Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 September 2017

Mereka yang Merantau, Mereka yang Merindu

*tulisan ini berdasarkan hasil pemikiran pribadi dan muncul dari kisah-kisah kawan seperjuangan, jika memang ada yang tersinggung mohon dimaafkan

"Selamat ya, bisa berangkat ke luar negeri"
"Titip kamu selamat aja deh"
"Semoga perjalanannya berkah dan bisa membawa manfaat"
"Ingat untuk pulang ya"
....
Alhamdulillah banyak ucapan doa yang menyertai kepergian insan Indonesia yang memilih untuk menjejakkan kaki ke luar tanah air ini. Untaian kata ini juga berlaku kepada mereka yang disertai takdir-Nya melepas tatapan keseharian dengan keluarga mereka terutama orang tua. Orang tua yang selalu kita kecup tangannya setiap hari ketika akan bertolak dari pintu rumah kita yang sederhana.
Ketika lepas dari beliau-beliau beberapa hari kemudian, mereka yang beranjak dari kampung halaman terpaut dengan segala tugas, tumpukan pekerjaan, rangkaian skenario eksperimen, atau lautan artikel ilmiah untuk disantap. Mereka yang serius mengerjakan itu tiba-tiba merasa ada perasaan aneh di dalam hati. Rasa penasaran. "Bapak di rumah bagaimana ya kabarnya? Ibu sehat-sehat tidak ya? Adik sekolahnya lancar tidak ya?"
Mereka khawatir terhadap keadaan keluarga yang mewarnai hidupnya sehari-hari. Perasaan kosong. Galau. Ya, mereka merindu. Merindukan memberi ucapan salam ketika datang ke rumah entah setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Sekali lagi, ada mereka yang tak bisa pulang dalam waktu yang mudah ditentukan. Bisa jadi baru bisa pulang 6 bulan kemudian, 1 tahun lagi, 2 tahun? Atau malah tidak ada yang tahu.
Teknologi yang canggih pun rasanya tak mampu melipur lara akibat rindu. Meski mereka melihat wajah ayah dan ibu di layar ponsel, kadang terpikir, "kapan aku pulang ya?" Berkhayal mencium pipi dan mengelus tangan yang semakin keriput dan ringkih itu. Berharap ketika mereka menyelesaikan perjuangan, sosok idaman yang memberi naungan sejak kecil itu berada di depan mereka.
--
Rindu itu menyulitkan. Rindu itu menyesakkan. Rindu itu membuat air mata kita jatuh di tiap malam. Namun, kawan, ingatkah engkau? Akan janji Tuhan yang tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya?
Kawan, jika memang rindu itu membuat kita merasa berat, maka mungkin kerinduan itu adalah salah satu ujian. Mungkin kerinduan itu adalah salah satu cara Allah untuk menunjukkan bagaimana membuat kita bisa menyampaikan kasih sayang kita terhadap orang tua dengan lebih indah dengan jarak yang jauh.
Sampaikanlah cintamu, kasih sayangmu, harapanmu lewat manapun. Namun, tentu kita ingat yang utama, bagaimana skenario kita sampai di titik perjuangan kita ini. Titipkan semua itu ke sutradara utama kisah-kisah ini, melalui sujud yang bahkan kita usahakan dengan keras. Melalui doa-doa yang kita alirkan tiap malam, pagi, siang, dan sore. Hadirkanlah cinta dan cita itu di tiap titik peluh di kursi kuliah kita, di lelahnya mata kita pada baris-baris kata pada tumpukan artikel itu, dan di kilatan-kilatan tiap titik di layar komputer itu. Kuatkan hati, sampaikan rindu, titipkan cinta.

Salam,
Dari saya yang juga sedang berjuang bersama kerinduan.

Rabu, 06 September 2017

Catatan Seorang Mahasiswa - Tiba di Busan

Alhamdulillah, akhirnya sampai di Busan. Kata pertama yang diramu dengan kepanikan dan gempar penasaran untuk menanti bagaimana kuliah doktoral di negeri ginseng ini. Di bandar udara Gimhae, saya menjejakkan kaki bersama dua orang mahasiswa baru PNU (Pusan National University) lainnya, Lucy dan Betha. Kami disambut oleh hawa dingin berselimut awan mendung padahal ketika itu waktunya musim panas. Beruntung, pakaian tebal luar biasa sangat membantu pertahanan tubuh yang ringkih ini.

Menunggu tidak cukup lama, kami (secara terpisah, karena ada beberapa pembagian kelompok penjemputan berdasarkan informasi dari kantor internasional PNU) segera bertolak ke PNU untuk segera beristirahat di asrama. Menumpang taksi yang cukup mewah dari bandara, saya duduk di belakang bersama koper (terdengar menyedihkankah?). Perjalanan terasa sangat.... menegangkan. Manuver pak sopir demikian membuat detak jantung sedikit naik tingkat. Alhamdulillah jantung saya sudah cukup terlatih menghadapi gaya mengemudi yang lebih menguras adrenalin di ibukota. Sedemikian hingga, saya pun tiba di depan persimpangan asrama bersama rombongan.

Di kantor pengambilan kartu asrama sementara, sekali lagi, rasa khawatir menghampiri perasaan saya. Nama saya tidak ditemukan di daftar penghuni asrama! (Laa ilaa haillallah, apa pulang kali yah, uang masih cukup untuk beli tiket sepertinya, he he.) Didampingi ahjussi yang juga panik karena nama saya tidak ada, saya pergi ke kantor asrama yang berada di depan kantor pengambilan kartu. Dan, gadis yang melayani kami kebetulan cukup bernada tinggi, "Kok tidak melihat nomor kamarnya sih?" Saya hanya diam dan berdoa agar segera diberi solusi. Seorang bapak staf yang berada di depan komputer menanyakan nomor pendaftaran saya dan langsung dicek di sistem. Eh, ternyata yang muncul seharusnya nama belakang duluan. Sebagai informasi daftar namanya ditulis di Hangeul: RAMADHAN HANI  ->  라마단 하니, seharusnya HANI RAMADHAN -> 하니 라마단. Yak kesan pertama di Korea Selatan, sukses bikin panik seorang bapak tua yang baik dan seorang gadis sedikit naik darah.

Singkat cerita, di asrama Jilli cukup nyaman (walau sempit, kamar mandi luar, tempat pancuran berbagi dengan 5 bilik lainnya dengan sekat tak menutup [ehm, jangan tanya bagaimana saya mandinya, tolong, dimohon-dengan-sangat]), dan saya beristirahat dengan tenang. Siangnya, saya diajak oleh Evy, mahasiswi master teknik lingkungan di PNU yang sudah berada di Korea Selatan sejak tahun lalu. Evy adalah seorang penerima beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program), beasiswa yang memberikan kesempatan untuk berkuliah di Korea Selatan dengan biaya pemerintah Korea Selatan dengan tambahan 1 tahun di awal untuk belajar bahasa Korea. Sehingga, bahasa Korea Evy cukup lancar. Saya? Berucap nasi goreng aja memicingkan mata di huruf Hangeul sampai bengong berlama-lama, cuma bisa berkata "Annyeong, gamsahamnida" saja. Makanan halal bagaimana? Saya sangat terselamatkan dengan restoran cepat saji yang menyediakan nasi lauk ikan dengan sayur sederhana yang bisa dijangkau 5 menit berjalan kaki dari lab. Sisanya? Saya berusaha mengernyitkan dahi di hadapan huruf Hangeul yang berdoa tidak ada kandungan babi, ayam, sapi, kambing, gelatin, dan rekan-rekannya (mendadak vegetarian dan pemakan ikan).

Bagaimana kuliah dan risetnya? Kuliah baru berjalan di tanggal 4 September 2017 dan saya mengambil 4 mata kuliah, yakni Big Data Processing, Big Data Analytics, Bahasa Korea untuk Pemula, dan Etika Riset. Kedua mata kuliah pertama tersebut sudah saya jalani dan cukup menyenangkan. Sangat terkait dengan minat saya dan membuat saya penasaran mengenai beberapa hal di bidang pengolahan data. Risetnya? Saya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari profesor pembimbing saya. Kebetulan, kedatangan saya bersamaan dengan kedatangan tawaran proyek-proyek yang terkait dengan laboratorium saya (kedua hal ini memiliki nilai fakta namun tidak berhubungan). Sehingga, saya cukup menunggu waktu untuk dimanfaatkan tenaganya secara maksimal, atau mungkin lebih dari maksimal. Bismillah, mohon doanya semoga perjalanan kami semua untuk menuntut ilmu ini diberikan berkah oleh Allah subhanahu wa ta'aala.

Aaamiiin.

Busan, di sudut tempat tidur kamar lantai enam gedung asrama yang paling tinggi
nb: Pemandangan matahari terbit di atap gedung bagus lho (kalau cerah)



Minggu, 15 Maret 2015

Kelas Inspirasi Sidoarjo-Jawa Timur [2013], Yuk Dayung! #SuperFlashback



Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Dear All, para pembaca yang mungkin setia menunggu adanya tulisan baru.
Berikut penulis ingin mengenang masa-masa riweuh lagi menjad mahasiswa S1 tahun terakhir (yang seharusnya rajin mengerjakan skripsi, tapi malah keluyuran ngalor-ngidul agak tidak jelas) di tahun 2013.

Dalam momen ini, ketika berbicara mengenai anak-anak, pasti cita-cita yang mereka impikan tidak jauh-jauh dari: guru, polisi, dokter, tentara, ustaz, dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya, ada juga lho profesi menarik lainnya, seperti: teknisi lift, pegawai pajak, freelancer, desainer situs, penulis, dosen, ahli pipa, ahli pengelasan bawah laut, dan lain-lain banyaknya. Apa salah kalau si anak-anak yang lucu dan menggemaskan ini mencita-citakan profesi yang sering ditemuinya setiap hari? Tentu tidak. Wujud nyata dari kontribusi bisa menjadi inspirasi, semangat yang tinggi untuk ditularkan ke generasi dini, ya... di sanalah tersebut nama Kelas Inspirasi.



Logo kelas inspirasi, maaf jika tidak kelihatan, karena memang resminya warnanya putih.

Ini yang warnanya oranye

Kelas Inspirasi (kelasinspirasi.org) merupakan sarana penyaluran semangat hidup, cinta pendidikan, dan kepedulian yang berlokasi di daerah-daerah di Indonesia. Menarget sekolah-sekolah dengan kondisi termarjinalkan, para relawan profesional (orang-orang yang sudah bekerja) berbagi cerita mengenai profesi dan keilmuan yang ditekuni saat itu. Mengambil waktu 11 November 2013, sehari setelah hari Pahlawan, seluruh skuad sukarelawan (iya, sukarela) Kelas Inspirasi Jawa Timur mengambil cuti (kalau penulis merelakan satu mata kuliah saat itu, berbahaya, jangan ditiru). Si penulis mengambil jatah sukarela di Kelas Inspirasi Sidoarjo, dengan keterangan beberapa sekolah yang menjadi target sebagai berikut:
- jumlah anak dalam 1 sekolah yang bisa dihitung dengan jari....4 orang.
- harus menyeberangi tambak dulu agar sampai ke tujuan.
- berbenah memperbaiki diri.
- dan lain sebagainya.
Persiapan

Di tim KI SDA, beranggotakan segelintir relawan panitia (Penulis, Mas Radite, Mbak Syifa, Mbak Orysa, Mbak Irma, Mbak Shofa, Mas Adit, Mas Azzam, Mbak Fuji, Mbak Ajeng, dan nama-nama lain yang mohon maaf tidak tersebut) harus kalang kabut cari sekolah untuk lokasi Hari Inspirasi, cari relawan untuk mengisi Hari Inspirasi, dan segala macam properti sampai (mungkin) kepala pusing tujuh keliling. Berbekal semangat, bimbingan, cinta edukasi, now-or-never, dan power of kepepet terkumpul sekitar dua puluhan relawan pengajar, belasan relawan fotografer dan videografer. Tugas saya? Desainer, merangkap IT, merangkap hubungan masyarakat, merangkap lain-lain dan merangkap seadanya.

Semua berjalan sedemikian hingga, apa pun, demi terlaksananya pancaran inspirasi untuk anak-anak ini. Mulai dari menyebar poster dan brosur untuk mencari relawan, menyusup ke Car Free Day mencari orang yang berpotensi menjadi relawan, pulang pergi ke Sun City (dari kampus ITS, kalau dari rumah ketahuan bapak ibu dong #eh). Semua pengorbanan itu Lillahi Ta'aala, dalam bentuk yang bermacam-macam (Insyaa Allah).

Tapi berkat kalang kabut persiapan ini, persaudaraan kami masih terjaga lho! :)

[foto menyusul, itu pun kalau ada]

Hari Inspirasi
Ditugaskan di sebuah daerah yang riuh dari kerumunan pabrik, saya bersama partner "keren" dan "kece" dan sangat "kooperatif" (semuanya diberi tanda kutip, Syif) menyerbu SDN Sidomulyo. Berbekal persiapan survey sebelumnya, banyak hal yang kami persiapkan untuk mereka, sampai benih pohon yang nantinya kami gunakan untuk menutup Hari Inspirasi.


Mas Ali, Relawan Pengajar
Mbak Zahroh/Elvi, Relawan Pengajar
Mas Doddy, Relawan Pengajar
Mas Yudha, Relawan Fotografer

Mbak Zahroh, Mas Ali, Mas Doddy, Mas Yudha, ternama relawan-relawan pengajar dan relawan fotografer di Kelas Inspirasi Sidoarjo 2013 di SDN Sidomulyo. Diawali dengan upacara bendera memperingati hari Pahlawan, Hari Inspirasi dibuka dengan begitu meriah dilanjutkan dengan senam kompilasi a la Mas Ali.

Upacara Bendera Menyambut Hari Pahlawan 11 November 2013

Mas Ali, memimpin "senam"
Anak-anak, begitu girang dan gemilang, menyambut kedatangan orang-orang asing yang mengajar hal yang berbeda. Kilap seragam putih merah menghambur demikian cantik di dalam arahan dan segala properti milik para relawan pengajar. Keseruan, tangisan, kemanjaan, dan semangat meraih mimpi itu tergambar di wajah riang siswa-siswi SD ini. Benar lho, menangis! Yang entah bagaimana ada seorang siswi yang menangis ketika dr. Zahroh mengajar di dalam kelas. Masing-masing dari kami, relawan panitia, dan dr. Zahroh sendiri bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun, semua itu masih menjadi misteri.
Simulasi pemeriksaan dokter -Mbak Zahroh
Lift? Bergerak? -Mas Doddy
Pajak? Buat Apa? -Mas Ali

Saya sendiri? Seharusnya berlari ke sana ke mari untuk menangani kebutuhan relawan pengajar, tapi saya malah diseret anak kelas 3 untuk bermain. Ah ya sudah, kan sekali seumur hidup kali ya, pikir saya. Ya, Kelas Inspirasi ditujukan untuk murid-murid kelas 4, 5, dan 6 karena dianggap sudah siap menerima materi inspirasi dari para relawan pengajar. Sedangkan, kelas 1, 2, dan 3 masih butuh perhatian lebih dari gurunya untuk mengejar materi formal.

Apa sih yang diajarkan dari seorang dokter, pegawai pajak, dan teknisi lift? Biologi? Keuangan? Rumus fisika? Tidak, tentu tidak. Seperti terkata sebelumnya, Kelas Inspirasi memberikan wawasan profesi. Jadi, bukan bagaimana sistem tubuh manusia yang sakit harus diobati, tapi bagaimana cara berobat dan mengatur kesehatan yang baik. Bukan bagaimana pajak itu dihitung dari A sampai Z, tapi bagaimana menjadi seorang wajib pajak yang baik dan memberikan kesadaran bahwa membayar pajak itu penting untuk anak-anak. Bukan bagaimana terapan rumus fisika di dalam lift, tapi bagaimana misteri lift bisa naik dan turun dengan hanya perintah tombol dan peran si teknisi tersebut. Berikut properti yang bersangkutan seperti boneka a la pasien dan simulasi lift dari stik es krim.

Mari menanam Pohon!

Kelas Inspirasi Sidoarjo - SDN Sidomulyo

Perjalanan Hari Inspirasi ditutup dengan penanaman pohon bersama yang menandakan impian-impian kami (relawan Kelas Inspirasi, pengajar-pengajar SDN Sidomulyo, dan utamanya anak-anak kecil itu) akan tumbuh dengan indah dengan nutrisi yang baik, dan akan memberi manfaat bagi sekitar bak udara segar yang menemani mentari pagi. Mimpi itu hendaknya menjadi nyata diiringi dengan usaha dan doa untuk Indonesia yang lebih baik. Insyaa Allah. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bukan? Insya Allah adik-adik sekalian adalah bagian dari orang-orang yang paling bermanfaat tersebut. Pasti.

Pasca Hari Inspirasi - Refleksi?

Hari Inspirasi yang didominasi keseruan dan kenangan tentu layak diceritakan dan didiskusikan satu sama lain. Bersama kota-kota lainnya, cerita ini berpadu di hari Refleksi Kelas Inspirasi: Apa yang akan kita lakukan setelah itu?
Refleksi, bukan maksud untuk pemijatan dan relaksasi, adalah tempat kita semua, para relawan Kelas Inspirasi bersatu untuk berpikir bagaimana efek Kelas Inspirasi bisa menyebar ke saudara-saudara lainnya yang di luar sana. Saudara yang harus terjun langsung dalam proses birokrasi dan pemerintahan agar pendidikan di Indonesia terus maju dan lebih baik. Saudara yang tetap bekerja di dalam lingkup non-pendidikan untuk menyuarakan kebutuhan akan pendidikan yang merata dan sesuai untuk masyarakat. Saudara yang sedang berusaha menerapkan pendidikan agar makna pendidikan tidak hanya terhenti di bangku-bangku pembelajaran. Semua rangkaian usaha itu kelak bersatu untuk perwujudan mimpi yang lebih indah demi umat manusia (walau terdengar berlebihan, tapi kita semua berusaha mewujudkan manfaat terbaik dari yang bisa dimunculkan manusia. Titik-titik ide tersebut bisa terhubung menjadi garis-garis, yang nantinya berwujud gambaran konkrit masa depan, bukan?)


Ya itulah kami, di Kelas Inspirasi: Beraksi Sehari, Selamanya Menginspirasi!
Terima kasih atas pengalaman yang diberikan (mulai 1 tahun sekian bulan lalu), saya [Insyaa Allah] selalu mendukung akan kemajuan gerakan berbagi ini!

Sidoarjo Team - Refleksi Akbar KI Jawa Timur 2013
Maafkan jika ada salah kata dan ucap.
Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Minggu, 03 Juli 2011

Pelajaran Kehidupan Bisa Diperoleh dari Mana Saja, Walaupun Kita Hanya Melihat

Assalamu'alaikum wr.wb.
Wah, sudah lama sekali saya tidak posting. :)
Kangenkah ? (ya enggak lah, followernya dikit)

Sudah akhir semester genap. Setelah susah payah derita dan usaha, akhirnya saya sudah melanglang buana melewati semester yang kelihatannya santai tapi ajaib ini.

Yah, mungkin anda pernah dengar situs keramat buat anak ITS yang namanya integra, situs sistem akademik online ITS, sehingga nilai-nilai yang keluar pasti ada di situ. Itulah yang namanya situs keramat di awal dan akhir semester. Nilai dan pertaruhan mata kuliah semester berikutnya.

Bisa dibilang kotak pandora sih, kita tidak akan tahu nilai yang keluar seperti apa, tergantung dosennya. Dan setiap membuka pasti deg-degan. Namanya juga nilai. Selalu misterius. Kalo dibuka bisa kecewa ataupun senang *sujud syukur mungkin*

Mungkin itu hanya sekilas info yang mengawali postingan saya hari ini. Pelajaran yang saya dapat dari sana adalah ketulusan. Ketulusan mencari ilmu sepertinya suatu topik yang saya resapi di sini.



Pelajaran ini saya dapatkan menghadapi teman-teman saya yang mungkin derita bersedih menghadapi kenyataan si situs kotak pandora (baca: integra). Mungkin nama-namanya tidak saya sebutkan di sini. Hanya beberapa penanda seperti A, B, C dan seterusnya.

Mulai dari si A. Teman sekelas kalkulus saya. Yah biasalah mungkin penyakit anak pandai :D. Ketika mungkin A tidak menerima kenyataan bahwa dia mendapat nilai tidak sebaik teman saya yang A rasa tidak lebih pintar dari A. Di sini saya dan beberapa teman saya yang lain berusaha menyadarkan bahwa segala gerutuan yang A lontarkan tidak seharusnya dia lontarkan. Karena pada awalnya A menggembar-gemborkan orientasi ilmu, bukan orientasi nilai. Tapi, teman-teman yang lain memberikan pendapat bahwa yang A katakan tidak sesuai dengan kata-katanya dulu. Istilahnya ya mungkin mulut tidak sejalan dengan hati.



Iya, hati. Hati teman-teman saya yang lain merasa trenyuh ketika mendengar hal itu. Mereka protes di sana-sini (berusaha mengembalikan kesadaran A dan ingatannya ketika berbicara orientasi ilmu). "Seandainya memang kamu merasa dirimu orientasi ilmu, bukanlah tindakan yang tepat jika kamu sekarang menggerutu, karena ilmu yang didapatkan tidak diukur dari nilai. Tetapi ke dalam dirimu sendiri, apa saja yang kamu dapat ketika proses menimba ilmu itu," ujar salah satu teman saya.
Mungkin si A sekarang sedang berusaha introspeksi diri, dan menyadari bahwa untuk mencari ilmu butuh ketulusan. Ketulusan untuk mencari ilmu tidaklah diukur dari hasil akhir.

Nah, sekarang si B, yang terkesan didzalimi oleh dosennya. Dan masih si imut kalkulus (tapi kelas lain). Sekelas nilainya D sama E semua! (saya juga syok, tapi mau bagaimana lagi). Mungkin ini yang terbaik. Eits, belum saatnya menyesal dan menerima. Si B dan teman-teman sekelas merasa ada sesuatu yang salah dengan ini. Berusaha memperjuangkan kebenaran, berangkatlah si B menuju peraduan (tempat dosen maksudnya). Entah kenapa, dosennya terlalu tidak jelas, si B akhirnya pasrah menunggu keajaiban nilai. Sampai sekarang, si B masih menunggu, dan akhirnya nilai kelasnya tidak banyak berubah.
 
Yang saya salut dari si B ini adalah kesabarannya dalam memperjuangkan nilai, walaupun pada akhirnya tetap menerima karena nilainya tidak banyak berubah, dan si B tetap legawa untuk menghadapi semua ini. Tetap semangat, B!



Lalu, lain cerita si C. Si C curhat ke saya suatu ketika setelah nilai suatu mata kuliah keluar. C bercerita (agak gerutu keluh kesah) mengapa nilainya bisa lebih jelek dari temennya yang sebenernya diajari oleh si C. Mungkin si C tidak terima *yah kasusnya mirip-mirip lah sama si A*. Tapi, yang membedakan begini, si C takut ketika misalkan temennya yang diajari itu tidak membalas budi baiknya. Mungkin inikah yang dinamakan pamrih? Lalu, saya berusaha menjadi manusia baik *manusia baik, katanya*. Berusaha memberi pengertian. Jika ketika berhadapan dengan situasi seperti itu, saya (jika menjadi C) tidak masalah bagaimana akhirnya si yang diajari itu membalas kebaikan kita atau tidak, tetapi kita akan merasa lebih senang ketika yang diajari mengerti apa yang kita beritahukan kepada yang meminta diajari. Cukup itu. Entah si C merasa lebih baik atau bagaimana, paling tidak saya merasa saya sudah memberikan yang terbaik.

Okeh, mungkin sekian. Kesimpulannya, meskipun saya tidak di posisi mereka rasanya saya bisa merasakan kesedihan mereka. Tapi, ada satu kendala yang saya takutkan di sini. Ketika saya ada di posisi mereka, apakah saya bisa menjalani semua yang saya katakan di sini. Sebagai manusia yang sok-sokan baik hati? Mungkin iya, mungkin tidak. Semua tergantung pada diri saya.

Sebelumnya terima kasih juga ke teman-teman yang sudah saya ceritakan di sini. Kalian memberikan pelajaran berharga

Bismillah. Semoga ucapan saya dan hati saya selalu sejalan, sehingga semua amal yang saya ucapkan dan perbuat bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri selalu. Amin.


Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Rabu, 19 Mei 2010

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-102

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Tidak terasa sudah 102 tahun lalu, Pergerakan Nasional Indonesia mulai dirintis sedikit demi sedikit dengan berdirinya organisasi sosial budaya pertama Boedi Oetomo. Di tengah bergolaknya penderitaan dan tangis mendera akibat penjajahan Belanda yang tercatat dalam waktu tiga setengah abad, suara para kaum cendekia mulai berhingar-bingar walaupun di dalam kalangan bangsa Indonesia yang sembunyi-sembunyi merancang rencana kemerdekaan yang akan terlaksana 37 tahun setelahnya tanpa diketahui.

Semangat yang disulut oleh DR. Soetomo dan kawan-kawan pun patut kita contoh demi masa depan sehingga perjuangan mereka tidak sia-sia. Pada awalnya mereka mungkin berharap agar Indonesia lepas dari belenggu imperialisme dan kolonialisme. Dan terhitung 17 Agustus 1945, Indonesia sudah lepas dari belenggu tersebut. Namun, apakah sebenarnya benar-benar sudah? Dan lagi, api semangat yang disulut oleh kaum cendekia pada masa 102 tahun lalu tidak akan direncanakan padam setelah 102 tahun menyala. Karena mereka sadar akan jalan yang masih sangat panjang yang akan ditempuh Bangsa Indonesia lebih dari 37 tahun ke depan lagi.

Adakah berbagai cara memanfaatkan semangat yang belum mati itu?

Tidak usahlah terlalu jauh kita memikirkan pemerintah, tidak usahlah terlalu jauh memikirkan petinggi-petinggi nan jauh di sana... Berpikirlah tentang apa yang akan kita lakukan sendiri... Demi bangsa kita... Prestasi...Pengabdian dan lain sebagainya..

Mungkin kita sering bertanya "Apa yang pernah negara lakukan kepada kita?" Namun, itu sudah basi dan tidak relevan dengan keadaan negara... tapi pertanyakanlah "Apa yang pernah kita lakukan kepada negara?"

Mungkin itulah sekelumit tulisan dari ketika tuts-tuts papan ketik saya...semoga bermanfaat...

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-102....

Salam Merah Putih Jaya!

Wassalamu alaikum Wr.Wb