Tampilkan postingan dengan label amanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amanah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2015

Kelas Inspirasi Sidoarjo-Jawa Timur [2013], Yuk Dayung! #SuperFlashback



Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Dear All, para pembaca yang mungkin setia menunggu adanya tulisan baru.
Berikut penulis ingin mengenang masa-masa riweuh lagi menjad mahasiswa S1 tahun terakhir (yang seharusnya rajin mengerjakan skripsi, tapi malah keluyuran ngalor-ngidul agak tidak jelas) di tahun 2013.

Dalam momen ini, ketika berbicara mengenai anak-anak, pasti cita-cita yang mereka impikan tidak jauh-jauh dari: guru, polisi, dokter, tentara, ustaz, dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya, ada juga lho profesi menarik lainnya, seperti: teknisi lift, pegawai pajak, freelancer, desainer situs, penulis, dosen, ahli pipa, ahli pengelasan bawah laut, dan lain-lain banyaknya. Apa salah kalau si anak-anak yang lucu dan menggemaskan ini mencita-citakan profesi yang sering ditemuinya setiap hari? Tentu tidak. Wujud nyata dari kontribusi bisa menjadi inspirasi, semangat yang tinggi untuk ditularkan ke generasi dini, ya... di sanalah tersebut nama Kelas Inspirasi.



Logo kelas inspirasi, maaf jika tidak kelihatan, karena memang resminya warnanya putih.

Ini yang warnanya oranye

Kelas Inspirasi (kelasinspirasi.org) merupakan sarana penyaluran semangat hidup, cinta pendidikan, dan kepedulian yang berlokasi di daerah-daerah di Indonesia. Menarget sekolah-sekolah dengan kondisi termarjinalkan, para relawan profesional (orang-orang yang sudah bekerja) berbagi cerita mengenai profesi dan keilmuan yang ditekuni saat itu. Mengambil waktu 11 November 2013, sehari setelah hari Pahlawan, seluruh skuad sukarelawan (iya, sukarela) Kelas Inspirasi Jawa Timur mengambil cuti (kalau penulis merelakan satu mata kuliah saat itu, berbahaya, jangan ditiru). Si penulis mengambil jatah sukarela di Kelas Inspirasi Sidoarjo, dengan keterangan beberapa sekolah yang menjadi target sebagai berikut:
- jumlah anak dalam 1 sekolah yang bisa dihitung dengan jari....4 orang.
- harus menyeberangi tambak dulu agar sampai ke tujuan.
- berbenah memperbaiki diri.
- dan lain sebagainya.
Persiapan

Di tim KI SDA, beranggotakan segelintir relawan panitia (Penulis, Mas Radite, Mbak Syifa, Mbak Orysa, Mbak Irma, Mbak Shofa, Mas Adit, Mas Azzam, Mbak Fuji, Mbak Ajeng, dan nama-nama lain yang mohon maaf tidak tersebut) harus kalang kabut cari sekolah untuk lokasi Hari Inspirasi, cari relawan untuk mengisi Hari Inspirasi, dan segala macam properti sampai (mungkin) kepala pusing tujuh keliling. Berbekal semangat, bimbingan, cinta edukasi, now-or-never, dan power of kepepet terkumpul sekitar dua puluhan relawan pengajar, belasan relawan fotografer dan videografer. Tugas saya? Desainer, merangkap IT, merangkap hubungan masyarakat, merangkap lain-lain dan merangkap seadanya.

Semua berjalan sedemikian hingga, apa pun, demi terlaksananya pancaran inspirasi untuk anak-anak ini. Mulai dari menyebar poster dan brosur untuk mencari relawan, menyusup ke Car Free Day mencari orang yang berpotensi menjadi relawan, pulang pergi ke Sun City (dari kampus ITS, kalau dari rumah ketahuan bapak ibu dong #eh). Semua pengorbanan itu Lillahi Ta'aala, dalam bentuk yang bermacam-macam (Insyaa Allah).

Tapi berkat kalang kabut persiapan ini, persaudaraan kami masih terjaga lho! :)

[foto menyusul, itu pun kalau ada]

Hari Inspirasi
Ditugaskan di sebuah daerah yang riuh dari kerumunan pabrik, saya bersama partner "keren" dan "kece" dan sangat "kooperatif" (semuanya diberi tanda kutip, Syif) menyerbu SDN Sidomulyo. Berbekal persiapan survey sebelumnya, banyak hal yang kami persiapkan untuk mereka, sampai benih pohon yang nantinya kami gunakan untuk menutup Hari Inspirasi.


Mas Ali, Relawan Pengajar
Mbak Zahroh/Elvi, Relawan Pengajar
Mas Doddy, Relawan Pengajar
Mas Yudha, Relawan Fotografer

Mbak Zahroh, Mas Ali, Mas Doddy, Mas Yudha, ternama relawan-relawan pengajar dan relawan fotografer di Kelas Inspirasi Sidoarjo 2013 di SDN Sidomulyo. Diawali dengan upacara bendera memperingati hari Pahlawan, Hari Inspirasi dibuka dengan begitu meriah dilanjutkan dengan senam kompilasi a la Mas Ali.

Upacara Bendera Menyambut Hari Pahlawan 11 November 2013

Mas Ali, memimpin "senam"
Anak-anak, begitu girang dan gemilang, menyambut kedatangan orang-orang asing yang mengajar hal yang berbeda. Kilap seragam putih merah menghambur demikian cantik di dalam arahan dan segala properti milik para relawan pengajar. Keseruan, tangisan, kemanjaan, dan semangat meraih mimpi itu tergambar di wajah riang siswa-siswi SD ini. Benar lho, menangis! Yang entah bagaimana ada seorang siswi yang menangis ketika dr. Zahroh mengajar di dalam kelas. Masing-masing dari kami, relawan panitia, dan dr. Zahroh sendiri bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun, semua itu masih menjadi misteri.
Simulasi pemeriksaan dokter -Mbak Zahroh
Lift? Bergerak? -Mas Doddy
Pajak? Buat Apa? -Mas Ali

Saya sendiri? Seharusnya berlari ke sana ke mari untuk menangani kebutuhan relawan pengajar, tapi saya malah diseret anak kelas 3 untuk bermain. Ah ya sudah, kan sekali seumur hidup kali ya, pikir saya. Ya, Kelas Inspirasi ditujukan untuk murid-murid kelas 4, 5, dan 6 karena dianggap sudah siap menerima materi inspirasi dari para relawan pengajar. Sedangkan, kelas 1, 2, dan 3 masih butuh perhatian lebih dari gurunya untuk mengejar materi formal.

Apa sih yang diajarkan dari seorang dokter, pegawai pajak, dan teknisi lift? Biologi? Keuangan? Rumus fisika? Tidak, tentu tidak. Seperti terkata sebelumnya, Kelas Inspirasi memberikan wawasan profesi. Jadi, bukan bagaimana sistem tubuh manusia yang sakit harus diobati, tapi bagaimana cara berobat dan mengatur kesehatan yang baik. Bukan bagaimana pajak itu dihitung dari A sampai Z, tapi bagaimana menjadi seorang wajib pajak yang baik dan memberikan kesadaran bahwa membayar pajak itu penting untuk anak-anak. Bukan bagaimana terapan rumus fisika di dalam lift, tapi bagaimana misteri lift bisa naik dan turun dengan hanya perintah tombol dan peran si teknisi tersebut. Berikut properti yang bersangkutan seperti boneka a la pasien dan simulasi lift dari stik es krim.

Mari menanam Pohon!

Kelas Inspirasi Sidoarjo - SDN Sidomulyo

Perjalanan Hari Inspirasi ditutup dengan penanaman pohon bersama yang menandakan impian-impian kami (relawan Kelas Inspirasi, pengajar-pengajar SDN Sidomulyo, dan utamanya anak-anak kecil itu) akan tumbuh dengan indah dengan nutrisi yang baik, dan akan memberi manfaat bagi sekitar bak udara segar yang menemani mentari pagi. Mimpi itu hendaknya menjadi nyata diiringi dengan usaha dan doa untuk Indonesia yang lebih baik. Insyaa Allah. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bukan? Insya Allah adik-adik sekalian adalah bagian dari orang-orang yang paling bermanfaat tersebut. Pasti.

Pasca Hari Inspirasi - Refleksi?

Hari Inspirasi yang didominasi keseruan dan kenangan tentu layak diceritakan dan didiskusikan satu sama lain. Bersama kota-kota lainnya, cerita ini berpadu di hari Refleksi Kelas Inspirasi: Apa yang akan kita lakukan setelah itu?
Refleksi, bukan maksud untuk pemijatan dan relaksasi, adalah tempat kita semua, para relawan Kelas Inspirasi bersatu untuk berpikir bagaimana efek Kelas Inspirasi bisa menyebar ke saudara-saudara lainnya yang di luar sana. Saudara yang harus terjun langsung dalam proses birokrasi dan pemerintahan agar pendidikan di Indonesia terus maju dan lebih baik. Saudara yang tetap bekerja di dalam lingkup non-pendidikan untuk menyuarakan kebutuhan akan pendidikan yang merata dan sesuai untuk masyarakat. Saudara yang sedang berusaha menerapkan pendidikan agar makna pendidikan tidak hanya terhenti di bangku-bangku pembelajaran. Semua rangkaian usaha itu kelak bersatu untuk perwujudan mimpi yang lebih indah demi umat manusia (walau terdengar berlebihan, tapi kita semua berusaha mewujudkan manfaat terbaik dari yang bisa dimunculkan manusia. Titik-titik ide tersebut bisa terhubung menjadi garis-garis, yang nantinya berwujud gambaran konkrit masa depan, bukan?)


Ya itulah kami, di Kelas Inspirasi: Beraksi Sehari, Selamanya Menginspirasi!
Terima kasih atas pengalaman yang diberikan (mulai 1 tahun sekian bulan lalu), saya [Insyaa Allah] selalu mendukung akan kemajuan gerakan berbagi ini!

Sidoarjo Team - Refleksi Akbar KI Jawa Timur 2013
Maafkan jika ada salah kata dan ucap.
Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Rabu, 17 September 2014

MONEV PKM (2013) yang Menguras Tenaga

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Kembali lagi bersama penulis yang menumpuk hutang menulisnya. Ini pelunasan tulisan dari zaman sekitar setahun lalu lebih sekian bulan. Mohon maaf ya jika rasanya membuat penuh, tapi apa daya, momen hari dalam tulisan ini (bahkan) sangat memorable. Jadi ceritanya, kejadian-kejadian ini terjadi di pada 2 hari 1 malam di bulang Agustus 2013 yang mengambil tempat di kantor PT. Pertamina dekat Monas, kantor AirAsia, suatu ATM di jalan menuju pulang ke rumah Paman, Stasiun Gambir, kereta Bima, Stasiun Pasar Turi, Jurusan Teknik Informatika ITS, dan Grha Sepuluh Nopember ITS. Rasanya? Baca terlebih dahulu ya!

Suatu ketika, hari yang ditunggu-tunggu datang. Di tengah sibuknya menariknya pekerjaan Kerja Praktik (KP) saya, Adit, saya merencanakan untuk meninggalkan amanah KP saya sejenak untuk "sowan" ke ITS untuk memenuhi amanah saya yang lain: Monitoring dan Evaluasi PKM oleh DIKTI. H-2 keberangkatan sebenarnya saya sudah kontak teman saya yang menjadi agen perjalanan untuk pesan pesawat, biar cepat istilahnya. Namun, karena terlalu mepet, alhasil saya tidak bisa pesan tiket pesawat. Malah pesan tiket pulang terlebih dahulu (yang akhirnya tidak saya ambil karena terlalu lelah). Tapi, tragedi pesawat tidak berhenti sampai di situ.

Ketika KP sekaligus perencanaan H-1 keberangkatan, tim KP saya sebenarnya sudah menyelesaikan tugas. Namun demikian, saya masih usrek sendiri mengatur kepulangan ke Surabaya demi mengejar MONEV. Ditambah lagi harga tiket makin melonjak dan semakin tipis tempat duduknya. Berikut Maskapai AirAsia yang mengharuskan saya untuk bayar dengan kartu kredit, membuat saya semakin heboh telepon Mbak, Om, dan lain sebagainya. Berita hebohnya lagi, teman setim PKM yang juga sedang KP di Bogor sedang meluncur ke Jakarta untuk ikut pulang ke Surabaya. Sedangkan tiket kepulangan pesawat belum di dapat. Namun, semua kegilaan tersebut dilegakan sejenak ketika saya harus turun untuk salat Dzuhur. O ya keterangan lagi, saat itu sedang bulan Ramadhan, jadi di musala PT. Pertamina diadakan kajian Dzuhur. Alhamdulillah, cukup menyejukkan hati.

Ketika kajian selesai, saya masih punya harapan adanya kursi kosong di pesawat AirAsia yang berangkat esok pagi. Sekitar pukul 2, saya minta izin untuk pulang lebih awal kepada pembimbing untuk mengurus tiket keberangkatan ke Surabaya. Perjalanan dengan ojek dari kantor KP ke kantor Air Asia, mengambil uang, dan proses mengantre masih mulus, sih. Sampai tiba giliran saya...
"Mbak, pesan tiket dua kursi untuk penerbangan besok pagi masih ada?" tanyaku dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Maaf Mas, tempat duduknya sudah habis," jawab si Mbak dengan senyum khas perusahaan.

JDER! Kejutan di siang bolong yang mewakili gerahnya Jakarta. Sedikit mendramatisasi, saya merasa hilang arah dan tujuan. Okelah, saya langsung pesan tiket pulang saja di sore hari MONEV ke Shidqi. Masih merasa bisa menjalankan amanah KP setelah pergi MONEV. Klik, OK, pesan singkat sudah terkirim ke nomor Shidqi. Dengan langkah lunglai dari bus TransJakarta ke halte yang memang seharusnya saya turun, saya pun masih bersemangat untuk cari ATM untuk melunasi pembayaran ke Shidqi. Setelah berjalan (kaki) cukup jauh dan menemukan mesin ATM, datanglah pesan singkat dari Luluk, sang partner perjalanan sekaligus ketua tim, yang memberitahukan posisinya sekarang dan menanyakan bagaimana nasib kita. Ya baiklah, semakin paniklah di perjalanan itu.

Dengan baterai hape yang semakin sekarat, saya berjalan lagi untuk pulang ke rumah Om. Di tengah keputusasaan yang menggelitik hati, saya ternyata bertemu pembantu di rumah Om yang memang berusaha mencari saya untuk dipulangkan... ke rumah Om. Maaf, ya Pak merepotkan. Alhasil dengan usaha dan upaya karena pulsa menipis juga, Luluk memberi inspirasi saya untuk mencari tiket kereta. Sesampainya di rumah Om, saya langsung cari informasi untuk keberangkatan kereta dari Jakarta dan kedatangan kereta ke Surabaya... yang berangkat MALAM ITU JUGA.

Oke, cukup cerah, ada tiket yang tersedia. Tapi, setelah shalat Magrib berjamaah di rumah Om, alias H-1 jam keberangkatan, entah keadaan semakin runyam. Pulsa habis, packing sekadarnya, bagaimana cara ke stasiun. Semua pikiran itu tertebus dengan solusi menggunakan telepon rumah Om saya dan pengantaran kilat dengan ojek dari rumah Om ke stasiun Gambir sekitar 30 menit sebelum keberangkatan. Berbekal uang untuk beli pulsa dari Om, akhirnya dengan tergesa-gesa dan berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja saya mengucapkan salam akan jumpa lagi di hari berikutnya.

Kemacetan Jakarta? Iya, tantangan itu juga muncul ketika paket kilat dengan isi manusia itu dilaksanakan. Dengan napas terengah-engah, saya pun tiba di stasiun dengan (paling tidak) masih bisa lari untuk mencari Luluk dan mengejar jam keberangkatan kereta yang kalau tidak salah hanya tinggal 15 atau 20 menit saja. Beruntunglah, setelah pelarian yang tidak lama, saya bersua dengan Ibu Kepala Suku ini. Dengan air muka yang tidak kalah cemas dan khawatir, kami belanja sedikit bekal untuk kehidupan kami di kereta dengan perjalanan yang terjadwal sekitar 12 jam.

Sampai di dalam kereta, Alhamdulillah, kursinya cukup empuk dan dapat di posisi yang cukup nyaman. Shalat Isya di kereta, makan camilan, menonton Captain America dan Spy Kids 4 di kereta sepertinya adalah kegiatan yang mampu melepas gerah dan ber-hahahihi setelah kejadian-kejadian gila seharian. Sebenarnya kami berdua membawa amunisi buku, tapi apa daya, kami sudah tak sanggup berkonsentrasi di perjalanan untuk membacanya. Demikianlah petualangan berlalu lancar hingga matahari terbit menjelang.

Sebelum bercerita tentang saat sapaan mentari mencium keletihan kami, momen sahur dan salat subuh tidak berlalu cukup spesial. Jikalau ada yang dikatakan spesial itu cukup roti dan minum, dilanjutkan tidur sejenak hingga tiba waktu subuh. Dan cling, sang surya menampakkan rona jingga di balik pemandangan gunung-hutan-sawah-dan-berulang yang tampak di jendela. Diskusi sejenak kami berujung pada kepanikan berikutnya mengenai jadwal presentasi yang seharusnya berlangsung pagi ini dan kami tak kunjung tiba di stasiun Pasar Turi. Tapi, saya dengan sangat masuk akal mengurungkan pikiran untuk bertanya ke masinis, "Pak, apa keretanya tidak bisa lebih cepat?"

Perginya inspirasi tidak masuk akal tersebut diiringi dengan pesan singkat dari ayah saya mengenai di mana posisi saya dan nanti dijemput siapa. Dengan sangat pasrah, kutulis pesan yang menjelaskan posisi masih di kereta dan dijemput teman ke ITS dulu karena tidak mungkin pulang ke rumah kepada ayah. Semenarik itulah kepasrahan kami hingga kami berpesan singkat lagi ke tim PKM kami... yang sepertinya tidur kelelahan habis sahur di pagi itu karena juga sudah berusaha keras. Harapan kami, bisa diusulkan pemunduran jadwal. Dan syukur Alhamdulillah, cukup lama kemudian, kami yang di kereta mendapat kabar bahwa ternyata jadwal presentasi MONEV DIKTI bisa (diatur untuk) maju kapan saja asalkan hari itu. Saya dan Luluk pun bisa bernafas sedikit lebih panjang, karena masih merasa tak sanggup meratapi hal apa lagi yang akan terjadi di hari itu.

Tiba di stasiun Pasar Turi setelah terlambat sekian jam, menit? Entah saya sudah lupa, pada intinya terlambat. Kami masih berusaha mengukur seberapa panjang nafas kami hingga tiba untuk presentasi di ITS dan kembali KP ke Jakarta dan Bogor di malam harinya. Sedikit dramatis lagi, perjuangan menunggu kami ditambah dengan menghalau tukang taksi dan becak yang menawarkan jasa pengantaran (apa sih). Penantian berakhir ketika Ika dan Mas Dedy, para penjemput kami ke ITS datang. Terima kasih banyak Budhe Tutik dan Mas Pilaaay (yang ponselnya dipinjam Mas Andre untuk sidang Tugas Akhir).

Sampai di ITS, saya merasa muka saya tidak berupa muka sehat lagi setelah semua kejadian hari sebelumnya dan korban terlambat kereta api. Dengan berucap sesedikit mungkin ke para penghuni laboratorium IBS, markas pengerjaan PKM kami, saya melangkahkan kaki yang berat untuk menyambut gayung air menyegarkan rupa sejenak. Untunglah, kaki saya bisa beristirahat sementara di bawah meja, dan berganti tangan yang (masih harus) bekerja di berkas laporan akhir.

Beberapa menit sebelum salat Asar (kalau tidak salah, harap dikoreksi ya Luluk, Dany, Awal, atau Helmy), kami pun maju ke juri DIKTI yang berasal dari UGM. Berita buruknya, proyek PKM kami yang bernama INGGIL, dikomentari habis-habisan karena bahasa krama yang bahasa kerennya improper atau tidak cocok dengan bahasa krama alus yang seharusnya. Kami langsung berkesimpulan, durian runtuh itu jatuh, tepat di perasaan kami, sakitnya menusuk-nusuk karena malu dan mati gaya.

Tapi apa boleh buat, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami tetap bersyukur dengan semua yang terjadi. Sebenarnya dan seharusnya, saya dan Luluk harus segera pergi ke bandara saat itu juga untuk check-in. Tapi setelah semua kejadian hari itu (dan hari sebelumnya), kami memutuskan untuk menghanguskan tiket tersebut dan beristirahat total fisik dan mental hingga hari ahad. Oya, momen kembali ke Jakarta tersebut adalah momen naik pesawat pertama kali oleh Luluk dan ketika itu juga, saya bertemu Hani Rosdahlia.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat di MONEV PKM ini. Kalian memang luar biasa! Teruntuk Ibu Kepala Suku Luluk Eko Mawati, Latifa Nurrachma Pradany, Awalia Harfiani, Helmy Satria Martha Putra, kalian memang TOP banget!

Terima kasih atas momen yang luar biasa, memang kita tidak maju PIMNAS 26, tapi saya merasa perjuangan ini layak untuk diceritakan dan dikenang. Karena saya merasa kita berjuang demi Allah Ta'aala, dan Insya Allah tidak ada yang sia-sia serta selalu hikmah yang bisa diambil. Ada kawan di samping kita yang membuat tersenyum, kehangatan keluarga kita yang menerima kita apa adanya, serta perjuangan yang tidak akan habis jika dikenang.

Sekian tulisan saya, semoga bermanfaat. Maafkan jika ada salah kata atau ingatan.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 16 September 2014

Sakura Day 3 (REAL DAY, REAL DEAL) Bagian 1 dari 2



Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh…

Maaf sudah sekian lama vakuum, hari-hari itu saya gunakan untuk mengurus ini itu sebelum keberangkatan ke negeri keju, Perancis. Meskipun tulisan ini saya tulis di negeri bendera kombinasi warna merah-putih-biru, semoga ingatan saya masih hangat-hangat suam-suam kuku.

Hari ketiga SAKURA EXCHANGE adalah hari pertama yang sebenarnya. Hari ini kami serombongan bersepuluh (Masih ingat tidak? Saya, Mbak Lely, Dewie, Elok, Zendy, Mia, Rizqi, Leo, Vidi, Anton) plus Bu Maria harus pergi ke Kumamoto University untuk «tur» sejenak sebelum kunjungan ke laboratorium esok harinya. Beberapa hari sebelumnya adalah hari santai (tidak juga sih), sebelum menyambut hari ini yang ditunggu-tunggu.

Pagi hari berlangsung dengan tenang bersama sarapan dan dandan kece sesuai instruksi Bu Maria malam sebelumnya. Dandan kece? Para pria berkemeja lengan panjang dan berdasi, para gadis berkemeja juga dengan blazer yang sedap dilihat. Ke-kece-an ini ditambah dengan pin AMBASSADOR yang tersemat (tertancap, untuk Zendy, karena salah satu penitinya hilang) di kemeja masing-masing. Sarapan sudah, berkas penting sudah, oke sip. Berangkatlah kami ke halte bus dan jalur terdekat dari Toyoko-Inn ke Kumamoto University. Pukul 08.30 lebih sedikit kami menunggu dengan kece (tetep dong) dan berfoto walau suasana becek-becek sumuk karena habis hujan tapi musim panas. Sesi foto berakhir dengan kedatangan bus yang kami sangat hati-hati sekali membaca karakter Jepangnya… karena karakternya mirip dan kami hanya bisa baca angka saja… sekadarnya. Dan tepat waktu, pukul 08-sekian bus-nya datang, Jepang lho.

Di bus, tetap menyenangkan, seperti perjalanan bus sebelumnya di Mt. Aso, teknologi penukar-uang-otomatis-sehingga-tidak-perlu-pakai-kembalian-dan-cari-uang-kecil tetap ada. Teknologi transportasi mandiri yang seperti ini memang menyenangkan dan menakjubkan. Namun, di tengah nikmat perjalanan, Bu Maria mengingatkan sesuatu… “Elok, suvenir untuk ke Kumamoto sudah dibawa?”. Wajah pucat Indonesia beriringan mewarnai seisi bus. Berdasarkan musyawarah kilat dibumbui kecemasan masing-masing. Diputuskan Elok dan Rizqi akan naik bus lagi di halte Kumamoto University untuk mengambil suvenir di Toyoko Inn.

Sesudah turun dari bus, kepanikan masih terasa di tengah berisiknya suara serangga musim panas di Jepang. Dibantu oleh petunjuk arah bus oleh Mbak Sary yang menyambut kami (maaf ya, Mbak baru melihat wajah-wajah kami sudah diberi suguhan peristiwa panik). Alhasil, formasi kami terpisah dan 9 orang ini (termasuk Bu Maria tentu saja) mencari jalan ke ruang rapat C gedung Graduate School of Science and Technology untuk pertemuan dengan Pak Prof Usagawa dan Bu Kishida. Teriknya mentari dan cakap-cakap ringan (kalau saya mah pendiam, saudara-saudari semua harus mengakui itu) masih mengiringi langkah gontai kami. Langkah indah yang dimotivasi harapan kembalinya Elok dan Rizqi dengan tepat waktu... dan selamat.

Materi presentasi dan buku mengenai Graduate School of Science and Technology
Suasana presentasi

Bu Kishida, semoga kita bertemu lagi ya di ICAST, Perancis...
Ini Pak Prof menerima kenang-kenangan yang fantastis

Di ruang rapat itu, Pak Prof menunggu kami dan asyik dengan laptop beliau. Tidak heran mengingat Pak Prof bisa membalas surel di Myanmar atau entah di mana pun itu dengan secepat dan semampu mungkin. Dan saya pun bisa menyimpulkan tipisnya perbedaan etos kerja yang tinggi dan sikap workaholic, untuk kasus ini, saya putuskan mengklasifikasikan perilaku orang-orang Jepang ini adalah representasi dari etos kerja yang tinggi. Selagi bercakap ringan dan membaca katalog universitas di tengah hening yang menyesakkan akibat aksi menunggu Elok dan Rizqi di ruang rapat itu, musyawarah yang lagi-lagi kilat dilakukan untuk memulai presentasi sekilas mengenai kota Kumamoto dan negeri Jepang.


Dari presentasi Pak Prof, di samping indahnya alam kota Kumamoto dan Jepang, terlihat betapa kuatnya relasi dan kerjasama riset antara industri dan universitas-universitas yang ada di Jepang. Selain itu, perusahaan-perusahaan Jepang, di berbagai bidang, termasuk sipil, telekomunikasi, otomotif, memiliki keutamaan bidang risetnya yang unggul. Saya pun berandai-andai mengapa perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak memiliki basis riset yang demikian tenar. Namun, kerisauan itu terjawab dengan sebersit pikiran saya (CMIIW lho ya) mengenai konsumerisme bangsa Indonesia dan kelasnya yang merupakan target pasar dan silang perdagangan. Seketika itu pula, pikiran saya melayang juga ke cita-cita mendirikan lab riset mandiri, baik di bidang perilaku sosial maupun teknologi dan sains, di Indonesia (mungkinkah? Jika Allah mengizinkan, Insya Allah. Aamiin-in dong).

Sejumput angan saya tiba-tiba pecah karena langkah kaki yang terdengar dari luar ruang rapat. Alhamdulillah, Elok dan Rizqi bisa tiba dengan selamat. Semua berkat arahan Mbak Sary dan mobile wifi milik Pak Prof yang dipinjamkan ke kami. Presentasi yang selanjutnya menghadirkan Bu Kishida dimulai begitu saja, dengan sedikit sambutan tentunya.

Sajian pengantar mengenai studi lanjut pascasarjana dan doktoral di Kumamoto University menjadi pengantar mimpi indah bagi kami sebelum menuju kunjungan laboratorium. Kemudian dihadirkan para mahasiswa Kumamoto yang berasal dari Indonesia, ada yang dari ITS (Halo Pak Darlis), dari ITB, dan lain sebagainya. Sejenak setelah itu, kami diajak untuk makan siang di kantin. Dan setibanya di sana, kantinnya ramai sekali meskipun katanya musim ujian.



Mari makaaaan, Bismillahirrahmaanirrahiim

Bagi umat muslim, bagaimana menghindari makanan haram di kantin universitas? Anda harus memicingkan mata seteliti-telitinya melihat gambar bundar berwarna-warni yang menunjukkan bahan perdagingan. Ada warna biru untuk ikan, oranye untuk ayam, (lupa warna apa) untuk sapi, dan merah jambu untuk babi. Sehingga, waspadalah! (kata Bang Napi). Ketika makan siang bersama mahasiswa Indonesia yang ada di Kumamoto, kami bercerita banyak, mulai dari di mana restoran sushi, di mana toko murah meriah, dan lain sebagainya. Sampai waktunya untuk shalat Dzuhur, kami yang muslim pun beranjak pergi.

Beruntunglah, jarak untuk pergi ke masjid (iya, di sana ada masjid) kedua di pulau Kyushu (Kumamoto ada di pulau Kyushu, kalau Tokyo dan lainnya ada di pulau Honshu) tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 5-10 menit. Yang menarik adalah, masjid ini dinamakan Kumamoto Islamic Center (KIC), yang berarti tempat ini adalah pusat kegiatan muslim di kota ini. Para penggiatnya tidak hanya dari Indonesia, ada juga beberapa mahasiswa dari Pakistan, Malaysia, dan mahasiswa muslim internasional maupun muallaf lainnya dari Jepang (kalau ada sih, belum tanya) yang kuliah di Kumamoto University. 




 

....bersambung....

Setelah ini, berlanjut ke petualangan hari ketiga bagian kedua (karena panjang), mohon tetap terjaga di sini ya :) Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.


Rabu, 16 Juli 2014

Menjajak Wilayah Baru: Koordinator Wilayah 5 Kampus Kota JMMI ITS

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Bertemu lagi dengan tulisan saya. Weits, jangan bosan, ini kejar setoran. Sekiranya bisa memberi manfaat.

Dan berakhirlah Majelis Akbar Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS Kabinet Syiar Bersahabat Mei itu. Fyuh... (Ah enggak kok, saya nggak ikut penutupannya, saya cuma ikut jilid 1... jadi NOTULEN,jabatan yang melekat semenjak... Musyawarah Besar SITC di tahun pertama)

Kabinet Ekspansi Dakwah, itulah titel yang diusung kepengurusan JMMI 1433 H sampai sekarang. Ekspansi ke dalam, ke seluruh penjuru internal koordinasi JMMI ITS, dalam hal ini Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF). Ekspansi ke luar, dengan amanah sebagai Puskom Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Surabaya Raya, berusaha menggaet berbagai LDK yang membutuhkan pendampingan, menyebarkan dan menguatkan isu keislaman yang sedang beredar, serta bertindak aktif dalam pergerakan dakwah kampus. Lha kok ngeri banget namanya ekspansi? Menjajah dong? Tidak! Maksudnya adalah untuk mengembangkan. Agar jangkauan kebaikan dakwah tersebut tidak hanya berhenti di diri kita, dan kita pun menyebarkannya dengan kebaikan, maka dari itu bisa berkembang, dengan dinamisasi kebaikan. (Satu paragraf ini adalah hasil kreasi otak dan imaji sendiri, dengan berbagai keterbatasan ilmu yang ada)

*Sementara itu, jika beberapa kata yang saya gunakan membuat Anda tidak mengerti, mohon maklum. Tulisan ini Insya Allah untuk kebaikan. Jika tidak mengerti, silahkan ketikkan pertanyaan di kolom komentar*

Beberapa hari kemudian...
*reka ulang kejadian*
[Drrt..Drrt] (Bunyi getar ponsel, ponsel sangat jarang saya hidupkan suaranya)
"Bisa ketemu sebentar di serambi timur manarul? Ada yang ingin dibicarakan" ~(Z)
*reka ulang selesai, dengan pengondisian terbatas pada ingatan, dan nama disamarkan*
Hm? Ada apakah dengan Pak Direktur ini? Pikir saya. Saya pun sudah tahu beberapa jajaran kabinet Ekspansi Dakwah dengan suasana warna ungu itu (kenapa ungu? jangan tanya saya. Sekali lagi. Jangan tanya saya). Dan beliau termasuk salah satu dari jajaran direktur di sana.

--Sesampai di Manarul
"Akh, kira-kira kalau sampeyan jadi Koordinator Wilayah Kampus Kota bagaimana?" Tanya Z. "Hah? Nggak salah Pak?" Tanyaku dengan terkejut.
--Singkat cerita, saya memutuskan untuk mengemban amanah itu. Entah apa pun yang terjadi. Nekat. Iya. Lillahi ta'aala. Semoga bisa selalu mendekatkan saya kepada Islam dan Allah Subhanahu Wata'aala.
Dan alhamdulillah bertemu orang-orang (dan tantangan-tantangan) baru di amanah ini. Kalau bisa dibilang, tantangannya harus saling mensinkronisasi hubungan antara LDJ dan JMMI beserta berbagai LDJ yang ada di dalam wilayah Kampus Kota (T. Industri/MSI Ulul Ilmi, T. Informatika/KMI, S. Informasi/KISI, D3 Teknik Kimia/FUKI Al-Ikrom, D3 Teknik Mesin/Jundullah, D3 Teknik Elektro/Salman Al-Farisi). Namun, hal ini membuat saya memiliki keluarga baru (di tengah himpitan keluarga-keluarga baru lainnya).
Hal paling pelik adalah ketika mengurus G-MAIL 2014 Wilayah yang berujung pada paniknya saya dan staf-staf 2012 dari Wilayah Kampus Kota. Ketika sumber daya manusia berfungsi sangat efisien. Jujur saya mohon maaf kepada semua orang dan pihak yang merasa tersakiti atas kelalaian saya. Walaupun begitu, Insya Allah kegiatan kita bermanfaat. Aamiin.

Copyright (c) KED Family on FSLDJ Cup - (Anda sekalian saya paksa untuk mengatakan ini lucu dan menggemaskan)
Tak terasa di penghujung semester ini, saya harus mengucapkan good bye tapi dengan senyum (Alhamdulillah tanggung jawab ini tersalurkan kepada yang baru). Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yang terzalimi selama saya keliling di JMMI. Terima kasih atas pengalaman yang sudah diberikan. Terima kasih telah memberi kesempatan (lagi) untuk bersentuhan di dakwah kampus.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

FSLDJ ITS. Ber-AKSI!



Jumat, 10 Januari 2014

Semangat Keilmiahan: Prestasi, Manfaat, Tanpa Batas, @BreakthroughITS

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah sampai detik ini masih bisa mengetikkan beberapa patah kata di blog ini. :)
Sementara final project, tugas akhir, dan tesis memanggil-manggil dengan riang gembira

 Jikalau suara ini tak sampai memberi cerita, maka biarlah kata-kata ini menyuarakannya. Kata-kata? Sedikit banyak tulisan ini akan berkaitan dengan "kata-kata", "ketikan", dan "suara". Terang saja, 30 Maret itu kami berlima belas dikumpulkan di satu ruangan, belajar bersama untuk menjadi Trainer. Tidak hanya sekedar Trainer, namun Trainer keilmiahan. Trainer Keilmiahan ini, bisa disebut para pembimbing, pengonsep, dan inspirator dalam penuangan ide kreatif menjadi karya ilmiah.
Pengertian Trainer Keilmiahan tersebut rasanya lebih cocok disematkan kepada 16 orang anggota Breakthrough lainnya, yang bukan saya

Tanggal 30 Maret 2013, tersebut berbagai nama yang sudah terseleksi dari tim 17 (Trainer Keilmiahan sebelumnya) sebagai peserta Training for Trainer 2013, yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Badan Eksekutif Mahasiswa (Ristek BEM) ITS 2012/2013 ~ Mahakarya. Nama-nama tersebut adalah:
  • Adhika Ilham Dhata Pratomo
  • Amalia Hasyyati 
  • Anggita Rara Kumala Wardani 
  • Bintang Wahyu Syah 
  • Fiona Rossi Ramadhani 
  • Hani Ramadhan
  • Hani Rosdahlia
  • Hanny Adiati 
  • Ika Permata Hati 
  • Ilham Azmy 
  • Iva Yenis Septiariva 
  • Juan Firmansyah 
  • Muhammad Fauzan Aristyo 
  • Muhyiddin Azmi 
  • Nuraini
  • Rendy Aries Fajrin 
  • Rizki Ramadhani Ferina
(Pas kan 17?)

 Banyak sekali yang kami dapatkan di Training for Trainer. Tapi, yang paling penting dibahas di sini adalah bagaimana peran kami sebagai Trainer Keilmiahan berjalan. Mulai dari membuat konsep besar kaderisasi keilmiahan di ITS, gerutu sana gerutu sini sampai keputusan pahit terjadi, marah-marah karena bikin materi yang bebannya numpuk di hari itu sampai meledak (emmm... nggak juga sih, ini sedikit dramatisasi) , sulut konflik di whatsapp, sampai.... lari-lari cari pemateri pengganti karena keadaan.

yah... Semoga semua pengalaman ini diberikan makna sebagai pengantar kebermanfaatan menuju jalan yang lurus. Seandainya kami tidak bertemu di jalan ini, mungkin masing-masing dari kami tidak menjadi orang-orang yang seperti sekarang (keren loh, ada Menteri BEM, ada wakil menterinya, ada anak FIM, ada ..... banyak). Maka dari itu, saya bersyukur, tali takdir kami dipertemukan dalam jalan (yang semoga) mulia ini.

Maju terus keilmiahan ITS! Semangat berprestasi dan kebermanfaatan akan selalu kami salurkan dengan berbagai aksi yang AWESOME!

Sorry, Va, Ham, Mal nggak ada kalian :)

Jangan lupa follow di Twitter @BreakhtroughITS :) .
Ohya, penentuan nama Breakthrough adalah karena kami merasa perlu untuk mendobrak mindset keilmiahan yang selama ini identik dengan menulis karya tulis ilmiah yang membosankan dan lain sebagainya. Padahal, sebenarnya asyik dan merupakan media yang efektif untuk menjalin dan menambah wawasan mengenai keilmuan, baik yang diminati maupun tidak. Dan juga tidak selalu berkaitan dengan karya tulis.

Sekiranya, itu saja dulu, semoga bermanfaat. Maaf pula jika ada salah kata.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 16 Desember 2013

Tahun Keempat

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Menanggapi waktu yang semakin sedikit ini.... Saya ingin sedikit bercerita mengenai kehidupan saya di tahun ke-4. Sudah hampir separuh waktu sih. Tapi, ya semoga bermanfaat.

Kehidupan tahun keempat bermula dari lengsernya saya dari Keluarga Muslim Informatika - ITS 2012-2013 dan otomatis memperbarui amanah saya sebagai Dewan Pertimbangan Pengurus KMI ITS 2013-so on. Kemudian, dilanjutkan dengan masa Kerja Praktek di Pertamina dengan judul... (terlalu mengerikan jika saya buka di sini). Dan yang bikin deg-degan adalah jalan-jalannya bersama si Fahmi (jangan baca, dijamin silau), si Muamar, si Riduwan, dan si Fadlika . Saya teh ke Bandung mbolang sama Fahmi. Dan untungnya sampai Jakarta lagi sehat wal a fiat.

Kalau mau dibikin kaleidoskop sebelum kuliah semester 7 dimulai... ini daftarnya :)

Kilas balik lagi, ketika sudah kuliah. Semua nampak semakin sibuk. Dan saya juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Iya sih, kuliah semakin menipis. Tapi, di luar kuliah semakin tebal saja. (Baca: menghadapi TA). Tapi, semakin jauh melangkah, perjalanan saya rasanya semakin menakjubkan karena ditemani orang-orang hebat. 
  • Tim baru yang (sangat) riweuh  HMTC
  • Tim JBC IM TELKOM Paper Competition: Hani, Amal, feat Ulin (perjalanannya sangat sesuatu)
  • Tim GEMASTIK! Alhamdulillah, Awal, Geri (intelegensinya di mana? -kemudian, muka ditekuk-)
  • Kawan-kawan di S2 Teknik Informatika ITS
  • SabangMerauke BLP Team (yeaaa)
  • Fast Track goes to France (ah, semoga :) )
  • Mentoring kece Mas Agil (ini orang-orangnya sih hebat-hebat, saya jadi minder)
  • PH KMI ITS 2013-2014, namely generasi tauhid
  • Tim PKM TechSocio DSS- RUMA (Ira: sekdep merangkap ***** RISTEK HMTC, Adhika:; Menteri Ristek BEM ITS, Faiz: artis)
  • Tim Kelas Inspirasi Sidoarjo DAYUNG! 
Sepertinya sudah cukup mendeskripsikan apa yang sudah saya dapatkan selama separuh tahun keempat. Kiranya semoga bermanfaat. 
(soon will be updated with graphics)

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)
Stay encouraged, stay motivated

Sabtu, 20 Juli 2013

Pengembara Pantofel: Bersama Sabang Merauke (1)

Assalamualaikum wr.wb.
Time to share, time to learn something new.
Oke... jadi sebenarnya hari itu saya sehari izin Kerja Praktek untuk suatu event yang diadakan Sabang Merauke. Tapi, yang saya dapatkan lebih dari sekedar "meliburkan diri". Let's check it out.
——————————————————————————

"Silahkan adik-adik di sini Anak-anak Sabang Merauke berikut juga Saudara Sabang Merauke menuliskan janji dari adik-adik untuk menggapai cita-cita meraih pendidikan perguruan tinggi entah di mana pun itu dan berjanji tidak akan putus sekolah." Begitulah (kira-kira, jika tidak salah ingat, dengan beberapa modifikasi yang ada) instruksi sesosok inspiratif dengan selempang kuning itu, Niwa Rahmad Dwitama, Mapres UI 2013, khas, kepada sepuluh lebih sekian insan belia peserta Sabang Merauke angkatan pertama.
Momen dramatis itu menjadi titik kulminasi acara pada jumat itu, Education Day Sabang Merauke. Sepuluh anak-anak SMP yang terpisah jarak sedemikian hingga, terbilanglah seorang bernama Ferdinan dari Sabah hingga si jelita Paska dari Jayapura, saat itu menjadi satu yang dekat dalam lingkaran, mengelilingi galian cita-cita yang akan tumbuh meroket hingga mimpi mereka di sana. Hingga detik ini, inspirasi akan terus mengalir, bersama.... toleransi, pendidikan, dan Indonesia.
.....

"Hani ya?" Ujar seseorang berusaha mengenaliku selepas turun pukul 8 di stasiun UI. "Ha?  Iya..." saya menanggapi dengan linglung, sepertinya masih merasa ajaib dengan KRL yang baru saja ditumpangi. "Ayo kumpul di situ... Chiro ini Kak Chiro." Sambung pria dengan kaus berkerah abu-abu kebiruan itu. Oh iya, gimana bisa lupa sih...?
Kak Chiro ialah seorang penggagas ide Sabang Merauke ini. Gerakan bernafaskan pendidikan dengan upaya  mengumpulkan anak-anak dari seluruh penjuru Nusantara, untuk berbagi satu sama lain, berlatih satu sama lain, belajar bagaimana toleransi dengan terjun langsung, meraih asa Indonesia dalam tangan mereka ini. Dan SabangMerauke ini adalah rekanan tim saya dalam BLP (Breakthrough Leadership Project) YLI Wave 5... (itu loh... postingan sebelumnya, baca dong)

Yah begitulah dari saya yang linglung dan sedemikian rupa dibikin tersihir oleh pelajaran-pelajaran selama satu hari itu. Selagi menunggu para peserta datang, saya berkenalan dengan beberapa partner Sabang Merauke yang sudah hadir di sana. Ada Kak Wahyu, Kak Didi, Kak Fariz, dan Kak Putra. Yah... gimana ya masih kagok-kagok gimana, sudah terdampar dalam waktu sebulan di Jakarta (sempat pake acara nyasar pula, menyedihkan), pertama kali naik KRL, dan pertama kali juga ke UI (Universitas Indonesia). Yang sempat didamba dikarenakan saya ingin masuk Akuntansi dan UI Akuntansinya terbaik se-Indonesia. Tapi saya nggak nyesel. Beneran loh, suer. Lanjutin hoi, ngelantur nggak jelas


Singkat cerita, setelah ngobrol sana sini dengan Anak Sabang Merauke [ASM] yang datang satu per satu... (Alun, Ferdi, Iman, Ayul —mentolo takuyel-uyel cah sithok iki, Iswan, Novi, Apipa, Zana, Paska, Villa) dan Saudara Sabang Merauke 
[SSM] (Dimas) dan Kakak-Kakak Sabang Merauke [KSM] (Kak Kezia —maaf ya Kak, kayaknya sering saya dzalimi dengan menyebut suaranya terlalu lantang, maaf.. maaf, Kak Rona, Kak Putri, Kak Laura, Kak Chen-Chen (Chenia) —mirip sama teman saya di jurusan, Chen (Yenita), cuma si Yenita versi mini-nya, Kak Mutia, Kak Mubin, Kak Mustaf, Kak Gary). Dan selagi menunggu... saatnya GAMES. HORE dimulai dengan simulasi SevenUp, yang mungkin bagi sebagian orang menyebalkan... —tapi gue aman mwahahah. Dan Games Cabu-Cabu-cacaca featuring saya sebagai leader-nya. Ya sudahlah...  semoga saya bisa membuat gerakan awalan yang baik... (sempat kepikiran salto, split, push up, apa.... cheerliar? Ah sudah simpel saja. —Nggak tau cheerliar? Itu budaya seru pas tahun pertama Smala. Cheer yang anggotanya cowok semua. Ah sudah cukup. Masa kelam) . DAN SAYA SUKSES! Membuat beberapa orang semakin pusing bersama gerakan saya. Oh ya sudahlah.

Menuju kegiatan pertama, kuliah bersama Pak Dekan Fakultas Ekonomi  UI, Pak Jossy. Berangkat dengan bis kuning khas UI dari stasiun UI, dan melihat-lihat dari luar gedung-gedung indah nan gagah yang mengiringi ribuan kepala generasi baru masuk dan keluar almamater ini selama rentang tak jauh dari empat tahun. Perjalanan di sebelah kiri kanan jalan —kayak hutan rek, tenan— begitu asri dan hijau. Selagi bertukar cerita dengan kawan-kawan baru (yang beberapa baru menyandang gelar sarjana) dan saling tunjuk gedung belajar satu sama lain, perjalanan begitu terasa cetar sampai akhirnya masuk ke kampus FE. Kesan pertama... wah besar ya?


Berjalan beriringan menuju suatu ruang kuliah di lantai tiga berlangsung bersama rasa penasaran saya di gedung ini sambil berujar "hooo" bersahutan dengan penjelasan kakak-kakak ini. Di ruangan tersebut, saya, yang merasa cukup tahu diri untuk tidak duduk di barisan depan, melenggang duduk sebangku dengan Kak Mustaf, Kak Mubin, Kak Chen2, dan Shaffa (seorang Saudara Sabang Merauke). Tak lama, seorang sosok tinggi besar datang, berikut sama besarnya dengan rasa penasaran inikah Pak Dekan? Ternyata mengabarkan Pak Dekan hanya bisa hingga pukul setengah 11. Ealah, bukan Pak Dekan tho. Sejenak waktu terbuang, barulah sosok bijaksana itu datang
, Pak Jossy P. Moeis.

Beliau mengawali kuliah dengan semangat berkobar bercerita mengenai betapa pentingnya pendidikan. Tentu saja, para ASM dengan gegap gempita dalam keheningannya mereka sendiri-sendiri menyambutnya bak sungai yang mengucapkan "halo" pada derasnya air terjun. Pak Jossy berkisah tentang konon perjalanan seorang perantau dari Tanah Riau, hingga mengenyam pendidikan di Jakarta, berlanjut kerasnya hidup di Negeri Paman Sam, dan hadir di tengah-tengah kita semua, sebagai seorang pemimpin Fakultas Ekonomi di universitas yang begitu ternama ini. Muara dari segala pembicaraan ini tentu adalah tanya jawab dari para ASM. Penggalian informasi dengan kalimat tanya dari Alun, Novi, Paska, Iman, dan kawan-kawan ini sanggup menginspirasi Pak Jossy untuk merelakan sedikit waktunya melebihi 10.30. Lalu, sesi ini ditutup dengan foto-foto. Saya sih ikutan... Gimana nggak kebelet narsis foto sama ASM-SSM yang unyu ini (KSMnya juga kok)
Lagi, kalian sungguh luar biasa. Jalan kalian ini sungguh tumbuh dengan terarah.
Tak mungkin semaian yang kami rawat dengan cantik ini hanya menjadi tanaman yang kering.
Tidak, kalian benar bukanlah gulma. Yang mengganggu lagi tak bermanfaat.
Kalian adalah bunga cantik kami. Menebar wangi ke seantero negeri. 

LANJUT!

Persuaan kami berikutnya adalah dengan pusat jendela dunia termegah di kampus hijau ini. Tak lain dan tak bukan adalah Perpustakaan UI. Sejenak menjejakkan kaki di sana, Hmmmmm.... Bukan bau khas buku kumal atau kertas cetakan baru yang kami dapati, melainkan suasana ala pusat perbelanjaan tengah kota a.k.a mal zaman sekarang. Sebenarnya nalar diri tak kunjung berujung demi penataan yang seperti itu. Penikmat buku tradisional seperti saya sih belum pernah mencoba membaca buku di tempat seperti itu. Kali aja ilmunya lebih masuk... Kali aja.
Namun, hal ini didapati sedikit berbeda oleh binar mata para ASM, samanya sih mungkin "waaaaaah, perpusnya megah banget." Di luar hal itu, cahaya pandang mereka membuat saya penasaran, akankah mereka berpikir ini suatu yang patut dijelajahi? Akankah semua ilmu dari penjuru dunia ini akan kumanfaatkan? Entah. Siapa yang tahu.
Tapi oh seribu tapi, waktu kunjung kami di perpustakaan ini hanya terhitung menit. Lagi-lagi, waktu istirahat di pinggir danau yang membatasi tapak pantofel ini dengan balairung UI, diisi dengan nafsu foto-foto yang begitu tinggi. Kali ini saya nggak terpengaruh dong. Ya sudahlah, jadi tukang potret sementara waktu dengan ponsel mungil saya. Enggak, nggak pakai kamera macam SLR, bisa-bisa kameranya terbakar gegara ke-gaptek-an saya.

Kala matahari sudah tinggi di atas kepala, kami bersiap untuk ibadah besar para muslim di tiap pekan. Apalagi kalau bukan salat Jumat? Kami beradu dengan pergerakan surya kembali menuju FEUI dipandu perputaran roda bis kuning yang kokoh. Eh, nggak di Masjid UI? Tanyaku kepada beberapa pihak. | Oh enggak, nanti soalnya acaranya di sekitar FE juga.| Oooh.
Sepeninggal lelah di pelataran gedung FE UI, kami mengatur rencana bagaimana agar bisa kumpul tepat waktu. Selagi mayoritas salat Jumat, dan lainnya ada yang ibadah khusus menghadap ke Timur. Dan tentu muncul anggukan patuh cerdas terhadap instruksi Kak Chiro sebelum derap kaki ini melangkah menyambut ibadah sakral itu di... . Ehm? Salat Jumat di lapangan basket?
Nggak separah yang dibayangkan, lapangannya dalam ruangan, memang sudah disiapkan salat Jumat seperti itu. Pancen wes sip. Jamaah dari Sabang Merauke berbondong-bondong mengambil air wudu di luar. Sebelumnya, instruksi dari Kak Fariz untuk berkumpul di depan pintu lapangan basket sudah tercatat dalam benak dengan baik.
Eh lhadalah, selesai salat Jumat malah saya yang ketinggalan sama rombongan. Mana belum hapal jalan lagi. Ngekor deh ke sana ke mari. Nggak nyasar kok, Alhamdulillah.

Dan, sampailah ke acara yang ditunggu-tunggu... Penanaman janji. Tak jauh dari tempat kami salat Jumat (kembali lagi ke lapangan basket itu), sudah siap sebuah galian lubang yang kayaknya juga nggak cukup untuk menimbun salah seorang yang bertubuh mungil dari kami. Dipandu Kak Chiro dan dilanjut oleh Kak Tama (Niwa R. Dwitama, Mapres UI 2013), kata-kata yang menggugah hati seseorang untuk selalu bermimpi meluncur begitu saja. Detik-detik janji untuk menggapai pendidikan yang tinggi itu sudah di depan mata. Segala ucap dari Kak Tama membuat belasan pasang mata itu menatap jauh ke dimensi yang tak sekedar angan-angan. Dimensi yang nanti termaktub dalam coretan bermakna di secarik kertas. Ya, dimensi itu ternamai cita-cita.
Ya, sumbu roket itu sudah disulut.
Disulut oleh tangan mereka sendiri.
Takkan pernah mati, meski pernah dalam oksigen yang sepi.
Takkan pernah meledak, meski pernah berkobar.
Sumbunya memang akan berjalan di alur yang tak diduga.
Sumbunya memang akan berujung dalam panjang lika-liku yang penuh debu.
Namun, apinya akan abadi, meninggalkan abu inspirasi tiada henti.

Berbagai cita-cita pun mereka sebut. 
"Saya .... berjanji, akan melanjutkan pendidikan di .... dan tidak akan putus sekolah."
Alangkah beraneka suara mereka, ada yang sebut arsitek, kimia, ekonomi, kepolisian, ada yang sebut UI dan ITB. Geleng-geleng kepala tanda haru akan cita-cita mereka, yang notabene jauh dari hingar-bingarnya kota besar layaknya Jakarta sebelum dua minggu ini, dilakukan oleh hampir semua kami. Hampir.

Herannya sih, kenapa nggak ada yang sebut Ilkom, Teknik Komputer, Teknik Informatika, atau bau-bau bidang saya.Spesial deh
Gulungan cita-cita itu dikumpulkan di dalam botol cita-cita "Sabang Merauke". Dan botol itu ditanam dalam galian yang sudah disiapkan itu. Harapan dari ide ini, cita-cita yang dilambangkan sebagai benih itu nanti akan tumbuh sebagai pohon tinggi nan elok, memberi manfaat bagi sekitarnya, layaknya tanaman bagi semua insan yang hidup di sekitarnya.

Akhir perjalanan, giliran Kak Diandra atau sering disebut Kak Didi memimpin. Kegiatannya jurnalling namanya, sepertinya semacam kontemplasi. Buat semua ASM, SSM, dan KSM. Semua diminta menulis. "Dalam lima tahun ke depan, saya berjanji untuk menjadi...". Well,  saya ingin ikutan juga. Tapi, saya kan hanya penggembira di sini. Oke, ndak masalah. Melihat saja sudah belajar banyak. Hehe. Lembaran kertas itu niscaya akan menjadi motivasi dan mungkin basah ketika haru biru itu datang saat lima tahun selanjutnya dibuka kembali.
Kembali ke Bus Kuning yang menghantar ke stasiun. Selepas tiba di seberangnya, saya berpamitan dengan belasan tangan mungil itu. Mengharap esok hari bisa bertemu lagi. Di lain kesempatan, dengan manisnya buah yang dipetik masing-masing.

---------------------------------------------------------
Eits, tenang. Masih ada serunya part 2 kok, Malam Perpisahan dengan Sabang Merauke angkatan pertama. Sabar aja. Juga ada out of event story-nya, yang nggak kalah seru dan garing. 
Ada kalanya segala yang kita tulis mungkin hanya sekedar coretan, karena itu komentar, kritik dan saran sangat membangun. Permintaan maaf akan selalu saya torehkan di sini selagi kesalahan yang ada selalu merundung.
Oh ya, kalau mau tahu lebih jauh tentang Sabang Merauke bisa cek nih di situs sabangmerauke.org (klik aja), dan twitter @SabangMeraukeID ,  atau nunggu laporan resmi dari BLP kami hehe.

OH IYA, LAGI. Gak ada foto-fotonya. Hehe Maaf yak. Lagi gak hobi foto-foto.


Wassalamu'alaykum wr.wb.

Kamis, 29 November 2012

Karena Amanah tidak Akan Salah Memilih Tuannya

Bismillah.... Assalamu'alaykum wr.wb.


Sudah lama tidak berblogging ria nih... Tergoda ngeblog lagi gara-gara seorang teman membuka halaman dasbor Blognya di komputer laboratorium. Selama berbulan-bulan itu berlalu (bulan-bulan nggak ngeblog maksudnya), banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di hidup ini. Lika-liku yang menghebohkan dan kadang-kadang bikin galau sampai memojokkan di sudut tempat tidur kamar saya.

Bayangkan saja, dalam keadaan yang masih baru syok-syok aja jadi Ketua Umumnya KMI (pos sebelumnya), saya masih harus menerima kenyataan hidup (halah alay banget saya di sini, ketularan seseorang) kalau jalan masih panjang berliku namun singkat sekejap mata. Panjang berliku karena terkadang saya merasa satu detik tersebut adalah masa paling berat, dan sekejap mata karena setelah itu berakhir... "Oh, begitu aja?".
nyoh pelakune virus alay: link blog: http://ika-astutik.blogspot.com/


Lalu, terjadi hal-hal berikutnya:
Mulai kuliah yang inspiratif sekali pake banget, sampai amanah yang memang luar biasa dengan lingkungan yang menakjubkan dan lebih berwarna daripada hari-hari biasanya di kampus. Namun, beberapa hal tersebut tidak berkesan ketika saya mengalami  jatuhnya perasaan saya (baca: galau). Kadang-kadang saat itu saya berpikir flashback, ketika masuk di Teknik Informatika di semester 1 sampai sekarang... Apa saja sih yang membuat saya bertahan? Teman-teman, keluarga, lingkungan, uang? Enggak juga sih (maaf yaaa... tapi kadang-kadang saya mikir begitu). Tapi saya berpikir, ketika itu saya nggak ngurus apa aja yang ada di sekitar saya pokoknya saya lakukan apa yang terbaik. Semacam saya diberi tantangan apa saja sama Yang Maha Kuasa, tapi saya mencoba menjalankan apa yang bisa saya lakukan dan Alhamdulillah saya berhasil menjalani itu dengan sukses. Bisa dibilang apapun takdir yang saya jalani, saya mencoba melaluinya dengan sebenarnya hati penuh tanya dan menerka... apakah yang ada sebenarnya di balik ini. Jika saya sukses menjalaninya (sesuai parameter saya sendiri sih), semacam sedikit demi sedikit takdir di balik semua tantangan itu tersingkap dan reaksi saya: "Oh ya yaaa.... Ternyata saya bisa melakukan hal ini, ternyata maksud dari cobaan-Mu itu seperti ini Ya Rabb." Karena takdir Allah itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sedikit kisah lagi ya...
Kebahagiaan itu akan muncul di sekitar kehidupan kita walaupun hanya sekelumit saja, bahkan di balik sepucuk kerikil sekalipun. Tergantung bagaimana kita memahami makna kebahagiaan itu sendiri. Selama kita masih merasa fine dan happy dengan kenyataan yang ada sih ya yo ya yo wae. Malah kalau kita merasa sedih dan menyesali semua yang terjadi dan berpikir semua hal buruk akan terjadi setelah ini. Semua hal buruk yang kita bayangkan akan terjadi tersebut bisa jadi terjadi.

Karena semua prasangka yang bisa kita lakukan itu mengenai takdir kita, yang merupakan kehendak Allah. Dan ketika bersuuzon kepada Allah.... yaaa... monggo disimpulkan sendiri. Masak mengingkari takdir Tuhan kita sendiri, ya gak?

Dan semua hal harus disyukuri, meskipun hal tersebut di depan mata kita tidak sebaik yang dirasakan. Namun, harus disadari, sebagai hamba yang selalu mengingat-Nya, takdir Allah selalu yang terbaik.  Tidak pakai cacat sedikit pun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan masih panjang
Lika-liku hidup dan usaha kita harus senada
Sepiring kenyataan sebagai suguhan utama
Adalah manfaat yang dicerna oleh prasangka baik
Sebongkah amanah sebagai jalan menuju ridho-Nya
Adalah hal yang tak mudah selagi hal yang disyukuri

Sepatah kita keluh kesah
Adalah janji bagi kita untuk tak mengulanginya
Sebutir titik air mata
Adalah bukan alasan untuk tak melaju lagi

Pernah ku cerita kepada kawan
Apakah aku pantas menjadi aku yang sekarang
Bukan berupa cinta dan harapan
Bukan hak dan tanggung jawab
Bukan ilmu nian bisa kumodalkan
Bukan sikap dan amal yang alangkah indah yang bisa kupersembahkan
Namun, ada sepenggal katanya
"Seandainya kamu tidak menjadi kamu yang sekarang, bagaimana aku?
Sebuah amanah tidak akan salah memilih tuannya" 

Lalu, ku terkesiap
Kalau bukan aku yang harus menjadi aku yang sekarang
Mana mungkin ada aku lainnya yang harus datang lagi
Berarti aku harus menghilang?
Tidak
Karena di sini aku adalah aku
------------------------------------------------------------------
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Monggo komen yaa... matur nuwun