Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2014

Menjajak Wilayah Baru: Koordinator Wilayah 5 Kampus Kota JMMI ITS

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Bertemu lagi dengan tulisan saya. Weits, jangan bosan, ini kejar setoran. Sekiranya bisa memberi manfaat.

Dan berakhirlah Majelis Akbar Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS Kabinet Syiar Bersahabat Mei itu. Fyuh... (Ah enggak kok, saya nggak ikut penutupannya, saya cuma ikut jilid 1... jadi NOTULEN,jabatan yang melekat semenjak... Musyawarah Besar SITC di tahun pertama)

Kabinet Ekspansi Dakwah, itulah titel yang diusung kepengurusan JMMI 1433 H sampai sekarang. Ekspansi ke dalam, ke seluruh penjuru internal koordinasi JMMI ITS, dalam hal ini Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF). Ekspansi ke luar, dengan amanah sebagai Puskom Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Surabaya Raya, berusaha menggaet berbagai LDK yang membutuhkan pendampingan, menyebarkan dan menguatkan isu keislaman yang sedang beredar, serta bertindak aktif dalam pergerakan dakwah kampus. Lha kok ngeri banget namanya ekspansi? Menjajah dong? Tidak! Maksudnya adalah untuk mengembangkan. Agar jangkauan kebaikan dakwah tersebut tidak hanya berhenti di diri kita, dan kita pun menyebarkannya dengan kebaikan, maka dari itu bisa berkembang, dengan dinamisasi kebaikan. (Satu paragraf ini adalah hasil kreasi otak dan imaji sendiri, dengan berbagai keterbatasan ilmu yang ada)

*Sementara itu, jika beberapa kata yang saya gunakan membuat Anda tidak mengerti, mohon maklum. Tulisan ini Insya Allah untuk kebaikan. Jika tidak mengerti, silahkan ketikkan pertanyaan di kolom komentar*

Beberapa hari kemudian...
*reka ulang kejadian*
[Drrt..Drrt] (Bunyi getar ponsel, ponsel sangat jarang saya hidupkan suaranya)
"Bisa ketemu sebentar di serambi timur manarul? Ada yang ingin dibicarakan" ~(Z)
*reka ulang selesai, dengan pengondisian terbatas pada ingatan, dan nama disamarkan*
Hm? Ada apakah dengan Pak Direktur ini? Pikir saya. Saya pun sudah tahu beberapa jajaran kabinet Ekspansi Dakwah dengan suasana warna ungu itu (kenapa ungu? jangan tanya saya. Sekali lagi. Jangan tanya saya). Dan beliau termasuk salah satu dari jajaran direktur di sana.

--Sesampai di Manarul
"Akh, kira-kira kalau sampeyan jadi Koordinator Wilayah Kampus Kota bagaimana?" Tanya Z. "Hah? Nggak salah Pak?" Tanyaku dengan terkejut.
--Singkat cerita, saya memutuskan untuk mengemban amanah itu. Entah apa pun yang terjadi. Nekat. Iya. Lillahi ta'aala. Semoga bisa selalu mendekatkan saya kepada Islam dan Allah Subhanahu Wata'aala.
Dan alhamdulillah bertemu orang-orang (dan tantangan-tantangan) baru di amanah ini. Kalau bisa dibilang, tantangannya harus saling mensinkronisasi hubungan antara LDJ dan JMMI beserta berbagai LDJ yang ada di dalam wilayah Kampus Kota (T. Industri/MSI Ulul Ilmi, T. Informatika/KMI, S. Informasi/KISI, D3 Teknik Kimia/FUKI Al-Ikrom, D3 Teknik Mesin/Jundullah, D3 Teknik Elektro/Salman Al-Farisi). Namun, hal ini membuat saya memiliki keluarga baru (di tengah himpitan keluarga-keluarga baru lainnya).
Hal paling pelik adalah ketika mengurus G-MAIL 2014 Wilayah yang berujung pada paniknya saya dan staf-staf 2012 dari Wilayah Kampus Kota. Ketika sumber daya manusia berfungsi sangat efisien. Jujur saya mohon maaf kepada semua orang dan pihak yang merasa tersakiti atas kelalaian saya. Walaupun begitu, Insya Allah kegiatan kita bermanfaat. Aamiin.

Copyright (c) KED Family on FSLDJ Cup - (Anda sekalian saya paksa untuk mengatakan ini lucu dan menggemaskan)
Tak terasa di penghujung semester ini, saya harus mengucapkan good bye tapi dengan senyum (Alhamdulillah tanggung jawab ini tersalurkan kepada yang baru). Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yang terzalimi selama saya keliling di JMMI. Terima kasih atas pengalaman yang sudah diberikan. Terima kasih telah memberi kesempatan (lagi) untuk bersentuhan di dakwah kampus.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

FSLDJ ITS. Ber-AKSI!



Sabtu, 06 April 2013

Bercerita tentang Takut



Dunia tercipta dengan warna
Warna itu cipta ceria dan senyum
Dentum hati tak terkira
Warna kelabu pun ada
Curah hati tanpa tawa dan kata

Riuh rendah kala hati bicara
Kadang kala sentilan berkunjung
Rasa yang melahap semua
Meringkuk dalam pejam mata
Tanpa cahaya
Ceria dan senyum tersebut
Lenyap

Kala takut berkunjung
Diam hati ini munculkan riang semu
Usaha tularkan senyum
Apa daya ikatan yang kuat takkan dusta

Adakah takut yang melahirkan senyum?
Tersentuh seiring lamanya si hati tak bersua
Selain takut yang ditiupkan
Yang terus dan bertumbuh
Cintalah adanya
Melahirkan senyum abadi
Namun takut yang tak berakhir jua
Dari Zat yang Maha Abadi

Kemuliaan rasa
Takut yang indah
Bukan gelap yang terjadi
Sinar teranglah yang tersiar
Menuju lurus
Teriring takut itu
Takut penuh cinta.

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Kamis, 29 November 2012

Karena Amanah tidak Akan Salah Memilih Tuannya

Bismillah.... Assalamu'alaykum wr.wb.


Sudah lama tidak berblogging ria nih... Tergoda ngeblog lagi gara-gara seorang teman membuka halaman dasbor Blognya di komputer laboratorium. Selama berbulan-bulan itu berlalu (bulan-bulan nggak ngeblog maksudnya), banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di hidup ini. Lika-liku yang menghebohkan dan kadang-kadang bikin galau sampai memojokkan di sudut tempat tidur kamar saya.

Bayangkan saja, dalam keadaan yang masih baru syok-syok aja jadi Ketua Umumnya KMI (pos sebelumnya), saya masih harus menerima kenyataan hidup (halah alay banget saya di sini, ketularan seseorang) kalau jalan masih panjang berliku namun singkat sekejap mata. Panjang berliku karena terkadang saya merasa satu detik tersebut adalah masa paling berat, dan sekejap mata karena setelah itu berakhir... "Oh, begitu aja?".
nyoh pelakune virus alay: link blog: http://ika-astutik.blogspot.com/


Lalu, terjadi hal-hal berikutnya:
Mulai kuliah yang inspiratif sekali pake banget, sampai amanah yang memang luar biasa dengan lingkungan yang menakjubkan dan lebih berwarna daripada hari-hari biasanya di kampus. Namun, beberapa hal tersebut tidak berkesan ketika saya mengalami  jatuhnya perasaan saya (baca: galau). Kadang-kadang saat itu saya berpikir flashback, ketika masuk di Teknik Informatika di semester 1 sampai sekarang... Apa saja sih yang membuat saya bertahan? Teman-teman, keluarga, lingkungan, uang? Enggak juga sih (maaf yaaa... tapi kadang-kadang saya mikir begitu). Tapi saya berpikir, ketika itu saya nggak ngurus apa aja yang ada di sekitar saya pokoknya saya lakukan apa yang terbaik. Semacam saya diberi tantangan apa saja sama Yang Maha Kuasa, tapi saya mencoba menjalankan apa yang bisa saya lakukan dan Alhamdulillah saya berhasil menjalani itu dengan sukses. Bisa dibilang apapun takdir yang saya jalani, saya mencoba melaluinya dengan sebenarnya hati penuh tanya dan menerka... apakah yang ada sebenarnya di balik ini. Jika saya sukses menjalaninya (sesuai parameter saya sendiri sih), semacam sedikit demi sedikit takdir di balik semua tantangan itu tersingkap dan reaksi saya: "Oh ya yaaa.... Ternyata saya bisa melakukan hal ini, ternyata maksud dari cobaan-Mu itu seperti ini Ya Rabb." Karena takdir Allah itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sedikit kisah lagi ya...
Kebahagiaan itu akan muncul di sekitar kehidupan kita walaupun hanya sekelumit saja, bahkan di balik sepucuk kerikil sekalipun. Tergantung bagaimana kita memahami makna kebahagiaan itu sendiri. Selama kita masih merasa fine dan happy dengan kenyataan yang ada sih ya yo ya yo wae. Malah kalau kita merasa sedih dan menyesali semua yang terjadi dan berpikir semua hal buruk akan terjadi setelah ini. Semua hal buruk yang kita bayangkan akan terjadi tersebut bisa jadi terjadi.

Karena semua prasangka yang bisa kita lakukan itu mengenai takdir kita, yang merupakan kehendak Allah. Dan ketika bersuuzon kepada Allah.... yaaa... monggo disimpulkan sendiri. Masak mengingkari takdir Tuhan kita sendiri, ya gak?

Dan semua hal harus disyukuri, meskipun hal tersebut di depan mata kita tidak sebaik yang dirasakan. Namun, harus disadari, sebagai hamba yang selalu mengingat-Nya, takdir Allah selalu yang terbaik.  Tidak pakai cacat sedikit pun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan masih panjang
Lika-liku hidup dan usaha kita harus senada
Sepiring kenyataan sebagai suguhan utama
Adalah manfaat yang dicerna oleh prasangka baik
Sebongkah amanah sebagai jalan menuju ridho-Nya
Adalah hal yang tak mudah selagi hal yang disyukuri

Sepatah kita keluh kesah
Adalah janji bagi kita untuk tak mengulanginya
Sebutir titik air mata
Adalah bukan alasan untuk tak melaju lagi

Pernah ku cerita kepada kawan
Apakah aku pantas menjadi aku yang sekarang
Bukan berupa cinta dan harapan
Bukan hak dan tanggung jawab
Bukan ilmu nian bisa kumodalkan
Bukan sikap dan amal yang alangkah indah yang bisa kupersembahkan
Namun, ada sepenggal katanya
"Seandainya kamu tidak menjadi kamu yang sekarang, bagaimana aku?
Sebuah amanah tidak akan salah memilih tuannya" 

Lalu, ku terkesiap
Kalau bukan aku yang harus menjadi aku yang sekarang
Mana mungkin ada aku lainnya yang harus datang lagi
Berarti aku harus menghilang?
Tidak
Karena di sini aku adalah aku
------------------------------------------------------------------
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Monggo komen yaa... matur nuwun
 

Sabtu, 16 Juni 2012

Bismillah.... KMI 2012-2013

Assalamu'alaikum wr.wb.

...kilas balik waktu itu...
Di penghujung MUBES SITC 2012, dipilihlah Hani Ramadhan sebagai ketua KMI 2012-2013.

...kilas balik selesai...

Syok? iya... jelas. Jantung hampir copot? Tidak juga sebenarnya. Hal ini sudah diwacanakan sebelumnya.

Bagi saya, hal ini merupakan tantangan baru dan sangat "wow". Betapa tidak, mungkin saya seseorang yang bukan "apa-apa", mungkin ilmu agama saya masih kurang, mungkin saya kurang lancar berkomunikasi, dan lain hal sebagainya. Memimpin organisasi, memimpin suatu lembaga dakwah? Kedua hal tersebut merupakan hal yang sangat menakjubkan sekaligus membuat saya takjub.

Jujur, mungkin sekarang masih kalut. Kalut tentang siapkah saya melangkah ke depan? Siapkah saya ber-"luntang-lantung" di dunia itu? Siapkah saya menghadai semua tekanan yang ada? Siapkah saya menghadapi tantangan yang ada?

Tapi, saya percaya. Itu bukan hal yang mudah, tapi tidak mustahil.
Saya percaya saya bisa membawa perubahan. Tidak. Bukan saya, tapi kami. Kami, KMI di sini. Harapan itu selalu ada, tergantung kita mau bergantung terus atau mewujudkan harapan itu.
Saya percaya hal ini tidak sia-sia, karena:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)




Saya akan berjuang terus. Kami tidak akan menyerah. Karena kami akan berusaha menghadirkan kembali keislaman di lingkup dunia ini.

"Meskipun saya tahu saya masih lemah dan kurang, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memaksimalkan amanah ini."


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)

.....................................
Ini bukanlah titik awal
Maupun bukan titik akhir
Ini kelanjutan harapan
Ini perwujudan mimpi

Meskipun ku harus berdarah
Meskipun ku harus menangis
Meskipun ku harus dicemooh
Meskipun ku harus diakhirkan
Insya Allah, ku takkan menyerah

Sederhana, mungkin tujuannya
Bersahabat, mungkin caranya
Terorganisir, mungkin tingkatannya

Ini adalah masanya
Untuk membuka lembaran lain
Yang nantinya muncul kejayaan
Yang berasal dari titik ini

Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, tiap-tiap orang ini yang berusaha
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari tiap orang lain yang merasa dibutuhkan
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari tiap pendukung lain yang merasa bagian dari ini
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari pihak yang bertolak belakang pula

Hal itu sudah cukup mengukir senyum di hati kami
Paling tidak adalah bukti adanya kami adalah manfaat
Paling tidak adalah bukti ada kami
.........................................................

KMI 2012-2013
"Kami Siap Ada di Sini, Membawa Perubahan"
 

Wassalamu'alaikum wr.wb.