bus Suido-cho dan melihat bus yang mana yang harus ditumpangi. Kemudian, saya dan Zendy diajak berjalan-jalan ke area Shimotori untuk melihat area pertokoan dan makanan di sana.

Sekembali dari jalan-jalan, salat, mandi, dan lain sebagainya, muncullah tantangan: CARI MAKAN. Singkat cerita, setelah saling mencari (ada hilang koordinasi) dan ini dan itu, serta beberapa kali foto. Makannya sama saja seperti yang di Indonesia: KFC. Rasanya sulit sekali cari makanan yang “aman”. Tapi, mau tidak mau, ya begini jadinya. Semoga tetap barokah *kepepet karena kurang pengetahuan*. Malam ini ditutup dengan briefing di kamar Bu Maria mengenai perjalanan pertama SAKURA sebenarnya di Universitas Kumamoto besoknya.


Akhir tulisan, perjalanan kali ini membawa hikmah-hikmah tersendiri
Sedari menginap di penginapan hingga naik tram, saya jadi sadar, uang koin di Jepang itu sangat berharga. Uang koin di Jepang terdiri dari beberapa variasi saja: 1 yen, 5 yen, 10 yen, 50 yen, 100 yen, 500 yen (hanya 6 lho!). Tapi, untuk membeli minum di vending machine sekedar sebotol, kita harus merogoh kocek sebesar 120 yen. Jika di-kurs-kan ke rupiah, jadinya 12.000 rupiah-an. Untuk bepergian via tram, biayanya 150 yen (all route). TAPI, jangan buru-buru pake kurs, dijamin kita tidak akan tenang buat membeli apa-apa dan pergi ke mana-mana.
Meskipun biaya yang harus dibayar mungkin harus mengelus dada jika meninjau kurs, pelayanan dari fasilitas umum tidak diragukan lagi. Nilai uang terlalu besar? Ada mesin tukar uang otomatis. Kernet? Tidak diperlukan karena penumpang dituntut untuk tahu di mana harus turun. Tapi, kalau pun terlewat tarifnya tidak beda jauh (tetap sama kalau untuk tram). Sama seperti makan, merupakan tantangan sendiri bagi muslim (walaupun hidup saya di sana cuma seminggu ketika itu). Mandiri di negeri orang mungkin bukan hal yang mudah, tapi selama ada niat dan percaya semua akan dipandu Yang Maha Kuasa, Insya Allah kita akan menemukan jalan keluar.
Meninjau menyemangatinya Ibu-Ibu kantin penginapan, budaya antri, rapinya jadwal tram, bus, dan kereta, keselamatan dan saling menghormati antara pengguna jalan, saya pun berandai akan indahnya Indonesia dengan kedisiplinan dan etos kerja tinggi seperti itu. Saya jujur merasa bersemangat sekali ketika Ibu-Ibu kantin penginapan mengucapkan
ohayou gozaimasu dan dengan cekatan menyiapkan nasi dan sarapan untuk kami. Seakan-akan setiap tamu yang sarapan di sana dihargai lebih tinggi dan akan bekerja lebih baik jika disenyumi. Maka dari itu, introspeksi bagi diri saya sendiri, senyum dan semangat kita tidak hanya untuk diri kita, tapi untuk orang lain yang bersentuhan dengan kita.
Kesan paling unik muncul ketika bertemu Pak Prof Usagawa, yang dengan semangat super tinggi dan kedisiplinan oke (tapi maklum banget sama rombongan kayak kami, sudah tahu lah bagaimana bandelnya ketika tongsis diluncurkan). Bapaknya masih senyum lebar banget melihat lincahnya kami. Mungkin ini juga representasi etos kerja orang Jepang yang sangat tinggi. Pak Prof sangat perhatian terhadap kami. Pak Prof top banget deh!

Mungkin sedemikian itu saja tulisan untuk hari “Jalan-jalan” ke Gunung Aso. Mohon diambil yang baik dan dikomentari yang buruk. Jika ada kritik maupun saran yang bisa membangun, saya akan sangat bersenang hati menerimanya. Semoga kita bisa menjadi pribadi lebih bermanfaat lagi.

Terima kasih
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 04 Agustus 2014

SAKURA EXCHANGE - DAY 0 (Departure)

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Berhubung saya sedang waktu luang di negeri seberang (enggak sih. Sebenarnya buru-buru mau berangkat), ada internet yang cepat, dan permintaan dari teman-teman yang tercinta, saya menulis pengalaman di negeri Sakura ini cepat-cepat dan menunda tumpukan cerita di blog ini selama setahun (IYA, setahun).

Logonya SAKURA EXCHANGE
Sejarahnya, di tengah-tengah hingar bingar les Bahasa Perancis yang menyita waktu 20 jam sepekan, tugas kuliah yang Subhanallah nggarai gulung-gulung nggak karuan, pengerjaan Tugas Akhir yang akhirnya berakhir, saya mengikuti seleksi SAKURA EXCHANGE ke Jepang. Alhasil, setelah seleksi berkas, tes tulis (yang saya isi dengan tidak masuk akal dan mimpi-mimpi yang tinggi nian berbunga-bunga), dan tes wawancara (yang agaknya saya terbata-bata), saya termasuk sebagai salah seorang dari sepuluh mahasiswa yang menerima kesempatan nekat ini. Bagi saya jelas nekat, tanggal pelaksanaan SAKURA EXCHANGE mengambil waktu sebulan sebelum rencana keberangkatan menimba ilmu di Perancis (ketika harus mengurus visa dan lain-lain), sedikit masa sebelum ekivalensi+perwalian, dan mengambil waktu hanya 4 hari pasca lebaran. Singkatnya, saya tetap nekat memutuskan berangkat dengan mempertimbangkan semua itu.

 Persiapan? Tentu perlu. Berjumpa dengan saudara-saudari teman yang bakalan "hilang bareng" di sana. Dimulai dari Tri Hadiah Muliawati a.k.a. Mbak Lely (kalau dipanggil di jurusan dengan nama Lely bakal susah nih), Dewie, Zendy, Elok, Mia, Leo, Anton, Rizqi, Vidi, dan utamanya, Ibu yang baik sekali, sekaligus Direktur International Office saat itu, Bu Maria. Well, sebenarnya agak-agak kaku ketika mau masuk ke lingkungan orang-orang yang notabene baru saya temui di International Office ITS, tapi saya berusaha mencitrakan diri sebagai orang pendiam (tapi ya memang pendiam, nggak percaya?). Dan alhamdulillah, masih utuh sampai sekarang.

Hari H keberangkatan, saya sukses membuat huru-hara di rumah. Mulai bagasi keberatan, sepatu baru dibelikan yang nggak dikenakan, oleh-oleh yang belinya mengantri sampai seperti mandi, dan dasi ketinggalan. Maka dari itu, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang mendukung suksesnya keberangkatan ini, terutama keluarga saya di rumah, Papa, Mama, Mbak Wita, Mas Lukman, Sasa, Bu Tri, Om Yek, Yayik, Om Andri, Nana, Kiki, Om Yan, Tante Andriani, dan pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan. Untuk urusan akademis, saya harus berterima kasih kepada Sigit, Ardian, Aziz, dan Gregorius, serta Bapak Ibu Dosen yang men-support saya dalam kesempatan ini: Bu Nanik, Bu Isye, Bu Anny, Pak Waskitho, Bu Chastine, dan Pak Hari.

Sampai di terminal 2, saya berputar-putar seperti orang hilang. Katanya sih berkumpul di counter Garuda Indonesia, tapi nggak ada ya. Eh lhadalah munculnya di dalam. Berlanjut check in, dkk dll dsb. Dan kejutan... tongsis milik Elok pun dirilis. Sepertinya sudah jelas sekuelnya, tidak usah berlanjut lebih lama. Singkat cerita, naik pesawat udah merasa WOW abis. penerbangan internasional standar luar negeri seperti ini. Bangku ada tipinya... Hehe. Maklum ndeso. Tak pelak penerbangan pagi itu ke Singapura diisi dengan makanan mewah dan menonton film yang baru beberapa waktu lalu disiarkan di bioskop atau film favorit. Setelah transit Singapura sekitar 1 jam, berpindah ke Taipei dengan pesawat yang sama (dikira renang?). Masih dengan tempat duduk yang sama. Dan nemu lagunya GReeeeN (yeay) adalah semacam penambah kenyamanan di pesawat. Perjalanan berjalan mulus hingga ke Taipei. Di Taipei, Bandaranya keren!.... (dan sepi, tapi bangunannya keren, Juanda mungkin tidak kelihatan sebagus itu). Tempat solat asar (+jamak takhir dhuhur)? Tidak disediakan. Alhasil, tantangan pertama adalah mengamankan tempat sepi di dekat toilet yang digunakan untuk solat. Dan Alhamdulillah everything works fine.

Penerbangan dari Taipei ke Fukuoka... Ganti pesawat yang versinya lebih lama daripada yang sebelumnya. Namun, nasib buruk menimpa saya. Headset bagian telinga kirinya bunyinya gemresek, memusingkan. Dan yah, saya terpaksa bergumul dengan bantalan kursi selama sekian jam (disela makan malam juga soalnya). Berita buruknya lagi, pesawatnya delay, jadi sampai Fukuoka tidak tepat waktu. Dan Prof. Usagawa (responsable kita di sini), menunggu dari jam 17 hingga jam 21-an. Sungkan banget rasanya. Ada pun kegilaan tidak berhenti sampai di sini. Selfie ditingkatkan ke level selanjutnya dengan mengajak Prof. Usagawa. Yah, maklum dong ya. :P

Next, ditemani beberapa rekan dari Indonesia yang sedang berkuliah di Fukuoka, menunggu bus express TERAKHIR yang beroperasi di jalur Fukuoka-Kumamoto. Kalau ada yang ketinggalan ya siap-siap hubungi orang untuk menginap di sana, kata Pak Prof. Usagawa (ngemper di bandara nggak boleh ya Prof?). Perjalanan dengan bus dimulai pukul 22.30 dan mendarat dengan muka-kangen-kasur pukul 24 sekian. Sampai di penginapan... mengisi berbagai formulir dan lain sebagainya. Akhirnya dapat kunci sekitar pukul 25.15 untuk kamar tunggal. (heran sih? mengapa 25? Saya juga heran. Ada toko buka pukul 9-26... artinya jam 9 pagi sampai 2 pagi).

Bertemu kamar, artinya kasur? (BENAR!) Saya sudah buru-buru menancapkan kunci ke lubang kunci. Dan... *putar ke kiri* (nggak bunyi klik) *putar ke kanan* (nggak bunyi klik). Sejenak hembusan nafas, (entah saya apakan saja pintu itu) dan berhasil dibuka dengan.... memutar kunci sekaligus mendorong daun pintu. Namun demikian, ke-kagok-an dengan teknologi tidak berhenti sampai di situ. Masuk kamar... kok gelap? *pencet-pencet saklar *pencet2 tombol yang kelihatannya sumber listrik. Kemudian, saya dan Mbak Lely... berbingung ria, disambut Elok dengan... *itu gini lho* menusukkan gantungan kunci hotel ke lubang yang sepertinya sumber listrik. Tidak mau berpikir mengenai benda-benda itu lebih lanjut (karena bertemu WC duduk yang tidak biasa), saya pun langsung bilas, wudhu, dan shalat jamak takhir magrib-isya (darurat) dilanjutkan tidur.

Alhamdulillah, perjalanan tersebut memberi pelajaran yang menakjubkan. Bertemu kawan-kawan baru, menikmati indahnya negeri matahari terbit, terkagum dengan sistem transportasi, dan kedisiplinan. Semoga nantinya bisa bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Kamis, 17 Juli 2014

Young Leaders for Indonesia Forum 2: BLP


Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar?
Kaget saya langsung setor tulisan lagi? Iya, ini kejar setoran setelah semua ke-hectic-an ini.

Sekarang saya mau membahas kelanjutan dari forum 1 dari Young Leaders for Indonesia Wave5 yang dari tautan ini http://digitalleaflet.blogspot.com/2013/06/young-leaders-for-indonesia-mckinsey.html. Forum 2 ini diadakan tanggal 6-7 Juli 2013. Forum 2 dari Young Leaders for Indonesia adalah membahas progress Personal Leadership Project, membahas manajemen tim, dan Breakthrough Leadership Project. Apakah Breakthrough Leadership Project ini? Sebenarnya adalah semacam penugasan dalam grup bersama seorang/satu grup mitra yang nantinya berperan sebagai coach dan ditemani satu coach dari McKinsey.

Sebenarnya Forum 2 berjalan sebagaimana mestinya dan sebagaimana serunya. Maksudnya? Hmmm... Didatangkan Pak Anies Baswedan dan Pak Handry Satriago? Mohon maaf, Pak saya satu-dua kali terkantuk-kantuk. Ini kebiasaan buruk saya. Sekali lagi mohon maaf. Sungguh luar biasa bertatap muka dan sesekali mendengar tanya dari kawan lain dan jawab dari sang tamu. Namun, mungkin itu perantara saja agar saya Allah memberikan gambaran nyata di depan mata. Bahwa ada aksi-aksi brilian di depan kita yang bisa dilakukan tanpa menunggu apa pun. Niat baik pun akan hanya menjadi niat baik tanpa aksi. Aksi tidak akan menjadi baik tanpa niat baik.
Salah satu kutipan yang [KURANG LEBIH] pernah saya tangkap melalui telinga saya adalah "Jika kamu tidak mengubah hidupmu sendiri, siapa yang akan mengubah hidupmu? Bayangkan jika mobilmu mogok, jika tidak kamu dorong, mobilnya tidak akan maju. Kemudian, saya pun keluar kamar... Dan mengerjakan apa yang saya bisa." oleh Pak Handry Santriago. Mungkin ini penyajian ulang dari “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11 yang sampai ke saya lewat forum ini. Alhamdulillah :)
Ini Pak Handry, CEO General Electric
Pak Anies, udah tau kali ya? Ini sebelum hingar bingar pilpres
Oke, satu hal lagi yang bikin beda forum kedua ini dari yang lain adalah... (eng-ing-eng) TEMEN SEKAMAR SAYA YANG GOKIL PLUS MELANKOLIS ABIS BRO! Yuk mari kita kenal dengannya... Namanya NAJMUL FAJRI USMAN (kok diperbesar gitu? biar orangnya memandang, terpampang nyata lagi atau perlu diberi tautan ke laman Facebook atau Twitternya? bayangin orangnya senyam senyum sendiri, ih ogah). Terkata seorang manusia dari sisi Barat Indonesia ini, segugus dengan Sumatera, yang tidak tahu mengapa ditakdirkan buat mampir ke hidup saya dengan cerita hidupnya yang luar biasa membuat saya mbrebes mili. Tatkala kami bercengkrama saat itu, kami pun sadar hidup ini adalah untuk disyukuri, dan nikmat Allah pun tidak berkurang sedikit pun untuk dimaknai. Nah ceritanya orang ini mau lanjut kuliah nih dari negeri jiran, doakan lancar.

About the BLP? Sudah saya tuliskan dari zaman dahulu kala di sini dan sini. Monggo dilihat, dan sekali lagi saya berterima kasih sama orang-orang keren, Mas F, Mas Akbar, Mbak Dwi, Mbak Astrid, Asmi, dan, Munawir. Dan juga Kak Dhacil, Kak Chiro, Kak Ayu, Kak Wiwiek, dan Kak Furi.

Well... that's all.
Kadang-kadang kita merasa hidup kita tidak terlalu "sama" dibandingkan dengan orang lain. Tapi, itulah yang membuat warna-warni hidup kita. Seringkali ke-"sama"-an ini membuat kita menggeser makna keadilan, sebagaimana ungkapan "Rumput Tetangga Lebih Hijau". Yang kita punya dan tidak kita punya menjadi pendukung pembelaan kita mengenai "hidupku tidak adil". Saatnya berhenti dan MOVE ON!

Sekian, maaf jika ada salah kata.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Di manakah saya? :D

Rabu, 16 Juli 2014

Menjajak Wilayah Baru: Koordinator Wilayah 5 Kampus Kota JMMI ITS

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Bertemu lagi dengan tulisan saya. Weits, jangan bosan, ini kejar setoran. Sekiranya bisa memberi manfaat.

Dan berakhirlah Majelis Akbar Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS Kabinet Syiar Bersahabat Mei itu. Fyuh... (Ah enggak kok, saya nggak ikut penutupannya, saya cuma ikut jilid 1... jadi NOTULEN,jabatan yang melekat semenjak... Musyawarah Besar SITC di tahun pertama)

Kabinet Ekspansi Dakwah, itulah titel yang diusung kepengurusan JMMI 1433 H sampai sekarang. Ekspansi ke dalam, ke seluruh penjuru internal koordinasi JMMI ITS, dalam hal ini Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF). Ekspansi ke luar, dengan amanah sebagai Puskom Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Surabaya Raya, berusaha menggaet berbagai LDK yang membutuhkan pendampingan, menyebarkan dan menguatkan isu keislaman yang sedang beredar, serta bertindak aktif dalam pergerakan dakwah kampus. Lha kok ngeri banget namanya ekspansi? Menjajah dong? Tidak! Maksudnya adalah untuk mengembangkan. Agar jangkauan kebaikan dakwah tersebut tidak hanya berhenti di diri kita, dan kita pun menyebarkannya dengan kebaikan, maka dari itu bisa berkembang, dengan dinamisasi kebaikan. (Satu paragraf ini adalah hasil kreasi otak dan imaji sendiri, dengan berbagai keterbatasan ilmu yang ada)

*Sementara itu, jika beberapa kata yang saya gunakan membuat Anda tidak mengerti, mohon maklum. Tulisan ini Insya Allah untuk kebaikan. Jika tidak mengerti, silahkan ketikkan pertanyaan di kolom komentar*

Beberapa hari kemudian...
*reka ulang kejadian*
[Drrt..Drrt] (Bunyi getar ponsel, ponsel sangat jarang saya hidupkan suaranya)
"Bisa ketemu sebentar di serambi timur manarul? Ada yang ingin dibicarakan" ~(Z)
*reka ulang selesai, dengan pengondisian terbatas pada ingatan, dan nama disamarkan*
Hm? Ada apakah dengan Pak Direktur ini? Pikir saya. Saya pun sudah tahu beberapa jajaran kabinet Ekspansi Dakwah dengan suasana warna ungu itu (kenapa ungu? jangan tanya saya. Sekali lagi. Jangan tanya saya). Dan beliau termasuk salah satu dari jajaran direktur di sana.

--Sesampai di Manarul
"Akh, kira-kira kalau sampeyan jadi Koordinator Wilayah Kampus Kota bagaimana?" Tanya Z. "Hah? Nggak salah Pak?" Tanyaku dengan terkejut.
--Singkat cerita, saya memutuskan untuk mengemban amanah itu. Entah apa pun yang terjadi. Nekat. Iya. Lillahi ta'aala. Semoga bisa selalu mendekatkan saya kepada Islam dan Allah Subhanahu Wata'aala.
Dan alhamdulillah bertemu orang-orang (dan tantangan-tantangan) baru di amanah ini. Kalau bisa dibilang, tantangannya harus saling mensinkronisasi hubungan antara LDJ dan JMMI beserta berbagai LDJ yang ada di dalam wilayah Kampus Kota (T. Industri/MSI Ulul Ilmi, T. Informatika/KMI, S. Informasi/KISI, D3 Teknik Kimia/FUKI Al-Ikrom, D3 Teknik Mesin/Jundullah, D3 Teknik Elektro/Salman Al-Farisi). Namun, hal ini membuat saya memiliki keluarga baru (di tengah himpitan keluarga-keluarga baru lainnya).
Hal paling pelik adalah ketika mengurus G-MAIL 2014 Wilayah yang berujung pada paniknya saya dan staf-staf 2012 dari Wilayah Kampus Kota. Ketika sumber daya manusia berfungsi sangat efisien. Jujur saya mohon maaf kepada semua orang dan pihak yang merasa tersakiti atas kelalaian saya. Walaupun begitu, Insya Allah kegiatan kita bermanfaat. Aamiin.

Copyright (c) KED Family on FSLDJ Cup - (Anda sekalian saya paksa untuk mengatakan ini lucu dan menggemaskan)
Tak terasa di penghujung semester ini, saya harus mengucapkan good bye tapi dengan senyum (Alhamdulillah tanggung jawab ini tersalurkan kepada yang baru). Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yang terzalimi selama saya keliling di JMMI. Terima kasih atas pengalaman yang sudah diberikan. Terima kasih telah memberi kesempatan (lagi) untuk bersentuhan di dakwah kampus.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

FSLDJ ITS. Ber-AKSI!



Senin, 16 Desember 2013

Tahun Keempat

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Menanggapi waktu yang semakin sedikit ini.... Saya ingin sedikit bercerita mengenai kehidupan saya di tahun ke-4. Sudah hampir separuh waktu sih. Tapi, ya semoga bermanfaat.

Kehidupan tahun keempat bermula dari lengsernya saya dari Keluarga Muslim Informatika - ITS 2012-2013 dan otomatis memperbarui amanah saya sebagai Dewan Pertimbangan Pengurus KMI ITS 2013-so on. Kemudian, dilanjutkan dengan masa Kerja Praktek di Pertamina dengan judul... (terlalu mengerikan jika saya buka di sini). Dan yang bikin deg-degan adalah jalan-jalannya bersama si Fahmi (jangan baca, dijamin silau), si Muamar, si Riduwan, dan si Fadlika . Saya teh ke Bandung mbolang sama Fahmi. Dan untungnya sampai Jakarta lagi sehat wal a fiat.

Kalau mau dibikin kaleidoskop sebelum kuliah semester 7 dimulai... ini daftarnya :)

Kilas balik lagi, ketika sudah kuliah. Semua nampak semakin sibuk. Dan saya juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Iya sih, kuliah semakin menipis. Tapi, di luar kuliah semakin tebal saja. (Baca: menghadapi TA). Tapi, semakin jauh melangkah, perjalanan saya rasanya semakin menakjubkan karena ditemani orang-orang hebat. 
  • Tim baru yang (sangat) riweuh  HMTC
  • Tim JBC IM TELKOM Paper Competition: Hani, Amal, feat Ulin (perjalanannya sangat sesuatu)
  • Tim GEMASTIK! Alhamdulillah, Awal, Geri (intelegensinya di mana? -kemudian, muka ditekuk-)
  • Kawan-kawan di S2 Teknik Informatika ITS
  • SabangMerauke BLP Team (yeaaa)
  • Fast Track goes to France (ah, semoga :) )
  • Mentoring kece Mas Agil (ini orang-orangnya sih hebat-hebat, saya jadi minder)
  • PH KMI ITS 2013-2014, namely generasi tauhid
  • Tim PKM TechSocio DSS- RUMA (Ira: sekdep merangkap ***** RISTEK HMTC, Adhika:; Menteri Ristek BEM ITS, Faiz: artis)
  • Tim Kelas Inspirasi Sidoarjo DAYUNG! 
Sepertinya sudah cukup mendeskripsikan apa yang sudah saya dapatkan selama separuh tahun keempat. Kiranya semoga bermanfaat. 
(soon will be updated with graphics)

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)
Stay encouraged, stay motivated

Sabtu, 20 Juli 2013

Pengembara Pantofel: Bersama Sabang Merauke (1)

Assalamualaikum wr.wb.
Time to share, time to learn something new.
Oke... jadi sebenarnya hari itu saya sehari izin Kerja Praktek untuk suatu event yang diadakan Sabang Merauke. Tapi, yang saya dapatkan lebih dari sekedar "meliburkan diri". Let's check it out.
——————————————————————————

"Silahkan adik-adik di sini Anak-anak Sabang Merauke berikut juga Saudara Sabang Merauke menuliskan janji dari adik-adik untuk menggapai cita-cita meraih pendidikan perguruan tinggi entah di mana pun itu dan berjanji tidak akan putus sekolah." Begitulah (kira-kira, jika tidak salah ingat, dengan beberapa modifikasi yang ada) instruksi sesosok inspiratif dengan selempang kuning itu, Niwa Rahmad Dwitama, Mapres UI 2013, khas, kepada sepuluh lebih sekian insan belia peserta Sabang Merauke angkatan pertama.
Momen dramatis itu menjadi titik kulminasi acara pada jumat itu, Education Day Sabang Merauke. Sepuluh anak-anak SMP yang terpisah jarak sedemikian hingga, terbilanglah seorang bernama Ferdinan dari Sabah hingga si jelita Paska dari Jayapura, saat itu menjadi satu yang dekat dalam lingkaran, mengelilingi galian cita-cita yang akan tumbuh meroket hingga mimpi mereka di sana. Hingga detik ini, inspirasi akan terus mengalir, bersama.... toleransi, pendidikan, dan Indonesia.
.....

"Hani ya?" Ujar seseorang berusaha mengenaliku selepas turun pukul 8 di stasiun UI. "Ha?  Iya..." saya menanggapi dengan linglung, sepertinya masih merasa ajaib dengan KRL yang baru saja ditumpangi. "Ayo kumpul di situ... Chiro ini Kak Chiro." Sambung pria dengan kaus berkerah abu-abu kebiruan itu. Oh iya, gimana bisa lupa sih...?
Kak Chiro ialah seorang penggagas ide Sabang Merauke ini. Gerakan bernafaskan pendidikan dengan upaya  mengumpulkan anak-anak dari seluruh penjuru Nusantara, untuk berbagi satu sama lain, berlatih satu sama lain, belajar bagaimana toleransi dengan terjun langsung, meraih asa Indonesia dalam tangan mereka ini. Dan SabangMerauke ini adalah rekanan tim saya dalam BLP (Breakthrough Leadership Project) YLI Wave 5... (itu loh... postingan sebelumnya, baca dong)

Yah begitulah dari saya yang linglung dan sedemikian rupa dibikin tersihir oleh pelajaran-pelajaran selama satu hari itu. Selagi menunggu para peserta datang, saya berkenalan dengan beberapa partner Sabang Merauke yang sudah hadir di sana. Ada Kak Wahyu, Kak Didi, Kak Fariz, dan Kak Putra. Yah... gimana ya masih kagok-kagok gimana, sudah terdampar dalam waktu sebulan di Jakarta (sempat pake acara nyasar pula, menyedihkan), pertama kali naik KRL, dan pertama kali juga ke UI (Universitas Indonesia). Yang sempat didamba dikarenakan saya ingin masuk Akuntansi dan UI Akuntansinya terbaik se-Indonesia. Tapi saya nggak nyesel. Beneran loh, suer. Lanjutin hoi, ngelantur nggak jelas


Singkat cerita, setelah ngobrol sana sini dengan Anak Sabang Merauke [ASM] yang datang satu per satu... (Alun, Ferdi, Iman, Ayul —mentolo takuyel-uyel cah sithok iki, Iswan, Novi, Apipa, Zana, Paska, Villa) dan Saudara Sabang Merauke 
[SSM] (Dimas) dan Kakak-Kakak Sabang Merauke [KSM] (Kak Kezia —maaf ya Kak, kayaknya sering saya dzalimi dengan menyebut suaranya terlalu lantang, maaf.. maaf, Kak Rona, Kak Putri, Kak Laura, Kak Chen-Chen (Chenia) —mirip sama teman saya di jurusan, Chen (Yenita), cuma si Yenita versi mini-nya, Kak Mutia, Kak Mubin, Kak Mustaf, Kak Gary). Dan selagi menunggu... saatnya GAMES. HORE dimulai dengan simulasi SevenUp, yang mungkin bagi sebagian orang menyebalkan... —tapi gue aman mwahahah. Dan Games Cabu-Cabu-cacaca featuring saya sebagai leader-nya. Ya sudahlah...  semoga saya bisa membuat gerakan awalan yang baik... (sempat kepikiran salto, split, push up, apa.... cheerliar? Ah sudah simpel saja. —Nggak tau cheerliar? Itu budaya seru pas tahun pertama Smala. Cheer yang anggotanya cowok semua. Ah sudah cukup. Masa kelam) . DAN SAYA SUKSES! Membuat beberapa orang semakin pusing bersama gerakan saya. Oh ya sudahlah.

Menuju kegiatan pertama, kuliah bersama Pak Dekan Fakultas Ekonomi  UI, Pak Jossy. Berangkat dengan bis kuning khas UI dari stasiun UI, dan melihat-lihat dari luar gedung-gedung indah nan gagah yang mengiringi ribuan kepala generasi baru masuk dan keluar almamater ini selama rentang tak jauh dari empat tahun. Perjalanan di sebelah kiri kanan jalan —kayak hutan rek, tenan— begitu asri dan hijau. Selagi bertukar cerita dengan kawan-kawan baru (yang beberapa baru menyandang gelar sarjana) dan saling tunjuk gedung belajar satu sama lain, perjalanan begitu terasa cetar sampai akhirnya masuk ke kampus FE. Kesan pertama... wah besar ya?


Berjalan beriringan menuju suatu ruang kuliah di lantai tiga berlangsung bersama rasa penasaran saya di gedung ini sambil berujar "hooo" bersahutan dengan penjelasan kakak-kakak ini. Di ruangan tersebut, saya, yang merasa cukup tahu diri untuk tidak duduk di barisan depan, melenggang duduk sebangku dengan Kak Mustaf, Kak Mubin, Kak Chen2, dan Shaffa (seorang Saudara Sabang Merauke). Tak lama, seorang sosok tinggi besar datang, berikut sama besarnya dengan rasa penasaran inikah Pak Dekan? Ternyata mengabarkan Pak Dekan hanya bisa hingga pukul setengah 11. Ealah, bukan Pak Dekan tho. Sejenak waktu terbuang, barulah sosok bijaksana itu datang
, Pak Jossy P. Moeis.

Beliau mengawali kuliah dengan semangat berkobar bercerita mengenai betapa pentingnya pendidikan. Tentu saja, para ASM dengan gegap gempita dalam keheningannya mereka sendiri-sendiri menyambutnya bak sungai yang mengucapkan "halo" pada derasnya air terjun. Pak Jossy berkisah tentang konon perjalanan seorang perantau dari Tanah Riau, hingga mengenyam pendidikan di Jakarta, berlanjut kerasnya hidup di Negeri Paman Sam, dan hadir di tengah-tengah kita semua, sebagai seorang pemimpin Fakultas Ekonomi di universitas yang begitu ternama ini. Muara dari segala pembicaraan ini tentu adalah tanya jawab dari para ASM. Penggalian informasi dengan kalimat tanya dari Alun, Novi, Paska, Iman, dan kawan-kawan ini sanggup menginspirasi Pak Jossy untuk merelakan sedikit waktunya melebihi 10.30. Lalu, sesi ini ditutup dengan foto-foto. Saya sih ikutan... Gimana nggak kebelet narsis foto sama ASM-SSM yang unyu ini (KSMnya juga kok)
Lagi, kalian sungguh luar biasa. Jalan kalian ini sungguh tumbuh dengan terarah.
Tak mungkin semaian yang kami rawat dengan cantik ini hanya menjadi tanaman yang kering.
Tidak, kalian benar bukanlah gulma. Yang mengganggu lagi tak bermanfaat.
Kalian adalah bunga cantik kami. Menebar wangi ke seantero negeri. 

LANJUT!

Persuaan kami berikutnya adalah dengan pusat jendela dunia termegah di kampus hijau ini. Tak lain dan tak bukan adalah Perpustakaan UI. Sejenak menjejakkan kaki di sana, Hmmmmm.... Bukan bau khas buku kumal atau kertas cetakan baru yang kami dapati, melainkan suasana ala pusat perbelanjaan tengah kota a.k.a mal zaman sekarang. Sebenarnya nalar diri tak kunjung berujung demi penataan yang seperti itu. Penikmat buku tradisional seperti saya sih belum pernah mencoba membaca buku di tempat seperti itu. Kali aja ilmunya lebih masuk... Kali aja.
Namun, hal ini didapati sedikit berbeda oleh binar mata para ASM, samanya sih mungkin "waaaaaah, perpusnya megah banget." Di luar hal itu, cahaya pandang mereka membuat saya penasaran, akankah mereka berpikir ini suatu yang patut dijelajahi? Akankah semua ilmu dari penjuru dunia ini akan kumanfaatkan? Entah. Siapa yang tahu.
Tapi oh seribu tapi, waktu kunjung kami di perpustakaan ini hanya terhitung menit. Lagi-lagi, waktu istirahat di pinggir danau yang membatasi tapak pantofel ini dengan balairung UI, diisi dengan nafsu foto-foto yang begitu tinggi. Kali ini saya nggak terpengaruh dong. Ya sudahlah, jadi tukang potret sementara waktu dengan ponsel mungil saya. Enggak, nggak pakai kamera macam SLR, bisa-bisa kameranya terbakar gegara ke-gaptek-an saya.

Kala matahari sudah tinggi di atas kepala, kami bersiap untuk ibadah besar para muslim di tiap pekan. Apalagi kalau bukan salat Jumat? Kami beradu dengan pergerakan surya kembali menuju FEUI dipandu perputaran roda bis kuning yang kokoh. Eh, nggak di Masjid UI? Tanyaku kepada beberapa pihak. | Oh enggak, nanti soalnya acaranya di sekitar FE juga.| Oooh.
Sepeninggal lelah di pelataran gedung FE UI, kami mengatur rencana bagaimana agar bisa kumpul tepat waktu. Selagi mayoritas salat Jumat, dan lainnya ada yang ibadah khusus menghadap ke Timur. Dan tentu muncul anggukan patuh cerdas terhadap instruksi Kak Chiro sebelum derap kaki ini melangkah menyambut ibadah sakral itu di... . Ehm? Salat Jumat di lapangan basket?
Nggak separah yang dibayangkan, lapangannya dalam ruangan, memang sudah disiapkan salat Jumat seperti itu. Pancen wes sip. Jamaah dari Sabang Merauke berbondong-bondong mengambil air wudu di luar. Sebelumnya, instruksi dari Kak Fariz untuk berkumpul di depan pintu lapangan basket sudah tercatat dalam benak dengan baik.
Eh lhadalah, selesai salat Jumat malah saya yang ketinggalan sama rombongan. Mana belum hapal jalan lagi. Ngekor deh ke sana ke mari. Nggak nyasar kok, Alhamdulillah.

Dan, sampailah ke acara yang ditunggu-tunggu... Penanaman janji. Tak jauh dari tempat kami salat Jumat (kembali lagi ke lapangan basket itu), sudah siap sebuah galian lubang yang kayaknya juga nggak cukup untuk menimbun salah seorang yang bertubuh mungil dari kami. Dipandu Kak Chiro dan dilanjut oleh Kak Tama (Niwa R. Dwitama, Mapres UI 2013), kata-kata yang menggugah hati seseorang untuk selalu bermimpi meluncur begitu saja. Detik-detik janji untuk menggapai pendidikan yang tinggi itu sudah di depan mata. Segala ucap dari Kak Tama membuat belasan pasang mata itu menatap jauh ke dimensi yang tak sekedar angan-angan. Dimensi yang nanti termaktub dalam coretan bermakna di secarik kertas. Ya, dimensi itu ternamai cita-cita.
Ya, sumbu roket itu sudah disulut.
Disulut oleh tangan mereka sendiri.
Takkan pernah mati, meski pernah dalam oksigen yang sepi.
Takkan pernah meledak, meski pernah berkobar.
Sumbunya memang akan berjalan di alur yang tak diduga.
Sumbunya memang akan berujung dalam panjang lika-liku yang penuh debu.
Namun, apinya akan abadi, meninggalkan abu inspirasi tiada henti.

Berbagai cita-cita pun mereka sebut. 
"Saya .... berjanji, akan melanjutkan pendidikan di .... dan tidak akan putus sekolah."
Alangkah beraneka suara mereka, ada yang sebut arsitek, kimia, ekonomi, kepolisian, ada yang sebut UI dan ITB. Geleng-geleng kepala tanda haru akan cita-cita mereka, yang notabene jauh dari hingar-bingarnya kota besar layaknya Jakarta sebelum dua minggu ini, dilakukan oleh hampir semua kami. Hampir.

Herannya sih, kenapa nggak ada yang sebut Ilkom, Teknik Komputer, Teknik Informatika, atau bau-bau bidang saya.Spesial deh
Gulungan cita-cita itu dikumpulkan di dalam botol cita-cita "Sabang Merauke". Dan botol itu ditanam dalam galian yang sudah disiapkan itu. Harapan dari ide ini, cita-cita yang dilambangkan sebagai benih itu nanti akan tumbuh sebagai pohon tinggi nan elok, memberi manfaat bagi sekitarnya, layaknya tanaman bagi semua insan yang hidup di sekitarnya.

Akhir perjalanan, giliran Kak Diandra atau sering disebut Kak Didi memimpin. Kegiatannya jurnalling namanya, sepertinya semacam kontemplasi. Buat semua ASM, SSM, dan KSM. Semua diminta menulis. "Dalam lima tahun ke depan, saya berjanji untuk menjadi...". Well,  saya ingin ikutan juga. Tapi, saya kan hanya penggembira di sini. Oke, ndak masalah. Melihat saja sudah belajar banyak. Hehe. Lembaran kertas itu niscaya akan menjadi motivasi dan mungkin basah ketika haru biru itu datang saat lima tahun selanjutnya dibuka kembali.
Kembali ke Bus Kuning yang menghantar ke stasiun. Selepas tiba di seberangnya, saya berpamitan dengan belasan tangan mungil itu. Mengharap esok hari bisa bertemu lagi. Di lain kesempatan, dengan manisnya buah yang dipetik masing-masing.

---------------------------------------------------------
Eits, tenang. Masih ada serunya part 2 kok, Malam Perpisahan dengan Sabang Merauke angkatan pertama. Sabar aja. Juga ada out of event story-nya, yang nggak kalah seru dan garing. 
Ada kalanya segala yang kita tulis mungkin hanya sekedar coretan, karena itu komentar, kritik dan saran sangat membangun. Permintaan maaf akan selalu saya torehkan di sini selagi kesalahan yang ada selalu merundung.
Oh ya, kalau mau tahu lebih jauh tentang Sabang Merauke bisa cek nih di situs sabangmerauke.org (klik aja), dan twitter @SabangMeraukeID ,  atau nunggu laporan resmi dari BLP kami hehe.

OH IYA, LAGI. Gak ada foto-fotonya. Hehe Maaf yak. Lagi gak hobi foto-foto.


Wassalamu'alaykum wr.wb.

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Minggu, 03 Juli 2011

Pelajaran Kehidupan Bisa Diperoleh dari Mana Saja, Walaupun Kita Hanya Melihat

Assalamu'alaikum wr.wb.
Wah, sudah lama sekali saya tidak posting. :)
Kangenkah ? (ya enggak lah, followernya dikit)

Sudah akhir semester genap. Setelah susah payah derita dan usaha, akhirnya saya sudah melanglang buana melewati semester yang kelihatannya santai tapi ajaib ini.

Yah, mungkin anda pernah dengar situs keramat buat anak ITS yang namanya integra, situs sistem akademik online ITS, sehingga nilai-nilai yang keluar pasti ada di situ. Itulah yang namanya situs keramat di awal dan akhir semester. Nilai dan pertaruhan mata kuliah semester berikutnya.

Bisa dibilang kotak pandora sih, kita tidak akan tahu nilai yang keluar seperti apa, tergantung dosennya. Dan setiap membuka pasti deg-degan. Namanya juga nilai. Selalu misterius. Kalo dibuka bisa kecewa ataupun senang *sujud syukur mungkin*

Mungkin itu hanya sekilas info yang mengawali postingan saya hari ini. Pelajaran yang saya dapat dari sana adalah ketulusan. Ketulusan mencari ilmu sepertinya suatu topik yang saya resapi di sini.



Pelajaran ini saya dapatkan menghadapi teman-teman saya yang mungkin derita bersedih menghadapi kenyataan si situs kotak pandora (baca: integra). Mungkin nama-namanya tidak saya sebutkan di sini. Hanya beberapa penanda seperti A, B, C dan seterusnya.

Mulai dari si A. Teman sekelas kalkulus saya. Yah biasalah mungkin penyakit anak pandai :D. Ketika mungkin A tidak menerima kenyataan bahwa dia mendapat nilai tidak sebaik teman saya yang A rasa tidak lebih pintar dari A. Di sini saya dan beberapa teman saya yang lain berusaha menyadarkan bahwa segala gerutuan yang A lontarkan tidak seharusnya dia lontarkan. Karena pada awalnya A menggembar-gemborkan orientasi ilmu, bukan orientasi nilai. Tapi, teman-teman yang lain memberikan pendapat bahwa yang A katakan tidak sesuai dengan kata-katanya dulu. Istilahnya ya mungkin mulut tidak sejalan dengan hati.



Iya, hati. Hati teman-teman saya yang lain merasa trenyuh ketika mendengar hal itu. Mereka protes di sana-sini (berusaha mengembalikan kesadaran A dan ingatannya ketika berbicara orientasi ilmu). "Seandainya memang kamu merasa dirimu orientasi ilmu, bukanlah tindakan yang tepat jika kamu sekarang menggerutu, karena ilmu yang didapatkan tidak diukur dari nilai. Tetapi ke dalam dirimu sendiri, apa saja yang kamu dapat ketika proses menimba ilmu itu," ujar salah satu teman saya.
Mungkin si A sekarang sedang berusaha introspeksi diri, dan menyadari bahwa untuk mencari ilmu butuh ketulusan. Ketulusan untuk mencari ilmu tidaklah diukur dari hasil akhir.

Nah, sekarang si B, yang terkesan didzalimi oleh dosennya. Dan masih si imut kalkulus (tapi kelas lain). Sekelas nilainya D sama E semua! (saya juga syok, tapi mau bagaimana lagi). Mungkin ini yang terbaik. Eits, belum saatnya menyesal dan menerima. Si B dan teman-teman sekelas merasa ada sesuatu yang salah dengan ini. Berusaha memperjuangkan kebenaran, berangkatlah si B menuju peraduan (tempat dosen maksudnya). Entah kenapa, dosennya terlalu tidak jelas, si B akhirnya pasrah menunggu keajaiban nilai. Sampai sekarang, si B masih menunggu, dan akhirnya nilai kelasnya tidak banyak berubah.
 
Yang saya salut dari si B ini adalah kesabarannya dalam memperjuangkan nilai, walaupun pada akhirnya tetap menerima karena nilainya tidak banyak berubah, dan si B tetap legawa untuk menghadapi semua ini. Tetap semangat, B!



Lalu, lain cerita si C. Si C curhat ke saya suatu ketika setelah nilai suatu mata kuliah keluar. C bercerita (agak gerutu keluh kesah) mengapa nilainya bisa lebih jelek dari temennya yang sebenernya diajari oleh si C. Mungkin si C tidak terima *yah kasusnya mirip-mirip lah sama si A*. Tapi, yang membedakan begini, si C takut ketika misalkan temennya yang diajari itu tidak membalas budi baiknya. Mungkin inikah yang dinamakan pamrih? Lalu, saya berusaha menjadi manusia baik *manusia baik, katanya*. Berusaha memberi pengertian. Jika ketika berhadapan dengan situasi seperti itu, saya (jika menjadi C) tidak masalah bagaimana akhirnya si yang diajari itu membalas kebaikan kita atau tidak, tetapi kita akan merasa lebih senang ketika yang diajari mengerti apa yang kita beritahukan kepada yang meminta diajari. Cukup itu. Entah si C merasa lebih baik atau bagaimana, paling tidak saya merasa saya sudah memberikan yang terbaik.

Okeh, mungkin sekian. Kesimpulannya, meskipun saya tidak di posisi mereka rasanya saya bisa merasakan kesedihan mereka. Tapi, ada satu kendala yang saya takutkan di sini. Ketika saya ada di posisi mereka, apakah saya bisa menjalani semua yang saya katakan di sini. Sebagai manusia yang sok-sokan baik hati? Mungkin iya, mungkin tidak. Semua tergantung pada diri saya.

Sebelumnya terima kasih juga ke teman-teman yang sudah saya ceritakan di sini. Kalian memberikan pelajaran berharga

Bismillah. Semoga ucapan saya dan hati saya selalu sejalan, sehingga semua amal yang saya ucapkan dan perbuat bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri selalu. Amin.


Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh