Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2013

Bercerita tentang Takut



Dunia tercipta dengan warna
Warna itu cipta ceria dan senyum
Dentum hati tak terkira
Warna kelabu pun ada
Curah hati tanpa tawa dan kata

Riuh rendah kala hati bicara
Kadang kala sentilan berkunjung
Rasa yang melahap semua
Meringkuk dalam pejam mata
Tanpa cahaya
Ceria dan senyum tersebut
Lenyap

Kala takut berkunjung
Diam hati ini munculkan riang semu
Usaha tularkan senyum
Apa daya ikatan yang kuat takkan dusta

Adakah takut yang melahirkan senyum?
Tersentuh seiring lamanya si hati tak bersua
Selain takut yang ditiupkan
Yang terus dan bertumbuh
Cintalah adanya
Melahirkan senyum abadi
Namun takut yang tak berakhir jua
Dari Zat yang Maha Abadi

Kemuliaan rasa
Takut yang indah
Bukan gelap yang terjadi
Sinar teranglah yang tersiar
Menuju lurus
Teriring takut itu
Takut penuh cinta.

Kamis, 29 November 2012

Karena Amanah tidak Akan Salah Memilih Tuannya

Bismillah.... Assalamu'alaykum wr.wb.


Sudah lama tidak berblogging ria nih... Tergoda ngeblog lagi gara-gara seorang teman membuka halaman dasbor Blognya di komputer laboratorium. Selama berbulan-bulan itu berlalu (bulan-bulan nggak ngeblog maksudnya), banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di hidup ini. Lika-liku yang menghebohkan dan kadang-kadang bikin galau sampai memojokkan di sudut tempat tidur kamar saya.

Bayangkan saja, dalam keadaan yang masih baru syok-syok aja jadi Ketua Umumnya KMI (pos sebelumnya), saya masih harus menerima kenyataan hidup (halah alay banget saya di sini, ketularan seseorang) kalau jalan masih panjang berliku namun singkat sekejap mata. Panjang berliku karena terkadang saya merasa satu detik tersebut adalah masa paling berat, dan sekejap mata karena setelah itu berakhir... "Oh, begitu aja?".
nyoh pelakune virus alay: link blog: http://ika-astutik.blogspot.com/


Lalu, terjadi hal-hal berikutnya:
Mulai kuliah yang inspiratif sekali pake banget, sampai amanah yang memang luar biasa dengan lingkungan yang menakjubkan dan lebih berwarna daripada hari-hari biasanya di kampus. Namun, beberapa hal tersebut tidak berkesan ketika saya mengalami  jatuhnya perasaan saya (baca: galau). Kadang-kadang saat itu saya berpikir flashback, ketika masuk di Teknik Informatika di semester 1 sampai sekarang... Apa saja sih yang membuat saya bertahan? Teman-teman, keluarga, lingkungan, uang? Enggak juga sih (maaf yaaa... tapi kadang-kadang saya mikir begitu). Tapi saya berpikir, ketika itu saya nggak ngurus apa aja yang ada di sekitar saya pokoknya saya lakukan apa yang terbaik. Semacam saya diberi tantangan apa saja sama Yang Maha Kuasa, tapi saya mencoba menjalankan apa yang bisa saya lakukan dan Alhamdulillah saya berhasil menjalani itu dengan sukses. Bisa dibilang apapun takdir yang saya jalani, saya mencoba melaluinya dengan sebenarnya hati penuh tanya dan menerka... apakah yang ada sebenarnya di balik ini. Jika saya sukses menjalaninya (sesuai parameter saya sendiri sih), semacam sedikit demi sedikit takdir di balik semua tantangan itu tersingkap dan reaksi saya: "Oh ya yaaa.... Ternyata saya bisa melakukan hal ini, ternyata maksud dari cobaan-Mu itu seperti ini Ya Rabb." Karena takdir Allah itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sedikit kisah lagi ya...
Kebahagiaan itu akan muncul di sekitar kehidupan kita walaupun hanya sekelumit saja, bahkan di balik sepucuk kerikil sekalipun. Tergantung bagaimana kita memahami makna kebahagiaan itu sendiri. Selama kita masih merasa fine dan happy dengan kenyataan yang ada sih ya yo ya yo wae. Malah kalau kita merasa sedih dan menyesali semua yang terjadi dan berpikir semua hal buruk akan terjadi setelah ini. Semua hal buruk yang kita bayangkan akan terjadi tersebut bisa jadi terjadi.

Karena semua prasangka yang bisa kita lakukan itu mengenai takdir kita, yang merupakan kehendak Allah. Dan ketika bersuuzon kepada Allah.... yaaa... monggo disimpulkan sendiri. Masak mengingkari takdir Tuhan kita sendiri, ya gak?

Dan semua hal harus disyukuri, meskipun hal tersebut di depan mata kita tidak sebaik yang dirasakan. Namun, harus disadari, sebagai hamba yang selalu mengingat-Nya, takdir Allah selalu yang terbaik.  Tidak pakai cacat sedikit pun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan masih panjang
Lika-liku hidup dan usaha kita harus senada
Sepiring kenyataan sebagai suguhan utama
Adalah manfaat yang dicerna oleh prasangka baik
Sebongkah amanah sebagai jalan menuju ridho-Nya
Adalah hal yang tak mudah selagi hal yang disyukuri

Sepatah kita keluh kesah
Adalah janji bagi kita untuk tak mengulanginya
Sebutir titik air mata
Adalah bukan alasan untuk tak melaju lagi

Pernah ku cerita kepada kawan
Apakah aku pantas menjadi aku yang sekarang
Bukan berupa cinta dan harapan
Bukan hak dan tanggung jawab
Bukan ilmu nian bisa kumodalkan
Bukan sikap dan amal yang alangkah indah yang bisa kupersembahkan
Namun, ada sepenggal katanya
"Seandainya kamu tidak menjadi kamu yang sekarang, bagaimana aku?
Sebuah amanah tidak akan salah memilih tuannya" 

Lalu, ku terkesiap
Kalau bukan aku yang harus menjadi aku yang sekarang
Mana mungkin ada aku lainnya yang harus datang lagi
Berarti aku harus menghilang?
Tidak
Karena di sini aku adalah aku
------------------------------------------------------------------
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Monggo komen yaa... matur nuwun
 

Selasa, 29 Mei 2012

Jika Tidak Bisa Aku Kaffah, Apakah Aku Mengikuti Langkah Setan?

Bismillah...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya, sekali lagi, dan lagi-lagi ingin menulis di blog ini. Mungkin saya galau, selalu kacau. Menghadapi semua deadline yang ada ini. Sedikit cerita boleh lah ya?

Pernah pas sekali saya masuk ke jurusan ini, saya tidak berpikiran untuk masuk LDJ (Lembaga Dakwah Jurusan). Namun, menginjak perjalanan dari hari ke hari dalam lingkungan jurusan. Saya pun tertarik, sedemikian pula takut. Takut akan semua isu yang beredar tentang lembaga dakwah kampus. Takut akan sulitnya izin dari orang tua saya dan sebagainya.

Tapi, hati saya tergelitik. Tulisan di baris KTP "Agama" saya adalah Islam. Apakah memang saya sudah menjadi manusia beragama "Islam" yang sepenuhnya? Apakah bukan suatu kebohongan dan kejatuhan harga diri yang besar jika tulisan itu menjadi suatu kemunafikan belaka. Berkaca kepada diri sendiri. Dan menggali semua yang saya dapat dari ilmu agama dan mentoring.

Kesimpulan: jika saya mengakui diri saya Islam, saya harus menegakkan syariat Islam di mana pun saya berada. Paling tidak saya bisa melakukannya untuk diri sendiri.

Namun, ketika itu pula saya galau (kembali). Berdasarkan temuan-temuan saya, ketika kita salat, kita akan merasakan suatu kesejukan, melakukan penghambaan yang maksimal kepada Sang Pencipta kita. Kemudian saya merasa hampa, apakah salat saya sudah benar? Menilik kembali jauh. Apakah syahadat yang saya ucapkan sudah benar?

Dari semua itu timbul kegalauan (lagi). Ragu. Mungkin.

Apakah sudah keseluruhankah hati saya untuk Islam?


Kembali, saya takut, berdasarkan Surah Al Baqarah 208 : "Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara Kaffah dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithon. Sesungghuhnya syaithon itu mush yang nyat bagimu."

Jika tidak bisa aku kaffah, apakah aku mengikuti langkah setan?

*oke curhatan ini  mungkin membebani teman-teman pembaca sekalian, namun saya memang galau*

Sekian terima kasih. Wassalamu'alaikum wr.wb.