Tampilkan postingan dengan label ketulusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketulusan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

SabangMerauke edisi 2: perjalanan si sandal

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Sudah lamaaaaaaaaaaaaaaaa sekali rasanya saya tidak mengirimkan tulisan di sini. Semoga sisa-sisa ingatan saya tidak menjurus ke hal yang salah. Tulisan ini bertujuan untuk menginformasikan mengenai pengalaman saya bersama SabangMerauke. Pos sebelumnya ada di sini.

Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai SabangMerauke, begitu banyak hal yang terjadi. Merasakan menginap di rumah teman yang bahkan baru bertemu 2x (huahaha, terima kasih Mufid, segeralah belajar mengurus rumah); menunggu Kereta Rel Listrik (KRL) ditemani gerimis romantis (apaan yak?); curhat ceria bersama pak supir taksi mengenai anaknya yang kecanduan komputer (wacana penting ini!).

LANJUT! Sampailah mobil taksi biru itu ke jalan Jenggala untuk menurunkan saya menghadapi pesta perpisahan SabangMerauke dengan..... kepagian. Maksud saya, lebih  awal daripada acara  seharusnya (jam 4.30 sih harusnya, tapi datangnya jam 4.00 ya kali takut mati gaya di tengah macetnya Jakarta). Tapi, alhamdulillah, kekosongan waktu itu bisa saya gunakan dengan kegiatan yang bermanfaat.
"Kak Hani, ayo masuk!" Teriakan itu membuyarkan konsentrasiku. Datangnya dari kak Ayu. Salah satu tim perumus SabangMerauke. Terkesiap, saya pun melangkahkan kaki ke arah rumah yang emmmmmmmm mengagumkan (dalam pikir saya, ini rumah? Atau istana?). Ya sudah disyukuri saja tanpa banyak cakap, kapan lagi punya pengalaman sama rumah model gituan (ada kolam renang, ada aula yang diisi lukisan, ah ya sudahlah). Di dalam rumah tersebut ternyata sudah ada buku tamu yang harus diisi, label stiker untuk pengenal nama.

Di aula yang banyak lukisannya itu, saya mati gaya alias kikuk. Bagaimana tidak. Kakak SabangMerauke pada sibuk, susah masuk. Bercanda sama Anak SabangMerauke, sama sibuknya. (Sibuknya sibuk ngobrol, sih. Lagian saya tipe orangnya juga introvert) Tak lama, datanglah sosok yang sudah saya kenal, Niwa Dwitama, mahasiswa berprestasi (Mapres) UI 2013 (dan di kemudian waktu diumumkan sebagai Mapres Nasional 2). Sedikit ngobrol, eh saya dikenalkan dengan Iman Usman (Mapres Nasional 1 2012), salaman aja, siapa tahu ketularan kiat Mahasiswa Berprestasinya. Saya juga nggak jauh dari singkatan Mapres, cuma beda kepanjangan: Mahasiswa ngepres (baca: pas-pasan, tapi nggak kok, saya sudah berusaha yang terbaik --> menghibur diri).

Memasuki acara (akhirnya), dibuka oleh MC dengan menawan. Diisi sambutan oleh... Pak Anies Baswedan. Kedua kalinya saya bertatap muka dengan beliau, keren banget pengalamannya exchange di luar negeri, dan beberapa hal toleransi yang ingin saya diskusikan dengan mentor saya. Kemudian, salat magrib berjamaah dan... MAKAN. Oh yang saya sedikit kecewa adalah penyediaan tempat wudu pria dan wanita yang tidak dipisah. Mungkin sekarang saya hanya bisa mengkritik, harapan saya ke depannya fasilitasi ini bisa lebih baik. Ya kali, saya takut kalau nggak sengaja melihat aurat mbak-mbak yang sudah berkerudung itu. Dosa kaaaaan. Salat pun dilaksanakan di aula itu. Berjalan lancar alhamdulillah.  Makannya pun...... me-WAH. Diiringi hujan agak deras yang hampir membuat orang terpeleset ke sana ke mari, suasana makan malam di pinggir kolam itu benar-benar "wew, sekali doang ini... SEKALI". Tapi, akhirnya makannya pun duduk bersila di atas karpet sama para relawan, maaf nggak biasa makan mewah.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Kak Ayu yang bikin mewek karena saya merasakan pancaran energinya yang begitu maksimal mengenai SabangMerauke. Ah dasar saya gampang terbawa perasaan, ketika disambung dengan acara pemutaran video, saya sudah tak mampu membendung air mata. Kemudian, tampillah Anak SabangMerauke yang mempraktekkan hasil latihan menyanyi mereka, ditemani para penyandang ketidaksempurnaan dari lembaga yang pernah bekerjasama dengan SabangMerauke untuk acara Hari Sosial SabangMerauke, Senin 8 Juli 2013. Terharu? Iya, walau cuma sehari bertemu anak-anak unyu itu. Dengan overly excited-nya, saya melambaikan tangan untuk menyemangati mereka. Malu, nggak sih.

Diteruskan dengan penampilan Kakak SabangMerauke yang nggak kalah mengagumkan. Satu kata, Awesome! Dan berikutnya sharing dari para Famili SabangMerauke (FSM), menguras air mata. Berbagai cerita, mulai dari mau mengantarkan Anak SabangeMerauke nonton Dahsyat, tapi akhirnya ke Inbox; terlambat membangunkan sahur karena Famili berbeda keyakinan dengan si Anak SabangMerauke; terlambat  mengantar ibadah dan salah jadwal; belanja mengharukan karena seratus ribu; substitusi Candi Borobudur dengan Monas; balada.tidak tenang  Anak SabangMerauke dan Kakak SabangMerauke karena kucing; dan banyak lagi. Dari semua pengalaman itu, layaknya kita mengambil pelajaran. Terkadang banyak hal di dunia ini, yang bisa didapat tanpa muluk-muluk. Kesederhanaanlah intinya. Sesi ini pun ditutup dengan pemberian kenang-kenangan Famili SabangMerauke kepada Anak SabangMerauke dan sebaliknya. Pigura foto, tulisan, bunga mawar, dan benda-benda lain berpindah tangan dengan cepat dan dramatis (beneran, banyak air mata tumpah di sana).
Acara pun beralih ke penghujung... Setelah ditutup dan... FOTO-FOTO!!!! Sesi ini adalah sesi paling gawat di sini. Siapa pun bisa saja langsung ditarik buat foto bareng. Saya pun jadi korban, diminta foto oleh Anak SabangMerauke... oh, kenangan. Dan sukses memolorkan waktu pulang saya hingga jam 10 malam meninggalkan kediaman keren itu.

Performance Anak SabangMerauke, Sahabat

Performance Anak SabangMerauke

"Terkadang, hanya setitik yang usaha yang dibutuhkan. Tapi, jika anda melakukan titik usaha itu dengan tulus, titik lain akan berkumpul. Membuat titik lainnya. Menjadi besar, dan bermakna."

Semoga bermanfaat.  Maaf jika ada kesalahan. Untuk Kak Furi, Kak Ayu, Kak Wie, Kak Chiro, Kak Meiske, Kak Jourdan, dkk., terima kasih. Saya ingin melanjutkan proyek websitenya, namun.... apakah masih boleh? Saya sadar saya lalai dan khilaf. Namun, semoga kesempatan itu masih terbuka untuk melanjutkan semangat SabangMerauke ini. Saya sadar kalau SabangMerauke ini bermanfaat, dan saya sudah ceritakan ke banyak orang. Banyak yang terkagum dan mengapresiasi program ini. Walaupun masih dalam bayangan dan sudah saya diskusikan ke pihak mahasiswa di kampus, ingin mengadopsi konsep seperti ini dalam pengabdian masyarakatnya.
Best Regards to Everyone involved: ASM, KSM, FSM, All Relawan SabangMerauke and others.

Salam toleransi, pendidikan, ke-Indonesia-an.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Minggu, 03 Juli 2011

Pelajaran Kehidupan Bisa Diperoleh dari Mana Saja, Walaupun Kita Hanya Melihat

Assalamu'alaikum wr.wb.
Wah, sudah lama sekali saya tidak posting. :)
Kangenkah ? (ya enggak lah, followernya dikit)

Sudah akhir semester genap. Setelah susah payah derita dan usaha, akhirnya saya sudah melanglang buana melewati semester yang kelihatannya santai tapi ajaib ini.

Yah, mungkin anda pernah dengar situs keramat buat anak ITS yang namanya integra, situs sistem akademik online ITS, sehingga nilai-nilai yang keluar pasti ada di situ. Itulah yang namanya situs keramat di awal dan akhir semester. Nilai dan pertaruhan mata kuliah semester berikutnya.

Bisa dibilang kotak pandora sih, kita tidak akan tahu nilai yang keluar seperti apa, tergantung dosennya. Dan setiap membuka pasti deg-degan. Namanya juga nilai. Selalu misterius. Kalo dibuka bisa kecewa ataupun senang *sujud syukur mungkin*

Mungkin itu hanya sekilas info yang mengawali postingan saya hari ini. Pelajaran yang saya dapat dari sana adalah ketulusan. Ketulusan mencari ilmu sepertinya suatu topik yang saya resapi di sini.



Pelajaran ini saya dapatkan menghadapi teman-teman saya yang mungkin derita bersedih menghadapi kenyataan si situs kotak pandora (baca: integra). Mungkin nama-namanya tidak saya sebutkan di sini. Hanya beberapa penanda seperti A, B, C dan seterusnya.

Mulai dari si A. Teman sekelas kalkulus saya. Yah biasalah mungkin penyakit anak pandai :D. Ketika mungkin A tidak menerima kenyataan bahwa dia mendapat nilai tidak sebaik teman saya yang A rasa tidak lebih pintar dari A. Di sini saya dan beberapa teman saya yang lain berusaha menyadarkan bahwa segala gerutuan yang A lontarkan tidak seharusnya dia lontarkan. Karena pada awalnya A menggembar-gemborkan orientasi ilmu, bukan orientasi nilai. Tapi, teman-teman yang lain memberikan pendapat bahwa yang A katakan tidak sesuai dengan kata-katanya dulu. Istilahnya ya mungkin mulut tidak sejalan dengan hati.



Iya, hati. Hati teman-teman saya yang lain merasa trenyuh ketika mendengar hal itu. Mereka protes di sana-sini (berusaha mengembalikan kesadaran A dan ingatannya ketika berbicara orientasi ilmu). "Seandainya memang kamu merasa dirimu orientasi ilmu, bukanlah tindakan yang tepat jika kamu sekarang menggerutu, karena ilmu yang didapatkan tidak diukur dari nilai. Tetapi ke dalam dirimu sendiri, apa saja yang kamu dapat ketika proses menimba ilmu itu," ujar salah satu teman saya.
Mungkin si A sekarang sedang berusaha introspeksi diri, dan menyadari bahwa untuk mencari ilmu butuh ketulusan. Ketulusan untuk mencari ilmu tidaklah diukur dari hasil akhir.

Nah, sekarang si B, yang terkesan didzalimi oleh dosennya. Dan masih si imut kalkulus (tapi kelas lain). Sekelas nilainya D sama E semua! (saya juga syok, tapi mau bagaimana lagi). Mungkin ini yang terbaik. Eits, belum saatnya menyesal dan menerima. Si B dan teman-teman sekelas merasa ada sesuatu yang salah dengan ini. Berusaha memperjuangkan kebenaran, berangkatlah si B menuju peraduan (tempat dosen maksudnya). Entah kenapa, dosennya terlalu tidak jelas, si B akhirnya pasrah menunggu keajaiban nilai. Sampai sekarang, si B masih menunggu, dan akhirnya nilai kelasnya tidak banyak berubah.
 
Yang saya salut dari si B ini adalah kesabarannya dalam memperjuangkan nilai, walaupun pada akhirnya tetap menerima karena nilainya tidak banyak berubah, dan si B tetap legawa untuk menghadapi semua ini. Tetap semangat, B!



Lalu, lain cerita si C. Si C curhat ke saya suatu ketika setelah nilai suatu mata kuliah keluar. C bercerita (agak gerutu keluh kesah) mengapa nilainya bisa lebih jelek dari temennya yang sebenernya diajari oleh si C. Mungkin si C tidak terima *yah kasusnya mirip-mirip lah sama si A*. Tapi, yang membedakan begini, si C takut ketika misalkan temennya yang diajari itu tidak membalas budi baiknya. Mungkin inikah yang dinamakan pamrih? Lalu, saya berusaha menjadi manusia baik *manusia baik, katanya*. Berusaha memberi pengertian. Jika ketika berhadapan dengan situasi seperti itu, saya (jika menjadi C) tidak masalah bagaimana akhirnya si yang diajari itu membalas kebaikan kita atau tidak, tetapi kita akan merasa lebih senang ketika yang diajari mengerti apa yang kita beritahukan kepada yang meminta diajari. Cukup itu. Entah si C merasa lebih baik atau bagaimana, paling tidak saya merasa saya sudah memberikan yang terbaik.

Okeh, mungkin sekian. Kesimpulannya, meskipun saya tidak di posisi mereka rasanya saya bisa merasakan kesedihan mereka. Tapi, ada satu kendala yang saya takutkan di sini. Ketika saya ada di posisi mereka, apakah saya bisa menjalani semua yang saya katakan di sini. Sebagai manusia yang sok-sokan baik hati? Mungkin iya, mungkin tidak. Semua tergantung pada diri saya.

Sebelumnya terima kasih juga ke teman-teman yang sudah saya ceritakan di sini. Kalian memberikan pelajaran berharga

Bismillah. Semoga ucapan saya dan hati saya selalu sejalan, sehingga semua amal yang saya ucapkan dan perbuat bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri selalu. Amin.


Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh