Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

Cerpen: Nina Kecil Sekolah di Indonesia

“Waaaaah, kita sudah sampai di Indonesia, Yah, Ibu!” sahut Nina dengan riang. Hamparan aspal luas dan rerumputan hijau yang rata menyambut pendaratan burung besi yang ditumpanginya. Jajaran huruf “SOEKARNO HATTA” turut mengiringi arah pandangan Nina. Di dalam pesawat, Nina duduk di samping jendela. Posisi ini didapatnya setelah bertukar tempat duduk dengan sang Ayah. Tidak lama kemudian, kakak pramugari manis membantu rombongan kecil itu turun dari pesawat. Yah, akhirnya kakak pramugari itu berhasil menenangkan tingkah gadis 8 tahun itu. Nina tampaknya sedikit terlalu bersemangat sampai di Indonesia.
“Merci! Au revoir, Madame!1”ujar Nina kepada kakak pramugari di sampingnya itu.
Ayah Nina dengan sigap mengambil koper yang disimpan di rak di atas tempat duduk mereka. Ayah Nina berperawakan tinggi tetapi tidak terlalu besar, tidak kurus dan juga tidak terlalu gendut. Rambut Ayah Nina sudah mulai menipis namun masih sering dimainkan Nina. Sedangkan, Ibu Nina sendiri adalah seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang tergerai dengan garis wajah keibuan yang kentara di pipinya. Tinggi Ibu Nina hanya sekitar berbeda 5 sentimeter dengan Ayah Nina. Nina, buah hati mereka, tingginya mencapai sepinggang Ibunya lebih sedikit. Mata Nina terlihat besar dengan lesung pipit dan pipinya yang tembem. Mereka bergantian menyalurkan bawaan mereka dan berjalan di antara kursi-kursi pesawat menuju pintu keluar.
Tidak lama, jejak langkah keluarga kecil tersebut menjauh dari pesawat. Lalu, Nina menoleh lagi ke belakang. Senyum si pramugari terlihat semakin kecil dari lambaian tangan Nina. Tatkala tiba di gedung bandar udara, tiga pasang kaki itu langsung menuju arah imigrasi dengan paspor Indonesia. Selesai urusan di imigrasi, mereka pun dinyatakan sebagai orang yang resmi kembali pulang di tanah air. Mereka semua siap menjalani hidup baru di Indonesia setelah banyak kenangan indah yang terjadi selama 3 tahun di negeri Heksagon, Prancis.
***
“Nina? Nanti malam mau Ibu masakkan apa?” tanya Ibu Nina kepada Nina.
“Mmmmmm, Nina mau makan rawon boleh, Bu?” jawab Nina.
“Eh, jangan Bu. Kemarin sudah soto, jangan masakan Indonesia lagi. Nanti bumbunya cepat habis,” tiba-tiba ralat Nina dengan cepat. “Sup ayam saja, Bu.”
“Oke, Ayah juga mau, kan ya?” Tanya Ibu Nina kepada Ayah Nina.
“Apapun yang Ibu masak, ayah pasti akan makan!” Sahut Ayah Nina bersemangat.
Pembicaraan pagi hari di sudut apartemen kecil itu mewarnai kehidupan keluarga kecil itu selama 3 tahun. Topiknya pun beragam, mulai dari menu makan malam, kegiatan Ibu di siang hari, pelajaran Nina hari itu, rencana liburan ke luar kota, kehebohan persiapan sidang penentuan kelulusan sang Ayah dari studi doktoralnya, sampai rencana kepindahan keluarga kecil itu ke Indonesia. Bagi keluarga tersebut, kesederhanaan dialog pagi tersebut mengalahkan kemegahan menara Eiffel. Meskipun menara Eiffel bisa mereka lihat setiap hari ketika naik bus menuju sekolah Nina atau menuju kampus Ayah.
Ketika baru saja tiba di Prancis, memang semua tidak berjalan lancar. Nina merengek minta pulang tidak ada habisnya saat mendapati di Prancis tidak ada nasi. Untungnya, perkara nasi ini baru terselesaikan ketika Ibu Nina menemukan toko yang menjual beras kiloan seminggu kemudian.
Di kemudian hari, tangisan Nina semakin menjadi ketika Nina mengamuk meminta nogosari2, cemilan favoritnya. Tentu saja makanan khas Indonesia itu hampir tidak bisa ditemukan di Prancis, kecuali dibuat sendiri. Alhasil, dengan susah payah, Ibu dan Ayah Nina berhasil membuat nogosari ala kadarnya di akhir minggu. Bisa dibilang prestasi Ibu dan Ayah Nina dalam membuat nogosari cukup membanggakan. Meskipun nogosari buatan sendiri itu berbungkus kertas aluminium, beradonan tepung beras terlalu lembek di sana-sini, dan berpisang tidak sama dengan yang di Indonesia, Nina akhirnya maklum dengan usaha orang tuanya itu.
“Enak kok, Ayah, Ibu! Nina suka! Kapan-kapan buat lemper3 ya!” kata Nina. Kedua orang tua Nina hanya saling menatap dan menghela napas panjang.
***
Seminggu setelah tiba di Indonesia, saatnya Nina masuk sekolah sebagai murid kelas 3 SD. Masuk SD bukan merupakan hal sulit bagi Nina karena berbagai hal merepotkan sudah diurus oleh Ibu Nina di Prancis dan Paman Egi di Indonesia. Mereka percaya usaha mereka akan membuahkan hasil. Dan akhirnya, Nina dinyatakan secara resmi masuk ke SD Swasta yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahnya.
Sehari sebelum berangkat sekolah, Ibu Nina memeriksa jadwal pelajaran Nina untuk hari pertama sekolah. Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran, Matematika 1 jam pelajaran, istirahat, dan, Agama 2 jam pelajaran. Dalam pikiran Ibu Nina, Bahasa Indonesia sepertinya tidak ada masalah, mungkin hanya perbedaan pelafalan huruf “R” dan mengikuti pelajaran sedikit. Di Prancis, Ibu Nina juga sudah banyak mengajarkan cara membaca dan membentuk kalimat untuk Nina. Matematika juga seharusnya Nina sangat cerdas menghitung, pikir Ibu Nina.
“Hmmmm…. Agama Islam ya?” ucap Ibu Nina lirih. “Nina, ke sini sebentar, Nak!” sahut Ibu Nina.
“Iya, Bu?” Tanya Nina ketika bergegas masuk ke kamarnya.
“Nina, besok kan ada pelajaran Agama Islam. Di sekolah Nina yang lama kan tidak ada,” ujar Ibu. “Nina, dengarkan pesan Ibu untuk besok, ya.”
“He em,” angguk Nina.
“Nina, besok bawa kerudung untuk pelajaran Agama Islam, dipakainya ya ketika pelajaran Agama Islam. Lalu, jika ada yang Nina tidak tahu, ditulis dulu di kertas untuk ditanyakan ke guru Agama Islam. Ditanyakannya nanti saja, ketika pelajaran selesai, datang ke gurunya. Kan Agama Islam juga jam terakhir, jadi bisa saat pulang. Jika Nina ditanyai guru tentang sesuatu yang Nina tidak tahu atau belum pelajari, bilang saja ‘Maaf Bapak atau Ibu, saya belum belajar mengenai hal itu’. Mengerti?” ucap Ibu Nina menjelaskan panjang.
“Hm, iya, Bu. Nina mengerti. Besok Nina lakukan, Bu,” angguk Nina lagi.
“Sip, Nak. Besok ketika pulang cerita ke Ibu ya, bagaimana sekolahnya,” pinta sang Ibu.
“Siap, Bu!” sahut Nina bersemangat. “Nina boleh pergi lagi?”
“Iya, main lagi, ya!”
Ibu Nina merasa lega Nina paham dengan pesannya. Nina pun juga tidak kalah berdebar-debar menghadapi esok hari. Apakah Nina akan memiliki teman-teman yang baik, apakah gurunya juga baik, apakah makanannya enak. Semua misteri itu akan terjawab esok harinya.
***
Hari itu, Nina mengenakan baju putih-merah ketika tiba di sekolah. Namun, pola dari baju Nina sedikit berbeda dengan anak-anak sebayanya di sekolah itu. Rasa kurang percaya diri muncul di diri Nina. Tetapi, setelah melihat senyum ibunya, Nina merasa semuanya akan baik-baik saja.
Sebelum masuk kelas, Nina diantarkan ibunya ke ruang tata usaha dan dikenalkan dengan beberapa guru, termasuk wali kelasnya, Bu Ratih. Bu Ratih kemudian mengantarkan Nina ke ruang kelasnya di lantai dua. Bu Ratih sedikit menerangkan ke Nina bahwa muridnya ada 23 anak. Ditambah Nina, akan menjadi 24 anak. Dan, perkenalan pun dimulai.
“Selamat Pagi, perkenalkan nama saya Nina Prayogi. Saya biasa dipanggil Nina,” begitulah pengumuman Nina di depan kelas dengan logat yang kaku dan berbeda.
“Halo Nina!” Ujar seisi kelas.
“Nina, kamu duduk di sebelah Risa, ya!” Kata Bu Ratih sambil menunjuk bangku kosong di sebelah anak berkerudung.
Nina berjalan ke arah bangku tersebut sambil menenteng tasnya. Tiba-tiba dia diajak bicara oleh Risa.
“Halo, Nina, aku Risa,” kata Risa tersenyum untuk membuka pembicaraan.
“Halo, Risa. Saya Nina,” balas Nina sambil tersenyum pula.
Selepas itu, Bu Ratih menjelaskan bahwa Nina adalah pindahan dari Prancis. Prancis adalah negara yang berkilo-kilometer jauhnya dari sekolah itu. Prancis terkenal karena keju dan menara Eiffel, serta roti panjang yang dikenal dengan nama baguette. Riuh terdengar dari ruang kelas itu. Banyak yang penasaran bagaimana Prancis, dan begitu juga mengenai Nina.
Pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan jam istirahat berakhir begitu saja. Nina berhasil mengikuti pelajaran dengan lancar walau tertinggal beberapa minggu. Meskipun Nina tidak mengetahui beberapa kata-kata dalam Bahasa Indonesia ketika mengerjakan soal, untunglah Risa baik hati membantu Nina untuk memahami kata-kata tersebut. Risa berusaha untuk menjelaskan dengan bantuan bahasa isyarat dan gerakan tubuh.
Tiba saatnya pelajaran Agama. Nina sebenarnya agak takut mengenai pelajaran ini, karena ini pelajaran agama Nina pertama kalinya. Terhitung sekitar 10 anak meninggalkan kelas. Anak-anak ini meninggalkan kelas karena beragama selain Islam. Sedangkan, siswa lainnya bersiap untuk pelajaran Agama Islam. Anak laki-laki mengenakan peci dan yang perempuan mengenakan kerudung, kecuali yang sudah berkerudung seperti Risa. Tidak sampai dua menit, sesosok wanita pendek berkacamata namun dengan paras lembut memasuki ruang kelas Nina.
“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh, anak-anak!” sapa orang itu.
“Wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakatuh, Bu Izzah!” balas seluruh kelas, kecuali Nina yang hanya bisa menyebut salam tanpa sapaan.
“Wah, kita sepertinya punya murid baru. Perkenalkan diri dulu ya ke Bu Izzah, silakan, Nak!” kata Bu Izzah menunjuk dirinya dan setelah itu menghampiri Nina.
Nina menatap Bu Izzah dengan perasaan yang agak grogi. Nina merasa sedikit canggung dengan kerudung Bu Izzah ini. Bu Izzah ini sangat terlihat lembut dan sabar. Tetapi, Nina berusaha membuka mulut.
“Bonj… Eh, halo, Bu Izzah. Nama saya Pra… eh Nina. Nina Prayogi,” kata Nina terbata-bata.
“Wah, namanya Nina, ya. Nama saya Izzah. Nur Faizzah. Selamat datang, kalau ada yang tidak tahu, tanyakan ke Ibu ya?” kata Bu Izzah.
“Iya, Bu,” kata Nina.
***
“Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran. Ayo, kita ulang dulu rukun islam dan rukun iman! Mulai dari Yahya sampai ke Indah!” Kata Bu Izzah menunjuk anak dari ujung belakang kanan hingga ujung depan kiri. “Ya, Yahya! Rukun islam pertama!”
“Syahadat, Bu!” Jawab Yahya berdiri, kemudian duduk.
“Kedua, salat!” Jawab anak selanjutnya.
Jawaban-jawaban bermunculan terus hingga giliran Nina, yang mendapatkan jatah menjawab rukun iman keempat. Keringat Nina bercucuran. Rukun iman dan islam tidak pernah diketahui oleh Nina sebelumnya. Baik ibu maupun ayahnya belum pernah memberitahunya ketika di Prancis. Atau mungkin pernah, tetapi Nina lupa karena terlalu grogi. Ingatan mengenai kegiatan belajar mengaji di kedutaan besar di Paris tidak membantunya pula. Kalau mengaji, bolehlah kemampuan Nina diadu.
Risa sebenarnya melihat ketegangan Nina. Risa mengisyaratkan sesuatu. Namun, terlambat, giliran Nina sudah sampai terlebih dahulu sehingga Nina. Nina pun berdiri.
“Ehm… Mmmm… iman kepada… kepada…,” Nina pun tertunduk malu. “Emm, Bu Izzah. Maaf, saya be… belum pernah belajar rukun iman.”
Nina melaksanakan pesan ibunya di hari sebelumnya. Terdengar suara tawa anak-anak di dalam kelas. Mungkin tidak semua. Ada yang dengan nada sedikit merendahkan. Juga terdengar sayup-sayup entah dari mana dan siapa, “Wah, rukun islam dan rukun iman yang mudah itu saja tidak bisa. Aku sejak TK saja bisa.”
Nina kembali duduk setelah itu, tertunduk. Risa mengerti apa yang dihadapi teman barunya. Kemudian, dia menepuk punggung Nina. Lalu, Risa berkata, “Sabar ya. Teman-teman tidak serius, kok. Sabar, ya.”
“Iya, Ris-Risa. Ti.. Tidak apa-apa kok,” suara Nina agak bergetar.
Bu Izzah memandangi Nina dengan tatapan penuh pengertian. Nina tidak sadar akan hal itu. Bu Izzah lalu meminta Risa menjawab jatah pertanyaan Nina dan untuk Risa sendiri setelah menghibur Nina.
Risa kemudian berdiri dan menjawab, “Rukun iman keempat, Iman kepada Rasul. Kelima, Iman kepada Hari Kiamat.”
Risa kembali duduk. Pelajaran Agama Islam berlanjut ke sifat-sifat wajib Allah. Nina sudah kembali siap menerima pelajaran. Dalam pelajaran ini dibahas hanya lima. Mendengar hal ini, banyak hal muncul dalam benak Nina. Nina menuliskan semua pertanyaan yang terpikirkan ke atas kertas untuk ditanyakan nanti ke Bu Izzah.
“Krrrrriiiiiiiing,” bel sekolah tanda akhir pelajaran berbunyi. Itu tandanya pulang sekolah. Lima menit sebelumnya Ibu Nina sudah datang ke sekolah untuk menjemput Nina. Ibu Nina menunggu di depan pintu sekolah.
Risa dan anak-anak lain sudah mengemasi tas sekolahnya dan beranjak pergi. Nina sengaja mengakhirkan kepulangannya untuk menanyakan banyak hal ke Bu Izzah. Bu Izzah juga berniat sama. Bu Izzah ingin mengajak Nina berbicara lebih banyak mengenai pengalaman bersekolah di Prancis.
“Bu Izzah…”,“Nina...,” ucap Nina dan Bu Izzah bersamaan.
“Baik, Nina dulu ya?” Tanya Bu Izzah.
“Iya Bu. Sebelumnya maaf, Bu. Tadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu.”
“Tidak apa-apa. Ibu maklum kok. Ibu juga mohon maaf menanyakan hal yang mungkin belum Nina ketahui.”
“Iya Bu, saya ingin tahu rukun iman dan rukun islam.”
“Iya, Ibu terangkan dulu ya. Rukun Iman itu ada 6. Yang pertama, iman kepada Allah. Kedua, iman kepada malaikat. Ketiga, iman kepada Al-Quran. Keempat, iman kepada rasul. Kelima, iman kepada hari kiamat. Keenam, iman kepada qadha’ dan qadar. Nina paham?”
“Iya, Bu. Boleh lanjut lagi?”
Sebenarnya, muncul pertanyaan-pertanyaan baru di benak Nina. Hal itu juga dicatat dalam kertas catatan Nina. Lalu, langsung ditanyakan setelah Bu Izzah selesai menerangkan rukun islam. Pembicaraan terbuka mulai dari apa arti iman, islam itu apa, dan tak terasa sudah berlalu 30 menit.
Ibu Nina yang ingin tahu mengapa Nina sangat lama berada di kelas segera masuk ke dalam gedung sekolah. Mula-mula, Ibu Nina mengganti sepatu dengan sandal yang disediakan untuk berkeliling di sekolah di penitipan sepatu. Lalu, Ibu Nina berjalan ke ruang kelas Nina di lantai dua. Ibu Nina pun melihat Nina sedang berkerudung dan bercakap-cakap ke seorang guru di meja guru. Ibu Nina merasa pembicaraan Nina sangat asyik. Dan Ibu Nina melangkahkan kaki ke dalam kelas dan mengucap, “Assalamu’alaykum.”
Salam Ibu Nina dibalas oleh Bu Izzah dan Nina. Ibu Nina mengajak Nina pulang karena sudah terlalu siang. Bu Izzah memohon maaf kepada Ibu Nina dan memperkenalkan diri ke Ibu Nina. Bu Izzah menjelaskan kepada Ibu Nina apa yang mereka sedang diskusikan dan bagaimana tingkah Nina ketika di dalam kelas. Ibu Nina mengangguk-angguk. Tidak lama kemudian, mereka berpisah.
“Bagaimana tadi sekolahnya, Nina?” Tanya Ibu Nina ke Nina.
“Asyik sekali, Bu! Nina punya teman baru, dan gurunya baik-baik!” jawab Nina selagi mereka menuruni tangga.
Ibu Nina mengembalikan sandal sekolah ke penitipan barang dan mengganti alas kaki ke sepatu lagi. Sedangkan Nina, mengganti sepatu ke lemari yang khusus disiapkan untuk penitipan sepatu bagi para murid. Nina mendapati ada surat di dalamnya.
“Nina, maafkan kami ya. Kami tadi mengejek kamu. Risa tadi memberitahu kami kalau kamu di Prancis tidak belajar agama islam seperti kami. Besok kamu mau main ke rumah Indah tidak sepulang sekolah?” tertulis demikian dalam surat yang diselipkan di bawah sepatu Nina.
Nina pun tersenyum. Banyak hal yang terjadi selama hanya satu hari di sekolah barunya. Mulai dari teman baru, guru-guru yang menyenangkan, terutama kembali ke kue-kue yang Nina senangi. Belum lagi hal baru yang belum atau jarang Nina pelajari sebelumnya, agama islam. Menurut Nina, hidup barunya ini akan lebih menyenangkan lagi daripada di Prancis. Semoga semuanya akan baik-baik saja, pikir Nina.
“Nina, ayo pulang!” panggil sang Ibu dari ujung pintu.
“Iya, Bu!” jawab Nina sambil berlari kecil ke arah pintu sekolah.
Begitulah kedua pasang langkah kaki itu meninggalkan sekolah baru Nina. Keluarga kecil itu akan mendapat banyak hal yang mewarnai hidup baru mereka. Berbeda dengan 3 tahun sebelumnya, sebelum berangkat ke Prancis dan di Prancis. Perbedaan pengetahuan dan pengalaman Nina malah membuat semua hal yang dihadapinya di Indonesia menyenangkan. Begitulah hidup baru Nina. Au révoir!
1Bahasa Prancis, terjemahan: “Terima kasih! Sampai jumpa, Nyonya!”
2Kue tradisional khas Indonesia yang berupa kukusan adonan tepung beras yang berisi pisang dan dibungkus daun pisang

3Kue tradisional khas Indonesia yang berupa kukusan beras ketan berbentuk kotak yang biasanya berisi daging

Sabtu, 31 Januari 2015

Examen Final, Momen 1 Tahun Sebelum ini dan IFI

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

Alangkah indahnya hari ini setelah semua beban ujian ini selesai. Sebagai informasi, di kampus saya di Perancis, ujian akhir semester seperti sebuah maha-cobaan mini (menurut saya sih). Yakni, ketika semua materi yang menggunung harus diluluhlantakkan selama semalam (untuk saya, Sistem Kebut Semalam (SKS) masih belum mengecewakan saya) untuk materi 2 mata kuliah, yang berita baiknya, keduanya open book. Tetapi, hantaman ini kurang begitu berarti. Bencana berikutnya muncul di hari berikutnya, ketika ujian 2 mata kuliah lain, salah satunya open book, dan satunya closed book.

Biasanya, para dosen yang baik hati memberikan hardcopy materi kuliah. Kasus yang tidak biasa, para dosen yang baik lainnya memberikan softcopy dalam bentuk PDF yang bisa dicetak. Nah, di ujian mata kuliah open book di hari kedua ini, Pak Dosen adalah pemberi materi kuliah dalam bentuk softcopy. Sehingga untuk mempermudah pekerjaan, saya berniat untuk belajar materinya sebelum mencetak di keesokan harinya.

Malang bukan kepalang, di hari H ujian, saya berniat mencetak dokumen tersebut di koperasi mahasiswa... yang ternyata tutup. Pergi ke perpustakaan namun saya tidak paham cara mencetak via printer perpustakaan (harus menggunakan kartu pelajar yang ada isian uangnya, sementara saya tidak tahu cara mengisinya). Terbilang 15 menit sebelum ujian, saya mencoba printer yang ada di laboratorium komputer. Seharusnya bisa mencetak dengan cepat, tetapi setelah utak-atik sana sini, printer-nya sedang bermasalah. Alhasil, 15 menit itu saya gunakan untuk menyalin materi sekenanya dari softcopy ke tulisan tangan kilat nian yang sampai-sampai butuh 1 menit untuk mengenali huruf-huruf itu. Alhasil, pekerjaan ujian itu saya kerjakan dengan penuh rasa khawatir.

Saya berusaha pasrah dan tawakkal atas semua yang terjadi. Kejutan muncul tak sampai seminggu setelahnya di perjalanan kereta pulang ke Compiègne setelah wawancara magang. Benar saja, masuklah surat elektronik yang berisi hasil ujian. Dan Alhamdulillah, kata-kata MENTION untuk mata kuliah itu muncul di ponsel saya. Paling tidak, ini yang saya bisa bilang momen pengumuman ujian paling dramatis dalam kereta (lebay, tetapi tetap bersyukur, Alhamdulillah...)

Sumber: http://s1152.photobucket.com/user/rumadi_aza/media/100_4972.jpg.html
---------------------------Sekitar satu tahun sebelumnya--------------------------------------------

Panasnya Surabaya sore itu membawa si kuda besi MIO-J saya terparkir di depan gedung AJBS. Niatnya bukan membeli perkakas rumah tangga, tapi memasuki gedung klasik tempat saya harus menempuh seperempat hari saya selama 4,5 bulan untuk les bahasa Perancis. Dari luar, mungkin memang tempatnya menimbulkan kesan... bener nggak sih ini tempatnya? Tetapi, kesan itu berubah ketika masuk ke dalamnya. Tempatnya nyaman sekali dan menggunakan gaya perabot modern. Pada intinya, asyik deh!

Menjadi salah satu dari beberapa orang penerima Beasiswa Fast-Track Double Degree Indonesia Perancis (DDIP) membuat les bahasa Perancis menjadi "pelaku utama" hilangnya 5x5 jam dari sepekan. Tapi, persepi hilang tersebut berubah ketika saya, yang masih asing dengan suasana di tempat itu, melihat wanita yang memesona dan tegas berikut agak centil tiba-tiba mengarahkan kami masuk ke ruang kelas nomor 5. "Hari ini, kita akan perkenalan, dan langsung menggunakan bahasa Perancis," demikianlah 'arahan' manis dari instruktur ini.

"Kita tidak akan menuliskan sesuatu apa pun, kita harus segera langsung berbicara!" Lanjutnya. Masih roaming di beberapa ucapan, berusaha mencerna suara asing yang dilantunkan oleh beliau. "Jêmapèl? Jumapèl? Zumapèl?" Ah entahlah. Yang saya bisa pastikan, ada hurus J di sana, dengan vokal "e" pepet (maklum dulu Guru Bahasa Jawa SD saya sangat tegas, jadi artikulasi 'e' sering saya asosiasikan dengan pepet (ê) atau taling (é,è) masih menancap jelas di ingatan saya. Dan indahnya, penggunaan coretan di atas huruf 'e' ini berbeda terus, baik di Jawa, Mandarin, dan Perancis). "Jêmapel," berikut saya menirukan ucapan itu, dan diikuti nama panggilan. Dilanjutkan beberapa kisah pendek perkenalan (based on hearing) seperti ini:
"Vu vêné du?" [oh ini tanya asalnya dari mana]
"Jê vian dê Sidoarjo."
"Kèl é votr adrès?" [adrès, alamat ya?]
"Kèl é votr dêpartêmong?" [emmmm, ini jurusan]
"Kèl é votr numéro dê télépong?" [emmmm, nomor hape?]
"Ongsyongté" [mungkin nice to meet you, ya? Mandarin: rènshi nǐ, hěn gāoxìng]
Berdasarkan pembicaraan tersebut, si Ibu dengan lidah ajaib ini (ini pujian, anggap saja artikulasi saya luar biasa parah saat itu) membuka kedoknya sebagai Irma Nurul Husnal Chotimah (sebut saja Madame Irma, tapi saya tidak ragu untuk memanggilnya Teh Irma), seorang yang dulunya pernah tinggal agak lama di Perancis. Lhoala pantesan ilate ajaib. Dan dengan ramahnya melanjutkan sesi perkenalan sambil keliling sekelas agar satu murid bahasa Perancis bisa mengenal sebisanya dalam bahasa Perancis. Dan kejutan lagi, ternyata ada peserta les bahasa Perancis di kelas itu yang ternyata dosen ITS yang masih muda yang hendak melanjutkan S3 ke Perancis juga. Polosnya saya, saya memanggil beliau dengan sapaan Mas (hanya selisih 4/5 tahun kok).

Rutinitas menyenangkan dan sedikit tidak menyenangkan (karena tidak paham-paham) itu berlanjut hingga sebelum ujian DELF (sertifikasi penggunaan bahasa Perancis untuk orang asing) sesi Juni. 4 bulan memang bukan waktu yang singkat. Perjalanan menerjang badai hujan dan banjir di masa-masa Tugas Akhir, dan sempat tidak ikut les karena harus kabur ke Jakarta. Berbagi tawa, sedih, kisah di Perancis (yang menjadi nyata), kisah Tugas Akhir, kisah wisuda, kisah "Vous êtes un chien?" (sebut saja pelakunya Kumbang, bukan saya!), kisah Pak Leman (penjual mie pangsit depan AJBS), kisah perpisahan, dan begitu seterusnya berlarut menjadi memori indah yang terbagi di masing-masing kenangan. Inspirasi, motivasi, nasihat, dan doa juga menjadi saksi transfer ilmu untuk indahnya kenangan tersebut. Kami dulu bukan apa-apa, karena kadang untuk meraih suatu ilmu, ilmu lain harus dikuasai dulu.

Berawal dari titik nol 27 Januari 2014. Perjuangan bahasa Perancis ini dimulai.
Mungkin kenangan kami hanya terbilang seujung kuku di benak para Bapak Ibu Guru (gelar terindah yang pernah ada dalam hidup, selain orang tua tentunya). Namun, jasa-jasamu akan tetap abadi bersama ilmu. Karena ilmu yang dibagi tidak pernah habis.

Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk para guru di IFI tercinta, untuk peringatan hari Jêmapèl
Madame Irma, Madame Norma, Monsieur Karguna, Monsieur Tarsono, Monsieur Eri, Monsieur Dedi, Madame Wea, Riyaz, Monsieur Wawan, Monsieur Dumesnil (direktur IFI Surabaya... dulu), dan para pengajar serta staf lainnya yang tidak mungkin tersebut satu-satu.

Credits to Galang Amanda Dwi Pamungkas, taken from Facebook Photos

Merci Beaucoup, Madames, Monsieur.
Best regards,
Si pendiam dalam kelas, yang bercita-cita menjadi guru, Hani Ramadhan, DDIP angkatan 3

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Minggu, 30 November 2014

Saudaraku, Singgahlah Sebentar di Compiègne

Bonjour! Ca va?

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Cerita ini demikian dimulai berasal dari sebab musabab dua orang kawan dari Paris bertandang ke kota tempatku bernaung sekarang, Compiègne. Andaikata jarak dan waktu itu tidak berarti, 1 jam di kereta mereka tempuh dengan separuh berdiri dan separuh duduk, simpulannya jarak dan waktu itu masih berarti pengorbanan (selain uang yang dikeluarkan).

Terdampar di Compiègne, Jumat, 28 November 2014, 20.55, mereka sudah dihadang oleh Edwadr yang (tidak kutahu juga, ternyata) menjemput. Beranggotakan 4 pemuda (sedikit) gagah (tapi tanggung) dan membawa semangat juang 10 November (dari ITS maksudnya), sekumpulan langkah kecil itu beranjak ke resto kebab di persimpangan dekat stasiun. Kebab yang demikian agak salah pesannya gara-gara saya nyamber dengan "oui, oui," saja. Langkah kaki mereka ke asrama kami yang "biasa saja" dilakukan dengan jalan kaki. Dua orang teman singgah ini selalu menyumbang senyum di tiap jejak memandangi sederhananya kota ini. Tidak, bukan kemewahan gedung tinggi nan megah laksana pusat perbelanjaan seperti di negara asal kami yang mereka bicarakan, tapi kesederhanaan suasana baru dan sepi yang tidak mereka temui di Paris.

Sekejap terasa paling tidak 20 menit perjalanan dari stasiun ke asrama, mereka melepas lelah sedikit dengan cangkir cengkrama kehangatan dari kawan yang tidak ditegur sua langsung selama hampir 3 bulan. Selagi seorang perantau dari Riau bertukar kisah denganku dan Aziz, seorang perantau lain pergi ke kamar Edwadr untuk bermain dan bertukar kisah yang lain. Dan dengan tidak sopannya, selagi bertarung dengan adonan kroket yang akan dibawa untuk piknik ke hutan kota esok hari, aku terkadang bersahut dengan dialog yang menarik hati. Pembicaraan dan laga pertarungan dengan adonan masakan kuakhiri dengan tenaga yang menipis ketika jarum jam sudah menepi ke dini hari di hari Sabtunya. Merajuk ke kasur buatan yang tergeletak begitu saja, selagi dua kepala saling bertukar isi kenangan, dan semakin ramai dengan dering bel pintu kamar, si perantau dari Surabaya yang mengakhiri sesi di kamar lain, dan menyambung cerita di kamar ini.

Sekitar pukul 5 pagi, Sabtu 29 November 2014

Alarm ponsel siapa saja berdering di kamar ini, dan hebatnya, sepertinya aku target empuk mereka. Terjaga sekejap pukul dua, tiga, empat, dan memutuskan untuk mengakhiri lelapku sedari pukul 5. Melakukan ritual pagi: menyapa ruang pembuangan (jika diperlukan), mandi, ibadah. Berlanjut ke pertarungan ronde dua menggoreng cimol dan melanjutkan laga dengan kroket yang sudah kusimpan di kulkas.
Tak lama dari sekitar 1 jam, aku bersiap mengerahkan tenaga seadanya untuk membangunkan tiga kawanku ini, seorang kawan sekamar, dan dua tamu rantau. Gagal dengan mengucap dengan lembut dari ujung pintu, dilanjutkan dengan kegagalan teriak, dan kesuksesan hawa dingin dari sisi balik jendela, yang kubuka lebar membawa salam dingin dari udara di luar sana. Ternyata oh ternyata, sapaan tajam ini masih belum mempan, teriakan dan paksaan galak untuk segera mengambil wudhu dan menyiapkan lahan bersujud dikirim langsung dari lidah ini, mungkin tak terpikir berapa dosa yang mungkin kutabung untuk ini, tapi kupikir semoga perbuatan ini bisa menyusul detikan subuh yang kian habis dan ditawar dengan shalat jamaah.
Berikutnya, setelah beberapa masa sarapan, dengan ditambah dialog renyah dari seorang kakak wanita dari kamar atas, wujud nyata dari saling silang jurusan yang harus kami hadapi tercurah di laptop statistikawan yang harus menelusuri bingkai kerja dari C# dengan fitur delegasi dan fungsi anonim, diperseru dengan perintah bahasa Perancis. Kubalas aksi itu dengan tatapan nanar ketika bercerita tentang kisah satu teorema dan penjelasan di papan tulis yang harus dihapus dan ditulis berulang kali oleh dosen untuk memahamkan muda-mudi ini. Tenang, ini bukan dalam rangka bertukar kesedihan, karena tantangan kami dan setiap orang di sini berbeda-beda.
Ah, sudah 09.30? Setelah para pengarung hari mandi dan bersiap untuk perjalanan panjang menyusuri hari (dengan rencana) sejauh 15 km, ke kastil Pierrefond, yang demikian indah, kata Mbak Risa, yang kebetulan akan beraksi sebagai semi-penunjuk-jalan. Sebenarnya kami datang agak awal di perhentian bus, namun memandang balon udara berpenumpang yang lewat di atas kami (pemandangan jarang, nih!) mungkin kedatangan awal kami bukan suatu kesialan.
Bus gratis itu tiba dengan penumpang yang seadanya, membawa tas belanja, membawa anaknya, kemudian silih berganti dengan penumpang tua muda, yang senang hati memanfaatkan bus ini untuk menunjang keperluan sehari-hari, pergi ke tempat ekstrakurikuler pelajar, atau hanya menyempatkan keluar di akhir pekan). Hal gratis dimanfaatkan para penumpang sebaik-baiknya, dengan datang tepat waktu, atau lari-lari dari kejauhan ketika bus sudah terlihat di perhentian.
Sekitar pukul 10.20, terlihat wajah Palais de Compiègne, yang tidak terlihat tinggi menjulang, namun apik dengan kharisma megahnya sebagai tempat tinggal raja di waktu yang lalu. Sejenak kami hanya bertandang ke kantor depan untuk membeli beberapa kartu pos, dan mungkin oleh-oleh yang tidak ada bau khas dari Compiègne.
Lalu, perjalanan yang benar-benar berjalan bermula di sini. Hampir sekitar 1 jam setengah dari Palais de Compiègne sebagai titik mulai, kami berjumpa dengan para pelaku jogging, kadang dengan anjing, pohon-pohon tanpa daun yang nyata menampakkan ranting, pengendara kuda dengan kakinya yang entah ramping, dan padang hijau indah dibalut kencang angin nan hening. Cakap tawa dan beradu kata kami tumpahkan selama perjalanan, aku seorang diri, kawan sejurusanku, dua tamu singgah ini, dan kakak semi-pemandu ini.
Perlahan lelah mulai terkesiap mengiringi langkah kami, yang ternyata tidak sampai separuh perjalanan, bahkan bisa terhitung seperempat dari 15 kilometer itu. Harapan masih muncul dari pemantik dari ibu-ibu (sepertinya traveller) yang menjawab Pierrefond itu indah sekali, bisa dicapai dengan jalan kaki lewat sini-sini-dan-sini. Kami, yang sedikit bergantung kepada Mbak Risa, mengklaim paham atas penjelasan ibu-ibu itu, dan berniat masuk ke hutan untuk melanjutkan perjalanan.
Le Trail des Beaux Monts, saksi haha-hihi perjalanan agak mendaki kami
http://beauxmonts.free.fr/

Di dalam hutan Compiègne, yang menjadi saksi sejarah penandatanganan gencatan senjata Perang Dunia 2, kecantikan musim gugur berikut tusukan angin dingin kami nikmati dengan harapan yang sekadarnya, sinyal agak lemah, langkah kaki yang gontai, canda tawa yang agak melemah. Sense of journey yang kami kembangkan sepertinya sudah hilang karena masih sampai hutan dan kehilangan arah, sedangkan sudah pukul 1 siang. Hal ini menambah keraguan untuk melanjutkan perjalanan, kata teknologi ternama GoogleMaps, perjalanan masih terpaut sekitar 2 jam. Ditambah faktor pukul 4 sudah hampir gelap. Semuanya terasa tak masuk akal dengan pendapat "ayo pulang naik taksi dari Pierrefond" dariku rasanya gagal. Demikian karena tak ada jaminan juga kami bisa sampai di Pierrefond di waktu yang tepat.
Semakin buta arah karena teknologi semakin lemah dan absennya pemahaman kami terhadap peta hutan, kami memutuskan untuk kembali, kukut, menyerah, dan membuka bekal piknik di sedikit jauh dari titik balik kami. Menyantap masakan dariku, dicampur dengan sedikit terbahak, Alhamdulillah apresiasi sedikit didapat dari masakan rantau ala kadarnya, puding roti coklat keju apel, kroket udang jamur, dan cimol goreng dipadu dengan saus sambal ABC yang demikian langka di Eropa.
Perjalanan berlanjut sekadarnya, karena kelelahan dan (mungkin) kecewa karena tidak sesuai tujuan yang diharapkan. Diakhiri dengan tur sejenak di Palais de Compiègne (lagi), dan menelusuri kediaman raja di kota ini. Dalam tur dan pameran kecil itu, diceritakan oleh suatu Compiègne berperan sebagai pusat kemiliteran ketika perang dunia dan ditunjukkan bahwa Perancis dan Amerika Serikat menjalin hubungan yang baik dalam bidang kemiliteran.






Museum Palais de Compiègne, selayang pandang, dokumentasi pribadi

Pameran yang ditunjukkan saat itu adalah pameran rumah sakit. Menggambarkan keadaan rumah sakit ketika perang dunia. Terlihat banyak peralatan yang dulu dipakai ketika masa itu: baju perawat, tandu, properti ambulans, dan sebagainya. Lumayan menarik, mengingat Palais yang dikonversi menjadi museum bertempat di kota lebih kecil dan lebih baru daripada Paris ini menyimpan sejarah yang cukup luar (belum tahu sejarah kota lain juga, sih).
Tatkala waktu menunjukkan penghujung hendak magrib, aku dan kedua kawan singgahku ini beranjak pulang ke asrama selagi sejenak kadang mengabadikan momen perjalanan di Compiègne ini sepanjang perjalanan yang tersisa. Dan pada akhirnya, aku mengucap salam perpisahan untuk kedua kawan di rumah Allah cabang Compiègne.

Perantau tanggung, kiri ke kanan: Firman, Saya, Novri, taken from: Novri's instagram
-Terima kasih sudah berkunjung, marilah kita pererat silaturahim, kita, bersama, mengarungi laut harapan, ikhtiar, dan mengamalkan ilmu dan ibadah kita sebaik-baiknya. Yang kita harapkan mengundang pemberian rapor akhirat nanti melalui kebaikan, Aaamiiin-

Let's have a nice another journey again mes fréres, we can survive!

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Merci pour lire et ton visite!


Sabtu, 08 November 2014

Selayang Rindu, Terupa Sayang, Idul Adha 1435H

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kabar terbaru dari negeri keju. Bentuk cerita kali ini adalah cerita narasi sudut pandang orang pertama. Terima kasih
(redaksi: tulisan ini tertunda sebulan lamanya akibat penulis yang sangat seru bertanding dan bergumul dengan kuliah dan kehidupan baru)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suara takbir tak terdengar lagi malam itu. Sudah tak terasa hampir sebulan aku di sini, di negeri yang terpaut jauh dari pengeras suara yang lazim digunakan di lingkungan pemukiman. Hanya aku, beberapa tamu menginap dengan rindu yang sama, dan sunyinya malam ini.

Sewajarnya, di kampung halamanku, kambing dan sapi sudah disiapkan menjemput takdir mulia sebagai kurban. Mereka melenguh dengan bahasanya, yang tak bisa kuterjemahkan apakah itu syukur atau haru. Kesempatan mulia ini tidak akan mungkin mereka anggap sia-sia. Begitu pun dengan manusia-manusia di dunia, menyambut hari tersebut dengan suka cita. Di sini, hari-hari berjalan seperti biasa, seperti Sabtu yang biasanya.

Pagi itu, aku membuka mata lebih awal dari kawan sekamar dan tamu. Ya, itu sudah biasa kulakukan di sini. "Hari ini Idul Adha, tapi sedih ya," pikirku.  Seharusnya aku bisa bahagia menyadari semua itu. Namun, kebahagiaan itu menjadi semu ketika memandang kubikel kamar mandi yang begitu mini. "Ya sudah, mau apa lagi, sudah di sini, dinikmati saja," dijawablah oleh sisi pikiranku yang lain. Kubasuh saja segala cuap-cuap itu dengan air yang dingin, lalu hangat, kemudian panas, dan hangat lagi. Dan segera kubangunkan kawan-kawanku yang terlelap. Menyambut nikmatnya menghamba ke Tuhan ketika matahari masih malu-malu untuk bersinar.

Berangkat. Shalat. Para wanita itu sudah berulang menekan bel kamar untuk mempercepat persiapan kami. Saya, sudah siap. Si tamu, sudah siap. Kawan sekamar? Ya sudahlah, kami tinggal pergi mengingat kata pendahulu kami mengenai tempat shalat yang terbatas. Perjalanan ke latar luas itu tak sampai 15 menit. Salah satu faktor bahagiaku di sini. Perjalanan itu begitu damai dan dingin, disambut ibu-ibu yang juga berangkat untuk Shalat Ied. Mereka menciumi pipi kawan-kawan wanita kami, itulah salam khas bagi wanita dari/ke wanita, atau lelaki dari/ke wanita di sini. Saya hanya bisa memberi gestur dengan guratan senyum.

Begitu sampai di depan bangunan dengan kubah itu. Suara takbir indah itu terdengar. Pecahlah kompresi rindu yang sudah mencoba membongkar dirinya sendiri. Tak lama setelah aku duduk di baris yang termasuk di depan itu, tetes demi tetes dingin dari pelupuk mata berjatuhan. Satu demi satu rindu jatuh, terkisah cinta menghadiri hati, sejuta harapan dan pinta dalam hantaran doa, demi khalayak yang di sana. Demikian hingga terulang dalam alunan bacaan takbir yang terucap, selagi menata sangkar untuk membendung kisah rindu itu.

"Allahu Akbar," pertanda ibadah mulia ini dimulai. "Allahu Akbar," kutirukan selirih mungkin. Tak sanggup jua pita suara ini berdengung lebih keras. Lagi-lagi, bendungan itu ludes, dengan rapuh. Teringat suasana takbir yang dulu (begitu biasa) dirasakan di mimpi, di sebelah seorang kakak, kadang sepupu, dan kadang paman yang baik. Teringat hikmah Idul Adha mengenai sesosok keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang terbungkus cinta dari anak kepada ayah, dan dari ayah kepada anaknya, dalam menjalankan perintah Allah.

Ibadah Shalat Ied pun selesai, dilanjutkan dengan khutbah. Namun, aku (terpaksa) tidak tertarik mendengarkan khutbah itu. Agenda baru sudah memanggil, yakni kuliah pengganti. Semakin sadar bahwa diri ini jauh (sekali) dari tanah kampung halaman. Tersebut ketika hari libur agama tertentu bukan hari libur nasional. Segera saja, setelah mengabadikan momen ini untuk kenangan dalam setahun, kami berempat menunggu bus ke kampus dari halte terdekat. Berita baiknya, hari itu hari Sabtu dan masih ada layanan bus gratis, dari mana pun kapan pun di dalam kota.

Sejenak kita lewati kisah kuliah, langsung menuju persiapan penjamuan terkait Idul Adha. Iya, walau sederhana, kami menggunakan kesempatan ini untuk memanjakan lidah dengan hidangan agak khas dari Indonesia: lontong, gulai kambing, dan sate ayam; yang diramu dengan tangan kami sendiri. Kami sadar, hidangan tersebut tidak akan seindah dan selezat hidangan asli racikan di tanah air. Tapi, apalah arti kecap, bumbu gulai, dan bumbu sate demi obat rasa rindu itu? Potong, tusuk, rebus, bakar, kegiatan itu kami ulang terus hingga jadilah hidangan yang nikmat (bagi kami).

Seketika jam lokal menunjukkan waktu 19h, datanglah tamu kehormatan kami. Seorang sosok Ibu yang juga berasal dari Indonesia, yang sedang berusaha demikian keras juga menyelesaikan studi doktoral beliau sekaligus mengurus keluarga, yang menyertai beliau, dengan anggota 5 orang. Wajah ceria dan segar beliau menunjukkan semua akan berjalan baik-baik saja, ditambah dengan sayur pelengkap bawaan beliau. Sempurna dalam kesederhanaan.

Acara makan-makan itu berlangsung bahagia dan dengan pujian atas masakan kami. Senang? Alhamdulillah, cukup bersyukur hidangan kami ada yang menikmati, belum lagi dibilang enak. Tidak lupa kesempatan istimewa kecil ini juga didukung oleh kawan-kawan dari Lille, St. Omer, dan Clermont Ferrand. Idul Adha ini sungguh menyenangkan, dan berbeda. Menarik garis lurus yang menghubungkan sederhana dan rasa syukur, mendekatkan kata saudara dan kawan, dan meresapkan hikmah Idul Adha untuk kami yang (seharusnya) akan lebih siap memaknai karunia-Nya.

Terima kasih untuk semua pihak yang mendukung, semoga sehat dan selalu mampu mengambil hikmah selalu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terbilang sekian lama hidupku di sini, aku teringat kisah kaum yang hijrah dan kaum Anshar. Mereka yang datang dipersaudarakan dengan kaum penolong oleh Rasulullah. Jika merunut hikmahnya, mungkin kita berada di kondisi, waktu, dan nikmat yang jauh berbeda tapi, saya memaknai arti dipersaudarakan di sini. Takdir itu terkata lewat waktu, kesempatan, dan nikmat. Alhamdulillah 
Perantau pemula, Compiègne, 8 November 2014

Semoga tulisan ini memberi manfaat. Jika ada kritik dan saran yang ingin disampaikan, silakan isi di kolom komentar. Terima kasih banyak.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 22 September 2014

Perpisahan Penuh Kenangan untuk Perantau Baru


Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmaanirrahiim


Mohon maaf saya menulis tulisan-tulisan di blog ini maju mundur, ini karena mood dan juga banyak kejaran hutang tulisan *Duh, penulis hutangan*. Kali ini kisah penulis terjadi di tanah rantau yang pertama kali penulis injak di negeri orang, tersebut negeri keju, ya Perancis (katanya orang-orang sih ini tulisan yang ditunggu-tunggu, ya sudah saya tulis semampu saya ya).

4 September 2014

Masih tunggang langgang di kampus perjuangan urus ini itu. Di Pascasarjana, masih tanda tangan dan tanya ini itu. Di Teknik Informatika, cetak berkas ini berkas itu, melayani permintaan sahabat saya yang saya panggil 'Mamak' untuk foto bareng sebelum saya pergi dan lain sebagainya. Perjalanan di Teknik Informatika berlanjut dengan mencari dosen-dosen untuk berpamitan. Namun sayang seribu sayang, dosen pembimbing 1 saya sedang repot dalam urusan ekivalensi tak enak rasanya mengganggu beliau, dosen pembimbing 2 berikut dosen wali S1 dan S2 saya sepertinya juga tak ada di tempat. Sedangkan beberapa dosen yang lain tidak sempat saya ganggu. Alhasil, karena panggilan teman sekampus untuk pergi berpamitan ke tempat les IFI semakin mengguncang, saya pun menyerah berjuang untuk sekedar bertatap muka dengan beliau-beliau yang dengan (sangat) sabar (sekali) memberi pengajaran berikut membimbing saya dalam kuliah (termasuk permintaan maaf kepada Bapak dan Ibu, saya sering tertidur di kelas). Tapi di tengah perjalanan naik tangga ke laboratorium, saya berpapasan dengan Pak Hari, mengajukan permohonan berpamitan. Teruntuk Bapak Ibu Dosen, sekali lagi saya berterima kasih dan meminta maaf atas segala kelakuan saya selama 4 tahun. 

Perjalanan berlanjut dengan pergi ke Mirota, ceritanya membeli blangkon untuk oleh-oleh untuk orang-orang Perancis untuk membantu saya. Setelah berputar-putar di dalamnya, eh ternyata blangkonnya ada di almari. Koleksi blangkon tersebut selayaknya sudah banyak, tapi tempatnya hanya 1 almari itu saja, jadi ya... begitulah. Perjalanan berlanjut ke pencarian wejangan dan berpamitan kepada guru-guru les Bahasa Perancis di IFI Surabaya. Bertemulah kami (Saya, Mega, Aziz, Mbak Inne) dengan guru-guru yang tidak kalah sabarnya menghadapi kami yang pecicilan dan menggemaskan selama periode Januari hingga Juni, ya kan Madame-Monsieur? Tersebut Madame Irma, Monsieur Karguna, Monsieur Tarsono, Monsieur Dedy, Madame Norma, memberi kami wejangan untuk hidup di Perancis. Uniknya, kata beliau-beliau ini, kami harusnya bahagia sudah akan berangkat ke Perancis, tapi beliau-beliau malah melihat roman muka kami yang demikian cemas, panik, takut, dan was-was. Yah, sesi nasihat dan menenangkan kami sudah beliau-beliau lakukan, tapi tidak mempan. Tak pelak, perpisahan itu pun terjadi, perjumpaan tentu ada perpisahan. Insya Allah kami semua, dengan izin Allah, akan membuat perjuangan ini indah.

Kepulangan saya dari tempat les diantar ribuan dering dari ponsel. Eh ternyata, sepupu saya yang tinggal di rumah mengingatkan saya untuk segera pulang. "Iya, habis magrib," jawabku. Meskipun ibadah di waktu magrib sudah kulakukan, saya tetap berkeliling Surabaya mencari obat-obatan yang perlu dibeli untuk bertahan hidup di musim dingin nantinya. Perjalanan pulang ini juga akan saya kenang untuk mungkin berkendara motor yang tidak akan saya nikmati selama setahun kemudian. Menikmati suasana magrib menjelang isya di Jemursari.

Di malam ketika sampai di rumah, saya pun beranjak untuk mengemasi barang-barang di ransel. Demikian hingga menitipkan barang yang tidak sempat saya beli ke sahabat-sahabat yang luar biasa "mbelani" menginap di rumah saya untuk mengantar kepergian saya. Terima kasih saudara selama 4 tahun, Fahmi dan Fadlika. Saya sebenarnya lupa-lupa ingat bagaimana kita bisa dipersatukan. Tapi, semoga petualangan kita tidak hanya berakhir sebagai kenalan, tapi juga sahabat.

5 September 2014

Dag-dig-dug keberangkatan dimulai, namun saya masih harus mencari barang penting satu lagi, apa itu? YAK namanya magic jar alias saudaranya penanak nasi. Setelah sarapan bersama sahabat, mempersiapkan ini itu sebelum berangkat, saya bersama Bapak dan Ibu pergi ke supermarket dekat rumah untuk menjemput magic jar itu. Sedemikian hingga, saya datang paling terlambat di antara rombongan. Sementara, di bandara sudah hadir beberapa makhluk yang menyambut keberangkatan kami, yakni rombongan teman-teman dari teknik sipil untuk Basshofi, kemudian, sanak saudara dari Mbak Hana, dan sanak keluarga dari Mega. Teman-teman saya? Nanti saja lah, check in dulu.

Keluar dari check in eh ternyata rombongan mentoring Mas Agil sudah datang, ada Mas Agil, Fahmi, dan Fahrudin, plus Fadli (yang di luar lingkaran). Lalu, foto kece dengan magic jar unyu yang baru saja dibeli. Lalu, beberapa menit kemudian, datanglah Ecci dan Emiria. Mereka ternyata sampai juga di sini. Lalu hadir pula rombongan trainer BREAKTHROUGH yang tiba-tiba membawa kenang-kenangan paling rempong, dengan hilangnya sang ketua Bintang entah di mana.
Ini kelompok mentoring, stay istiqomah
Left to Right: Iin, Amal, Saya, Iva, Fiona, Mumu -tanpa Tatang-


Left to Right: Emiria, Saya, Ecci

Setelah berpuas foto bareng, saya pun berangkat ke tanah rantau yang jauh itu. Mohon doa supaya kehidupan saya lancar di sana dan membawa manfaat. AAAMIIIN.
Semoga jadi perantau yang baik :P

Salam dari tengah kabut Compiègne, 23 September 2014.