Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

Cerpen: Nina Kecil Sekolah di Indonesia

“Waaaaah, kita sudah sampai di Indonesia, Yah, Ibu!” sahut Nina dengan riang. Hamparan aspal luas dan rerumputan hijau yang rata menyambut pendaratan burung besi yang ditumpanginya. Jajaran huruf “SOEKARNO HATTA” turut mengiringi arah pandangan Nina. Di dalam pesawat, Nina duduk di samping jendela. Posisi ini didapatnya setelah bertukar tempat duduk dengan sang Ayah. Tidak lama kemudian, kakak pramugari manis membantu rombongan kecil itu turun dari pesawat. Yah, akhirnya kakak pramugari itu berhasil menenangkan tingkah gadis 8 tahun itu. Nina tampaknya sedikit terlalu bersemangat sampai di Indonesia.
“Merci! Au revoir, Madame!1”ujar Nina kepada kakak pramugari di sampingnya itu.
Ayah Nina dengan sigap mengambil koper yang disimpan di rak di atas tempat duduk mereka. Ayah Nina berperawakan tinggi tetapi tidak terlalu besar, tidak kurus dan juga tidak terlalu gendut. Rambut Ayah Nina sudah mulai menipis namun masih sering dimainkan Nina. Sedangkan, Ibu Nina sendiri adalah seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang tergerai dengan garis wajah keibuan yang kentara di pipinya. Tinggi Ibu Nina hanya sekitar berbeda 5 sentimeter dengan Ayah Nina. Nina, buah hati mereka, tingginya mencapai sepinggang Ibunya lebih sedikit. Mata Nina terlihat besar dengan lesung pipit dan pipinya yang tembem. Mereka bergantian menyalurkan bawaan mereka dan berjalan di antara kursi-kursi pesawat menuju pintu keluar.
Tidak lama, jejak langkah keluarga kecil tersebut menjauh dari pesawat. Lalu, Nina menoleh lagi ke belakang. Senyum si pramugari terlihat semakin kecil dari lambaian tangan Nina. Tatkala tiba di gedung bandar udara, tiga pasang kaki itu langsung menuju arah imigrasi dengan paspor Indonesia. Selesai urusan di imigrasi, mereka pun dinyatakan sebagai orang yang resmi kembali pulang di tanah air. Mereka semua siap menjalani hidup baru di Indonesia setelah banyak kenangan indah yang terjadi selama 3 tahun di negeri Heksagon, Prancis.
***
“Nina? Nanti malam mau Ibu masakkan apa?” tanya Ibu Nina kepada Nina.
“Mmmmmm, Nina mau makan rawon boleh, Bu?” jawab Nina.
“Eh, jangan Bu. Kemarin sudah soto, jangan masakan Indonesia lagi. Nanti bumbunya cepat habis,” tiba-tiba ralat Nina dengan cepat. “Sup ayam saja, Bu.”
“Oke, Ayah juga mau, kan ya?” Tanya Ibu Nina kepada Ayah Nina.
“Apapun yang Ibu masak, ayah pasti akan makan!” Sahut Ayah Nina bersemangat.
Pembicaraan pagi hari di sudut apartemen kecil itu mewarnai kehidupan keluarga kecil itu selama 3 tahun. Topiknya pun beragam, mulai dari menu makan malam, kegiatan Ibu di siang hari, pelajaran Nina hari itu, rencana liburan ke luar kota, kehebohan persiapan sidang penentuan kelulusan sang Ayah dari studi doktoralnya, sampai rencana kepindahan keluarga kecil itu ke Indonesia. Bagi keluarga tersebut, kesederhanaan dialog pagi tersebut mengalahkan kemegahan menara Eiffel. Meskipun menara Eiffel bisa mereka lihat setiap hari ketika naik bus menuju sekolah Nina atau menuju kampus Ayah.
Ketika baru saja tiba di Prancis, memang semua tidak berjalan lancar. Nina merengek minta pulang tidak ada habisnya saat mendapati di Prancis tidak ada nasi. Untungnya, perkara nasi ini baru terselesaikan ketika Ibu Nina menemukan toko yang menjual beras kiloan seminggu kemudian.
Di kemudian hari, tangisan Nina semakin menjadi ketika Nina mengamuk meminta nogosari2, cemilan favoritnya. Tentu saja makanan khas Indonesia itu hampir tidak bisa ditemukan di Prancis, kecuali dibuat sendiri. Alhasil, dengan susah payah, Ibu dan Ayah Nina berhasil membuat nogosari ala kadarnya di akhir minggu. Bisa dibilang prestasi Ibu dan Ayah Nina dalam membuat nogosari cukup membanggakan. Meskipun nogosari buatan sendiri itu berbungkus kertas aluminium, beradonan tepung beras terlalu lembek di sana-sini, dan berpisang tidak sama dengan yang di Indonesia, Nina akhirnya maklum dengan usaha orang tuanya itu.
“Enak kok, Ayah, Ibu! Nina suka! Kapan-kapan buat lemper3 ya!” kata Nina. Kedua orang tua Nina hanya saling menatap dan menghela napas panjang.
***
Seminggu setelah tiba di Indonesia, saatnya Nina masuk sekolah sebagai murid kelas 3 SD. Masuk SD bukan merupakan hal sulit bagi Nina karena berbagai hal merepotkan sudah diurus oleh Ibu Nina di Prancis dan Paman Egi di Indonesia. Mereka percaya usaha mereka akan membuahkan hasil. Dan akhirnya, Nina dinyatakan secara resmi masuk ke SD Swasta yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahnya.
Sehari sebelum berangkat sekolah, Ibu Nina memeriksa jadwal pelajaran Nina untuk hari pertama sekolah. Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran, Matematika 1 jam pelajaran, istirahat, dan, Agama 2 jam pelajaran. Dalam pikiran Ibu Nina, Bahasa Indonesia sepertinya tidak ada masalah, mungkin hanya perbedaan pelafalan huruf “R” dan mengikuti pelajaran sedikit. Di Prancis, Ibu Nina juga sudah banyak mengajarkan cara membaca dan membentuk kalimat untuk Nina. Matematika juga seharusnya Nina sangat cerdas menghitung, pikir Ibu Nina.
“Hmmmm…. Agama Islam ya?” ucap Ibu Nina lirih. “Nina, ke sini sebentar, Nak!” sahut Ibu Nina.
“Iya, Bu?” Tanya Nina ketika bergegas masuk ke kamarnya.
“Nina, besok kan ada pelajaran Agama Islam. Di sekolah Nina yang lama kan tidak ada,” ujar Ibu. “Nina, dengarkan pesan Ibu untuk besok, ya.”
“He em,” angguk Nina.
“Nina, besok bawa kerudung untuk pelajaran Agama Islam, dipakainya ya ketika pelajaran Agama Islam. Lalu, jika ada yang Nina tidak tahu, ditulis dulu di kertas untuk ditanyakan ke guru Agama Islam. Ditanyakannya nanti saja, ketika pelajaran selesai, datang ke gurunya. Kan Agama Islam juga jam terakhir, jadi bisa saat pulang. Jika Nina ditanyai guru tentang sesuatu yang Nina tidak tahu atau belum pelajari, bilang saja ‘Maaf Bapak atau Ibu, saya belum belajar mengenai hal itu’. Mengerti?” ucap Ibu Nina menjelaskan panjang.
“Hm, iya, Bu. Nina mengerti. Besok Nina lakukan, Bu,” angguk Nina lagi.
“Sip, Nak. Besok ketika pulang cerita ke Ibu ya, bagaimana sekolahnya,” pinta sang Ibu.
“Siap, Bu!” sahut Nina bersemangat. “Nina boleh pergi lagi?”
“Iya, main lagi, ya!”
Ibu Nina merasa lega Nina paham dengan pesannya. Nina pun juga tidak kalah berdebar-debar menghadapi esok hari. Apakah Nina akan memiliki teman-teman yang baik, apakah gurunya juga baik, apakah makanannya enak. Semua misteri itu akan terjawab esok harinya.
***
Hari itu, Nina mengenakan baju putih-merah ketika tiba di sekolah. Namun, pola dari baju Nina sedikit berbeda dengan anak-anak sebayanya di sekolah itu. Rasa kurang percaya diri muncul di diri Nina. Tetapi, setelah melihat senyum ibunya, Nina merasa semuanya akan baik-baik saja.
Sebelum masuk kelas, Nina diantarkan ibunya ke ruang tata usaha dan dikenalkan dengan beberapa guru, termasuk wali kelasnya, Bu Ratih. Bu Ratih kemudian mengantarkan Nina ke ruang kelasnya di lantai dua. Bu Ratih sedikit menerangkan ke Nina bahwa muridnya ada 23 anak. Ditambah Nina, akan menjadi 24 anak. Dan, perkenalan pun dimulai.
“Selamat Pagi, perkenalkan nama saya Nina Prayogi. Saya biasa dipanggil Nina,” begitulah pengumuman Nina di depan kelas dengan logat yang kaku dan berbeda.
“Halo Nina!” Ujar seisi kelas.
“Nina, kamu duduk di sebelah Risa, ya!” Kata Bu Ratih sambil menunjuk bangku kosong di sebelah anak berkerudung.
Nina berjalan ke arah bangku tersebut sambil menenteng tasnya. Tiba-tiba dia diajak bicara oleh Risa.
“Halo, Nina, aku Risa,” kata Risa tersenyum untuk membuka pembicaraan.
“Halo, Risa. Saya Nina,” balas Nina sambil tersenyum pula.
Selepas itu, Bu Ratih menjelaskan bahwa Nina adalah pindahan dari Prancis. Prancis adalah negara yang berkilo-kilometer jauhnya dari sekolah itu. Prancis terkenal karena keju dan menara Eiffel, serta roti panjang yang dikenal dengan nama baguette. Riuh terdengar dari ruang kelas itu. Banyak yang penasaran bagaimana Prancis, dan begitu juga mengenai Nina.
Pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan jam istirahat berakhir begitu saja. Nina berhasil mengikuti pelajaran dengan lancar walau tertinggal beberapa minggu. Meskipun Nina tidak mengetahui beberapa kata-kata dalam Bahasa Indonesia ketika mengerjakan soal, untunglah Risa baik hati membantu Nina untuk memahami kata-kata tersebut. Risa berusaha untuk menjelaskan dengan bantuan bahasa isyarat dan gerakan tubuh.
Tiba saatnya pelajaran Agama. Nina sebenarnya agak takut mengenai pelajaran ini, karena ini pelajaran agama Nina pertama kalinya. Terhitung sekitar 10 anak meninggalkan kelas. Anak-anak ini meninggalkan kelas karena beragama selain Islam. Sedangkan, siswa lainnya bersiap untuk pelajaran Agama Islam. Anak laki-laki mengenakan peci dan yang perempuan mengenakan kerudung, kecuali yang sudah berkerudung seperti Risa. Tidak sampai dua menit, sesosok wanita pendek berkacamata namun dengan paras lembut memasuki ruang kelas Nina.
“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh, anak-anak!” sapa orang itu.
“Wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakatuh, Bu Izzah!” balas seluruh kelas, kecuali Nina yang hanya bisa menyebut salam tanpa sapaan.
“Wah, kita sepertinya punya murid baru. Perkenalkan diri dulu ya ke Bu Izzah, silakan, Nak!” kata Bu Izzah menunjuk dirinya dan setelah itu menghampiri Nina.
Nina menatap Bu Izzah dengan perasaan yang agak grogi. Nina merasa sedikit canggung dengan kerudung Bu Izzah ini. Bu Izzah ini sangat terlihat lembut dan sabar. Tetapi, Nina berusaha membuka mulut.
“Bonj… Eh, halo, Bu Izzah. Nama saya Pra… eh Nina. Nina Prayogi,” kata Nina terbata-bata.
“Wah, namanya Nina, ya. Nama saya Izzah. Nur Faizzah. Selamat datang, kalau ada yang tidak tahu, tanyakan ke Ibu ya?” kata Bu Izzah.
“Iya, Bu,” kata Nina.
***
“Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran. Ayo, kita ulang dulu rukun islam dan rukun iman! Mulai dari Yahya sampai ke Indah!” Kata Bu Izzah menunjuk anak dari ujung belakang kanan hingga ujung depan kiri. “Ya, Yahya! Rukun islam pertama!”
“Syahadat, Bu!” Jawab Yahya berdiri, kemudian duduk.
“Kedua, salat!” Jawab anak selanjutnya.
Jawaban-jawaban bermunculan terus hingga giliran Nina, yang mendapatkan jatah menjawab rukun iman keempat. Keringat Nina bercucuran. Rukun iman dan islam tidak pernah diketahui oleh Nina sebelumnya. Baik ibu maupun ayahnya belum pernah memberitahunya ketika di Prancis. Atau mungkin pernah, tetapi Nina lupa karena terlalu grogi. Ingatan mengenai kegiatan belajar mengaji di kedutaan besar di Paris tidak membantunya pula. Kalau mengaji, bolehlah kemampuan Nina diadu.
Risa sebenarnya melihat ketegangan Nina. Risa mengisyaratkan sesuatu. Namun, terlambat, giliran Nina sudah sampai terlebih dahulu sehingga Nina. Nina pun berdiri.
“Ehm… Mmmm… iman kepada… kepada…,” Nina pun tertunduk malu. “Emm, Bu Izzah. Maaf, saya be… belum pernah belajar rukun iman.”
Nina melaksanakan pesan ibunya di hari sebelumnya. Terdengar suara tawa anak-anak di dalam kelas. Mungkin tidak semua. Ada yang dengan nada sedikit merendahkan. Juga terdengar sayup-sayup entah dari mana dan siapa, “Wah, rukun islam dan rukun iman yang mudah itu saja tidak bisa. Aku sejak TK saja bisa.”
Nina kembali duduk setelah itu, tertunduk. Risa mengerti apa yang dihadapi teman barunya. Kemudian, dia menepuk punggung Nina. Lalu, Risa berkata, “Sabar ya. Teman-teman tidak serius, kok. Sabar, ya.”
“Iya, Ris-Risa. Ti.. Tidak apa-apa kok,” suara Nina agak bergetar.
Bu Izzah memandangi Nina dengan tatapan penuh pengertian. Nina tidak sadar akan hal itu. Bu Izzah lalu meminta Risa menjawab jatah pertanyaan Nina dan untuk Risa sendiri setelah menghibur Nina.
Risa kemudian berdiri dan menjawab, “Rukun iman keempat, Iman kepada Rasul. Kelima, Iman kepada Hari Kiamat.”
Risa kembali duduk. Pelajaran Agama Islam berlanjut ke sifat-sifat wajib Allah. Nina sudah kembali siap menerima pelajaran. Dalam pelajaran ini dibahas hanya lima. Mendengar hal ini, banyak hal muncul dalam benak Nina. Nina menuliskan semua pertanyaan yang terpikirkan ke atas kertas untuk ditanyakan nanti ke Bu Izzah.
“Krrrrriiiiiiiing,” bel sekolah tanda akhir pelajaran berbunyi. Itu tandanya pulang sekolah. Lima menit sebelumnya Ibu Nina sudah datang ke sekolah untuk menjemput Nina. Ibu Nina menunggu di depan pintu sekolah.
Risa dan anak-anak lain sudah mengemasi tas sekolahnya dan beranjak pergi. Nina sengaja mengakhirkan kepulangannya untuk menanyakan banyak hal ke Bu Izzah. Bu Izzah juga berniat sama. Bu Izzah ingin mengajak Nina berbicara lebih banyak mengenai pengalaman bersekolah di Prancis.
“Bu Izzah…”,“Nina...,” ucap Nina dan Bu Izzah bersamaan.
“Baik, Nina dulu ya?” Tanya Bu Izzah.
“Iya Bu. Sebelumnya maaf, Bu. Tadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu.”
“Tidak apa-apa. Ibu maklum kok. Ibu juga mohon maaf menanyakan hal yang mungkin belum Nina ketahui.”
“Iya Bu, saya ingin tahu rukun iman dan rukun islam.”
“Iya, Ibu terangkan dulu ya. Rukun Iman itu ada 6. Yang pertama, iman kepada Allah. Kedua, iman kepada malaikat. Ketiga, iman kepada Al-Quran. Keempat, iman kepada rasul. Kelima, iman kepada hari kiamat. Keenam, iman kepada qadha’ dan qadar. Nina paham?”
“Iya, Bu. Boleh lanjut lagi?”
Sebenarnya, muncul pertanyaan-pertanyaan baru di benak Nina. Hal itu juga dicatat dalam kertas catatan Nina. Lalu, langsung ditanyakan setelah Bu Izzah selesai menerangkan rukun islam. Pembicaraan terbuka mulai dari apa arti iman, islam itu apa, dan tak terasa sudah berlalu 30 menit.
Ibu Nina yang ingin tahu mengapa Nina sangat lama berada di kelas segera masuk ke dalam gedung sekolah. Mula-mula, Ibu Nina mengganti sepatu dengan sandal yang disediakan untuk berkeliling di sekolah di penitipan sepatu. Lalu, Ibu Nina berjalan ke ruang kelas Nina di lantai dua. Ibu Nina pun melihat Nina sedang berkerudung dan bercakap-cakap ke seorang guru di meja guru. Ibu Nina merasa pembicaraan Nina sangat asyik. Dan Ibu Nina melangkahkan kaki ke dalam kelas dan mengucap, “Assalamu’alaykum.”
Salam Ibu Nina dibalas oleh Bu Izzah dan Nina. Ibu Nina mengajak Nina pulang karena sudah terlalu siang. Bu Izzah memohon maaf kepada Ibu Nina dan memperkenalkan diri ke Ibu Nina. Bu Izzah menjelaskan kepada Ibu Nina apa yang mereka sedang diskusikan dan bagaimana tingkah Nina ketika di dalam kelas. Ibu Nina mengangguk-angguk. Tidak lama kemudian, mereka berpisah.
“Bagaimana tadi sekolahnya, Nina?” Tanya Ibu Nina ke Nina.
“Asyik sekali, Bu! Nina punya teman baru, dan gurunya baik-baik!” jawab Nina selagi mereka menuruni tangga.
Ibu Nina mengembalikan sandal sekolah ke penitipan barang dan mengganti alas kaki ke sepatu lagi. Sedangkan Nina, mengganti sepatu ke lemari yang khusus disiapkan untuk penitipan sepatu bagi para murid. Nina mendapati ada surat di dalamnya.
“Nina, maafkan kami ya. Kami tadi mengejek kamu. Risa tadi memberitahu kami kalau kamu di Prancis tidak belajar agama islam seperti kami. Besok kamu mau main ke rumah Indah tidak sepulang sekolah?” tertulis demikian dalam surat yang diselipkan di bawah sepatu Nina.
Nina pun tersenyum. Banyak hal yang terjadi selama hanya satu hari di sekolah barunya. Mulai dari teman baru, guru-guru yang menyenangkan, terutama kembali ke kue-kue yang Nina senangi. Belum lagi hal baru yang belum atau jarang Nina pelajari sebelumnya, agama islam. Menurut Nina, hidup barunya ini akan lebih menyenangkan lagi daripada di Prancis. Semoga semuanya akan baik-baik saja, pikir Nina.
“Nina, ayo pulang!” panggil sang Ibu dari ujung pintu.
“Iya, Bu!” jawab Nina sambil berlari kecil ke arah pintu sekolah.
Begitulah kedua pasang langkah kaki itu meninggalkan sekolah baru Nina. Keluarga kecil itu akan mendapat banyak hal yang mewarnai hidup baru mereka. Berbeda dengan 3 tahun sebelumnya, sebelum berangkat ke Prancis dan di Prancis. Perbedaan pengetahuan dan pengalaman Nina malah membuat semua hal yang dihadapinya di Indonesia menyenangkan. Begitulah hidup baru Nina. Au révoir!
1Bahasa Prancis, terjemahan: “Terima kasih! Sampai jumpa, Nyonya!”
2Kue tradisional khas Indonesia yang berupa kukusan adonan tepung beras yang berisi pisang dan dibungkus daun pisang

3Kue tradisional khas Indonesia yang berupa kukusan beras ketan berbentuk kotak yang biasanya berisi daging

Selasa, 30 Desember 2014

#SuperFlashBack JBC Telkom 2013 Paper Competition

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

It has been more than a year when this event, conducted by the Business School of Telkom University, Bandung, occured. Partnering with two awesome hyperactive people in the team, namely Hani Rosdahlia and Amalia, transformed one of their fabulous course project into the paper named "IMPLEMENTASI IT BALANCED SCORECARD SEBAGAI ADDED VALUE DALAM KESELARASAN STRATEGI BISNIS DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA INSTITUSI PENDIDIKAN STUDI KASUS: PERGURUAN AL AZHAR JAWA TIMUR". Nevertheless, the paper had a closer relationship to IT Management type of course, of which I hadn't recognize much at the moment.

The initiative to compete started when I visited Hani Rosdahlia (Hani) at her internship place. We had an internship in the same company, PT Pertamina, but different place and division. At that time, I proposed to her to do the "thing" as well as the main theme of the competition related well to her department, Information System. At the end of the conversation, we had agreed to have another team member and would had the paper finished (or started) after the internship ended.

In a few months, we had another discussion within the update of the joining team members, namely Amalia (Amal), which is our friend also. At that time, we concluded that in the accordance to the theme of the paper competition, which accompanies to Hani and Amal's previous works, and it sounded nice. Then, in the weekend, surprisingly (near the deadline... yes! I'm a deadliner person!), I compressed nearly 60 pages of the work into 30 page-formatted-for-the-competition in less than 48 hours, finished the payment, created the personal statement of the originality of the paper, and so on (of course, by the aid of my creative partners). Around the 23.00 WIB, I sent the paper to their email, hoped that they would found them safely.

-----------------------------------Around a month later-----------------------------------

After the flight from Jakarta, participated in the third YLI Forum of Wave 5, I thought a lightning had strucked me while I was opening the text message in my phone. It told me that our team had successfully passed into finals of the Paper Competition of JBC. Alhamdulillah, Actually, I should had been happy, but that meant also that we had to administer few (if it was not extremely panicking, it is exhausting) businesses to had our ticket to Bandung reimbursed, our life at Bandung guaranteed, and so on. In addition, it was our (errr... not me, it's Hani and Amals's) busy time, preparing the regeneration for the "Pemandu FTIF", as well as Hani and me had to leave our lovely Breakthrough team busy time (soooo many trainings of paper writing of PKM that time, sorry guys!). Nevertheless, ready or not, we had to prepare well to achieve the best effort at the competition (surely some revisions in the presentation and the paper not too much but yet, we had to spent some time to do it, really).

At the departure, it was the "rempong"-est time, like my every departure. I brought a really big luggage to the campus, and everyone was like: "Where are you going? GEMASTIK departure is still at the end of this week, isn't it?". Errr I stated that I have other competition in Bandung that I had to finish before GEMASTIK, so that I had to stay in Bandung for a day between those two competitions (it was a fate, and I was really thankful to Allah to have this "tight" opportunity), and I concluded also that I would had been absent in the Study Excursion event (sorry guys!), even if it also occured in Bandung, but I already calculated my time: too much exhaustion --> I will be crazy and stay in the bed for a few days. Hard choice, but, I was satisfied.

Oh to be pleased also, I'd like to introduce also my friend, Ulin, who accompanied us during the departure, using the taxi and train to Bandung. She said that she would had some business to do there. Okay, the more the merrier. In a hopeful journey, we started railing all way through Surabaya to Bandung! "Kumaha Damang?"

The journey, as expected, worked out well, with some (noisy) chitchats, Sego Jamoer, and some books (selfie was not yet popular that time, if it were... we should create a photo album). And we arrived at Bandung, safe and sound, Alhamdulillah. Prepared for some few things, the committees (they were so kind) had us fetched by to the Telkom University, Buah Batu.... around 1 hour trip. Since it was Friday, I had to prepare for Sholat Jumat while my partners were discussing our plan after (take some runaway journey from the competition schedule, not too good, but yes it was our first time to be there, except me).

In the inn, after the runaway trip, we planned to have a rehearsal at 9 PM. Meanwhile, I said that I should go to my room first, have a rest. Well, to be honest, I was slept and made my friends gone crazy. Not so nice but... Again my deepest apologies for you, partners. Then, at 5 AM in the morning just before the competition, we did our rehearsal.

During the trip, with other teams, we had our breakfast with the "nasi uduk". A little bit expensive but it was Bandung, and it was okay with us. Then, the competition started with the opening ceremony. What amazed us that, we had just realized that the competition was big and sophisticated. Yet, we thought that it was just a simple competition but not! Best regards to the committees!

The competition of the paper itself commenced by the introduction of the jurys, which in our view, were awesome. They had written numerous papers in the journals, yet a bunch of books, and were very expert in information technology related with business. To be honest, we were nervous, but we were trying to perform our best during the presentation. Nevertheless, we were "slaughtered" (thanks to deadliners work [me]) in case of the paper.

However, those "slaughterings" were not reasons to stop exploring Bandung. Our plan to go out (again) was executed well to buy souvenirs from the Paris van Java. Well, that trip left me several things about 'waiting the ladies in shopping trip', I know that feel really well. However, another kindness of the committees showed up, they fetched us from the commercial center to the university again! We were really grateful to them. A very great service from JBC Telkom Committees 2013.

Yet, later that night, we were hunting some foods to be brought to the inn. As well as calculating moneys, and doing some responsibilities report (finances, how the competition done, and so on to be reported at our campus' bureaucracy). As well as we knew that we hadn't get any awards from the Paper competition, this trip was just so... memorable and a great experience for us. Alhamdulillah.

In the morning in the next day, we were informed that there should be a sunday market near the Telkom University. Much surprises to our knowledge, it was huge, and caused dense-traffic-jam-in-the-alleys. To just move our feet by an inch (not by any vehicle), we had just need to wait several seconds, it was not a simple crowd in a sunday market. Well, the condition was awful, but the positive things were, we could found a various culinary of Bandung there. Here comes Seblak, Basreng, and their families. Again, additional surprises, we had our nice breakfast by those nourishments to be visited by a "banci" using hijab, and singing some songs. And we had fallen into silence, with our round eyes, to see that phenomenon. Of course, that was not normal, even in common news.

So far, we were not coming to the closing ceremony that day, because my partners' train were departing at the time. Meanwhile, I had to go to my friend's, Ichsan, house to follow the other competition named GEMASTIK. Repeating some words, it was a meaningful competition in my life, I was not a competition enthusiast, I was not so clever to find some ideas, but yet I have my friends and willingness to empower our dreams and level up our capacity, plus let our ideas criticized and improved for people's sake.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Experience is the best teacher. Some sacrifice doesn't exist to be regretted, so live your life up. Keep giving your best towards the others and keep in touch with Allah"

Big thanks to Hani, Amal, Ulin, Ichan, Ayu, Reno, and everyone who contributed in this journey.

Hope this writing can entertain and make the readers feeling better. Cheers. Critics and comments are greatly welcomed! Sorry (again and again) if I had my grammar or mistake in the storytelling.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh!