Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 September 2017

Tips dan Trik - Tes Coding untuk Melamar Pekerjaan

*tulisan ini tidak hanya pengalaman saya sebagai pengulas tetapi juga pelamar di beberapa perusahaan teknologi informasi ternama nasional maupun internasional, tentu saja kritik dan saran tetap diperlukan untuk memberikan wawasan yang lebih baik bagi para pembaca

Code Submission adalah salah satu tahap lain dari seleksi proses lamar pekerjaan yang biasa melibatkan pemecahan masalah dan pembuatan skrip code. Jika ada pelamar yang tidak bisa menyelesaikannya, tentu saja membuat tanda tanya besar dari seluruh proses belajar teknologi informasi si pelamar.

Biasanya kondisinya adalah sebagai berikut:
1. Pelamar telah lulus seleksi administrasi dan CV (ini artinya para pelamar sudah menarik hati pengulas, selamat!)
2. Pelamar diberikan beberapa permasalahan untuk diselesaikan.
3. Pelamar diberikan batas waktu untuk mengumpulkan penyelesaian permasalahan tersebut.
4. Penerima lamaran akan melihat dan mencoba menjalankan code penyelesaian permasalahan tersebut.
5. Penerima lamaran akan mengevaluasi hasil code penyelesaian permasalahan tersebut dan menentukan apakah pelamar bisa lulus tahap selanjutnya.

Untuk format code

Format code submission yang pernah saya alami adalah:
A. Pengumpulan source code via email dan menjalankannya di mesin lokal saya (poin ini saya terapkan di tempat saya bekerja sebelumnya, karena kekurangan tenaga dan waktu untuk menerapkan format seperti poin C).
B. Pengumpulan yang mengharuskan pelamar membuat code submission di situs tantangan penyelesaian permasalahan daring.
C. Pengumpulan code submission seperti poin 2 ditambah wawancara via telepon (sebenarnya saya lebih suka yang format ini).

TIPS dan TRIK
1. Jika rekan-rekan sedang bekerja/kuliah ketika hendak menyelesaikan permasalahan tersebut, perhatikan batas waktu yang diberikan. Kerjakanlah penyelesaian permasalahan tersebut ketika pikiran sedang tenang, jangan terburu-buru.
2. Baca/dengarkan instruksi dari permasalahan yang ada dengan baik, cermat, dan teliti. Saya ulangi lagi, DENGAN BAIK, CERMAT DAN TELITI. Beberapa code yang saya terima tidak berhasil menyelesaikan permasalahan yang diberikan atau melewatkan poin-poin kecil sehingga ketika dieksekusi, hasilnya tidak sesuai harapan.
3. Setelah source code selesai, pastikan rekan-rekan memiliki waktu untuk mengulasnya kembali sebelum dikumpulkan. Silakan lakukan debug dengan baik sehingga tidak ada kesalahan penyelesaian masalah.
4. Gunakan komentar-komentar sederhana di dalam source code untuk menjelaskan alur logika yang digunakan di dalam penyelesaian permasalahan. Pada hakikatnya, sebagai pengulas, saya tidak terlalu peduli mengenai penulisan komentar ini asalkan alur logika dari kode yang dituliskan jelas namun tidak semua pelamar menuliskan alur logika dalam code dengan baik dan membuat saya bertanya-tanya mengapa begini dan begitu.
5. Melihat inspirasi dari internet tidak masalah tetapi PLAGIASI adalah masalah. Masalah. Besar. Kemampuan untuk mencari informasi di mesin pencari memang penting bagi generasi saat ini tetapi masalah yang diberikan jarang (atau hampir tidak pernah, kecuali beberapa kasus posisi tertentu) membutuhkan inspirasi yang dominan dari internet. Ketika mesin pencari bisa membantu rekan-rekan mencari kode sumber di internet, apakah para pengulas tidak bisa menggunakannya untuk memeriksa kode sumber rekan-rekan? 

Jika ada yang ingin bertanya-tanya, memberi kritik dan saran, silakan dikomentari.

Terima kasih.

Semangat

Tips dan Trik - Membuat CV

*tulisan didasarkan pengalaman saya sebagai pembaca lamaran pekerjaan yang diajukan, kritik dan saran tentu saja diharapkan karena saya sedang belajar juga. Mayoritas saya juga lumayan (lelah) dengan beberapa lamaran yang tidak sesuai standar saya.

KONTEN

  1. IPK dan Kampus.
    Saya akan jarang melihat angka IPK dan kampus rekan-rekan di CV. Tentu saja angka IPK nol koma atau satu koma akan menimbulkan pertanyaan besar. Tetapi saya ingin melihat bagaimana performa rekan-rekan di dalam CV tersebut. Apakah pengalaman dan proyek-proyek tersebut signifikan dan membuat saya tertarik? Ceritakanlah dalam CV rekan-rekan. Tidak punya pengalaman atau proyek yang dibanggakan? Terpaksa saya harus melihat IPK, kampus, dan transkrip untuk mengira-ngira apa yang bisa rekan-rekan unggulkan.
  2. Riwayat Pendidikan.
    Saya jelas tidak akan melihat rekan-rekan dari SD, SMP, atau SMA/SMK mana atau lulus kapan dan seterusnya. Namun, jika rekan-rekan dari SMA/SMK sudah memiliki sesuatu yang terkait dengan pekerjaan yang dilamar dan akan membuat saya tertarik, silakan dituliskan!
  3. Proyek pekerjaan atau Tugas yang Diunggulkan.
    Judul saja tidak akan membuat saya terkesima! Ceritakanlah teknologi yang digunakan, bagaimana efektivitas proyek rekan-rekan, yang penting tentu saja peran rekan-rekan dalam tim! Penggunaan angka atau metrik lainnya akan memudahkan saya mendapatkan gambaran mengenai performa rekan-rekan.
    Contoh:
    Implementasi Basis Data MySQL untuk Proses Isi Data Anamnesis di RS X
    - Peran: Programmer UI, Desainer Kueri
    - Penggunaan UI PHP 5.x dengan form x, y, z
    - Implementasi kueri kompleks dan view yang melibatkan 8 tabel
    - Menyangkilkan proses bisnis dari manual 30 detik menjadi 10 detik
  4. Kepribadian.
    "Saya tipe pekerja tim","Saya mampu bekerja di bawah tekanan","Saya pekerja keras". Tentu hal ini akan menghabiskan ruang. Hal-hal tersebut akan tergambar di proyek pekerjaan rekan-rekan. Dan sayangnya, saya tidak terlalu suka melihat tulisan seperti itu di CV.
  5. Riwayat Organisasi.
    Sebutkan yang relevan dengan pekerjaan atau paling tidak menggambarkan kepribadian rekan-rekan. Ketua organisasi tentu akan membuat saya tertarik, tetapi jabatan lain juga bisa membuat saya tertarik. Contoh:
    Anggota bidang eksternal Himpunan Mahasiswa X
    - Mengadakan kunjungan berbasis pengetahuan IT ke 3 himpunan kampus lain, salah satu temanya: Cloud Computing
    - Menuliskan artikel mengenai Pro Kontra UU ITE dan dimuat di 20 ormawa internal kampus dan di media massa lokal.
  6. Keterampilan dan Kemampuan.
    Aplikasi Perkantoran? (YES jika melamar sebagai administrasi, NO untuk programmer), Basic Networking (ABSOLUTELY YES untuk programmer dan IT Support). TOEFL ITP? Tuliskan skornya. Bahasa Asing lain? Tuliskan tingkat penguasaannya (pemula, menengah, ahli). Bahasa pemrograman terentu? Tuliskan penguasaannya di bidang apa (contoh: mikrokontroler, program sederhana, pengolah citra). Tuliskan yang relevan terhadap pekerjaan.
  7. Prestasi.
    Tentu saja tuliskan prestasi yang relevan terhadap pekerjaan yang dilamar. Penerima beasiswa? Tentu itu prestasi. Tuliskan!
  8. Dan yang paling penting: JUJUR! 



PENULISAN

  1. Pastikan tidak ada salah eja, huruf besar, huruf kecil, tanda baca. Kesalahan eja atau tanda baca sesedikit mungkin bisa membuat saya membuang CV rekan-rekan begitu saja.
  2. Satu halaman lebih baik daripada dua halaman. Sesingkat mungkin dan informatif. Tiga halaman atau lebih (kecuali benar-benar MENARIK), sudah dijamin tidak saya baca.
  3. Kalimat penjelasan masing-masing poin dari proyek maupun pengalaman diharapkan cukup dibentuk dalam 3 poin, dan masing-masing poin cukup 1 baris.
  4. Gunakan fontasi yang wajar. TNR tidak disarankan untuk digunakan. Saya lebih suka fontasi tipe Sans untuk CV karena bersifat non tulisan panjang. Ukuran 10-11 untuk konten oke, 11-12 untuk judul bagian oke, 14 untuk nama oke.
  5. Baca lagi, lagi, lagi, dan lagi. Tanyakan kepada diri sendiri apakah CV rekan-rekan sudah layak untuk dibaca para pengulas.
    (Tambahan, tidak ada di status Facebook)
  6. Bahasa. If you are confident enough to use English, use it! Don't forget to proofread it. If you are not really confident enough, don't even try. Any error could make your CV directly thrown in the trash can.
  7. Desain. Saya cenderung lebih suka format dua kolom (kiri judul bagian, kanan isi) atau satu kolom saja (berbentuk daftar biasa), polos, dan hitam putih. Jika ingin diberi warna, tolong jangan berlebihan. Jika berbakat desain, gunakan desain yang menyejukkan mata. Jika ingin menambahkan ornamen (walaupun tidak disarankan), buatlah ornamen tersebut mendukung kemudahan membaca.  
Sekiranya itu dulu untuk CV. Akan ada episode code submission dan wawancara.

Semangat

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Sabtu, 16 Juni 2012

Bismillah.... KMI 2012-2013

Assalamu'alaikum wr.wb.

...kilas balik waktu itu...
Di penghujung MUBES SITC 2012, dipilihlah Hani Ramadhan sebagai ketua KMI 2012-2013.

...kilas balik selesai...

Syok? iya... jelas. Jantung hampir copot? Tidak juga sebenarnya. Hal ini sudah diwacanakan sebelumnya.

Bagi saya, hal ini merupakan tantangan baru dan sangat "wow". Betapa tidak, mungkin saya seseorang yang bukan "apa-apa", mungkin ilmu agama saya masih kurang, mungkin saya kurang lancar berkomunikasi, dan lain hal sebagainya. Memimpin organisasi, memimpin suatu lembaga dakwah? Kedua hal tersebut merupakan hal yang sangat menakjubkan sekaligus membuat saya takjub.

Jujur, mungkin sekarang masih kalut. Kalut tentang siapkah saya melangkah ke depan? Siapkah saya ber-"luntang-lantung" di dunia itu? Siapkah saya menghadai semua tekanan yang ada? Siapkah saya menghadapi tantangan yang ada?

Tapi, saya percaya. Itu bukan hal yang mudah, tapi tidak mustahil.
Saya percaya saya bisa membawa perubahan. Tidak. Bukan saya, tapi kami. Kami, KMI di sini. Harapan itu selalu ada, tergantung kita mau bergantung terus atau mewujudkan harapan itu.
Saya percaya hal ini tidak sia-sia, karena:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)




Saya akan berjuang terus. Kami tidak akan menyerah. Karena kami akan berusaha menghadirkan kembali keislaman di lingkup dunia ini.

"Meskipun saya tahu saya masih lemah dan kurang, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memaksimalkan amanah ini."


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)

.....................................
Ini bukanlah titik awal
Maupun bukan titik akhir
Ini kelanjutan harapan
Ini perwujudan mimpi

Meskipun ku harus berdarah
Meskipun ku harus menangis
Meskipun ku harus dicemooh
Meskipun ku harus diakhirkan
Insya Allah, ku takkan menyerah

Sederhana, mungkin tujuannya
Bersahabat, mungkin caranya
Terorganisir, mungkin tingkatannya

Ini adalah masanya
Untuk membuka lembaran lain
Yang nantinya muncul kejayaan
Yang berasal dari titik ini

Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, tiap-tiap orang ini yang berusaha
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari tiap orang lain yang merasa dibutuhkan
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari tiap pendukung lain yang merasa bagian dari ini
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari pihak yang bertolak belakang pula

Hal itu sudah cukup mengukir senyum di hati kami
Paling tidak adalah bukti adanya kami adalah manfaat
Paling tidak adalah bukti ada kami
.........................................................

KMI 2012-2013
"Kami Siap Ada di Sini, Membawa Perubahan"
 

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Selasa, 29 Mei 2012

Jika Tidak Bisa Aku Kaffah, Apakah Aku Mengikuti Langkah Setan?

Bismillah...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya, sekali lagi, dan lagi-lagi ingin menulis di blog ini. Mungkin saya galau, selalu kacau. Menghadapi semua deadline yang ada ini. Sedikit cerita boleh lah ya?

Pernah pas sekali saya masuk ke jurusan ini, saya tidak berpikiran untuk masuk LDJ (Lembaga Dakwah Jurusan). Namun, menginjak perjalanan dari hari ke hari dalam lingkungan jurusan. Saya pun tertarik, sedemikian pula takut. Takut akan semua isu yang beredar tentang lembaga dakwah kampus. Takut akan sulitnya izin dari orang tua saya dan sebagainya.

Tapi, hati saya tergelitik. Tulisan di baris KTP "Agama" saya adalah Islam. Apakah memang saya sudah menjadi manusia beragama "Islam" yang sepenuhnya? Apakah bukan suatu kebohongan dan kejatuhan harga diri yang besar jika tulisan itu menjadi suatu kemunafikan belaka. Berkaca kepada diri sendiri. Dan menggali semua yang saya dapat dari ilmu agama dan mentoring.

Kesimpulan: jika saya mengakui diri saya Islam, saya harus menegakkan syariat Islam di mana pun saya berada. Paling tidak saya bisa melakukannya untuk diri sendiri.

Namun, ketika itu pula saya galau (kembali). Berdasarkan temuan-temuan saya, ketika kita salat, kita akan merasakan suatu kesejukan, melakukan penghambaan yang maksimal kepada Sang Pencipta kita. Kemudian saya merasa hampa, apakah salat saya sudah benar? Menilik kembali jauh. Apakah syahadat yang saya ucapkan sudah benar?

Dari semua itu timbul kegalauan (lagi). Ragu. Mungkin.

Apakah sudah keseluruhankah hati saya untuk Islam?


Kembali, saya takut, berdasarkan Surah Al Baqarah 208 : "Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara Kaffah dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithon. Sesungghuhnya syaithon itu mush yang nyat bagimu."

Jika tidak bisa aku kaffah, apakah aku mengikuti langkah setan?

*oke curhatan ini  mungkin membebani teman-teman pembaca sekalian, namun saya memang galau*

Sekian terima kasih. Wassalamu'alaikum wr.wb.

Senin, 29 Agustus 2011

Besok Idul Fitri 1432 H, Berikut Kesempatan dan Keputusan yang Sudah Saya Ambil

Assalamu'alaikum wr.wb.
Rasanya sudah berabad-abad saya tidak ngeblog~ (berlebihan mode on)

Sehubungan dengan selama puasaan saya tidak ngeblog. Sebelumnya saya mohon maaf lahir batin kepada semua pembaca. Mulai dari nol lagi ya~ (a la SPBU pertamina)

Meskipun begitu, masa puasa ini saya tidak berleha-leha di rumah saja. Banyak sekali (se-ka-li) kegiatan kampus yang saya kerjakan. Mengurus buka bersama, screening,dan kawan-kawan, dan lain-lain. Yah seru sih.. tapi dalam beberapa kesempatan saya tidak bisa di rumah. Lagipula suasana di rumah agak hambar, tidak ada saudara-saudara. Mas ada di Makassar, Mbak ada di Jakarta, sepupu ada di Probolinggo. Mungkin, buka di kampus malah lebih terasa menyenangkan daripada di rumah. Di rumah hanya ada Ibu, Budhe dan kadang-kadang Bapak.

(ya... tidak seberlebihan ini sih. pic credits to: blogs4funny.com)

Ya... Sebenarnya saya menaruh rasa hormat yang tinggi kepada beliau-beliau. Tapi, terkadang saya merasa tertusuk oleh over-expectation dan pandangan beliau-beliau terhadap saya. Maklum, mungkin beliau-beliau belum bisa menempatkan posisi di kaki saya. Beda zaman juga mungkin.

Namun, setelah H-sekian lebaran (Alhamdulillah) saudara-saudara saya berdatangan ke rumah semua. Dan saya menceritakan sekelumit derita saya kepada mereka. Dan mereka sadar dan berusaha santai saja. Toh, buktinya mereka sukses-sukses saja. (semoga saya juga bisa seperti itu, dengan cita-cita saya yang seperti itu)
(ku ingin menjadi yang kuinginkan. Ingin ku jadi guru, ingin ku jadi menteri pendidikan. Aamiin. pic credits to: ayo-ngaji.blogspot.com)

Dan dalam momen ini saya mencoba berkiprah dalam surat menyurat(Baca: kirim kartu lebaran) ke beberapa teman saya yang mungkin saya anggap ingin keep-in-touch . Teman yang berada jauh di sana, seorang perempuan yang memiliki masa lalu dengan saya, seorang perempuan yang suka menulis, dan seorang perempuan yang sebutlah memiliki janji dengan saya melakukan surat menyurat ini. Saya mengirimnya dengan menggunakan perangko (kantong mahasiswa). Namun, kata pegawai pos-nya sampainya bakal lama. Ya sudahlah, biar waktu yang menjawab semua itu. Bagi banyak teman-teman yang saya tidak kirimi kartu lebaran, saya mohon maaf, karena urusan finansial.
 (kartu lebaran digital... emm yaweslah. pic credits to: suceve.blogspot.com)

Nah, menyangkut lagi tentang lebaran. Di negeri tanah air tercinta saya ini, Indonesia, terjadi gonjang-ganjing akibat penentuan 1 Syawal 1432 H. Di kalender sudah tercetak merah tanggal 30 Agustus 2011 dengan tanda Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Namun, berhubung beberapa pendapat menyatakan terlihatnya hilal belum memenuhi syarat jatuhnya awal bulan baru. Maka, 1 Syawal 1432 H pun diputuskan jatuh hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Yah, Alhamdulillah yah. Mungkin dalam semua perbedaan ini akan tercipta keharmonisan Indonesia, dan juga ukhuwah yang lebih baik lagi antar sesama Muslim. Aamiin

Sebelum kiriman ini saya akhiri, ada baiknya saya meminta maaf lahir batin lagi. Menyangkut Idul Fitri 1432 H, yang akan jatuh esok hari.
Taqoballahu minna wa minkum. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Hani Ramadhan sekeluarga.
 (kembali suci di hari fitri. pic credits to:  edo-ding.blogspot.com)

Terima kasih banyak sudah mau membaca, kurang lebihnya saya mohon maaf. Sekian. Wassalamu'alaikum wr.wb.

Minggu, 23 Mei 2010

Sekalipun itu Menyakitkan, Syukuri Hal Tersebut!

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Pernahkah dalam setitik hidup, kita menyesali sesuatu yang tidak pernah kita sukai...? Sesuatu yang menyakitkan, menusuk sampai-sampai ingin bunuh diri atau menangis sampai menunggu keringnya air mata?

Meskipun kata-kata di atas terdengar sedikit puitis dan dramatis (baca: berlebihan). Tapi, seandainya hal-hal di atas memang benar terjadi, apa yang akan kita lakukan? Seperti itukah?

Mungkin memang sedikit naif, tapi saya pernah mengalaminya. Sebenarnya, masalahnya sederhana. Hanya sedikit perencanaan dalam hati, lalu tiba-tiba.. ya tiba-tiba saja... Sedikit berkisah tak apa-apalah. . .

--cerita dimulai--
Hari Sabtu itu, saya di Probolinggo menikmati liburan tetapi baru direncanakan dijemput Jumat pekan depan. Tapi, dalam hati (hanya di dalam hati saja) saya ingin pulang ke rumah (Waru) ketika Minggu tiba (esok harinya) karena sudah berencana ini itu di kemudian harinya. Saya ingat, ketika itu pukul 08.30 saya diajak ke bengkel bersama paman saya untuk menserviskan vespa, dengan membawa motor lain. Dan ketika pulangnya ke rumah paman, pukul 09.00. Dan saya menonton televisi. Ketika tengah-tengah menonton televisi, saya merasa aneh... Pandangan saya mulai berkunang-kunang dan merasa pusing. Saya mengaduh-aduh dalam kepala saya. Namun, tetap menonton televisi. Hingga pukul 09.30, saya memutuskan menyerah dan pergi ke kamar tidur saya. Menyembunyikan kepala di balik bantal sambil menahan ikatan tali tidak terlihat melingkar di kepala saya. Dan dibantu tusukan-tusukan jarum kasat mata yang terus diarahkan pada pelipis saya. Sakitnya bukan main.

Tidak lama kemudian, Bibi saya datang dan berusaha mengobati saya ala kadarnya. Alhamdulillah pusingnya hilang, pikir saya. Namun, tusukan-tusukan itu tidak berhenti, malah semakin sakit pula. Dalam hati saya terus berdoa, "Ya Allah, ampunilah hambamu ini... Hilangkanlah rasa sakit ini...," sembari terus berzikir. Lalu, Bibi saya menelepon Ibu saya yang di Waru dan beliau merespons dengan, "Ya sudah, Selasa Hani (nama saya) takjempute," dengan logat jawa khas.

Saya, tentu saja, masih mengerang-erang dan memendam kepala saya di balik bantal (sampai begitu menyiksa). Hingga makan siang tiba, saya terpaksa tidak bisa salat Zuhur karena tidak mampu beranjak mana-mana. Sungguh sebuah derita. Dan sepuluh menit setelah saya selesai makan, tiba-tiba Ibu saya menelepon ke Probolinggo. Beliau memutuskan untuk menjemput saya esok hari (hari minggu). Sontak saya terkejut dan mengucapkan Alhamdulillah dalam hati.
--cerita selesai--

Dari sejumput ketikan tersebut, mungkin terbersit sedikit pendapat yang unik dari para pembaca sekalian. Tapi, khususnya, dari saya sendiri, ini adalah sebuah hidayah dan pencerahan. Di samping saya tidak merencanakan penyakit pusing tersebut walaupun saya berjam-jam di depan layar laptop saya yang berkelap-kelip selama 6 hari sebelumnya, sungguh saya merasa penyakit aneh, yang setelah diperiksa darah tifus dan DB tidak menunjukkan tanda-tanda penandaan wilayah jajahan saat itu, itu adalah sebuah barokah. Walaupun saya belum memeriksakan problema tersebut ke dokter mata, saya merasa tidak ada waktu saat itu untuk berhenti bersyukur kepada Allah SWT. Lalu, saya berintrospeksi. Mungkinkah semua jalan yang tergariskan untuk diriku ini bukanlah jalan yang kupilih? Mungkinkah jalan yang kugariskan sendiri ini tidakseperti jalan yang seharusnya kulalui? Tapi, apakah jalan yang kupilih adalah jalan yang miring sedikit, meskipun 0,000000..... sekian derajat saja Allah SWT akan membantu saya kembali ke jalan yang benar?

Pikiran-pikiran itu membuat saya bersyukur akan mungkinkah itu sebuah penyakit, bencana, atau tragedi apapun. Selama kita selalu dibantu oleh Allah SWT dan percaya kepada diri kita untuk mengambil hikmah, sisi positif, keikhlasan jalan yang panjang yang tersembunyi di balik awan penyesalan. Kita akan tetap mampu bersyukur dan berikhlas diri meskipun seberat apapun cobaannya.

Sedikit pantun untuk mengakhiri tulisan ini...

Rembulan si manis nan lugas
Entah di mana pungguk munculkan diri
Si jalan rahmat lagi ikhlas
Di balik si derita tahukah diri

Mungkin ke-bermanfaat-an tulisan ini yang begitu sedikit pantaslah disingkap oleh tabir kesyukuran atas siapa yang mau membaca lagi bertanggap ria.

Akhir kata, sekian dan terima kasih, mohon maaf apabila ada salah kata.

Wassalamu alaikum Wr.Wb.