Jumat, 21 Juni 2013

Young Leaders for Indonesia McKinsey (Forum 1)

Assalamu'alaykum wr.wb. Ganti gaya bahasa dikit ya... Oleh-oleh dari Informatics Writing Experience (IWX 16 Juni 2013 kemarin)
Tulisan ini ada karena nganggur banget (err... di tanah orang, mau pelatihan tapi pembicaranya belum datang, dan rencana baca jurnal online tapi apa daya harus bayar)
Mengambil sedikit cerita dari beberapa waktu lalu, yang saya janjikan untuk menceritakan forum YLI setelah Summit YES (cek tautan ini).

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kepala saya berusaha selalu tertunduk saat itu. Bukan karena apa, tapi melaksanakan suatu anjuran "JAGALAH PANDANGANMU". Geleng-gelenglah pokoknya. Roknya yang pendek, busana tanpa lengan. Problema tersendiri untuk mengarungi situasi di sana, terlebih materi lapangan yang harus menerjunkan interaksi.

Kejutan yang tidak bisa dipungkiri, mengingat kondisi saya yang aman-aman saja di kampung halaman. Merantau di "hotel" wilayah lain, dengan segala fasilitas eksklusif. Mencetak sejarah sebagai seorang pemimpin, yang kurang lebih forumnya diadakan dengan tujuan seperti itu. "Tidak boleh tidak semangat," pikirku kala itu.

Forum 1 Young Leaders for Indonesia yang diadakan McKinsey di Hotel Grand Kemang itu memang sedikit banyak menguras waktu. Terlebih diadakan ketika INSPIRE II (Kaderisasi 2 Mahasiswa Muslim tingkat jurusan), yang membuat saya selalu SMS ketua panita secara rutin.

Namun, meski begitu, menurut saya, menjadi salah satu kesempatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Yang pasti bertemu dengan kawan-kawan baru yang  menakjubkan. Bagaimana tidak, semua pesertanya memiliki lingkup paling tidak mahasiswa berprestasi, wirausaha muda, artis kampus, ketua-ketua ormawa di kampus, dan lain sebagainya. Dan saya? Masih misteri tersendiri mengapa saya bisa masuk forum ini. Jabatan? Ketua Lembaga Dakwah Jurusan.

Dengan semua faktor mewah dari faslilitasnya, karpet beludru, meja bertaplak halus, kamar hotel yang me-"nyaman"-kan, dan pembicara top, membuat serasa berkebalikan dengan tujuan pengadaan hal-hal itu. Hmmm... Namun, kecuali makanannya yang berskala internasional, yang tidak biasa dicicipi di rumah, sekali-kali tidak apa-apalah merasakan pudding coklat dengan saus buah dan saladnya.

Sungguh menjadi hambanya yang kufur jika saya hanya mengutuk segala keburukan tanpa bersyukur. Yang pasti, kesempatan ini tidak akan saya biarkan sia-sia. Menjalin ukhuwah, pertemanan, memberikan rasa rindu, melangkah maju. Bertemulah dengan saya kawan lama yang merantau jauh, Ste dan Zafira. Menjalin pertemanan dengan kawan-kawan baru, Amel dari UGM, Trini dan Ikhsan dari UB, Andik dari Tadulakko, Mas Fadel dari ITT, Mizwandi dari Riau, dan lain sebagainya. Well, awesome!

Bincang-bincang sejenak dengan kawan baru (yang pada sepuh dan ON FIRE dalam mengerjakan TA, hehe maaf Mas), ada Mas Fikri dan Mas Aldhi Reza. Ketemu orang keren lain di kesempatan berikutnya, Mas Hanif Azhar (Mas, takbilang keren lho), dan Mas Imron. Tambah sering berkomunikasi dengan Mas Dalu juga.

Detail seru lainnya, ada Personal Leadeship Project (PLP) atau biasa saya sebut KPP yang nanti akan dibawa di forum 2. Untunglah teman-teman PKM saya baik hati menyepakati PKM itu sebagai project. Dan berjalan sebagai mana mestinya. (Gak asyik, ganti konsep berulang kali itu nggak asyik???)
------------------------------------------------------------------------------------------

Meskipun begitu, banyak manfaat dari kegiatan ini yang bisa dipelajari. "Entah berapa tahun lagi, teman-teman pasti membutuhkan atau akan berhubungan dengan orang-orang yang dikenal di sana nantinya. Pasti" -Hanif Azhar

OK. Sekian dulu, semoga bermanfaat. Tak lupa saya ucapkan maaf jika ada yang tak berkenan atau kurang di segala sisi.
Wassalamu'alaykum wr.wb.

Selasa, 18 Juni 2013

Ketulusan

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Hmmm, ini apa frekuensi posting saya yang terlalu lama ya?
Hehe apa pun lah. Pokoknya nulis, iya kan? :D

Ketika kita menjalani hidup sebagai mahasiswa, pasti tidak pernah lepas dari berkehidupan bersama orang lain. Ya paling pelik sih biasanya berorganisasi, tapi paling sederhana yang pasti sering ditemui sih kalau ada tugas dan tugas itu berkelompok... Pasti pernah.

Pernah nggerundel nggak, ketika pas sudah ngerjain tugas atau lagi mau ada rapat apa... Tiba-tiba, si rekan kita nggak bisa datang nih. Semakin menambah nafas kita kayaknya, harus menghela nafas sering-sering. (Ya bagus dong :p). Nah ada juga nih, yang malah jutek dan lain sebagainya. Yang mana yang baik, dan yang mana yang buruk, sudah bisa tahu? OK. Saya sebenarnya pernah mengalami dua-duanya. Hehe. Biasa lah anak labil  zaman dulu dan sekarang.

Cerita-cerita sedikit tentang pengalaman boleh lah ya :)

Zamannya mahasiswa baru masuk tahun pertama, pasti ada masa orientasi dan lain-lain. Ketika itu, diminta datang lengkap dan sebagainya. Hmmmmm... Hampir tidak mungkin sih ya bisa 100% lengkap. Di sini sudah mangkel dan lain-lain. Yah, begitulah. Atau naik tingkat sedikit ke rapat organisasi. Misal jadi yang ada urusan, ternyata eh ternyata, yang bersangkutan yang jadi target urusan itu tidak datang. Hmmm, mangkel? Ya dan tidak. Sudah capek-capek bikin kan ya? Repot banget. --"

Tapi, seiring waktu dan kawan seperjuangan semakin sibuk... Mau ketemu hampir setiap hari aja susah, mencocokkan jadwal saja apa lagi. Hmmm, tapi semakin hari, semakin naik rasa sabarnya. Enggak tahu kenapa. Mungkin semakin sadar atas kesibukan yang lain. Begitulah namanya maklum. Rasanya... :-)

Dulu mangkel sekarang senang. Nggak tahu. Mungkin hidayah, diberi kesabaran lebih? Nggak tahu lagi, semakin keren dan sibuk orang-orang yang saya dekati, semakin senang saya. Beruntunglah saya ada di sana, menimba ilmu dengan teman lain yang lebih keren. Saya cinta dengan keadaan seperti ini, melihat kesibukan yang lain. Dan, ketika mereka datang di dalam lingkaran ini, bahagia kuadrat dan semakin cinta lah saya.

Karena ketulusan hadir bukan karena ada apa-apa, tapi ketulusan hadir dengan apa adanya.

Sekelumit yang saya sudah gali tentang diri manusia ini.  Mungkin masih banyak kekurangan.

Wassalamu'alaykum wr.wb.

Selasa, 14 Mei 2013

YES Summit 2013: Beyond Expectation

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ada yang kangen tulisan perjalanan?
Boleh nih saya perbarui satu :D
Alhamdulillah telah terlaksana satu dari sekian acara keren yang begitu menghebohkan diri di minggu-minggu ini, mulai dari Young Leaders for Indonesia Forum 1 (ntar deh cerita yang ini), Majelis Akbar JMMI XXIII, Parade KMI 2013, dan yang paling akhir nih YES Summit 2013. Kali ini, saya hendak sedikit bercerita mengenai YES Summit 2013.


YES Summit 2013 adalah acara perkumpulan para insinyur dan ilmuwan muda yang sedang mengenyam pendidikan perguruan tinggi yang pertama kali diadakan di Indonesia. YES Summit yang pertama kali ini diadakan di ITS, sekaligus sebagai tuan rumah. YES Summit di sini mengangkat tiga topik utama sebagai pembahasan yang terbagi dalam tiga cluster: Energi, Urban Living and Environment, dan IT dan Digital Services. Saya masuk yang mana? Alhamdulillah termasuk IT. Hehe (apa lagi coba?) Ada sih beberapa yang nyeleneh... Anak Siskal masuk di IT (si Sanjaya tuh :P), anak Industri masuk IT (Faiz, ya... menyerempet2 kok), yang paling unik adalah yang dijalani adik kelas saya pas SMP malah nyelonong masuk acara ini padahal anak FKG (no problem sih, ya Sabila ya... Pokoknya kacamata kudanya dilepas).

Overall pelaksanaan dan konsep acaranya... OK-able, ada sedikit kekecewaan, tapi ya masa cerita kecewa di sini. Kan ruang publik dong ya.

 Menginapnya di Kompleks Asrama Haji Sukolilo, yang udah OK menurut saya. Di kamar tersebut saya dimasukkan bersama teman-teman Cluster IT yang lain, ada Mas Rofik, Mas Veo, Juang, Furqon, Ilham, sama Wiwid di kamar 214. Orang-orangnya luar biasa..... (Luar biasa gila). Di kamar isinya ngakak doang pas menghina dina Juang (hehe, sorry ya Juang). Apalagi pas ketambahan Pak LO Irzan, yang mungkin kesan LO di mata peserta lain kurang aktif dan bagaimana... Si Irzan ini malah ketularan gilanya kita. Maafkan kami, nak, di usiamu yang belia ini kami harus meracuni dirimu.

Somehow, first impression-nya keren. Pembicara pertama... Stand up comedy nya... AWESOME! Padahal membahas peran pemuda. Tapi makjleb banget juga. Lampion-lampionnya juga bagus :D

Mengenai materi dan lain-lain, kurang lebih sangat baik, walaupun ada yang sukses membius kami agar menundukkan kepala sejenak... untuk tidur.

Di sini, juga ada Focused Group Discussion dari paper yang sudah peserta kumpulkan. Outputnya adalah suatu rancangan karya yang nanti akan bisa diimplementasikan di kesempatan berikutnya. Saya dikelompokkan sama Juang, Ilham, dan Leo. Kelompok dengan anggota yang paling sedikit namun hebatnya selesai paling cepat. Komposisi 3 lelaki dan 1 perempuan, dari 3 universitas yang berbeda , Alhamdulillah tidak memberikan banyak friksi. Yang paling tegang adalah pas nunggu presentasi FGD, saya sama Leo sudah horor duluan, karena dosen pengujinya adalah dosen yang sukses membuat teman saya menangis pas presentasi PKM. Dan pas menguji presentasi di depan, sukses satu ruangan teater PENS mendadak tegang. Dan untungnya, pas FGD kami presentasi... Bapaknya memiliki kesibukan lain dan harus pergi. lalala yeyeye

Rasa kekeluargaan sih... Rada yaaa... gitu deh . Tapi alhamdulillah, temen baru tetep ada. Ini sih yang saya cari di acara-acara seperti ini. Kadang kita hanya bisa melihat semuanya dari satu sisi, tapi ada sisi lain yang bisa diberikan oleh orang-orang di sekitar kita. Terkadang bergerak sendiri pun masih butuh perjuangan begitu banyak untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik, terlebih lagi terlalu banyak orang yang bergerak sendiri, saling silang pendapat pun akan muncul begitu hebat, hal ini baik. Namun, bergerak bersama mampu memfokuskan usaha kita, yang bergerak, memasifkan ide, memaksimalkan cinta, dan meminimalisasi ketidakikhlasan. Dan mungkin beberapa hal lain yang belum bisa tersebut.

Sebagai pembuka Mei ini (kasep Mas!), acara ini adalah salah satu ajang refreshment buat kita semua untuk menuju masa depan yang lebih baik, dengan optimalisasi teknologi dan sains.
Hal yang memiliki fungsi berguna sekali, namun jika digunakan oleh tangan yang jahat, adalah omong kosong, tidak akan ada yang berubah malah lebih parah. Sama halnya dengan teknologi dan sains. Kami akan menjadi generasi terbaik dari pelopor teknologi dan sains, yang akan mengarahkan kemajuan bangsa ini menuju kebaikan, dan menjauhkan pemanfaatan teknologi dan sains ini dari tangan-tangan tak tahu aturan itu.  

-YES Summit Generasi 1, pembawa kebaikan dalam gerakan ilmuwan dan insinyur muda Indonesia-

Wassalamu'alaykum wr.wb.

Sabtu, 06 April 2013

Bercerita tentang Takut



Dunia tercipta dengan warna
Warna itu cipta ceria dan senyum
Dentum hati tak terkira
Warna kelabu pun ada
Curah hati tanpa tawa dan kata

Riuh rendah kala hati bicara
Kadang kala sentilan berkunjung
Rasa yang melahap semua
Meringkuk dalam pejam mata
Tanpa cahaya
Ceria dan senyum tersebut
Lenyap

Kala takut berkunjung
Diam hati ini munculkan riang semu
Usaha tularkan senyum
Apa daya ikatan yang kuat takkan dusta

Adakah takut yang melahirkan senyum?
Tersentuh seiring lamanya si hati tak bersua
Selain takut yang ditiupkan
Yang terus dan bertumbuh
Cintalah adanya
Melahirkan senyum abadi
Namun takut yang tak berakhir jua
Dari Zat yang Maha Abadi

Kemuliaan rasa
Takut yang indah
Bukan gelap yang terjadi
Sinar teranglah yang tersiar
Menuju lurus
Teriring takut itu
Takut penuh cinta.

Kamis, 07 Februari 2013

Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri


“Lis, kalau menutup pintu jangan keras-keras... Nanti rusak!” Terdengar suara seorang wanita paruh baya sekadarnya dari dapur tempat kecil itu, sedemikian pula gadis seragam putih abu-abu itu tak mengacuhkannya. Karena perasaannya sudah ingin membongkar kamar itu, rumah, ah tidak, bahkan kehidupannya. Kehidupan yang serasa hancur lebur, dalam diri yang tergeletak begitu hampa di atas tempat tidur.
Begitulah keadaan Erlisah, 17 tahun, siswi sebuah SMA ternama di kota di ujung timur Jawa. Tergolek begitu lemah memikirkan secarik pesan yang didapatkannya siang hari tadi. Derai air mata melewati gerai rambutnya itu membahasakan kalutnya, di lapangnya kasur ukuran kecil tersebut.
Padahal ceria yang tergambar dalam kesehariannya begitu terpancar hari itu, perempuan belia dengan tas paling merakyat sesekolah. Tas yang pertanda tak pernah berganti wujud, dari zaman kakaknya. Namun, kata “ceria” pun mencair begitu saja ketika jam istirahat. Sedetik saja setelah baris terakhir surat yang diterimanya selesai diproses pahamnya.





“Kepada: Erlisah
Kamu tahu, mungkin beberapa saat yang kita sudah lalui bersama ini adalah masa paling indah yang kurasakan selama ini. Yah, kamu tahulah. Kita sudah hampir mirip orang pacaran. Ke mana-mana bareng. Nggak ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, bahkan ke musala sekolah pun, yang jelas-jelas nanti pisah gara-gara beda tujuan pun bareng. SMS pun nggak pernah lepas dari kata rindu dan kasih. Ya beneran, saya akui itu benar-benar hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Berbagi hidup mungkin istilahnya, dengan seseorang yang sangat berarti.
Tapi, apa mau boleh dikata. Sebenarnya hati ini tulus ketika bersama kamu. Cuma, saya berharap banget. Kalau sebenarnya hal ini nggak jadi kenyataan di masa depan, dalam waktu dekat paling nggak. Nggak peduli suit-suitnya anak-anak di belakang kita, saya masih merasakan rasa itu bersama kamu dan ingin rasa itu berlanjut.
Namun, saya sempat berandai-andai. Udah pantas belum sih saya bersama-sama kamu. Sederhana, baik, pintar. Apa sih yang kurang? Saya kepikiran lagi, udah benar nggak sih yang saya lakukan selama ini? Berbagi kehidupan, mengagendakan suatu acara seharian, dengan seseorang yang seperti kamu, yang mungkin nggak tergantikan. Bagai seujung jarum di tumpukan jerami tahu? Tapi semua itu ada yang dirasa mengganjal.
Lalu, saya sadar. Saya ingin lepas dulu. Memutar balik roda kemudi yang sudah jauh berkendara. Membalik jam pasir yang sudah mungkin sekilo ada di tabung bawahnya. Hal ini nggak bisa dibilang perpisahan sih, toh ketemu setiap hari. Saya cuma ingin menjaga agar hal ini tidak sampai terlalu jauh hingga di hari nanti. Bukannya nggak pingin ketemu lagi, cuma saya ingin membatasi agar interaksi kita sewajarnya saja.
Sekali lagi maaf. Dan sabar mungkin saya sarankan sampai maksimal.
Seakan-akan hati saya berkata, jagalah dirimu sendiri. Sampai nanti halal waktunya. Saya tidak ingin berkata tunggu saya nanti, tidak. Saya tahu jika ada takdir yang mengisyaratkan ada yang lebih baik buat kamu, kenapa enggak saya mundur duluan? Biar nanti tangan Yang Maha Kuasa menunjukkan wajah itu.
Saya cuma nitip pesan terakhir untuk mengakhiri hubungan yang rasanya aneh ini (kayak gado-gado mungkin, hehe). Nggak cuma buat kamu, tapi hati kamu yang paling dalam: ‘Katakanlah Kepada Hati untuk Menjaga Diri’

Tertanda: seorang yang mungkin sempat memiliki arti
Zainur”
Erlisah pun serta merta pilu dan berlanjut dengan aksi mogok bicara sampai akhir...kehidupannya hari itu di sekolah. Semua ucap kawannya tidak digubris, ya sekadarnya saja. Mungkin “hmmm”, “iya?”, “nggak deh”,“maaf, nggak sekarang ya,”,”sori, lagi nggak mood ngomong”, atau cuma melengos saja reaksinya. Lirik-lirik sembunyi dihantarkan pada si Z dalam surat, yang berulang kali melintas di depan Erlisah dengan nyata, yang juga cuma memandang sekenanya kemudian menunduk sama seperti ketika memandang perempuan lainnya. Reaksi si Z menambah derajat kecemberutan Erlisah ke tingkat yang lebih tinggi, yang berlanjut memutar-mutar saja makanannya di kantin itu, berikut ekspresi kebingungan kawannya.
Desahan lemas pun membawa pikirannya kembali ke masa ini, beberapa jam setelah sepucuk surat itu sampai ke tangan Erlisah. Kertas tersebut sudah menjadi korban basah dan kusut sepihak demikian buruknya.
Dan dia pun masih menerka-nerka mengapa harus “menjaga diri”, atau pesan yang ditujukan kepada hatinya bahkan bukan kepada dia. Apakah mungkin dia harus membongkar gembok hatinya? Hati yang selama ini diselimuti perasaan “rasa” itu belaka? Atau memang ketika hatinya sudah dipenuhi “rasa” itu, ada yang terjepit di dalamnya, yang selalu mengetuk rasa itu agar tidak menyentuh nafsu yang buruk. Sesuatu yang acapkali gagal membentengi “rasa” itu. Ya, mungkin itu. Hal paling kecil dari hati yang sering dia tidak sadari.

-------------------------------------------------------------Diariku 19 Desember 2009 ER

Senyum simpulku terkembang menyambut halaman yang tidak sengaja kubuka ketika membongkar buku ini. Akhirnya aku pun mengerti menjaga diri, seraya membenarkan tatanan jilbab di depan cermin. Dan aku pun ingin selalu menjadi seorang yang ceria seperti keseharianku SMA dulu. SMS-SMS dari para teman lelaki baru kubalas pagi ini juga, meski sudah bersangkut di kotak masuk sedari mungkin 8 jam yang lalu, tak lupa kusertakan maaf. Mungkin hidup ini sebenarnya indah, dengan perasaan yang juga dulu kurasakan. Namun, perasaan itu biar jadi perasaan dalam hati. Tunduk dalam kepatuhan diri dalam nurani.

Kamis, 17 Januari 2013

Cerita Coretan: Telepon

-->
Telepon

“Kring... Kring...” Begitulah diriku memanggil tuanku. Tandanya, ada yang sedang ingin bertukar informasi dengannya. Segala hal yang mereka keluarkan kadang begitu asyik, dan kadang begitu garing adanya. Namun, semua hal itu memang tugasku. Meneruskan informasi dalam bentuk sinyal dan suara adanya.

Tapi, dalam hari-hariku duduk di atas meja semakin sepi saja.
Dulu sih, semua masih nyaman duduk berlama-lama menempelkan gagangku di telinganya. Malah ada yang bersila, berjalan mondar-mandir, bergulung-gulung atau apa pun lah istilahnya kata para tuanku. Katanya aku sering dipakai pacaran lah, dipakai mesra apalah. Selain itu, dulu aku juga malah kayaknya sempat pakai baju lucu-lucu, ada bonekanya, ada motifnya, eh malah cerita dandanan kan? Oh ya, pernah juga sempat dengar berita, ada telepon yang bertetangga sama teman-teman telepon lain, tapi hanya dibatasi bilik-bilik kaca begitu. Lucu kan? (Maaf, aku mendadak narsis).


Sekarang? Aku sudah ada adik yang bisa dibawa ke mana-mana. Teman-teman tuan cenderung lebih nyaman menggunakan itu. Awalnya sih saya tidak begitu khawatir, adik bisa melakukan SMS (mengirim informasi dengan teks, kalau tidak salah) dengan layarnya. Namun, para penemu semakin bersemangat memberikan semua hal yang bisa diberikan ke adikku ini. Mulai dari internet (aku juga bisa lho dipakai internet), layar berwarna, mengirim gambar (ehm, oke mulai nggak tahu), kamera (wow), internet dengan kecepatan super (minggir nih), dua nomor (jleb), permainan canggih, hingga sistem operasi (seperti saudara jauh Pak komputer saja ya). Dan aku semakin takut tergeser oleh peradaban.


Yah, paling tidak aku masih punya teman lain yang senasib, kelompok si komunitas surat, keluarga perangko, dan kumpulan amplop. Nasibnya sekarang juga tak kalah mengenaskan daripada aku. Namun, aku percaya, kita masih dibutuhkan di beberapa bagian, meskipun penggunaannya tidak sepanas si adikku telepon genggam itu. Yang aku tahu pasti, tiap hal yang pernah ada punya peran dan fungsi masing-masing, walau suatu saat mungkin terganti atau tidak. Paling tidak aku tahu pernah bermanfaat bagi para tuanku yang pernah memilikiku.



Lalu, selagi pertukaran kata dari tuanku di seberang sana berlangsung. Aku mendengar sayup-sayup temanku yang lain. Teman? Iya, maksudku alat komunikasi. Oh itu, iya si speaker, lazimnya sih namanya pengeras suara. Tapi, tuanku sering menyebutnya speaker, dalam bahasa Inggris. Anggap saja nama gaul zaman sekarang.
Dia saja sedang bersuara begitu bersemangatnya, entah diboncengi menangis. Sempat aku dengar kabar mengenai speaker itu dari teman-teman telepon lain yang pernah tersambung denganku. Dia tinggalnya di sudut-sudut strategis kubah atau gedung, melantangkan nyaringnya untuk tuan-tuannya. Iya, tuannya banyak, tidak seperti aku. Atau sanak familiku, dari generasi kakek pager sampai adik telepon genggam yang memanggil cukup satu tuan.
Dan hal yang mungkin tak sama dengan kami, yaitu nasib si speaker . Meski sama-sama dalam keluarga alat komunikasi. Tugasnya berat sekali, mungkin seringkali dianggap gagal. Kalau tugas sanak familiku, dari kakek pager, sampai adik telepon genggam, tugasnya ya cuma memanggil satu tuan dalam satu waktu. Nah, dia? Lima kali sehari, memanggil banyak orang, sampai sekomplek gedung kalau tidak salah aku pernah dapat kabar. Yang langsung menghampiri, ya mungkin segelintir, tidak seperti tuanku yang langsung secepat kilat menyambarku. Berhasil nggak sih? Ya, pokoknya saya merasa kasihan dengan speaker. Sepiku yang saya rasakan mungkin tidak sama dengan sepinya.
Eh, rasa-rasanya sebentar lagi tuanku hendak menghentikan percakapannya. Sepertinya mendengar koar-koar si speaker deh. Katanya, “mau menjawab panggilan mulia”. Ya sudah, aku bisa lega sedikit, paling tidak tuanku menghampiri si speaker. Sejenak sebelum gagangku diletakkan oleh tuanku, “Hayya ‘ala shalaaah”, itu kata-kata terakhir yang kudengar dari speaker, sebelum gagangku diletakkan kembali.
Baiklah, seharusnya sedikit syukur dariku aku beruntung memiliki tuan yang selalu menjawabku. Namun, selalu ada sedikit harapan untuk speaker yang hidupnya tidak semudah aku, membuatku berada di antara sedih namun bangga. Tetap semangat speaker!

 Semoga bermanfaat

Kamis, 29 November 2012

Karena Amanah tidak Akan Salah Memilih Tuannya

Bismillah.... Assalamu'alaykum wr.wb.


Sudah lama tidak berblogging ria nih... Tergoda ngeblog lagi gara-gara seorang teman membuka halaman dasbor Blognya di komputer laboratorium. Selama berbulan-bulan itu berlalu (bulan-bulan nggak ngeblog maksudnya), banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di hidup ini. Lika-liku yang menghebohkan dan kadang-kadang bikin galau sampai memojokkan di sudut tempat tidur kamar saya.

Bayangkan saja, dalam keadaan yang masih baru syok-syok aja jadi Ketua Umumnya KMI (pos sebelumnya), saya masih harus menerima kenyataan hidup (halah alay banget saya di sini, ketularan seseorang) kalau jalan masih panjang berliku namun singkat sekejap mata. Panjang berliku karena terkadang saya merasa satu detik tersebut adalah masa paling berat, dan sekejap mata karena setelah itu berakhir... "Oh, begitu aja?".
nyoh pelakune virus alay: link blog: http://ika-astutik.blogspot.com/


Lalu, terjadi hal-hal berikutnya:
Mulai kuliah yang inspiratif sekali pake banget, sampai amanah yang memang luar biasa dengan lingkungan yang menakjubkan dan lebih berwarna daripada hari-hari biasanya di kampus. Namun, beberapa hal tersebut tidak berkesan ketika saya mengalami  jatuhnya perasaan saya (baca: galau). Kadang-kadang saat itu saya berpikir flashback, ketika masuk di Teknik Informatika di semester 1 sampai sekarang... Apa saja sih yang membuat saya bertahan? Teman-teman, keluarga, lingkungan, uang? Enggak juga sih (maaf yaaa... tapi kadang-kadang saya mikir begitu). Tapi saya berpikir, ketika itu saya nggak ngurus apa aja yang ada di sekitar saya pokoknya saya lakukan apa yang terbaik. Semacam saya diberi tantangan apa saja sama Yang Maha Kuasa, tapi saya mencoba menjalankan apa yang bisa saya lakukan dan Alhamdulillah saya berhasil menjalani itu dengan sukses. Bisa dibilang apapun takdir yang saya jalani, saya mencoba melaluinya dengan sebenarnya hati penuh tanya dan menerka... apakah yang ada sebenarnya di balik ini. Jika saya sukses menjalaninya (sesuai parameter saya sendiri sih), semacam sedikit demi sedikit takdir di balik semua tantangan itu tersingkap dan reaksi saya: "Oh ya yaaa.... Ternyata saya bisa melakukan hal ini, ternyata maksud dari cobaan-Mu itu seperti ini Ya Rabb." Karena takdir Allah itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sedikit kisah lagi ya...
Kebahagiaan itu akan muncul di sekitar kehidupan kita walaupun hanya sekelumit saja, bahkan di balik sepucuk kerikil sekalipun. Tergantung bagaimana kita memahami makna kebahagiaan itu sendiri. Selama kita masih merasa fine dan happy dengan kenyataan yang ada sih ya yo ya yo wae. Malah kalau kita merasa sedih dan menyesali semua yang terjadi dan berpikir semua hal buruk akan terjadi setelah ini. Semua hal buruk yang kita bayangkan akan terjadi tersebut bisa jadi terjadi.

Karena semua prasangka yang bisa kita lakukan itu mengenai takdir kita, yang merupakan kehendak Allah. Dan ketika bersuuzon kepada Allah.... yaaa... monggo disimpulkan sendiri. Masak mengingkari takdir Tuhan kita sendiri, ya gak?

Dan semua hal harus disyukuri, meskipun hal tersebut di depan mata kita tidak sebaik yang dirasakan. Namun, harus disadari, sebagai hamba yang selalu mengingat-Nya, takdir Allah selalu yang terbaik.  Tidak pakai cacat sedikit pun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan masih panjang
Lika-liku hidup dan usaha kita harus senada
Sepiring kenyataan sebagai suguhan utama
Adalah manfaat yang dicerna oleh prasangka baik
Sebongkah amanah sebagai jalan menuju ridho-Nya
Adalah hal yang tak mudah selagi hal yang disyukuri

Sepatah kita keluh kesah
Adalah janji bagi kita untuk tak mengulanginya
Sebutir titik air mata
Adalah bukan alasan untuk tak melaju lagi

Pernah ku cerita kepada kawan
Apakah aku pantas menjadi aku yang sekarang
Bukan berupa cinta dan harapan
Bukan hak dan tanggung jawab
Bukan ilmu nian bisa kumodalkan
Bukan sikap dan amal yang alangkah indah yang bisa kupersembahkan
Namun, ada sepenggal katanya
"Seandainya kamu tidak menjadi kamu yang sekarang, bagaimana aku?
Sebuah amanah tidak akan salah memilih tuannya" 

Lalu, ku terkesiap
Kalau bukan aku yang harus menjadi aku yang sekarang
Mana mungkin ada aku lainnya yang harus datang lagi
Berarti aku harus menghilang?
Tidak
Karena di sini aku adalah aku
------------------------------------------------------------------
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Monggo komen yaa... matur nuwun