Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

SAKURA EXCHANGE - DAY 0 (Departure)

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Berhubung saya sedang waktu luang di negeri seberang (enggak sih. Sebenarnya buru-buru mau berangkat), ada internet yang cepat, dan permintaan dari teman-teman yang tercinta, saya menulis pengalaman di negeri Sakura ini cepat-cepat dan menunda tumpukan cerita di blog ini selama setahun (IYA, setahun).

Logonya SAKURA EXCHANGE
Sejarahnya, di tengah-tengah hingar bingar les Bahasa Perancis yang menyita waktu 20 jam sepekan, tugas kuliah yang Subhanallah nggarai gulung-gulung nggak karuan, pengerjaan Tugas Akhir yang akhirnya berakhir, saya mengikuti seleksi SAKURA EXCHANGE ke Jepang. Alhasil, setelah seleksi berkas, tes tulis (yang saya isi dengan tidak masuk akal dan mimpi-mimpi yang tinggi nian berbunga-bunga), dan tes wawancara (yang agaknya saya terbata-bata), saya termasuk sebagai salah seorang dari sepuluh mahasiswa yang menerima kesempatan nekat ini. Bagi saya jelas nekat, tanggal pelaksanaan SAKURA EXCHANGE mengambil waktu sebulan sebelum rencana keberangkatan menimba ilmu di Perancis (ketika harus mengurus visa dan lain-lain), sedikit masa sebelum ekivalensi+perwalian, dan mengambil waktu hanya 4 hari pasca lebaran. Singkatnya, saya tetap nekat memutuskan berangkat dengan mempertimbangkan semua itu.

 Persiapan? Tentu perlu. Berjumpa dengan saudara-saudari teman yang bakalan "hilang bareng" di sana. Dimulai dari Tri Hadiah Muliawati a.k.a. Mbak Lely (kalau dipanggil di jurusan dengan nama Lely bakal susah nih), Dewie, Zendy, Elok, Mia, Leo, Anton, Rizqi, Vidi, dan utamanya, Ibu yang baik sekali, sekaligus Direktur International Office saat itu, Bu Maria. Well, sebenarnya agak-agak kaku ketika mau masuk ke lingkungan orang-orang yang notabene baru saya temui di International Office ITS, tapi saya berusaha mencitrakan diri sebagai orang pendiam (tapi ya memang pendiam, nggak percaya?). Dan alhamdulillah, masih utuh sampai sekarang.

Hari H keberangkatan, saya sukses membuat huru-hara di rumah. Mulai bagasi keberatan, sepatu baru dibelikan yang nggak dikenakan, oleh-oleh yang belinya mengantri sampai seperti mandi, dan dasi ketinggalan. Maka dari itu, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang mendukung suksesnya keberangkatan ini, terutama keluarga saya di rumah, Papa, Mama, Mbak Wita, Mas Lukman, Sasa, Bu Tri, Om Yek, Yayik, Om Andri, Nana, Kiki, Om Yan, Tante Andriani, dan pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan. Untuk urusan akademis, saya harus berterima kasih kepada Sigit, Ardian, Aziz, dan Gregorius, serta Bapak Ibu Dosen yang men-support saya dalam kesempatan ini: Bu Nanik, Bu Isye, Bu Anny, Pak Waskitho, Bu Chastine, dan Pak Hari.

Sampai di terminal 2, saya berputar-putar seperti orang hilang. Katanya sih berkumpul di counter Garuda Indonesia, tapi nggak ada ya. Eh lhadalah munculnya di dalam. Berlanjut check in, dkk dll dsb. Dan kejutan... tongsis milik Elok pun dirilis. Sepertinya sudah jelas sekuelnya, tidak usah berlanjut lebih lama. Singkat cerita, naik pesawat udah merasa WOW abis. penerbangan internasional standar luar negeri seperti ini. Bangku ada tipinya... Hehe. Maklum ndeso. Tak pelak penerbangan pagi itu ke Singapura diisi dengan makanan mewah dan menonton film yang baru beberapa waktu lalu disiarkan di bioskop atau film favorit. Setelah transit Singapura sekitar 1 jam, berpindah ke Taipei dengan pesawat yang sama (dikira renang?). Masih dengan tempat duduk yang sama. Dan nemu lagunya GReeeeN (yeay) adalah semacam penambah kenyamanan di pesawat. Perjalanan berjalan mulus hingga ke Taipei. Di Taipei, Bandaranya keren!.... (dan sepi, tapi bangunannya keren, Juanda mungkin tidak kelihatan sebagus itu). Tempat solat asar (+jamak takhir dhuhur)? Tidak disediakan. Alhasil, tantangan pertama adalah mengamankan tempat sepi di dekat toilet yang digunakan untuk solat. Dan Alhamdulillah everything works fine.

Penerbangan dari Taipei ke Fukuoka... Ganti pesawat yang versinya lebih lama daripada yang sebelumnya. Namun, nasib buruk menimpa saya. Headset bagian telinga kirinya bunyinya gemresek, memusingkan. Dan yah, saya terpaksa bergumul dengan bantalan kursi selama sekian jam (disela makan malam juga soalnya). Berita buruknya lagi, pesawatnya delay, jadi sampai Fukuoka tidak tepat waktu. Dan Prof. Usagawa (responsable kita di sini), menunggu dari jam 17 hingga jam 21-an. Sungkan banget rasanya. Ada pun kegilaan tidak berhenti sampai di sini. Selfie ditingkatkan ke level selanjutnya dengan mengajak Prof. Usagawa. Yah, maklum dong ya. :P

Next, ditemani beberapa rekan dari Indonesia yang sedang berkuliah di Fukuoka, menunggu bus express TERAKHIR yang beroperasi di jalur Fukuoka-Kumamoto. Kalau ada yang ketinggalan ya siap-siap hubungi orang untuk menginap di sana, kata Pak Prof. Usagawa (ngemper di bandara nggak boleh ya Prof?). Perjalanan dengan bus dimulai pukul 22.30 dan mendarat dengan muka-kangen-kasur pukul 24 sekian. Sampai di penginapan... mengisi berbagai formulir dan lain sebagainya. Akhirnya dapat kunci sekitar pukul 25.15 untuk kamar tunggal. (heran sih? mengapa 25? Saya juga heran. Ada toko buka pukul 9-26... artinya jam 9 pagi sampai 2 pagi).

Bertemu kamar, artinya kasur? (BENAR!) Saya sudah buru-buru menancapkan kunci ke lubang kunci. Dan... *putar ke kiri* (nggak bunyi klik) *putar ke kanan* (nggak bunyi klik). Sejenak hembusan nafas, (entah saya apakan saja pintu itu) dan berhasil dibuka dengan.... memutar kunci sekaligus mendorong daun pintu. Namun demikian, ke-kagok-an dengan teknologi tidak berhenti sampai di situ. Masuk kamar... kok gelap? *pencet-pencet saklar *pencet2 tombol yang kelihatannya sumber listrik. Kemudian, saya dan Mbak Lely... berbingung ria, disambut Elok dengan... *itu gini lho* menusukkan gantungan kunci hotel ke lubang yang sepertinya sumber listrik. Tidak mau berpikir mengenai benda-benda itu lebih lanjut (karena bertemu WC duduk yang tidak biasa), saya pun langsung bilas, wudhu, dan shalat jamak takhir magrib-isya (darurat) dilanjutkan tidur.

Alhamdulillah, perjalanan tersebut memberi pelajaran yang menakjubkan. Bertemu kawan-kawan baru, menikmati indahnya negeri matahari terbit, terkagum dengan sistem transportasi, dan kedisiplinan. Semoga nantinya bisa bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Jumat, 10 Januari 2014

Semangat Keilmiahan: Prestasi, Manfaat, Tanpa Batas, @BreakthroughITS

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah sampai detik ini masih bisa mengetikkan beberapa patah kata di blog ini. :)
Sementara final project, tugas akhir, dan tesis memanggil-manggil dengan riang gembira

 Jikalau suara ini tak sampai memberi cerita, maka biarlah kata-kata ini menyuarakannya. Kata-kata? Sedikit banyak tulisan ini akan berkaitan dengan "kata-kata", "ketikan", dan "suara". Terang saja, 30 Maret itu kami berlima belas dikumpulkan di satu ruangan, belajar bersama untuk menjadi Trainer. Tidak hanya sekedar Trainer, namun Trainer keilmiahan. Trainer Keilmiahan ini, bisa disebut para pembimbing, pengonsep, dan inspirator dalam penuangan ide kreatif menjadi karya ilmiah.
Pengertian Trainer Keilmiahan tersebut rasanya lebih cocok disematkan kepada 16 orang anggota Breakthrough lainnya, yang bukan saya

Tanggal 30 Maret 2013, tersebut berbagai nama yang sudah terseleksi dari tim 17 (Trainer Keilmiahan sebelumnya) sebagai peserta Training for Trainer 2013, yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Badan Eksekutif Mahasiswa (Ristek BEM) ITS 2012/2013 ~ Mahakarya. Nama-nama tersebut adalah:
  • Adhika Ilham Dhata Pratomo
  • Amalia Hasyyati 
  • Anggita Rara Kumala Wardani 
  • Bintang Wahyu Syah 
  • Fiona Rossi Ramadhani 
  • Hani Ramadhan
  • Hani Rosdahlia
  • Hanny Adiati 
  • Ika Permata Hati 
  • Ilham Azmy 
  • Iva Yenis Septiariva 
  • Juan Firmansyah 
  • Muhammad Fauzan Aristyo 
  • Muhyiddin Azmi 
  • Nuraini
  • Rendy Aries Fajrin 
  • Rizki Ramadhani Ferina
(Pas kan 17?)

 Banyak sekali yang kami dapatkan di Training for Trainer. Tapi, yang paling penting dibahas di sini adalah bagaimana peran kami sebagai Trainer Keilmiahan berjalan. Mulai dari membuat konsep besar kaderisasi keilmiahan di ITS, gerutu sana gerutu sini sampai keputusan pahit terjadi, marah-marah karena bikin materi yang bebannya numpuk di hari itu sampai meledak (emmm... nggak juga sih, ini sedikit dramatisasi) , sulut konflik di whatsapp, sampai.... lari-lari cari pemateri pengganti karena keadaan.

yah... Semoga semua pengalaman ini diberikan makna sebagai pengantar kebermanfaatan menuju jalan yang lurus. Seandainya kami tidak bertemu di jalan ini, mungkin masing-masing dari kami tidak menjadi orang-orang yang seperti sekarang (keren loh, ada Menteri BEM, ada wakil menterinya, ada anak FIM, ada ..... banyak). Maka dari itu, saya bersyukur, tali takdir kami dipertemukan dalam jalan (yang semoga) mulia ini.

Maju terus keilmiahan ITS! Semangat berprestasi dan kebermanfaatan akan selalu kami salurkan dengan berbagai aksi yang AWESOME!

Sorry, Va, Ham, Mal nggak ada kalian :)

Jangan lupa follow di Twitter @BreakhtroughITS :) .
Ohya, penentuan nama Breakthrough adalah karena kami merasa perlu untuk mendobrak mindset keilmiahan yang selama ini identik dengan menulis karya tulis ilmiah yang membosankan dan lain sebagainya. Padahal, sebenarnya asyik dan merupakan media yang efektif untuk menjalin dan menambah wawasan mengenai keilmuan, baik yang diminati maupun tidak. Dan juga tidak selalu berkaitan dengan karya tulis.

Sekiranya, itu saja dulu, semoga bermanfaat. Maaf pula jika ada salah kata.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 07 Januari 2014

Lengser dari KMI-ITS 2012-2013

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)

Dear All (entah mengapa sedang suka menggunakan kata-kata "Dear All")
Yah.. Saya tahu mungkin blog bukan sekedar buku harian yang bisa kita tulis apa pun di dalamnya. Tapi, di sini saya mencoba berbagi cerita ke dalam media ini.

Pernah membaca tulisan di tautan ini Bismillah KMI 2012-2013? Dan.. berakhirlah masa itu pada waktunya (yang semoga tepat). Terhitung 8 Juni 2013, saya sudah tak menjabat lagi dalam amanah tersebut dan digantikan oleh yang lebih baik... Akhi Angga Eka Prasetya, seorang dari kota tersemboyan, Jombang.

/*Maaf, untuk sementara tidak ada gambar karena entah  mungkin karena galat internet atau galat lainnya*/

Semoga dalam satu kepengurusan kemarin bisa membuahkan hasil yang terbaik, bagi semua generasi pembaharu Islam yang lebih baik. Meskipun mungkin saya punya banyak kesalahan dalam membawa organisasi ini dengan nama baru ini, saya berharap dan selalu yakin manfaat yang bisa ditebar oleh KMI ini berguna bagi sekitar.

Imam Ghazali menegaskan, "Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang."

Selamat dan sukses bagi siapapun yang pernah bersentuhan dengan KMI ITS.

Best regards to kawan-kawan seperjuangan:

Sekretaris Umum (yang selalu saya cereweti, afwan): Muhammad Riduwan
Kadep Kaderisasi (always awesome): Agus Nugroho
Kadep Syiar (entahlah ya... saya sering no comment): Muamar Agus Salim
Kadep Media (Jangan galau Min :3 ): Muhammad Aminudin Rahman
Kadep Humas (Best support): Fadlika Dita Nurjanto

Kadep Keputrian/Ketua Kemuslimahan: Awalia Harfiani
Bendahara: Fadhilah Kurnia Putri
Sekdep Kaderisasi: Nabilah
Sekdep Syiar: Luluk Eko Mawati
Sekdep Media: Hardika Khusnuliawati
Sekdep Humas: Ervina Handayani
Sekdep Keputrian: Mir'atul Mahmudah

And semua staf tercinta saya yang melanjutkan amanah dengan tagline GENERASI TAUHID:
Angga Eka Prasetya, Ishom Muhammad Drehem, Hashfi Alfian Ciyuda, Ahmad Hayyam Brilian, Ahmad Fauzi Al Wahid, Alrezza Pradanta Bagus Budiarsa, Muhammad Ibnu Fahmi, Sindunuraga Rikarno Putra, Askary Muhammad Rumhadi
Dan yang akhwat:
Firda Ainur Ramadhani, Anjar Mustika, Maria Carolina Novitasari, Nurul Wakhidatul Ummah.

Dan adik-adik yang meneruskan ladang dakwahnya di jalan lain...
Ardhiansyah Baskara (KaBEM FTIf), Helmy Satria Martha Putra (Kadep Medfo HMTC), Yoga Pratama Ali Arham (Kadep Pengpro HMTC)
Dini Putri Mandasari (Sekum HMTC), Aida Muflichah (Sekdep PSDM HMTC), Sarianti Pundi Abdyantary (Sekdep Pengpro HMTC), Nabilla Sabbaha Audria (GSA, Kadep Medfo BEM FTIf), Widyasari Ayu Wibowo (Bakor Pemandu FTIf)
Ada yang terlewat kah?
Semoga semua tetap istiqomah dan menjaga ibadah.

Sekian. Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Kamis, 29 November 2012

Karena Amanah tidak Akan Salah Memilih Tuannya

Bismillah.... Assalamu'alaykum wr.wb.


Sudah lama tidak berblogging ria nih... Tergoda ngeblog lagi gara-gara seorang teman membuka halaman dasbor Blognya di komputer laboratorium. Selama berbulan-bulan itu berlalu (bulan-bulan nggak ngeblog maksudnya), banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di hidup ini. Lika-liku yang menghebohkan dan kadang-kadang bikin galau sampai memojokkan di sudut tempat tidur kamar saya.

Bayangkan saja, dalam keadaan yang masih baru syok-syok aja jadi Ketua Umumnya KMI (pos sebelumnya), saya masih harus menerima kenyataan hidup (halah alay banget saya di sini, ketularan seseorang) kalau jalan masih panjang berliku namun singkat sekejap mata. Panjang berliku karena terkadang saya merasa satu detik tersebut adalah masa paling berat, dan sekejap mata karena setelah itu berakhir... "Oh, begitu aja?".
nyoh pelakune virus alay: link blog: http://ika-astutik.blogspot.com/


Lalu, terjadi hal-hal berikutnya:
Mulai kuliah yang inspiratif sekali pake banget, sampai amanah yang memang luar biasa dengan lingkungan yang menakjubkan dan lebih berwarna daripada hari-hari biasanya di kampus. Namun, beberapa hal tersebut tidak berkesan ketika saya mengalami  jatuhnya perasaan saya (baca: galau). Kadang-kadang saat itu saya berpikir flashback, ketika masuk di Teknik Informatika di semester 1 sampai sekarang... Apa saja sih yang membuat saya bertahan? Teman-teman, keluarga, lingkungan, uang? Enggak juga sih (maaf yaaa... tapi kadang-kadang saya mikir begitu). Tapi saya berpikir, ketika itu saya nggak ngurus apa aja yang ada di sekitar saya pokoknya saya lakukan apa yang terbaik. Semacam saya diberi tantangan apa saja sama Yang Maha Kuasa, tapi saya mencoba menjalankan apa yang bisa saya lakukan dan Alhamdulillah saya berhasil menjalani itu dengan sukses. Bisa dibilang apapun takdir yang saya jalani, saya mencoba melaluinya dengan sebenarnya hati penuh tanya dan menerka... apakah yang ada sebenarnya di balik ini. Jika saya sukses menjalaninya (sesuai parameter saya sendiri sih), semacam sedikit demi sedikit takdir di balik semua tantangan itu tersingkap dan reaksi saya: "Oh ya yaaa.... Ternyata saya bisa melakukan hal ini, ternyata maksud dari cobaan-Mu itu seperti ini Ya Rabb." Karena takdir Allah itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sedikit kisah lagi ya...
Kebahagiaan itu akan muncul di sekitar kehidupan kita walaupun hanya sekelumit saja, bahkan di balik sepucuk kerikil sekalipun. Tergantung bagaimana kita memahami makna kebahagiaan itu sendiri. Selama kita masih merasa fine dan happy dengan kenyataan yang ada sih ya yo ya yo wae. Malah kalau kita merasa sedih dan menyesali semua yang terjadi dan berpikir semua hal buruk akan terjadi setelah ini. Semua hal buruk yang kita bayangkan akan terjadi tersebut bisa jadi terjadi.

Karena semua prasangka yang bisa kita lakukan itu mengenai takdir kita, yang merupakan kehendak Allah. Dan ketika bersuuzon kepada Allah.... yaaa... monggo disimpulkan sendiri. Masak mengingkari takdir Tuhan kita sendiri, ya gak?

Dan semua hal harus disyukuri, meskipun hal tersebut di depan mata kita tidak sebaik yang dirasakan. Namun, harus disadari, sebagai hamba yang selalu mengingat-Nya, takdir Allah selalu yang terbaik.  Tidak pakai cacat sedikit pun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan masih panjang
Lika-liku hidup dan usaha kita harus senada
Sepiring kenyataan sebagai suguhan utama
Adalah manfaat yang dicerna oleh prasangka baik
Sebongkah amanah sebagai jalan menuju ridho-Nya
Adalah hal yang tak mudah selagi hal yang disyukuri

Sepatah kita keluh kesah
Adalah janji bagi kita untuk tak mengulanginya
Sebutir titik air mata
Adalah bukan alasan untuk tak melaju lagi

Pernah ku cerita kepada kawan
Apakah aku pantas menjadi aku yang sekarang
Bukan berupa cinta dan harapan
Bukan hak dan tanggung jawab
Bukan ilmu nian bisa kumodalkan
Bukan sikap dan amal yang alangkah indah yang bisa kupersembahkan
Namun, ada sepenggal katanya
"Seandainya kamu tidak menjadi kamu yang sekarang, bagaimana aku?
Sebuah amanah tidak akan salah memilih tuannya" 

Lalu, ku terkesiap
Kalau bukan aku yang harus menjadi aku yang sekarang
Mana mungkin ada aku lainnya yang harus datang lagi
Berarti aku harus menghilang?
Tidak
Karena di sini aku adalah aku
------------------------------------------------------------------
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Monggo komen yaa... matur nuwun
 

Sabtu, 28 April 2012

Mahasiswa, Hal Tersebut Bernama Pengalaman

"Pengalaman adalah guru yang terbaik". Kutipan makna tersebut sudah terbukti manjur untuk orang-orang yang pernah mengalaminya, termasuk saya.
Memasuki bangku kuliah ini, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan tinggi ini. Namun, satu tersebut tidaklah sama. Mungkin saya sempat berada di sana dengan latar belakang sekolah yang sama dengan beberapa yang lain, mungkin saya berada di kelas yang sama dengan beberapa yang lain, mungkin saya memiliki latar ekonomi yang sama dengan yang lain. Tapi, di sana, masing-masing orang meniti jalannya masing-masing, dengan pandangan masing-masing.
Perjalanan pun berlangsung sampai sekarang. Dengan bertemu orang-orang yang hebat, saya mendapatkan sedikit maupun banyak hal dari orang-orang tersebut. Setiap hal yang didapat selalu dapat diambil maknanya bagi tiap orang yang menyikapinya. Untuk saya, saya berusaha memposisikan diri sebagai orang yang berpikiran positif untuk dapat mengambil semua pelajaran. Karena itu, perjalanan saya ini tidak sia-sia, tidak akan.
Perjalanan bermula ketika di bangku tahun pertama. Saya pendiam, terkadang cerewet. Tapi sifat aslinya pendiam. Saya cenderung mengamati, sebelum melakukan tindakan. Namun, semua hal tersebut harus disingkirkan ketika menuju pengaderan, yang selebihnya tidak bisa dibahas di sini. Saya mungkin terseret menjadi sebagian yang lain. Tapi saya berkata pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi yang lain, karena saya adalah saya. Saya memang berusaha berubah, namun tidak menjadi mereka, saya mengamati pola perilaku mereka, dan saya bertindak lanjut untuk mengakomodasi mereka. Saat itu adalah kala pengalaman untuk menjadi diri sendiri muncul.
Beribu langkah perjalanan terlampaui, beribu pula pengalaman didapat: pengalaman non-kuliah ketika di kelas saat Bapak Ibu Dosen saya bercerita tentang masa lalunya, pengalaman menyikapi seorang teman ketika menghadapi masalah, pengalaman mengatur kegiatan dan organisasi, pengalaman manajemen diri dan waktu, pengalaman manajemen orang dalam kelompok, dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman tersebut memang bukan hal mudah untuk dilakukan, tapi mudah dicari, tergantung beberapa pandangan untuk mengambilnya atau tidak.
Saya pun terhenyak sendiri ke belakang, kembali merasuk diri sendiri lagi. Apakah saya sudah menjadi seorang yang bisa cukup "berharga" mendapatkan pengalaman-pengalaman itu? Saya merasuk lebih dalam, apakah saya memang seorang yang cukup "pantas" untuk pengalaman-pengalaman itu. Saya pun sendiri, saya memang mungkin takut, saya mungkin hanya bisa berkomentar dalam hati.
Lepas dari semua itu, saya tidak ingin mendengarkan sisi kalut saya. Dengan semua itu, saya ingin tetap beraktivitas selayaknya mahasiswa. Berkuliah, berorganisasi, berpendapat, berprestasi. Tanpa henti. Dengan selalu menuju ridho Illahi.

Setiap pengalaman memiliki hikmah. Setiap pengalaman memiliki cerita. Pengalaman terbatasi kesempatan. Pengalaman terbatasi niat. Pengalaman terbatasi waktu. Pengalaman adalah berharga. Pengalaman adalah guru. Pengalaman adalah kenangan.

Janji kepada diri saya, untuk berbagi manfaat dari pengalaman.
29 April 2012, Hani Ramadhan