Tampilkan postingan dengan label syukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syukur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Examen Final, Momen 1 Tahun Sebelum ini dan IFI

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

Alangkah indahnya hari ini setelah semua beban ujian ini selesai. Sebagai informasi, di kampus saya di Perancis, ujian akhir semester seperti sebuah maha-cobaan mini (menurut saya sih). Yakni, ketika semua materi yang menggunung harus diluluhlantakkan selama semalam (untuk saya, Sistem Kebut Semalam (SKS) masih belum mengecewakan saya) untuk materi 2 mata kuliah, yang berita baiknya, keduanya open book. Tetapi, hantaman ini kurang begitu berarti. Bencana berikutnya muncul di hari berikutnya, ketika ujian 2 mata kuliah lain, salah satunya open book, dan satunya closed book.

Biasanya, para dosen yang baik hati memberikan hardcopy materi kuliah. Kasus yang tidak biasa, para dosen yang baik lainnya memberikan softcopy dalam bentuk PDF yang bisa dicetak. Nah, di ujian mata kuliah open book di hari kedua ini, Pak Dosen adalah pemberi materi kuliah dalam bentuk softcopy. Sehingga untuk mempermudah pekerjaan, saya berniat untuk belajar materinya sebelum mencetak di keesokan harinya.

Malang bukan kepalang, di hari H ujian, saya berniat mencetak dokumen tersebut di koperasi mahasiswa... yang ternyata tutup. Pergi ke perpustakaan namun saya tidak paham cara mencetak via printer perpustakaan (harus menggunakan kartu pelajar yang ada isian uangnya, sementara saya tidak tahu cara mengisinya). Terbilang 15 menit sebelum ujian, saya mencoba printer yang ada di laboratorium komputer. Seharusnya bisa mencetak dengan cepat, tetapi setelah utak-atik sana sini, printer-nya sedang bermasalah. Alhasil, 15 menit itu saya gunakan untuk menyalin materi sekenanya dari softcopy ke tulisan tangan kilat nian yang sampai-sampai butuh 1 menit untuk mengenali huruf-huruf itu. Alhasil, pekerjaan ujian itu saya kerjakan dengan penuh rasa khawatir.

Saya berusaha pasrah dan tawakkal atas semua yang terjadi. Kejutan muncul tak sampai seminggu setelahnya di perjalanan kereta pulang ke Compiègne setelah wawancara magang. Benar saja, masuklah surat elektronik yang berisi hasil ujian. Dan Alhamdulillah, kata-kata MENTION untuk mata kuliah itu muncul di ponsel saya. Paling tidak, ini yang saya bisa bilang momen pengumuman ujian paling dramatis dalam kereta (lebay, tetapi tetap bersyukur, Alhamdulillah...)

Sumber: http://s1152.photobucket.com/user/rumadi_aza/media/100_4972.jpg.html
---------------------------Sekitar satu tahun sebelumnya--------------------------------------------

Panasnya Surabaya sore itu membawa si kuda besi MIO-J saya terparkir di depan gedung AJBS. Niatnya bukan membeli perkakas rumah tangga, tapi memasuki gedung klasik tempat saya harus menempuh seperempat hari saya selama 4,5 bulan untuk les bahasa Perancis. Dari luar, mungkin memang tempatnya menimbulkan kesan... bener nggak sih ini tempatnya? Tetapi, kesan itu berubah ketika masuk ke dalamnya. Tempatnya nyaman sekali dan menggunakan gaya perabot modern. Pada intinya, asyik deh!

Menjadi salah satu dari beberapa orang penerima Beasiswa Fast-Track Double Degree Indonesia Perancis (DDIP) membuat les bahasa Perancis menjadi "pelaku utama" hilangnya 5x5 jam dari sepekan. Tapi, persepi hilang tersebut berubah ketika saya, yang masih asing dengan suasana di tempat itu, melihat wanita yang memesona dan tegas berikut agak centil tiba-tiba mengarahkan kami masuk ke ruang kelas nomor 5. "Hari ini, kita akan perkenalan, dan langsung menggunakan bahasa Perancis," demikianlah 'arahan' manis dari instruktur ini.

"Kita tidak akan menuliskan sesuatu apa pun, kita harus segera langsung berbicara!" Lanjutnya. Masih roaming di beberapa ucapan, berusaha mencerna suara asing yang dilantunkan oleh beliau. "Jêmapèl? Jumapèl? Zumapèl?" Ah entahlah. Yang saya bisa pastikan, ada hurus J di sana, dengan vokal "e" pepet (maklum dulu Guru Bahasa Jawa SD saya sangat tegas, jadi artikulasi 'e' sering saya asosiasikan dengan pepet (ê) atau taling (é,è) masih menancap jelas di ingatan saya. Dan indahnya, penggunaan coretan di atas huruf 'e' ini berbeda terus, baik di Jawa, Mandarin, dan Perancis). "Jêmapel," berikut saya menirukan ucapan itu, dan diikuti nama panggilan. Dilanjutkan beberapa kisah pendek perkenalan (based on hearing) seperti ini:
"Vu vêné du?" [oh ini tanya asalnya dari mana]
"Jê vian dê Sidoarjo."
"Kèl é votr adrès?" [adrès, alamat ya?]
"Kèl é votr dêpartêmong?" [emmmm, ini jurusan]
"Kèl é votr numéro dê télépong?" [emmmm, nomor hape?]
"Ongsyongté" [mungkin nice to meet you, ya? Mandarin: rènshi nǐ, hěn gāoxìng]
Berdasarkan pembicaraan tersebut, si Ibu dengan lidah ajaib ini (ini pujian, anggap saja artikulasi saya luar biasa parah saat itu) membuka kedoknya sebagai Irma Nurul Husnal Chotimah (sebut saja Madame Irma, tapi saya tidak ragu untuk memanggilnya Teh Irma), seorang yang dulunya pernah tinggal agak lama di Perancis. Lhoala pantesan ilate ajaib. Dan dengan ramahnya melanjutkan sesi perkenalan sambil keliling sekelas agar satu murid bahasa Perancis bisa mengenal sebisanya dalam bahasa Perancis. Dan kejutan lagi, ternyata ada peserta les bahasa Perancis di kelas itu yang ternyata dosen ITS yang masih muda yang hendak melanjutkan S3 ke Perancis juga. Polosnya saya, saya memanggil beliau dengan sapaan Mas (hanya selisih 4/5 tahun kok).

Rutinitas menyenangkan dan sedikit tidak menyenangkan (karena tidak paham-paham) itu berlanjut hingga sebelum ujian DELF (sertifikasi penggunaan bahasa Perancis untuk orang asing) sesi Juni. 4 bulan memang bukan waktu yang singkat. Perjalanan menerjang badai hujan dan banjir di masa-masa Tugas Akhir, dan sempat tidak ikut les karena harus kabur ke Jakarta. Berbagi tawa, sedih, kisah di Perancis (yang menjadi nyata), kisah Tugas Akhir, kisah wisuda, kisah "Vous êtes un chien?" (sebut saja pelakunya Kumbang, bukan saya!), kisah Pak Leman (penjual mie pangsit depan AJBS), kisah perpisahan, dan begitu seterusnya berlarut menjadi memori indah yang terbagi di masing-masing kenangan. Inspirasi, motivasi, nasihat, dan doa juga menjadi saksi transfer ilmu untuk indahnya kenangan tersebut. Kami dulu bukan apa-apa, karena kadang untuk meraih suatu ilmu, ilmu lain harus dikuasai dulu.

Berawal dari titik nol 27 Januari 2014. Perjuangan bahasa Perancis ini dimulai.
Mungkin kenangan kami hanya terbilang seujung kuku di benak para Bapak Ibu Guru (gelar terindah yang pernah ada dalam hidup, selain orang tua tentunya). Namun, jasa-jasamu akan tetap abadi bersama ilmu. Karena ilmu yang dibagi tidak pernah habis.

Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk para guru di IFI tercinta, untuk peringatan hari Jêmapèl
Madame Irma, Madame Norma, Monsieur Karguna, Monsieur Tarsono, Monsieur Eri, Monsieur Dedi, Madame Wea, Riyaz, Monsieur Wawan, Monsieur Dumesnil (direktur IFI Surabaya... dulu), dan para pengajar serta staf lainnya yang tidak mungkin tersebut satu-satu.

Credits to Galang Amanda Dwi Pamungkas, taken from Facebook Photos

Merci Beaucoup, Madames, Monsieur.
Best regards,
Si pendiam dalam kelas, yang bercita-cita menjadi guru, Hani Ramadhan, DDIP angkatan 3

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Rabu, 17 September 2014

MONEV PKM (2013) yang Menguras Tenaga

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Kembali lagi bersama penulis yang menumpuk hutang menulisnya. Ini pelunasan tulisan dari zaman sekitar setahun lalu lebih sekian bulan. Mohon maaf ya jika rasanya membuat penuh, tapi apa daya, momen hari dalam tulisan ini (bahkan) sangat memorable. Jadi ceritanya, kejadian-kejadian ini terjadi di pada 2 hari 1 malam di bulang Agustus 2013 yang mengambil tempat di kantor PT. Pertamina dekat Monas, kantor AirAsia, suatu ATM di jalan menuju pulang ke rumah Paman, Stasiun Gambir, kereta Bima, Stasiun Pasar Turi, Jurusan Teknik Informatika ITS, dan Grha Sepuluh Nopember ITS. Rasanya? Baca terlebih dahulu ya!

Suatu ketika, hari yang ditunggu-tunggu datang. Di tengah sibuknya menariknya pekerjaan Kerja Praktik (KP) saya, Adit, saya merencanakan untuk meninggalkan amanah KP saya sejenak untuk "sowan" ke ITS untuk memenuhi amanah saya yang lain: Monitoring dan Evaluasi PKM oleh DIKTI. H-2 keberangkatan sebenarnya saya sudah kontak teman saya yang menjadi agen perjalanan untuk pesan pesawat, biar cepat istilahnya. Namun, karena terlalu mepet, alhasil saya tidak bisa pesan tiket pesawat. Malah pesan tiket pulang terlebih dahulu (yang akhirnya tidak saya ambil karena terlalu lelah). Tapi, tragedi pesawat tidak berhenti sampai di situ.

Ketika KP sekaligus perencanaan H-1 keberangkatan, tim KP saya sebenarnya sudah menyelesaikan tugas. Namun demikian, saya masih usrek sendiri mengatur kepulangan ke Surabaya demi mengejar MONEV. Ditambah lagi harga tiket makin melonjak dan semakin tipis tempat duduknya. Berikut Maskapai AirAsia yang mengharuskan saya untuk bayar dengan kartu kredit, membuat saya semakin heboh telepon Mbak, Om, dan lain sebagainya. Berita hebohnya lagi, teman setim PKM yang juga sedang KP di Bogor sedang meluncur ke Jakarta untuk ikut pulang ke Surabaya. Sedangkan tiket kepulangan pesawat belum di dapat. Namun, semua kegilaan tersebut dilegakan sejenak ketika saya harus turun untuk salat Dzuhur. O ya keterangan lagi, saat itu sedang bulan Ramadhan, jadi di musala PT. Pertamina diadakan kajian Dzuhur. Alhamdulillah, cukup menyejukkan hati.

Ketika kajian selesai, saya masih punya harapan adanya kursi kosong di pesawat AirAsia yang berangkat esok pagi. Sekitar pukul 2, saya minta izin untuk pulang lebih awal kepada pembimbing untuk mengurus tiket keberangkatan ke Surabaya. Perjalanan dengan ojek dari kantor KP ke kantor Air Asia, mengambil uang, dan proses mengantre masih mulus, sih. Sampai tiba giliran saya...
"Mbak, pesan tiket dua kursi untuk penerbangan besok pagi masih ada?" tanyaku dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Maaf Mas, tempat duduknya sudah habis," jawab si Mbak dengan senyum khas perusahaan.

JDER! Kejutan di siang bolong yang mewakili gerahnya Jakarta. Sedikit mendramatisasi, saya merasa hilang arah dan tujuan. Okelah, saya langsung pesan tiket pulang saja di sore hari MONEV ke Shidqi. Masih merasa bisa menjalankan amanah KP setelah pergi MONEV. Klik, OK, pesan singkat sudah terkirim ke nomor Shidqi. Dengan langkah lunglai dari bus TransJakarta ke halte yang memang seharusnya saya turun, saya pun masih bersemangat untuk cari ATM untuk melunasi pembayaran ke Shidqi. Setelah berjalan (kaki) cukup jauh dan menemukan mesin ATM, datanglah pesan singkat dari Luluk, sang partner perjalanan sekaligus ketua tim, yang memberitahukan posisinya sekarang dan menanyakan bagaimana nasib kita. Ya baiklah, semakin paniklah di perjalanan itu.

Dengan baterai hape yang semakin sekarat, saya berjalan lagi untuk pulang ke rumah Om. Di tengah keputusasaan yang menggelitik hati, saya ternyata bertemu pembantu di rumah Om yang memang berusaha mencari saya untuk dipulangkan... ke rumah Om. Maaf, ya Pak merepotkan. Alhasil dengan usaha dan upaya karena pulsa menipis juga, Luluk memberi inspirasi saya untuk mencari tiket kereta. Sesampainya di rumah Om, saya langsung cari informasi untuk keberangkatan kereta dari Jakarta dan kedatangan kereta ke Surabaya... yang berangkat MALAM ITU JUGA.

Oke, cukup cerah, ada tiket yang tersedia. Tapi, setelah shalat Magrib berjamaah di rumah Om, alias H-1 jam keberangkatan, entah keadaan semakin runyam. Pulsa habis, packing sekadarnya, bagaimana cara ke stasiun. Semua pikiran itu tertebus dengan solusi menggunakan telepon rumah Om saya dan pengantaran kilat dengan ojek dari rumah Om ke stasiun Gambir sekitar 30 menit sebelum keberangkatan. Berbekal uang untuk beli pulsa dari Om, akhirnya dengan tergesa-gesa dan berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja saya mengucapkan salam akan jumpa lagi di hari berikutnya.

Kemacetan Jakarta? Iya, tantangan itu juga muncul ketika paket kilat dengan isi manusia itu dilaksanakan. Dengan napas terengah-engah, saya pun tiba di stasiun dengan (paling tidak) masih bisa lari untuk mencari Luluk dan mengejar jam keberangkatan kereta yang kalau tidak salah hanya tinggal 15 atau 20 menit saja. Beruntunglah, setelah pelarian yang tidak lama, saya bersua dengan Ibu Kepala Suku ini. Dengan air muka yang tidak kalah cemas dan khawatir, kami belanja sedikit bekal untuk kehidupan kami di kereta dengan perjalanan yang terjadwal sekitar 12 jam.

Sampai di dalam kereta, Alhamdulillah, kursinya cukup empuk dan dapat di posisi yang cukup nyaman. Shalat Isya di kereta, makan camilan, menonton Captain America dan Spy Kids 4 di kereta sepertinya adalah kegiatan yang mampu melepas gerah dan ber-hahahihi setelah kejadian-kejadian gila seharian. Sebenarnya kami berdua membawa amunisi buku, tapi apa daya, kami sudah tak sanggup berkonsentrasi di perjalanan untuk membacanya. Demikianlah petualangan berlalu lancar hingga matahari terbit menjelang.

Sebelum bercerita tentang saat sapaan mentari mencium keletihan kami, momen sahur dan salat subuh tidak berlalu cukup spesial. Jikalau ada yang dikatakan spesial itu cukup roti dan minum, dilanjutkan tidur sejenak hingga tiba waktu subuh. Dan cling, sang surya menampakkan rona jingga di balik pemandangan gunung-hutan-sawah-dan-berulang yang tampak di jendela. Diskusi sejenak kami berujung pada kepanikan berikutnya mengenai jadwal presentasi yang seharusnya berlangsung pagi ini dan kami tak kunjung tiba di stasiun Pasar Turi. Tapi, saya dengan sangat masuk akal mengurungkan pikiran untuk bertanya ke masinis, "Pak, apa keretanya tidak bisa lebih cepat?"

Perginya inspirasi tidak masuk akal tersebut diiringi dengan pesan singkat dari ayah saya mengenai di mana posisi saya dan nanti dijemput siapa. Dengan sangat pasrah, kutulis pesan yang menjelaskan posisi masih di kereta dan dijemput teman ke ITS dulu karena tidak mungkin pulang ke rumah kepada ayah. Semenarik itulah kepasrahan kami hingga kami berpesan singkat lagi ke tim PKM kami... yang sepertinya tidur kelelahan habis sahur di pagi itu karena juga sudah berusaha keras. Harapan kami, bisa diusulkan pemunduran jadwal. Dan syukur Alhamdulillah, cukup lama kemudian, kami yang di kereta mendapat kabar bahwa ternyata jadwal presentasi MONEV DIKTI bisa (diatur untuk) maju kapan saja asalkan hari itu. Saya dan Luluk pun bisa bernafas sedikit lebih panjang, karena masih merasa tak sanggup meratapi hal apa lagi yang akan terjadi di hari itu.

Tiba di stasiun Pasar Turi setelah terlambat sekian jam, menit? Entah saya sudah lupa, pada intinya terlambat. Kami masih berusaha mengukur seberapa panjang nafas kami hingga tiba untuk presentasi di ITS dan kembali KP ke Jakarta dan Bogor di malam harinya. Sedikit dramatis lagi, perjuangan menunggu kami ditambah dengan menghalau tukang taksi dan becak yang menawarkan jasa pengantaran (apa sih). Penantian berakhir ketika Ika dan Mas Dedy, para penjemput kami ke ITS datang. Terima kasih banyak Budhe Tutik dan Mas Pilaaay (yang ponselnya dipinjam Mas Andre untuk sidang Tugas Akhir).

Sampai di ITS, saya merasa muka saya tidak berupa muka sehat lagi setelah semua kejadian hari sebelumnya dan korban terlambat kereta api. Dengan berucap sesedikit mungkin ke para penghuni laboratorium IBS, markas pengerjaan PKM kami, saya melangkahkan kaki yang berat untuk menyambut gayung air menyegarkan rupa sejenak. Untunglah, kaki saya bisa beristirahat sementara di bawah meja, dan berganti tangan yang (masih harus) bekerja di berkas laporan akhir.

Beberapa menit sebelum salat Asar (kalau tidak salah, harap dikoreksi ya Luluk, Dany, Awal, atau Helmy), kami pun maju ke juri DIKTI yang berasal dari UGM. Berita buruknya, proyek PKM kami yang bernama INGGIL, dikomentari habis-habisan karena bahasa krama yang bahasa kerennya improper atau tidak cocok dengan bahasa krama alus yang seharusnya. Kami langsung berkesimpulan, durian runtuh itu jatuh, tepat di perasaan kami, sakitnya menusuk-nusuk karena malu dan mati gaya.

Tapi apa boleh buat, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami tetap bersyukur dengan semua yang terjadi. Sebenarnya dan seharusnya, saya dan Luluk harus segera pergi ke bandara saat itu juga untuk check-in. Tapi setelah semua kejadian hari itu (dan hari sebelumnya), kami memutuskan untuk menghanguskan tiket tersebut dan beristirahat total fisik dan mental hingga hari ahad. Oya, momen kembali ke Jakarta tersebut adalah momen naik pesawat pertama kali oleh Luluk dan ketika itu juga, saya bertemu Hani Rosdahlia.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat di MONEV PKM ini. Kalian memang luar biasa! Teruntuk Ibu Kepala Suku Luluk Eko Mawati, Latifa Nurrachma Pradany, Awalia Harfiani, Helmy Satria Martha Putra, kalian memang TOP banget!

Terima kasih atas momen yang luar biasa, memang kita tidak maju PIMNAS 26, tapi saya merasa perjuangan ini layak untuk diceritakan dan dikenang. Karena saya merasa kita berjuang demi Allah Ta'aala, dan Insya Allah tidak ada yang sia-sia serta selalu hikmah yang bisa diambil. Ada kawan di samping kita yang membuat tersenyum, kehangatan keluarga kita yang menerima kita apa adanya, serta perjuangan yang tidak akan habis jika dikenang.

Sekian tulisan saya, semoga bermanfaat. Maafkan jika ada salah kata atau ingatan.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 17 Januari 2013

Cerita Coretan: Telepon

-->
Telepon

“Kring... Kring...” Begitulah diriku memanggil tuanku. Tandanya, ada yang sedang ingin bertukar informasi dengannya. Segala hal yang mereka keluarkan kadang begitu asyik, dan kadang begitu garing adanya. Namun, semua hal itu memang tugasku. Meneruskan informasi dalam bentuk sinyal dan suara adanya.

Tapi, dalam hari-hariku duduk di atas meja semakin sepi saja.
Dulu sih, semua masih nyaman duduk berlama-lama menempelkan gagangku di telinganya. Malah ada yang bersila, berjalan mondar-mandir, bergulung-gulung atau apa pun lah istilahnya kata para tuanku. Katanya aku sering dipakai pacaran lah, dipakai mesra apalah. Selain itu, dulu aku juga malah kayaknya sempat pakai baju lucu-lucu, ada bonekanya, ada motifnya, eh malah cerita dandanan kan? Oh ya, pernah juga sempat dengar berita, ada telepon yang bertetangga sama teman-teman telepon lain, tapi hanya dibatasi bilik-bilik kaca begitu. Lucu kan? (Maaf, aku mendadak narsis).


Sekarang? Aku sudah ada adik yang bisa dibawa ke mana-mana. Teman-teman tuan cenderung lebih nyaman menggunakan itu. Awalnya sih saya tidak begitu khawatir, adik bisa melakukan SMS (mengirim informasi dengan teks, kalau tidak salah) dengan layarnya. Namun, para penemu semakin bersemangat memberikan semua hal yang bisa diberikan ke adikku ini. Mulai dari internet (aku juga bisa lho dipakai internet), layar berwarna, mengirim gambar (ehm, oke mulai nggak tahu), kamera (wow), internet dengan kecepatan super (minggir nih), dua nomor (jleb), permainan canggih, hingga sistem operasi (seperti saudara jauh Pak komputer saja ya). Dan aku semakin takut tergeser oleh peradaban.


Yah, paling tidak aku masih punya teman lain yang senasib, kelompok si komunitas surat, keluarga perangko, dan kumpulan amplop. Nasibnya sekarang juga tak kalah mengenaskan daripada aku. Namun, aku percaya, kita masih dibutuhkan di beberapa bagian, meskipun penggunaannya tidak sepanas si adikku telepon genggam itu. Yang aku tahu pasti, tiap hal yang pernah ada punya peran dan fungsi masing-masing, walau suatu saat mungkin terganti atau tidak. Paling tidak aku tahu pernah bermanfaat bagi para tuanku yang pernah memilikiku.



Lalu, selagi pertukaran kata dari tuanku di seberang sana berlangsung. Aku mendengar sayup-sayup temanku yang lain. Teman? Iya, maksudku alat komunikasi. Oh itu, iya si speaker, lazimnya sih namanya pengeras suara. Tapi, tuanku sering menyebutnya speaker, dalam bahasa Inggris. Anggap saja nama gaul zaman sekarang.
Dia saja sedang bersuara begitu bersemangatnya, entah diboncengi menangis. Sempat aku dengar kabar mengenai speaker itu dari teman-teman telepon lain yang pernah tersambung denganku. Dia tinggalnya di sudut-sudut strategis kubah atau gedung, melantangkan nyaringnya untuk tuan-tuannya. Iya, tuannya banyak, tidak seperti aku. Atau sanak familiku, dari generasi kakek pager sampai adik telepon genggam yang memanggil cukup satu tuan.
Dan hal yang mungkin tak sama dengan kami, yaitu nasib si speaker . Meski sama-sama dalam keluarga alat komunikasi. Tugasnya berat sekali, mungkin seringkali dianggap gagal. Kalau tugas sanak familiku, dari kakek pager, sampai adik telepon genggam, tugasnya ya cuma memanggil satu tuan dalam satu waktu. Nah, dia? Lima kali sehari, memanggil banyak orang, sampai sekomplek gedung kalau tidak salah aku pernah dapat kabar. Yang langsung menghampiri, ya mungkin segelintir, tidak seperti tuanku yang langsung secepat kilat menyambarku. Berhasil nggak sih? Ya, pokoknya saya merasa kasihan dengan speaker. Sepiku yang saya rasakan mungkin tidak sama dengan sepinya.
Eh, rasa-rasanya sebentar lagi tuanku hendak menghentikan percakapannya. Sepertinya mendengar koar-koar si speaker deh. Katanya, “mau menjawab panggilan mulia”. Ya sudah, aku bisa lega sedikit, paling tidak tuanku menghampiri si speaker. Sejenak sebelum gagangku diletakkan oleh tuanku, “Hayya ‘ala shalaaah”, itu kata-kata terakhir yang kudengar dari speaker, sebelum gagangku diletakkan kembali.
Baiklah, seharusnya sedikit syukur dariku aku beruntung memiliki tuan yang selalu menjawabku. Namun, selalu ada sedikit harapan untuk speaker yang hidupnya tidak semudah aku, membuatku berada di antara sedih namun bangga. Tetap semangat speaker!

 Semoga bermanfaat

Minggu, 23 Mei 2010

Sekalipun itu Menyakitkan, Syukuri Hal Tersebut!

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Pernahkah dalam setitik hidup, kita menyesali sesuatu yang tidak pernah kita sukai...? Sesuatu yang menyakitkan, menusuk sampai-sampai ingin bunuh diri atau menangis sampai menunggu keringnya air mata?

Meskipun kata-kata di atas terdengar sedikit puitis dan dramatis (baca: berlebihan). Tapi, seandainya hal-hal di atas memang benar terjadi, apa yang akan kita lakukan? Seperti itukah?

Mungkin memang sedikit naif, tapi saya pernah mengalaminya. Sebenarnya, masalahnya sederhana. Hanya sedikit perencanaan dalam hati, lalu tiba-tiba.. ya tiba-tiba saja... Sedikit berkisah tak apa-apalah. . .

--cerita dimulai--
Hari Sabtu itu, saya di Probolinggo menikmati liburan tetapi baru direncanakan dijemput Jumat pekan depan. Tapi, dalam hati (hanya di dalam hati saja) saya ingin pulang ke rumah (Waru) ketika Minggu tiba (esok harinya) karena sudah berencana ini itu di kemudian harinya. Saya ingat, ketika itu pukul 08.30 saya diajak ke bengkel bersama paman saya untuk menserviskan vespa, dengan membawa motor lain. Dan ketika pulangnya ke rumah paman, pukul 09.00. Dan saya menonton televisi. Ketika tengah-tengah menonton televisi, saya merasa aneh... Pandangan saya mulai berkunang-kunang dan merasa pusing. Saya mengaduh-aduh dalam kepala saya. Namun, tetap menonton televisi. Hingga pukul 09.30, saya memutuskan menyerah dan pergi ke kamar tidur saya. Menyembunyikan kepala di balik bantal sambil menahan ikatan tali tidak terlihat melingkar di kepala saya. Dan dibantu tusukan-tusukan jarum kasat mata yang terus diarahkan pada pelipis saya. Sakitnya bukan main.

Tidak lama kemudian, Bibi saya datang dan berusaha mengobati saya ala kadarnya. Alhamdulillah pusingnya hilang, pikir saya. Namun, tusukan-tusukan itu tidak berhenti, malah semakin sakit pula. Dalam hati saya terus berdoa, "Ya Allah, ampunilah hambamu ini... Hilangkanlah rasa sakit ini...," sembari terus berzikir. Lalu, Bibi saya menelepon Ibu saya yang di Waru dan beliau merespons dengan, "Ya sudah, Selasa Hani (nama saya) takjempute," dengan logat jawa khas.

Saya, tentu saja, masih mengerang-erang dan memendam kepala saya di balik bantal (sampai begitu menyiksa). Hingga makan siang tiba, saya terpaksa tidak bisa salat Zuhur karena tidak mampu beranjak mana-mana. Sungguh sebuah derita. Dan sepuluh menit setelah saya selesai makan, tiba-tiba Ibu saya menelepon ke Probolinggo. Beliau memutuskan untuk menjemput saya esok hari (hari minggu). Sontak saya terkejut dan mengucapkan Alhamdulillah dalam hati.
--cerita selesai--

Dari sejumput ketikan tersebut, mungkin terbersit sedikit pendapat yang unik dari para pembaca sekalian. Tapi, khususnya, dari saya sendiri, ini adalah sebuah hidayah dan pencerahan. Di samping saya tidak merencanakan penyakit pusing tersebut walaupun saya berjam-jam di depan layar laptop saya yang berkelap-kelip selama 6 hari sebelumnya, sungguh saya merasa penyakit aneh, yang setelah diperiksa darah tifus dan DB tidak menunjukkan tanda-tanda penandaan wilayah jajahan saat itu, itu adalah sebuah barokah. Walaupun saya belum memeriksakan problema tersebut ke dokter mata, saya merasa tidak ada waktu saat itu untuk berhenti bersyukur kepada Allah SWT. Lalu, saya berintrospeksi. Mungkinkah semua jalan yang tergariskan untuk diriku ini bukanlah jalan yang kupilih? Mungkinkah jalan yang kugariskan sendiri ini tidakseperti jalan yang seharusnya kulalui? Tapi, apakah jalan yang kupilih adalah jalan yang miring sedikit, meskipun 0,000000..... sekian derajat saja Allah SWT akan membantu saya kembali ke jalan yang benar?

Pikiran-pikiran itu membuat saya bersyukur akan mungkinkah itu sebuah penyakit, bencana, atau tragedi apapun. Selama kita selalu dibantu oleh Allah SWT dan percaya kepada diri kita untuk mengambil hikmah, sisi positif, keikhlasan jalan yang panjang yang tersembunyi di balik awan penyesalan. Kita akan tetap mampu bersyukur dan berikhlas diri meskipun seberat apapun cobaannya.

Sedikit pantun untuk mengakhiri tulisan ini...

Rembulan si manis nan lugas
Entah di mana pungguk munculkan diri
Si jalan rahmat lagi ikhlas
Di balik si derita tahukah diri

Mungkin ke-bermanfaat-an tulisan ini yang begitu sedikit pantaslah disingkap oleh tabir kesyukuran atas siapa yang mau membaca lagi bertanggap ria.

Akhir kata, sekian dan terima kasih, mohon maaf apabila ada salah kata.

Wassalamu alaikum Wr.Wb.