Tampilkan postingan dengan label uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uneg-uneg. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 September 2017

Tips dan Trik - Membuat CV

*tulisan didasarkan pengalaman saya sebagai pembaca lamaran pekerjaan yang diajukan, kritik dan saran tentu saja diharapkan karena saya sedang belajar juga. Mayoritas saya juga lumayan (lelah) dengan beberapa lamaran yang tidak sesuai standar saya.

KONTEN

  1. IPK dan Kampus.
    Saya akan jarang melihat angka IPK dan kampus rekan-rekan di CV. Tentu saja angka IPK nol koma atau satu koma akan menimbulkan pertanyaan besar. Tetapi saya ingin melihat bagaimana performa rekan-rekan di dalam CV tersebut. Apakah pengalaman dan proyek-proyek tersebut signifikan dan membuat saya tertarik? Ceritakanlah dalam CV rekan-rekan. Tidak punya pengalaman atau proyek yang dibanggakan? Terpaksa saya harus melihat IPK, kampus, dan transkrip untuk mengira-ngira apa yang bisa rekan-rekan unggulkan.
  2. Riwayat Pendidikan.
    Saya jelas tidak akan melihat rekan-rekan dari SD, SMP, atau SMA/SMK mana atau lulus kapan dan seterusnya. Namun, jika rekan-rekan dari SMA/SMK sudah memiliki sesuatu yang terkait dengan pekerjaan yang dilamar dan akan membuat saya tertarik, silakan dituliskan!
  3. Proyek pekerjaan atau Tugas yang Diunggulkan.
    Judul saja tidak akan membuat saya terkesima! Ceritakanlah teknologi yang digunakan, bagaimana efektivitas proyek rekan-rekan, yang penting tentu saja peran rekan-rekan dalam tim! Penggunaan angka atau metrik lainnya akan memudahkan saya mendapatkan gambaran mengenai performa rekan-rekan.
    Contoh:
    Implementasi Basis Data MySQL untuk Proses Isi Data Anamnesis di RS X
    - Peran: Programmer UI, Desainer Kueri
    - Penggunaan UI PHP 5.x dengan form x, y, z
    - Implementasi kueri kompleks dan view yang melibatkan 8 tabel
    - Menyangkilkan proses bisnis dari manual 30 detik menjadi 10 detik
  4. Kepribadian.
    "Saya tipe pekerja tim","Saya mampu bekerja di bawah tekanan","Saya pekerja keras". Tentu hal ini akan menghabiskan ruang. Hal-hal tersebut akan tergambar di proyek pekerjaan rekan-rekan. Dan sayangnya, saya tidak terlalu suka melihat tulisan seperti itu di CV.
  5. Riwayat Organisasi.
    Sebutkan yang relevan dengan pekerjaan atau paling tidak menggambarkan kepribadian rekan-rekan. Ketua organisasi tentu akan membuat saya tertarik, tetapi jabatan lain juga bisa membuat saya tertarik. Contoh:
    Anggota bidang eksternal Himpunan Mahasiswa X
    - Mengadakan kunjungan berbasis pengetahuan IT ke 3 himpunan kampus lain, salah satu temanya: Cloud Computing
    - Menuliskan artikel mengenai Pro Kontra UU ITE dan dimuat di 20 ormawa internal kampus dan di media massa lokal.
  6. Keterampilan dan Kemampuan.
    Aplikasi Perkantoran? (YES jika melamar sebagai administrasi, NO untuk programmer), Basic Networking (ABSOLUTELY YES untuk programmer dan IT Support). TOEFL ITP? Tuliskan skornya. Bahasa Asing lain? Tuliskan tingkat penguasaannya (pemula, menengah, ahli). Bahasa pemrograman terentu? Tuliskan penguasaannya di bidang apa (contoh: mikrokontroler, program sederhana, pengolah citra). Tuliskan yang relevan terhadap pekerjaan.
  7. Prestasi.
    Tentu saja tuliskan prestasi yang relevan terhadap pekerjaan yang dilamar. Penerima beasiswa? Tentu itu prestasi. Tuliskan!
  8. Dan yang paling penting: JUJUR! 



PENULISAN

  1. Pastikan tidak ada salah eja, huruf besar, huruf kecil, tanda baca. Kesalahan eja atau tanda baca sesedikit mungkin bisa membuat saya membuang CV rekan-rekan begitu saja.
  2. Satu halaman lebih baik daripada dua halaman. Sesingkat mungkin dan informatif. Tiga halaman atau lebih (kecuali benar-benar MENARIK), sudah dijamin tidak saya baca.
  3. Kalimat penjelasan masing-masing poin dari proyek maupun pengalaman diharapkan cukup dibentuk dalam 3 poin, dan masing-masing poin cukup 1 baris.
  4. Gunakan fontasi yang wajar. TNR tidak disarankan untuk digunakan. Saya lebih suka fontasi tipe Sans untuk CV karena bersifat non tulisan panjang. Ukuran 10-11 untuk konten oke, 11-12 untuk judul bagian oke, 14 untuk nama oke.
  5. Baca lagi, lagi, lagi, dan lagi. Tanyakan kepada diri sendiri apakah CV rekan-rekan sudah layak untuk dibaca para pengulas.
    (Tambahan, tidak ada di status Facebook)
  6. Bahasa. If you are confident enough to use English, use it! Don't forget to proofread it. If you are not really confident enough, don't even try. Any error could make your CV directly thrown in the trash can.
  7. Desain. Saya cenderung lebih suka format dua kolom (kiri judul bagian, kanan isi) atau satu kolom saja (berbentuk daftar biasa), polos, dan hitam putih. Jika ingin diberi warna, tolong jangan berlebihan. Jika berbakat desain, gunakan desain yang menyejukkan mata. Jika ingin menambahkan ornamen (walaupun tidak disarankan), buatlah ornamen tersebut mendukung kemudahan membaca.  
Sekiranya itu dulu untuk CV. Akan ada episode code submission dan wawancara.

Semangat

Kamis, 07 September 2017

Mereka yang Merantau, Mereka yang Merindu

*tulisan ini berdasarkan hasil pemikiran pribadi dan muncul dari kisah-kisah kawan seperjuangan, jika memang ada yang tersinggung mohon dimaafkan

"Selamat ya, bisa berangkat ke luar negeri"
"Titip kamu selamat aja deh"
"Semoga perjalanannya berkah dan bisa membawa manfaat"
"Ingat untuk pulang ya"
....
Alhamdulillah banyak ucapan doa yang menyertai kepergian insan Indonesia yang memilih untuk menjejakkan kaki ke luar tanah air ini. Untaian kata ini juga berlaku kepada mereka yang disertai takdir-Nya melepas tatapan keseharian dengan keluarga mereka terutama orang tua. Orang tua yang selalu kita kecup tangannya setiap hari ketika akan bertolak dari pintu rumah kita yang sederhana.
Ketika lepas dari beliau-beliau beberapa hari kemudian, mereka yang beranjak dari kampung halaman terpaut dengan segala tugas, tumpukan pekerjaan, rangkaian skenario eksperimen, atau lautan artikel ilmiah untuk disantap. Mereka yang serius mengerjakan itu tiba-tiba merasa ada perasaan aneh di dalam hati. Rasa penasaran. "Bapak di rumah bagaimana ya kabarnya? Ibu sehat-sehat tidak ya? Adik sekolahnya lancar tidak ya?"
Mereka khawatir terhadap keadaan keluarga yang mewarnai hidupnya sehari-hari. Perasaan kosong. Galau. Ya, mereka merindu. Merindukan memberi ucapan salam ketika datang ke rumah entah setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Sekali lagi, ada mereka yang tak bisa pulang dalam waktu yang mudah ditentukan. Bisa jadi baru bisa pulang 6 bulan kemudian, 1 tahun lagi, 2 tahun? Atau malah tidak ada yang tahu.
Teknologi yang canggih pun rasanya tak mampu melipur lara akibat rindu. Meski mereka melihat wajah ayah dan ibu di layar ponsel, kadang terpikir, "kapan aku pulang ya?" Berkhayal mencium pipi dan mengelus tangan yang semakin keriput dan ringkih itu. Berharap ketika mereka menyelesaikan perjuangan, sosok idaman yang memberi naungan sejak kecil itu berada di depan mereka.
--
Rindu itu menyulitkan. Rindu itu menyesakkan. Rindu itu membuat air mata kita jatuh di tiap malam. Namun, kawan, ingatkah engkau? Akan janji Tuhan yang tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya?
Kawan, jika memang rindu itu membuat kita merasa berat, maka mungkin kerinduan itu adalah salah satu ujian. Mungkin kerinduan itu adalah salah satu cara Allah untuk menunjukkan bagaimana membuat kita bisa menyampaikan kasih sayang kita terhadap orang tua dengan lebih indah dengan jarak yang jauh.
Sampaikanlah cintamu, kasih sayangmu, harapanmu lewat manapun. Namun, tentu kita ingat yang utama, bagaimana skenario kita sampai di titik perjuangan kita ini. Titipkan semua itu ke sutradara utama kisah-kisah ini, melalui sujud yang bahkan kita usahakan dengan keras. Melalui doa-doa yang kita alirkan tiap malam, pagi, siang, dan sore. Hadirkanlah cinta dan cita itu di tiap titik peluh di kursi kuliah kita, di lelahnya mata kita pada baris-baris kata pada tumpukan artikel itu, dan di kilatan-kilatan tiap titik di layar komputer itu. Kuatkan hati, sampaikan rindu, titipkan cinta.

Salam,
Dari saya yang juga sedang berjuang bersama kerinduan.

Selasa, 14 Mei 2013

YES Summit 2013: Beyond Expectation

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ada yang kangen tulisan perjalanan?
Boleh nih saya perbarui satu :D
Alhamdulillah telah terlaksana satu dari sekian acara keren yang begitu menghebohkan diri di minggu-minggu ini, mulai dari Young Leaders for Indonesia Forum 1 (ntar deh cerita yang ini), Majelis Akbar JMMI XXIII, Parade KMI 2013, dan yang paling akhir nih YES Summit 2013. Kali ini, saya hendak sedikit bercerita mengenai YES Summit 2013.


YES Summit 2013 adalah acara perkumpulan para insinyur dan ilmuwan muda yang sedang mengenyam pendidikan perguruan tinggi yang pertama kali diadakan di Indonesia. YES Summit yang pertama kali ini diadakan di ITS, sekaligus sebagai tuan rumah. YES Summit di sini mengangkat tiga topik utama sebagai pembahasan yang terbagi dalam tiga cluster: Energi, Urban Living and Environment, dan IT dan Digital Services. Saya masuk yang mana? Alhamdulillah termasuk IT. Hehe (apa lagi coba?) Ada sih beberapa yang nyeleneh... Anak Siskal masuk di IT (si Sanjaya tuh :P), anak Industri masuk IT (Faiz, ya... menyerempet2 kok), yang paling unik adalah yang dijalani adik kelas saya pas SMP malah nyelonong masuk acara ini padahal anak FKG (no problem sih, ya Sabila ya... Pokoknya kacamata kudanya dilepas).

Overall pelaksanaan dan konsep acaranya... OK-able, ada sedikit kekecewaan, tapi ya masa cerita kecewa di sini. Kan ruang publik dong ya.

 Menginapnya di Kompleks Asrama Haji Sukolilo, yang udah OK menurut saya. Di kamar tersebut saya dimasukkan bersama teman-teman Cluster IT yang lain, ada Mas Rofik, Mas Veo, Juang, Furqon, Ilham, sama Wiwid di kamar 214. Orang-orangnya luar biasa..... (Luar biasa gila). Di kamar isinya ngakak doang pas menghina dina Juang (hehe, sorry ya Juang). Apalagi pas ketambahan Pak LO Irzan, yang mungkin kesan LO di mata peserta lain kurang aktif dan bagaimana... Si Irzan ini malah ketularan gilanya kita. Maafkan kami, nak, di usiamu yang belia ini kami harus meracuni dirimu.

Somehow, first impression-nya keren. Pembicara pertama... Stand up comedy nya... AWESOME! Padahal membahas peran pemuda. Tapi makjleb banget juga. Lampion-lampionnya juga bagus :D

Mengenai materi dan lain-lain, kurang lebih sangat baik, walaupun ada yang sukses membius kami agar menundukkan kepala sejenak... untuk tidur.

Di sini, juga ada Focused Group Discussion dari paper yang sudah peserta kumpulkan. Outputnya adalah suatu rancangan karya yang nanti akan bisa diimplementasikan di kesempatan berikutnya. Saya dikelompokkan sama Juang, Ilham, dan Leo. Kelompok dengan anggota yang paling sedikit namun hebatnya selesai paling cepat. Komposisi 3 lelaki dan 1 perempuan, dari 3 universitas yang berbeda , Alhamdulillah tidak memberikan banyak friksi. Yang paling tegang adalah pas nunggu presentasi FGD, saya sama Leo sudah horor duluan, karena dosen pengujinya adalah dosen yang sukses membuat teman saya menangis pas presentasi PKM. Dan pas menguji presentasi di depan, sukses satu ruangan teater PENS mendadak tegang. Dan untungnya, pas FGD kami presentasi... Bapaknya memiliki kesibukan lain dan harus pergi. lalala yeyeye

Rasa kekeluargaan sih... Rada yaaa... gitu deh . Tapi alhamdulillah, temen baru tetep ada. Ini sih yang saya cari di acara-acara seperti ini. Kadang kita hanya bisa melihat semuanya dari satu sisi, tapi ada sisi lain yang bisa diberikan oleh orang-orang di sekitar kita. Terkadang bergerak sendiri pun masih butuh perjuangan begitu banyak untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik, terlebih lagi terlalu banyak orang yang bergerak sendiri, saling silang pendapat pun akan muncul begitu hebat, hal ini baik. Namun, bergerak bersama mampu memfokuskan usaha kita, yang bergerak, memasifkan ide, memaksimalkan cinta, dan meminimalisasi ketidakikhlasan. Dan mungkin beberapa hal lain yang belum bisa tersebut.

Sebagai pembuka Mei ini (kasep Mas!), acara ini adalah salah satu ajang refreshment buat kita semua untuk menuju masa depan yang lebih baik, dengan optimalisasi teknologi dan sains.
Hal yang memiliki fungsi berguna sekali, namun jika digunakan oleh tangan yang jahat, adalah omong kosong, tidak akan ada yang berubah malah lebih parah. Sama halnya dengan teknologi dan sains. Kami akan menjadi generasi terbaik dari pelopor teknologi dan sains, yang akan mengarahkan kemajuan bangsa ini menuju kebaikan, dan menjauhkan pemanfaatan teknologi dan sains ini dari tangan-tangan tak tahu aturan itu.  

-YES Summit Generasi 1, pembawa kebaikan dalam gerakan ilmuwan dan insinyur muda Indonesia-

Wassalamu'alaykum wr.wb.

Kamis, 17 Januari 2013

Cerita Coretan: Telepon

-->
Telepon

“Kring... Kring...” Begitulah diriku memanggil tuanku. Tandanya, ada yang sedang ingin bertukar informasi dengannya. Segala hal yang mereka keluarkan kadang begitu asyik, dan kadang begitu garing adanya. Namun, semua hal itu memang tugasku. Meneruskan informasi dalam bentuk sinyal dan suara adanya.

Tapi, dalam hari-hariku duduk di atas meja semakin sepi saja.
Dulu sih, semua masih nyaman duduk berlama-lama menempelkan gagangku di telinganya. Malah ada yang bersila, berjalan mondar-mandir, bergulung-gulung atau apa pun lah istilahnya kata para tuanku. Katanya aku sering dipakai pacaran lah, dipakai mesra apalah. Selain itu, dulu aku juga malah kayaknya sempat pakai baju lucu-lucu, ada bonekanya, ada motifnya, eh malah cerita dandanan kan? Oh ya, pernah juga sempat dengar berita, ada telepon yang bertetangga sama teman-teman telepon lain, tapi hanya dibatasi bilik-bilik kaca begitu. Lucu kan? (Maaf, aku mendadak narsis).


Sekarang? Aku sudah ada adik yang bisa dibawa ke mana-mana. Teman-teman tuan cenderung lebih nyaman menggunakan itu. Awalnya sih saya tidak begitu khawatir, adik bisa melakukan SMS (mengirim informasi dengan teks, kalau tidak salah) dengan layarnya. Namun, para penemu semakin bersemangat memberikan semua hal yang bisa diberikan ke adikku ini. Mulai dari internet (aku juga bisa lho dipakai internet), layar berwarna, mengirim gambar (ehm, oke mulai nggak tahu), kamera (wow), internet dengan kecepatan super (minggir nih), dua nomor (jleb), permainan canggih, hingga sistem operasi (seperti saudara jauh Pak komputer saja ya). Dan aku semakin takut tergeser oleh peradaban.


Yah, paling tidak aku masih punya teman lain yang senasib, kelompok si komunitas surat, keluarga perangko, dan kumpulan amplop. Nasibnya sekarang juga tak kalah mengenaskan daripada aku. Namun, aku percaya, kita masih dibutuhkan di beberapa bagian, meskipun penggunaannya tidak sepanas si adikku telepon genggam itu. Yang aku tahu pasti, tiap hal yang pernah ada punya peran dan fungsi masing-masing, walau suatu saat mungkin terganti atau tidak. Paling tidak aku tahu pernah bermanfaat bagi para tuanku yang pernah memilikiku.



Lalu, selagi pertukaran kata dari tuanku di seberang sana berlangsung. Aku mendengar sayup-sayup temanku yang lain. Teman? Iya, maksudku alat komunikasi. Oh itu, iya si speaker, lazimnya sih namanya pengeras suara. Tapi, tuanku sering menyebutnya speaker, dalam bahasa Inggris. Anggap saja nama gaul zaman sekarang.
Dia saja sedang bersuara begitu bersemangatnya, entah diboncengi menangis. Sempat aku dengar kabar mengenai speaker itu dari teman-teman telepon lain yang pernah tersambung denganku. Dia tinggalnya di sudut-sudut strategis kubah atau gedung, melantangkan nyaringnya untuk tuan-tuannya. Iya, tuannya banyak, tidak seperti aku. Atau sanak familiku, dari generasi kakek pager sampai adik telepon genggam yang memanggil cukup satu tuan.
Dan hal yang mungkin tak sama dengan kami, yaitu nasib si speaker . Meski sama-sama dalam keluarga alat komunikasi. Tugasnya berat sekali, mungkin seringkali dianggap gagal. Kalau tugas sanak familiku, dari kakek pager, sampai adik telepon genggam, tugasnya ya cuma memanggil satu tuan dalam satu waktu. Nah, dia? Lima kali sehari, memanggil banyak orang, sampai sekomplek gedung kalau tidak salah aku pernah dapat kabar. Yang langsung menghampiri, ya mungkin segelintir, tidak seperti tuanku yang langsung secepat kilat menyambarku. Berhasil nggak sih? Ya, pokoknya saya merasa kasihan dengan speaker. Sepiku yang saya rasakan mungkin tidak sama dengan sepinya.
Eh, rasa-rasanya sebentar lagi tuanku hendak menghentikan percakapannya. Sepertinya mendengar koar-koar si speaker deh. Katanya, “mau menjawab panggilan mulia”. Ya sudah, aku bisa lega sedikit, paling tidak tuanku menghampiri si speaker. Sejenak sebelum gagangku diletakkan oleh tuanku, “Hayya ‘ala shalaaah”, itu kata-kata terakhir yang kudengar dari speaker, sebelum gagangku diletakkan kembali.
Baiklah, seharusnya sedikit syukur dariku aku beruntung memiliki tuan yang selalu menjawabku. Namun, selalu ada sedikit harapan untuk speaker yang hidupnya tidak semudah aku, membuatku berada di antara sedih namun bangga. Tetap semangat speaker!

 Semoga bermanfaat

Rabu, 30 Juni 2010

Keluarga Cemara, Sekarang di Manakah Sinetron Sarat Makna itu?

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Tulisan ini inspired by tulisan dari newsbenagung tentang... http://newbensagung.wordpress.com/2008/03/05/kurindu-keluarga-cemara/ (maaf ya... mungkin agak tidak sopan) dan thread di Indowebster.web.id http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=57703


Tontonan saya  zaman putih merah (SD maksudnya) tiap setengah 2 (atau setengah satu ya..? pokoknya setelah buletin siang) di RCTI. Sinetron (iya, sinetron) yang memiliki banyak makna tentang pelajaran kehidupan. Kehidupan tentang sebuah keluarga sederhana yang berjuang melawan kerasnya hidup zaman sekarang. Para tokohnya yang sangat sederhana ditampilkan apa adanya dalam tayangan yang kurang lebih berdurasi satu (1) jam dengan iklan.

Sang ayah, atau dipanggil Abah, adalah seorang tukang becak, sebelumnya beliau berprofesi sebagai pengusaha, tapi kemudian beliau ditipu dan akhirnya jatuh miskin. Emak, istri Abah, yang selalu sabar dan setia menemani suaminya. Euis, kakak tertua para putri pasangan Emak dan Abah. Meskipun Euis pernah mencicipi kenikmatan yang pernah Abah dapatkan ketika Abah masih menjadi pengusaha, tapi setelah jatuh miskin, perilaku Euis tidak menjadi serakah dan tidak mau menerima apa yang terjadi. Bahkan, Euis mengikhlaskan semua yang terjadi dan Euis mau membantu berjualan opak sepulang sekolah agar asap dapur di rumahnya tetap mengepul. Lalu, anak kedua, yaitu Cemara, yang biasa dipanggil Ara. Ara sangat mengerti keadaan keluarganya walaupun dia masih duduk di bangku sekolah dasar, Ara sering membantu kakaknya untuk berjualan opak. Pernah suatu kali, Ara terpaksa memotong rambutnya agar dia mampu mengikuti lomba tari yang sebenarnya dikhususkan untuk anak laki-laki agar dia bisa membantu keluarganya. Lalu, anggota terakhir dari keluarga ini adalah Agil. Putri paling kecil dari keluarga ini adalah seorang yang polos dan masih kecil, terkadang dia merasa iri (atau apa ya, lupa bahasanya) dengan orang-orang kaya di sekitarnya yang menyombongkan kekayaannya. Namun, pada akhirnya Agil mampu mengerti keadaan keluarganya yang sederhana sekali tersebut.


Sekelumit paparan saya tentang cerita di atas paling tidak membuka sesuatu yang berlawanan (SEKALI) dengan tayangan-tayangan sinetron masa kini (yang sangat tipikal dengan: 1.cinta 2.glamornya orang kaya 3.yang jahat makin licik, yang baik makin tertindas 4.dan lain sebagainya). Sinetron ini menonjolkan keagungan kasih sayang dan  ikatan sebagai keluarga, yaitu perasaan saling membantu dan kompak antara kakak dan adik, saling pengertian terhadap anggota keluarga, hubungan suami istri yang tulus dan harmonis, serta perasaan berbakti kepada orang tua (bukan saling menjatuhkan antarsaudara, memperebutkan harta warisan, cekcok sana sini, hubungan tidak sehat antara suami dan istri serta yang paling parah kedurhakaan anak terhadap orang tua) yang sangat jelas digambarkan pada theme song-nya. Dan terlebih lagi kesukaan dan keikhlasan dalam menjalani hidup yang berat walaupun dirundung masalah ekonomi yang tak habis-habisnya juga menjadi poin penting utamanya sinetron ini.

Dan sungguh terlalu banyak jika diumbar satu per satu di blog saya...

Seharusnya, menurut saya, esensi dari tayangan televisi (khususnya sinetron) adalah edukasi dan pencerminan budaya bangsa sendiri (budaya bangsa yang dibicarakan bukan termasuk korupsi, kolusi, nepotisme dan sebagainya karena itu BUKAN budaya kita yang sesuai Pancasila). Dan Keluarga Cemara termasuk salah satu sinetron yang saya rekomendasikan untuk tontonan zaman sekarang KALAUPUN masih ada dan ada stasiun televisi yang mau menayangkan ...

Mungkin cukuplah sekian cuap-cuap protes dan rindu saya...

Mohon maaf jika ada salah kata dan ketik...

Sekian.. Semoga bermanfaat..

Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Senin, 14 Juni 2010

Seandainya...Besok Sudah Tidak Terdengar Adzan

Assalamu 'Alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah... Sudah tulisan ke-4 (setelah berminggu-minggu hengkang dan terlunta-lunta)...

Mungkin banyak atau sebagian atau sedikit dari kita umat muslim, yang menyadari panggilan lima kali sehari untuk bertandang menghadap Allah SWT secara rohaniah ini untuk mencanangkan tiang agama ini. Ya, itulah Adzan...

Mungkin banyak dari kita sendiri yang tidak beruntung untuk bisa mendengar adzan Subuh dalam terbukanya mata di pagi hari. Dan alhamdulillah masih bisa melaksanakan salat Subuh. Lalu, melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Tapi, seandainya adzan tidak pernah bisa terdengar lagi atau tidak pernah bisa didengar lagi di dunia -Astaghfirullah, Naudzubillahi min dzalik-. Apa yang akan kita lakukan?

Entah mengapa, terbersit hal ini dalam pikiran saya pukul dua pagi (terbangun dan tidur lagi). Mungkin saya hanya bisa menangisi telinga saya (kesimpulan satu: karena mungkin telinga saya yang bermasalah), berdoa dan pasrah (kesimpulan dua: karena mungkin ajal sudah menjemput), atau tidak tahu harus berbuat apa (kesimpulan tiga: karena suatu alasan, satu hal yang bernama "adzan" sudah terhapus dari dunia ini -naudzubillah-)

Dari tiga kesimpulan di atas, karena dua kesimpulan yang awal sepertinya saya tidak tahu harus mulai dari mana untuk dibahas, saya memutuskan untuk beropini di kesimpulan ketiga.

Hmm... Mungkin suatu hal yang aneh jika terpikirkan. Tidak ada adzan. Apakah mungkin, jika tidak ada salat lagi? Tidak ada bacaan Al-Quran? Atau bahkan, Islam lenyap dari jejak kehidupan? -Alhamdulillah jika jawabannya semua itu tidak mungkin terjadi-

Hanya saja, jika terjadi. Apa yang akan kita lakukan? Jika seakan-akan ingatan tentang Islam lenyap seketika dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saya mungkin akan melakukan ingatan kilas balik menuju pengetahuan tentang waktu ketika para Rasul menyebarkan ajaran tauhid. Betapa kerasnya perjuangan beliau-beliau untuk memperjuangkan agama Allah dengan bukti-bukti yang nyata. Walaupun berkali-kali ditolak dan dimusuhi, Beliau-beliau tidak pernah menyerah. Beliau-beliau mengumandangkan dakwah untuk menganut ajaran tauhid. Namun, tidak digubris bahkan terseret dalam kondisi sampai nyawa hampir melayang.

Apakah saya mampu membangkitkan Islam kembali? Melakukan dakwah saja saya masih berusaha dengan kemampuan saya yang terbatas dan itupun belum mencapai kata maksimal.Entah mengapa, seperti mengobarkan asa dalam selimut keputusasaan yang tebalnya tiada terukur. Tapi, usaha tersebut adalah suatu keharusan jika hal itu memang terjadi ataupun dalam keadaan seperti ini.

Saya sadar betapa mulianya panggilan salat tersebut. Terlebih lagi agama Islam itu sendiri. Andaikan besok sudah tidak terdengar adzan (saya akan memeriksakan diri ke dokter THT ~maaf, sedikit sisipan tidak penting), saya ingin membangkitkan adzan itu kembali.

Mungkin sekelumit kobaran semangat dan asa yang terketik oleh jemari saya hanya akan memenuhi sepersekian juta dari jagad maya ini. Namun, terima kasih bagi siapapun yang membaca, dan saya mohon kritik, saran dan komentar. Maaf apabila terjadi salah pengertian, salah kata, salah ketik, dan kekacauan tulisan saya.

Syukron. Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

Rabu, 19 Mei 2010

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-102

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Tidak terasa sudah 102 tahun lalu, Pergerakan Nasional Indonesia mulai dirintis sedikit demi sedikit dengan berdirinya organisasi sosial budaya pertama Boedi Oetomo. Di tengah bergolaknya penderitaan dan tangis mendera akibat penjajahan Belanda yang tercatat dalam waktu tiga setengah abad, suara para kaum cendekia mulai berhingar-bingar walaupun di dalam kalangan bangsa Indonesia yang sembunyi-sembunyi merancang rencana kemerdekaan yang akan terlaksana 37 tahun setelahnya tanpa diketahui.

Semangat yang disulut oleh DR. Soetomo dan kawan-kawan pun patut kita contoh demi masa depan sehingga perjuangan mereka tidak sia-sia. Pada awalnya mereka mungkin berharap agar Indonesia lepas dari belenggu imperialisme dan kolonialisme. Dan terhitung 17 Agustus 1945, Indonesia sudah lepas dari belenggu tersebut. Namun, apakah sebenarnya benar-benar sudah? Dan lagi, api semangat yang disulut oleh kaum cendekia pada masa 102 tahun lalu tidak akan direncanakan padam setelah 102 tahun menyala. Karena mereka sadar akan jalan yang masih sangat panjang yang akan ditempuh Bangsa Indonesia lebih dari 37 tahun ke depan lagi.

Adakah berbagai cara memanfaatkan semangat yang belum mati itu?

Tidak usahlah terlalu jauh kita memikirkan pemerintah, tidak usahlah terlalu jauh memikirkan petinggi-petinggi nan jauh di sana... Berpikirlah tentang apa yang akan kita lakukan sendiri... Demi bangsa kita... Prestasi...Pengabdian dan lain sebagainya..

Mungkin kita sering bertanya "Apa yang pernah negara lakukan kepada kita?" Namun, itu sudah basi dan tidak relevan dengan keadaan negara... tapi pertanyakanlah "Apa yang pernah kita lakukan kepada negara?"

Mungkin itulah sekelumit tulisan dari ketika tuts-tuts papan ketik saya...semoga bermanfaat...

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-102....

Salam Merah Putih Jaya!

Wassalamu alaikum Wr.Wb

Senin, 03 Mei 2010

Andaikan Sekolah seperti Piknik...

Assalamu alaikum Wr.Wb..

Mungkin sudah santer di
telinga sebagian orang kalimat-kalimat "Gedung sekolah roboh", "Beberapa ruang kelas bocor dan sekolah kebanjiran, siswa terpaksa diliburkan", dan lain-lain. Berita-berita tersebut agaknya menggelitik hati saya dengan menuliskan posting ini.

Kondisi sekolah dan lembaga pendidikan yang memprihatinkan tersebut tentunya melemahkan semangat para pejuang Tut Wuri Handayani era kini, baik guru, maupun murid. Haruskah perjalanan panjang bangsa Indonesia terus-menerus tersandung kerikil-kerikil seperti ini?

Memang bidang pendidikan adalah suatu perjuangan keras bangsa Indonesia di tengah-tengah polemik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya. Namun, tidak menutup kemungkinan pula pendidikan Indonesia bisa dan mungkin menjadi nomor satu di kancah persaingan internasional (setelah perjuangan dan perjalanan panjang tersebut tentunya).

Kembali ke fasilitas berupa gedung sekolah. Begitu banyak masalah yang tersebar dalam perawatan gedung sekolah dan perawatan tersebut tidak akan selesai dalam waktu singkat dan otomatis akan mengganggu proses belajar mengajar. Lalu, tiba-tiba terpikir sebuah ide di benak saya, mengapa sekolah harus di sebuah gedung?

Tapi, saya juga merasa prihatin juga terhadap murid-murid SD dan TK (bayangkan, teman! SD dan TK) harus bergantian menerima pendidikan mereka di sebuah lumbung padi. Sungguh sebuah kenyataan yang menyakitkan hati, bukan? Dan tentu saja bukan ini solusi yang saya pikirkan untuk menggantikan suatu bentuk "fisik" sebuah gedung.

Lalu, apa? Setelah saya menggali benak lebih dalam lagi dan melihat inovasi-inovasi yang pemerintah telurkan. Terpikirlah sekolah keliling. Ketika sudah ada perpustakaan keliling, SIM keliling, dan keliling-keliling lainnya. Mengapa sekolah tidak bisa? Paling tidak sebuah kelas keliling. Terlebih lagi, banyak murid penderita "susah sekolah" termasuk dalam golongan tidak mampu. Menurut pemikiran saya, bukan hal mustahil sekolah diadakan seperti piknik.

Pertama-tama menjemput para murid di rumah masing-masing, atau mengumpulkan para murid di satu tempat yang lebih mudah dijangkau murid. Dalam alat transportasi "sekolah keliling" sudah tersedia lemari (seperti loker) untuk menyimpan buku-buku dan alat tulis yang dibutuhkan para murid. Kemudian, para murid dibawa ke suatu tempat alami yang menurut sang guru cocok dan nyaman untuk belajar mengajar pada mata pelajaran hari tersebut. Setelah itu, sang guru bisa menggelar tikar atau karpet untuk alas duduk para murid dan menyiapkan papan tulis yang bisa dibawa ke mana-mana bila perlu. Disambung siang hari untuk makan siang dengan bekal sendiri-sendiri atau saling berbagi satu sama lain (tukar bekal) atau mungkin pihak sekolah menyediakan konsumsi. Dengan begitu, suasana kelas dan belajar mengajar akan semakin mengasyikkan dan seru.

Mungkin sedikit banyak ide ini akan menguras lebih banyak biaya operasional pendidikan (asalkan korupsi dan potong uang sana sini tidak ikut-ikutan ambil bagian). Namun, jika demi kebaikan dan kemajuan pendidikan Indonesia, siapa tahu layak dicoba.

Mohon kritik dan saran yang membangun. Terima kasih sudah membaca....

Wassalamu alaikum Wr.Wb.