Jumat, 10 Januari 2014

Semangat Keilmiahan: Prestasi, Manfaat, Tanpa Batas, @BreakthroughITS

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah sampai detik ini masih bisa mengetikkan beberapa patah kata di blog ini. :)
Sementara final project, tugas akhir, dan tesis memanggil-manggil dengan riang gembira

 Jikalau suara ini tak sampai memberi cerita, maka biarlah kata-kata ini menyuarakannya. Kata-kata? Sedikit banyak tulisan ini akan berkaitan dengan "kata-kata", "ketikan", dan "suara". Terang saja, 30 Maret itu kami berlima belas dikumpulkan di satu ruangan, belajar bersama untuk menjadi Trainer. Tidak hanya sekedar Trainer, namun Trainer keilmiahan. Trainer Keilmiahan ini, bisa disebut para pembimbing, pengonsep, dan inspirator dalam penuangan ide kreatif menjadi karya ilmiah.
Pengertian Trainer Keilmiahan tersebut rasanya lebih cocok disematkan kepada 16 orang anggota Breakthrough lainnya, yang bukan saya

Tanggal 30 Maret 2013, tersebut berbagai nama yang sudah terseleksi dari tim 17 (Trainer Keilmiahan sebelumnya) sebagai peserta Training for Trainer 2013, yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Badan Eksekutif Mahasiswa (Ristek BEM) ITS 2012/2013 ~ Mahakarya. Nama-nama tersebut adalah:
  • Adhika Ilham Dhata Pratomo
  • Amalia Hasyyati 
  • Anggita Rara Kumala Wardani 
  • Bintang Wahyu Syah 
  • Fiona Rossi Ramadhani 
  • Hani Ramadhan
  • Hani Rosdahlia
  • Hanny Adiati 
  • Ika Permata Hati 
  • Ilham Azmy 
  • Iva Yenis Septiariva 
  • Juan Firmansyah 
  • Muhammad Fauzan Aristyo 
  • Muhyiddin Azmi 
  • Nuraini
  • Rendy Aries Fajrin 
  • Rizki Ramadhani Ferina
(Pas kan 17?)

 Banyak sekali yang kami dapatkan di Training for Trainer. Tapi, yang paling penting dibahas di sini adalah bagaimana peran kami sebagai Trainer Keilmiahan berjalan. Mulai dari membuat konsep besar kaderisasi keilmiahan di ITS, gerutu sana gerutu sini sampai keputusan pahit terjadi, marah-marah karena bikin materi yang bebannya numpuk di hari itu sampai meledak (emmm... nggak juga sih, ini sedikit dramatisasi) , sulut konflik di whatsapp, sampai.... lari-lari cari pemateri pengganti karena keadaan.

yah... Semoga semua pengalaman ini diberikan makna sebagai pengantar kebermanfaatan menuju jalan yang lurus. Seandainya kami tidak bertemu di jalan ini, mungkin masing-masing dari kami tidak menjadi orang-orang yang seperti sekarang (keren loh, ada Menteri BEM, ada wakil menterinya, ada anak FIM, ada ..... banyak). Maka dari itu, saya bersyukur, tali takdir kami dipertemukan dalam jalan (yang semoga) mulia ini.

Maju terus keilmiahan ITS! Semangat berprestasi dan kebermanfaatan akan selalu kami salurkan dengan berbagai aksi yang AWESOME!

Sorry, Va, Ham, Mal nggak ada kalian :)

Jangan lupa follow di Twitter @BreakhtroughITS :) .
Ohya, penentuan nama Breakthrough adalah karena kami merasa perlu untuk mendobrak mindset keilmiahan yang selama ini identik dengan menulis karya tulis ilmiah yang membosankan dan lain sebagainya. Padahal, sebenarnya asyik dan merupakan media yang efektif untuk menjalin dan menambah wawasan mengenai keilmuan, baik yang diminati maupun tidak. Dan juga tidak selalu berkaitan dengan karya tulis.

Sekiranya, itu saja dulu, semoga bermanfaat. Maaf pula jika ada salah kata.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 07 Januari 2014

Lengser dari KMI-ITS 2012-2013

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)

Dear All (entah mengapa sedang suka menggunakan kata-kata "Dear All")
Yah.. Saya tahu mungkin blog bukan sekedar buku harian yang bisa kita tulis apa pun di dalamnya. Tapi, di sini saya mencoba berbagi cerita ke dalam media ini.

Pernah membaca tulisan di tautan ini Bismillah KMI 2012-2013? Dan.. berakhirlah masa itu pada waktunya (yang semoga tepat). Terhitung 8 Juni 2013, saya sudah tak menjabat lagi dalam amanah tersebut dan digantikan oleh yang lebih baik... Akhi Angga Eka Prasetya, seorang dari kota tersemboyan, Jombang.

/*Maaf, untuk sementara tidak ada gambar karena entah  mungkin karena galat internet atau galat lainnya*/

Semoga dalam satu kepengurusan kemarin bisa membuahkan hasil yang terbaik, bagi semua generasi pembaharu Islam yang lebih baik. Meskipun mungkin saya punya banyak kesalahan dalam membawa organisasi ini dengan nama baru ini, saya berharap dan selalu yakin manfaat yang bisa ditebar oleh KMI ini berguna bagi sekitar.

Imam Ghazali menegaskan, "Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang."

Selamat dan sukses bagi siapapun yang pernah bersentuhan dengan KMI ITS.

Best regards to kawan-kawan seperjuangan:

Sekretaris Umum (yang selalu saya cereweti, afwan): Muhammad Riduwan
Kadep Kaderisasi (always awesome): Agus Nugroho
Kadep Syiar (entahlah ya... saya sering no comment): Muamar Agus Salim
Kadep Media (Jangan galau Min :3 ): Muhammad Aminudin Rahman
Kadep Humas (Best support): Fadlika Dita Nurjanto

Kadep Keputrian/Ketua Kemuslimahan: Awalia Harfiani
Bendahara: Fadhilah Kurnia Putri
Sekdep Kaderisasi: Nabilah
Sekdep Syiar: Luluk Eko Mawati
Sekdep Media: Hardika Khusnuliawati
Sekdep Humas: Ervina Handayani
Sekdep Keputrian: Mir'atul Mahmudah

And semua staf tercinta saya yang melanjutkan amanah dengan tagline GENERASI TAUHID:
Angga Eka Prasetya, Ishom Muhammad Drehem, Hashfi Alfian Ciyuda, Ahmad Hayyam Brilian, Ahmad Fauzi Al Wahid, Alrezza Pradanta Bagus Budiarsa, Muhammad Ibnu Fahmi, Sindunuraga Rikarno Putra, Askary Muhammad Rumhadi
Dan yang akhwat:
Firda Ainur Ramadhani, Anjar Mustika, Maria Carolina Novitasari, Nurul Wakhidatul Ummah.

Dan adik-adik yang meneruskan ladang dakwahnya di jalan lain...
Ardhiansyah Baskara (KaBEM FTIf), Helmy Satria Martha Putra (Kadep Medfo HMTC), Yoga Pratama Ali Arham (Kadep Pengpro HMTC)
Dini Putri Mandasari (Sekum HMTC), Aida Muflichah (Sekdep PSDM HMTC), Sarianti Pundi Abdyantary (Sekdep Pengpro HMTC), Nabilla Sabbaha Audria (GSA, Kadep Medfo BEM FTIf), Widyasari Ayu Wibowo (Bakor Pemandu FTIf)
Ada yang terlewat kah?
Semoga semua tetap istiqomah dan menjaga ibadah.

Sekian. Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Senin, 16 Desember 2013

Tahun Keempat

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Menanggapi waktu yang semakin sedikit ini.... Saya ingin sedikit bercerita mengenai kehidupan saya di tahun ke-4. Sudah hampir separuh waktu sih. Tapi, ya semoga bermanfaat.

Kehidupan tahun keempat bermula dari lengsernya saya dari Keluarga Muslim Informatika - ITS 2012-2013 dan otomatis memperbarui amanah saya sebagai Dewan Pertimbangan Pengurus KMI ITS 2013-so on. Kemudian, dilanjutkan dengan masa Kerja Praktek di Pertamina dengan judul... (terlalu mengerikan jika saya buka di sini). Dan yang bikin deg-degan adalah jalan-jalannya bersama si Fahmi (jangan baca, dijamin silau), si Muamar, si Riduwan, dan si Fadlika . Saya teh ke Bandung mbolang sama Fahmi. Dan untungnya sampai Jakarta lagi sehat wal a fiat.

Kalau mau dibikin kaleidoskop sebelum kuliah semester 7 dimulai... ini daftarnya :)

Kilas balik lagi, ketika sudah kuliah. Semua nampak semakin sibuk. Dan saya juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Iya sih, kuliah semakin menipis. Tapi, di luar kuliah semakin tebal saja. (Baca: menghadapi TA). Tapi, semakin jauh melangkah, perjalanan saya rasanya semakin menakjubkan karena ditemani orang-orang hebat. 
  • Tim baru yang (sangat) riweuh  HMTC
  • Tim JBC IM TELKOM Paper Competition: Hani, Amal, feat Ulin (perjalanannya sangat sesuatu)
  • Tim GEMASTIK! Alhamdulillah, Awal, Geri (intelegensinya di mana? -kemudian, muka ditekuk-)
  • Kawan-kawan di S2 Teknik Informatika ITS
  • SabangMerauke BLP Team (yeaaa)
  • Fast Track goes to France (ah, semoga :) )
  • Mentoring kece Mas Agil (ini orang-orangnya sih hebat-hebat, saya jadi minder)
  • PH KMI ITS 2013-2014, namely generasi tauhid
  • Tim PKM TechSocio DSS- RUMA (Ira: sekdep merangkap ***** RISTEK HMTC, Adhika:; Menteri Ristek BEM ITS, Faiz: artis)
  • Tim Kelas Inspirasi Sidoarjo DAYUNG! 
Sepertinya sudah cukup mendeskripsikan apa yang sudah saya dapatkan selama separuh tahun keempat. Kiranya semoga bermanfaat. 
(soon will be updated with graphics)

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)
Stay encouraged, stay motivated

Jumat, 13 Desember 2013

SabangMerauke edisi 2: perjalanan si sandal

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Sudah lamaaaaaaaaaaaaaaaa sekali rasanya saya tidak mengirimkan tulisan di sini. Semoga sisa-sisa ingatan saya tidak menjurus ke hal yang salah. Tulisan ini bertujuan untuk menginformasikan mengenai pengalaman saya bersama SabangMerauke. Pos sebelumnya ada di sini.

Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai SabangMerauke, begitu banyak hal yang terjadi. Merasakan menginap di rumah teman yang bahkan baru bertemu 2x (huahaha, terima kasih Mufid, segeralah belajar mengurus rumah); menunggu Kereta Rel Listrik (KRL) ditemani gerimis romantis (apaan yak?); curhat ceria bersama pak supir taksi mengenai anaknya yang kecanduan komputer (wacana penting ini!).

LANJUT! Sampailah mobil taksi biru itu ke jalan Jenggala untuk menurunkan saya menghadapi pesta perpisahan SabangMerauke dengan..... kepagian. Maksud saya, lebih  awal daripada acara  seharusnya (jam 4.30 sih harusnya, tapi datangnya jam 4.00 ya kali takut mati gaya di tengah macetnya Jakarta). Tapi, alhamdulillah, kekosongan waktu itu bisa saya gunakan dengan kegiatan yang bermanfaat.
"Kak Hani, ayo masuk!" Teriakan itu membuyarkan konsentrasiku. Datangnya dari kak Ayu. Salah satu tim perumus SabangMerauke. Terkesiap, saya pun melangkahkan kaki ke arah rumah yang emmmmmmmm mengagumkan (dalam pikir saya, ini rumah? Atau istana?). Ya sudah disyukuri saja tanpa banyak cakap, kapan lagi punya pengalaman sama rumah model gituan (ada kolam renang, ada aula yang diisi lukisan, ah ya sudahlah). Di dalam rumah tersebut ternyata sudah ada buku tamu yang harus diisi, label stiker untuk pengenal nama.

Di aula yang banyak lukisannya itu, saya mati gaya alias kikuk. Bagaimana tidak. Kakak SabangMerauke pada sibuk, susah masuk. Bercanda sama Anak SabangMerauke, sama sibuknya. (Sibuknya sibuk ngobrol, sih. Lagian saya tipe orangnya juga introvert) Tak lama, datanglah sosok yang sudah saya kenal, Niwa Dwitama, mahasiswa berprestasi (Mapres) UI 2013 (dan di kemudian waktu diumumkan sebagai Mapres Nasional 2). Sedikit ngobrol, eh saya dikenalkan dengan Iman Usman (Mapres Nasional 1 2012), salaman aja, siapa tahu ketularan kiat Mahasiswa Berprestasinya. Saya juga nggak jauh dari singkatan Mapres, cuma beda kepanjangan: Mahasiswa ngepres (baca: pas-pasan, tapi nggak kok, saya sudah berusaha yang terbaik --> menghibur diri).

Memasuki acara (akhirnya), dibuka oleh MC dengan menawan. Diisi sambutan oleh... Pak Anies Baswedan. Kedua kalinya saya bertatap muka dengan beliau, keren banget pengalamannya exchange di luar negeri, dan beberapa hal toleransi yang ingin saya diskusikan dengan mentor saya. Kemudian, salat magrib berjamaah dan... MAKAN. Oh yang saya sedikit kecewa adalah penyediaan tempat wudu pria dan wanita yang tidak dipisah. Mungkin sekarang saya hanya bisa mengkritik, harapan saya ke depannya fasilitasi ini bisa lebih baik. Ya kali, saya takut kalau nggak sengaja melihat aurat mbak-mbak yang sudah berkerudung itu. Dosa kaaaaan. Salat pun dilaksanakan di aula itu. Berjalan lancar alhamdulillah.  Makannya pun...... me-WAH. Diiringi hujan agak deras yang hampir membuat orang terpeleset ke sana ke mari, suasana makan malam di pinggir kolam itu benar-benar "wew, sekali doang ini... SEKALI". Tapi, akhirnya makannya pun duduk bersila di atas karpet sama para relawan, maaf nggak biasa makan mewah.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Kak Ayu yang bikin mewek karena saya merasakan pancaran energinya yang begitu maksimal mengenai SabangMerauke. Ah dasar saya gampang terbawa perasaan, ketika disambung dengan acara pemutaran video, saya sudah tak mampu membendung air mata. Kemudian, tampillah Anak SabangMerauke yang mempraktekkan hasil latihan menyanyi mereka, ditemani para penyandang ketidaksempurnaan dari lembaga yang pernah bekerjasama dengan SabangMerauke untuk acara Hari Sosial SabangMerauke, Senin 8 Juli 2013. Terharu? Iya, walau cuma sehari bertemu anak-anak unyu itu. Dengan overly excited-nya, saya melambaikan tangan untuk menyemangati mereka. Malu, nggak sih.

Diteruskan dengan penampilan Kakak SabangMerauke yang nggak kalah mengagumkan. Satu kata, Awesome! Dan berikutnya sharing dari para Famili SabangMerauke (FSM), menguras air mata. Berbagai cerita, mulai dari mau mengantarkan Anak SabangeMerauke nonton Dahsyat, tapi akhirnya ke Inbox; terlambat membangunkan sahur karena Famili berbeda keyakinan dengan si Anak SabangMerauke; terlambat  mengantar ibadah dan salah jadwal; belanja mengharukan karena seratus ribu; substitusi Candi Borobudur dengan Monas; balada.tidak tenang  Anak SabangMerauke dan Kakak SabangMerauke karena kucing; dan banyak lagi. Dari semua pengalaman itu, layaknya kita mengambil pelajaran. Terkadang banyak hal di dunia ini, yang bisa didapat tanpa muluk-muluk. Kesederhanaanlah intinya. Sesi ini pun ditutup dengan pemberian kenang-kenangan Famili SabangMerauke kepada Anak SabangMerauke dan sebaliknya. Pigura foto, tulisan, bunga mawar, dan benda-benda lain berpindah tangan dengan cepat dan dramatis (beneran, banyak air mata tumpah di sana).
Acara pun beralih ke penghujung... Setelah ditutup dan... FOTO-FOTO!!!! Sesi ini adalah sesi paling gawat di sini. Siapa pun bisa saja langsung ditarik buat foto bareng. Saya pun jadi korban, diminta foto oleh Anak SabangMerauke... oh, kenangan. Dan sukses memolorkan waktu pulang saya hingga jam 10 malam meninggalkan kediaman keren itu.

Performance Anak SabangMerauke, Sahabat

Performance Anak SabangMerauke

"Terkadang, hanya setitik yang usaha yang dibutuhkan. Tapi, jika anda melakukan titik usaha itu dengan tulus, titik lain akan berkumpul. Membuat titik lainnya. Menjadi besar, dan bermakna."

Semoga bermanfaat.  Maaf jika ada kesalahan. Untuk Kak Furi, Kak Ayu, Kak Wie, Kak Chiro, Kak Meiske, Kak Jourdan, dkk., terima kasih. Saya ingin melanjutkan proyek websitenya, namun.... apakah masih boleh? Saya sadar saya lalai dan khilaf. Namun, semoga kesempatan itu masih terbuka untuk melanjutkan semangat SabangMerauke ini. Saya sadar kalau SabangMerauke ini bermanfaat, dan saya sudah ceritakan ke banyak orang. Banyak yang terkagum dan mengapresiasi program ini. Walaupun masih dalam bayangan dan sudah saya diskusikan ke pihak mahasiswa di kampus, ingin mengadopsi konsep seperti ini dalam pengabdian masyarakatnya.
Best Regards to Everyone involved: ASM, KSM, FSM, All Relawan SabangMerauke and others.

Salam toleransi, pendidikan, ke-Indonesia-an.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 20 Juli 2013

Pengembara Pantofel: Bersama Sabang Merauke (1)

Assalamualaikum wr.wb.
Time to share, time to learn something new.
Oke... jadi sebenarnya hari itu saya sehari izin Kerja Praktek untuk suatu event yang diadakan Sabang Merauke. Tapi, yang saya dapatkan lebih dari sekedar "meliburkan diri". Let's check it out.
——————————————————————————

"Silahkan adik-adik di sini Anak-anak Sabang Merauke berikut juga Saudara Sabang Merauke menuliskan janji dari adik-adik untuk menggapai cita-cita meraih pendidikan perguruan tinggi entah di mana pun itu dan berjanji tidak akan putus sekolah." Begitulah (kira-kira, jika tidak salah ingat, dengan beberapa modifikasi yang ada) instruksi sesosok inspiratif dengan selempang kuning itu, Niwa Rahmad Dwitama, Mapres UI 2013, khas, kepada sepuluh lebih sekian insan belia peserta Sabang Merauke angkatan pertama.
Momen dramatis itu menjadi titik kulminasi acara pada jumat itu, Education Day Sabang Merauke. Sepuluh anak-anak SMP yang terpisah jarak sedemikian hingga, terbilanglah seorang bernama Ferdinan dari Sabah hingga si jelita Paska dari Jayapura, saat itu menjadi satu yang dekat dalam lingkaran, mengelilingi galian cita-cita yang akan tumbuh meroket hingga mimpi mereka di sana. Hingga detik ini, inspirasi akan terus mengalir, bersama.... toleransi, pendidikan, dan Indonesia.
.....

"Hani ya?" Ujar seseorang berusaha mengenaliku selepas turun pukul 8 di stasiun UI. "Ha?  Iya..." saya menanggapi dengan linglung, sepertinya masih merasa ajaib dengan KRL yang baru saja ditumpangi. "Ayo kumpul di situ... Chiro ini Kak Chiro." Sambung pria dengan kaus berkerah abu-abu kebiruan itu. Oh iya, gimana bisa lupa sih...?
Kak Chiro ialah seorang penggagas ide Sabang Merauke ini. Gerakan bernafaskan pendidikan dengan upaya  mengumpulkan anak-anak dari seluruh penjuru Nusantara, untuk berbagi satu sama lain, berlatih satu sama lain, belajar bagaimana toleransi dengan terjun langsung, meraih asa Indonesia dalam tangan mereka ini. Dan SabangMerauke ini adalah rekanan tim saya dalam BLP (Breakthrough Leadership Project) YLI Wave 5... (itu loh... postingan sebelumnya, baca dong)

Yah begitulah dari saya yang linglung dan sedemikian rupa dibikin tersihir oleh pelajaran-pelajaran selama satu hari itu. Selagi menunggu para peserta datang, saya berkenalan dengan beberapa partner Sabang Merauke yang sudah hadir di sana. Ada Kak Wahyu, Kak Didi, Kak Fariz, dan Kak Putra. Yah... gimana ya masih kagok-kagok gimana, sudah terdampar dalam waktu sebulan di Jakarta (sempat pake acara nyasar pula, menyedihkan), pertama kali naik KRL, dan pertama kali juga ke UI (Universitas Indonesia). Yang sempat didamba dikarenakan saya ingin masuk Akuntansi dan UI Akuntansinya terbaik se-Indonesia. Tapi saya nggak nyesel. Beneran loh, suer. Lanjutin hoi, ngelantur nggak jelas


Singkat cerita, setelah ngobrol sana sini dengan Anak Sabang Merauke [ASM] yang datang satu per satu... (Alun, Ferdi, Iman, Ayul —mentolo takuyel-uyel cah sithok iki, Iswan, Novi, Apipa, Zana, Paska, Villa) dan Saudara Sabang Merauke 
[SSM] (Dimas) dan Kakak-Kakak Sabang Merauke [KSM] (Kak Kezia —maaf ya Kak, kayaknya sering saya dzalimi dengan menyebut suaranya terlalu lantang, maaf.. maaf, Kak Rona, Kak Putri, Kak Laura, Kak Chen-Chen (Chenia) —mirip sama teman saya di jurusan, Chen (Yenita), cuma si Yenita versi mini-nya, Kak Mutia, Kak Mubin, Kak Mustaf, Kak Gary). Dan selagi menunggu... saatnya GAMES. HORE dimulai dengan simulasi SevenUp, yang mungkin bagi sebagian orang menyebalkan... —tapi gue aman mwahahah. Dan Games Cabu-Cabu-cacaca featuring saya sebagai leader-nya. Ya sudahlah...  semoga saya bisa membuat gerakan awalan yang baik... (sempat kepikiran salto, split, push up, apa.... cheerliar? Ah sudah simpel saja. —Nggak tau cheerliar? Itu budaya seru pas tahun pertama Smala. Cheer yang anggotanya cowok semua. Ah sudah cukup. Masa kelam) . DAN SAYA SUKSES! Membuat beberapa orang semakin pusing bersama gerakan saya. Oh ya sudahlah.

Menuju kegiatan pertama, kuliah bersama Pak Dekan Fakultas Ekonomi  UI, Pak Jossy. Berangkat dengan bis kuning khas UI dari stasiun UI, dan melihat-lihat dari luar gedung-gedung indah nan gagah yang mengiringi ribuan kepala generasi baru masuk dan keluar almamater ini selama rentang tak jauh dari empat tahun. Perjalanan di sebelah kiri kanan jalan —kayak hutan rek, tenan— begitu asri dan hijau. Selagi bertukar cerita dengan kawan-kawan baru (yang beberapa baru menyandang gelar sarjana) dan saling tunjuk gedung belajar satu sama lain, perjalanan begitu terasa cetar sampai akhirnya masuk ke kampus FE. Kesan pertama... wah besar ya?


Berjalan beriringan menuju suatu ruang kuliah di lantai tiga berlangsung bersama rasa penasaran saya di gedung ini sambil berujar "hooo" bersahutan dengan penjelasan kakak-kakak ini. Di ruangan tersebut, saya, yang merasa cukup tahu diri untuk tidak duduk di barisan depan, melenggang duduk sebangku dengan Kak Mustaf, Kak Mubin, Kak Chen2, dan Shaffa (seorang Saudara Sabang Merauke). Tak lama, seorang sosok tinggi besar datang, berikut sama besarnya dengan rasa penasaran inikah Pak Dekan? Ternyata mengabarkan Pak Dekan hanya bisa hingga pukul setengah 11. Ealah, bukan Pak Dekan tho. Sejenak waktu terbuang, barulah sosok bijaksana itu datang
, Pak Jossy P. Moeis.

Beliau mengawali kuliah dengan semangat berkobar bercerita mengenai betapa pentingnya pendidikan. Tentu saja, para ASM dengan gegap gempita dalam keheningannya mereka sendiri-sendiri menyambutnya bak sungai yang mengucapkan "halo" pada derasnya air terjun. Pak Jossy berkisah tentang konon perjalanan seorang perantau dari Tanah Riau, hingga mengenyam pendidikan di Jakarta, berlanjut kerasnya hidup di Negeri Paman Sam, dan hadir di tengah-tengah kita semua, sebagai seorang pemimpin Fakultas Ekonomi di universitas yang begitu ternama ini. Muara dari segala pembicaraan ini tentu adalah tanya jawab dari para ASM. Penggalian informasi dengan kalimat tanya dari Alun, Novi, Paska, Iman, dan kawan-kawan ini sanggup menginspirasi Pak Jossy untuk merelakan sedikit waktunya melebihi 10.30. Lalu, sesi ini ditutup dengan foto-foto. Saya sih ikutan... Gimana nggak kebelet narsis foto sama ASM-SSM yang unyu ini (KSMnya juga kok)
Lagi, kalian sungguh luar biasa. Jalan kalian ini sungguh tumbuh dengan terarah.
Tak mungkin semaian yang kami rawat dengan cantik ini hanya menjadi tanaman yang kering.
Tidak, kalian benar bukanlah gulma. Yang mengganggu lagi tak bermanfaat.
Kalian adalah bunga cantik kami. Menebar wangi ke seantero negeri. 

LANJUT!

Persuaan kami berikutnya adalah dengan pusat jendela dunia termegah di kampus hijau ini. Tak lain dan tak bukan adalah Perpustakaan UI. Sejenak menjejakkan kaki di sana, Hmmmmm.... Bukan bau khas buku kumal atau kertas cetakan baru yang kami dapati, melainkan suasana ala pusat perbelanjaan tengah kota a.k.a mal zaman sekarang. Sebenarnya nalar diri tak kunjung berujung demi penataan yang seperti itu. Penikmat buku tradisional seperti saya sih belum pernah mencoba membaca buku di tempat seperti itu. Kali aja ilmunya lebih masuk... Kali aja.
Namun, hal ini didapati sedikit berbeda oleh binar mata para ASM, samanya sih mungkin "waaaaaah, perpusnya megah banget." Di luar hal itu, cahaya pandang mereka membuat saya penasaran, akankah mereka berpikir ini suatu yang patut dijelajahi? Akankah semua ilmu dari penjuru dunia ini akan kumanfaatkan? Entah. Siapa yang tahu.
Tapi oh seribu tapi, waktu kunjung kami di perpustakaan ini hanya terhitung menit. Lagi-lagi, waktu istirahat di pinggir danau yang membatasi tapak pantofel ini dengan balairung UI, diisi dengan nafsu foto-foto yang begitu tinggi. Kali ini saya nggak terpengaruh dong. Ya sudahlah, jadi tukang potret sementara waktu dengan ponsel mungil saya. Enggak, nggak pakai kamera macam SLR, bisa-bisa kameranya terbakar gegara ke-gaptek-an saya.

Kala matahari sudah tinggi di atas kepala, kami bersiap untuk ibadah besar para muslim di tiap pekan. Apalagi kalau bukan salat Jumat? Kami beradu dengan pergerakan surya kembali menuju FEUI dipandu perputaran roda bis kuning yang kokoh. Eh, nggak di Masjid UI? Tanyaku kepada beberapa pihak. | Oh enggak, nanti soalnya acaranya di sekitar FE juga.| Oooh.
Sepeninggal lelah di pelataran gedung FE UI, kami mengatur rencana bagaimana agar bisa kumpul tepat waktu. Selagi mayoritas salat Jumat, dan lainnya ada yang ibadah khusus menghadap ke Timur. Dan tentu muncul anggukan patuh cerdas terhadap instruksi Kak Chiro sebelum derap kaki ini melangkah menyambut ibadah sakral itu di... . Ehm? Salat Jumat di lapangan basket?
Nggak separah yang dibayangkan, lapangannya dalam ruangan, memang sudah disiapkan salat Jumat seperti itu. Pancen wes sip. Jamaah dari Sabang Merauke berbondong-bondong mengambil air wudu di luar. Sebelumnya, instruksi dari Kak Fariz untuk berkumpul di depan pintu lapangan basket sudah tercatat dalam benak dengan baik.
Eh lhadalah, selesai salat Jumat malah saya yang ketinggalan sama rombongan. Mana belum hapal jalan lagi. Ngekor deh ke sana ke mari. Nggak nyasar kok, Alhamdulillah.

Dan, sampailah ke acara yang ditunggu-tunggu... Penanaman janji. Tak jauh dari tempat kami salat Jumat (kembali lagi ke lapangan basket itu), sudah siap sebuah galian lubang yang kayaknya juga nggak cukup untuk menimbun salah seorang yang bertubuh mungil dari kami. Dipandu Kak Chiro dan dilanjut oleh Kak Tama (Niwa R. Dwitama, Mapres UI 2013), kata-kata yang menggugah hati seseorang untuk selalu bermimpi meluncur begitu saja. Detik-detik janji untuk menggapai pendidikan yang tinggi itu sudah di depan mata. Segala ucap dari Kak Tama membuat belasan pasang mata itu menatap jauh ke dimensi yang tak sekedar angan-angan. Dimensi yang nanti termaktub dalam coretan bermakna di secarik kertas. Ya, dimensi itu ternamai cita-cita.
Ya, sumbu roket itu sudah disulut.
Disulut oleh tangan mereka sendiri.
Takkan pernah mati, meski pernah dalam oksigen yang sepi.
Takkan pernah meledak, meski pernah berkobar.
Sumbunya memang akan berjalan di alur yang tak diduga.
Sumbunya memang akan berujung dalam panjang lika-liku yang penuh debu.
Namun, apinya akan abadi, meninggalkan abu inspirasi tiada henti.

Berbagai cita-cita pun mereka sebut. 
"Saya .... berjanji, akan melanjutkan pendidikan di .... dan tidak akan putus sekolah."
Alangkah beraneka suara mereka, ada yang sebut arsitek, kimia, ekonomi, kepolisian, ada yang sebut UI dan ITB. Geleng-geleng kepala tanda haru akan cita-cita mereka, yang notabene jauh dari hingar-bingarnya kota besar layaknya Jakarta sebelum dua minggu ini, dilakukan oleh hampir semua kami. Hampir.

Herannya sih, kenapa nggak ada yang sebut Ilkom, Teknik Komputer, Teknik Informatika, atau bau-bau bidang saya.Spesial deh
Gulungan cita-cita itu dikumpulkan di dalam botol cita-cita "Sabang Merauke". Dan botol itu ditanam dalam galian yang sudah disiapkan itu. Harapan dari ide ini, cita-cita yang dilambangkan sebagai benih itu nanti akan tumbuh sebagai pohon tinggi nan elok, memberi manfaat bagi sekitarnya, layaknya tanaman bagi semua insan yang hidup di sekitarnya.

Akhir perjalanan, giliran Kak Diandra atau sering disebut Kak Didi memimpin. Kegiatannya jurnalling namanya, sepertinya semacam kontemplasi. Buat semua ASM, SSM, dan KSM. Semua diminta menulis. "Dalam lima tahun ke depan, saya berjanji untuk menjadi...". Well,  saya ingin ikutan juga. Tapi, saya kan hanya penggembira di sini. Oke, ndak masalah. Melihat saja sudah belajar banyak. Hehe. Lembaran kertas itu niscaya akan menjadi motivasi dan mungkin basah ketika haru biru itu datang saat lima tahun selanjutnya dibuka kembali.
Kembali ke Bus Kuning yang menghantar ke stasiun. Selepas tiba di seberangnya, saya berpamitan dengan belasan tangan mungil itu. Mengharap esok hari bisa bertemu lagi. Di lain kesempatan, dengan manisnya buah yang dipetik masing-masing.

---------------------------------------------------------
Eits, tenang. Masih ada serunya part 2 kok, Malam Perpisahan dengan Sabang Merauke angkatan pertama. Sabar aja. Juga ada out of event story-nya, yang nggak kalah seru dan garing. 
Ada kalanya segala yang kita tulis mungkin hanya sekedar coretan, karena itu komentar, kritik dan saran sangat membangun. Permintaan maaf akan selalu saya torehkan di sini selagi kesalahan yang ada selalu merundung.
Oh ya, kalau mau tahu lebih jauh tentang Sabang Merauke bisa cek nih di situs sabangmerauke.org (klik aja), dan twitter @SabangMeraukeID ,  atau nunggu laporan resmi dari BLP kami hehe.

OH IYA, LAGI. Gak ada foto-fotonya. Hehe Maaf yak. Lagi gak hobi foto-foto.


Wassalamu'alaykum wr.wb.

Jumat, 21 Juni 2013

Young Leaders for Indonesia McKinsey (Forum 1)

Assalamu'alaykum wr.wb. Ganti gaya bahasa dikit ya... Oleh-oleh dari Informatics Writing Experience (IWX 16 Juni 2013 kemarin)
Tulisan ini ada karena nganggur banget (err... di tanah orang, mau pelatihan tapi pembicaranya belum datang, dan rencana baca jurnal online tapi apa daya harus bayar)
Mengambil sedikit cerita dari beberapa waktu lalu, yang saya janjikan untuk menceritakan forum YLI setelah Summit YES (cek tautan ini).

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kepala saya berusaha selalu tertunduk saat itu. Bukan karena apa, tapi melaksanakan suatu anjuran "JAGALAH PANDANGANMU". Geleng-gelenglah pokoknya. Roknya yang pendek, busana tanpa lengan. Problema tersendiri untuk mengarungi situasi di sana, terlebih materi lapangan yang harus menerjunkan interaksi.

Kejutan yang tidak bisa dipungkiri, mengingat kondisi saya yang aman-aman saja di kampung halaman. Merantau di "hotel" wilayah lain, dengan segala fasilitas eksklusif. Mencetak sejarah sebagai seorang pemimpin, yang kurang lebih forumnya diadakan dengan tujuan seperti itu. "Tidak boleh tidak semangat," pikirku kala itu.

Forum 1 Young Leaders for Indonesia yang diadakan McKinsey di Hotel Grand Kemang itu memang sedikit banyak menguras waktu. Terlebih diadakan ketika INSPIRE II (Kaderisasi 2 Mahasiswa Muslim tingkat jurusan), yang membuat saya selalu SMS ketua panita secara rutin.

Namun, meski begitu, menurut saya, menjadi salah satu kesempatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Yang pasti bertemu dengan kawan-kawan baru yang  menakjubkan. Bagaimana tidak, semua pesertanya memiliki lingkup paling tidak mahasiswa berprestasi, wirausaha muda, artis kampus, ketua-ketua ormawa di kampus, dan lain sebagainya. Dan saya? Masih misteri tersendiri mengapa saya bisa masuk forum ini. Jabatan? Ketua Lembaga Dakwah Jurusan.

Dengan semua faktor mewah dari faslilitasnya, karpet beludru, meja bertaplak halus, kamar hotel yang me-"nyaman"-kan, dan pembicara top, membuat serasa berkebalikan dengan tujuan pengadaan hal-hal itu. Hmmm... Namun, kecuali makanannya yang berskala internasional, yang tidak biasa dicicipi di rumah, sekali-kali tidak apa-apalah merasakan pudding coklat dengan saus buah dan saladnya.

Sungguh menjadi hambanya yang kufur jika saya hanya mengutuk segala keburukan tanpa bersyukur. Yang pasti, kesempatan ini tidak akan saya biarkan sia-sia. Menjalin ukhuwah, pertemanan, memberikan rasa rindu, melangkah maju. Bertemulah dengan saya kawan lama yang merantau jauh, Ste dan Zafira. Menjalin pertemanan dengan kawan-kawan baru, Amel dari UGM, Trini dan Ikhsan dari UB, Andik dari Tadulakko, Mas Fadel dari ITT, Mizwandi dari Riau, dan lain sebagainya. Well, awesome!

Bincang-bincang sejenak dengan kawan baru (yang pada sepuh dan ON FIRE dalam mengerjakan TA, hehe maaf Mas), ada Mas Fikri dan Mas Aldhi Reza. Ketemu orang keren lain di kesempatan berikutnya, Mas Hanif Azhar (Mas, takbilang keren lho), dan Mas Imron. Tambah sering berkomunikasi dengan Mas Dalu juga.

Detail seru lainnya, ada Personal Leadeship Project (PLP) atau biasa saya sebut KPP yang nanti akan dibawa di forum 2. Untunglah teman-teman PKM saya baik hati menyepakati PKM itu sebagai project. Dan berjalan sebagai mana mestinya. (Gak asyik, ganti konsep berulang kali itu nggak asyik???)
------------------------------------------------------------------------------------------

Meskipun begitu, banyak manfaat dari kegiatan ini yang bisa dipelajari. "Entah berapa tahun lagi, teman-teman pasti membutuhkan atau akan berhubungan dengan orang-orang yang dikenal di sana nantinya. Pasti" -Hanif Azhar

OK. Sekian dulu, semoga bermanfaat. Tak lupa saya ucapkan maaf jika ada yang tak berkenan atau kurang di segala sisi.
Wassalamu'alaykum wr.wb.

Selasa, 18 Juni 2013

Ketulusan

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Hmmm, ini apa frekuensi posting saya yang terlalu lama ya?
Hehe apa pun lah. Pokoknya nulis, iya kan? :D

Ketika kita menjalani hidup sebagai mahasiswa, pasti tidak pernah lepas dari berkehidupan bersama orang lain. Ya paling pelik sih biasanya berorganisasi, tapi paling sederhana yang pasti sering ditemui sih kalau ada tugas dan tugas itu berkelompok... Pasti pernah.

Pernah nggerundel nggak, ketika pas sudah ngerjain tugas atau lagi mau ada rapat apa... Tiba-tiba, si rekan kita nggak bisa datang nih. Semakin menambah nafas kita kayaknya, harus menghela nafas sering-sering. (Ya bagus dong :p). Nah ada juga nih, yang malah jutek dan lain sebagainya. Yang mana yang baik, dan yang mana yang buruk, sudah bisa tahu? OK. Saya sebenarnya pernah mengalami dua-duanya. Hehe. Biasa lah anak labil  zaman dulu dan sekarang.

Cerita-cerita sedikit tentang pengalaman boleh lah ya :)

Zamannya mahasiswa baru masuk tahun pertama, pasti ada masa orientasi dan lain-lain. Ketika itu, diminta datang lengkap dan sebagainya. Hmmmmm... Hampir tidak mungkin sih ya bisa 100% lengkap. Di sini sudah mangkel dan lain-lain. Yah, begitulah. Atau naik tingkat sedikit ke rapat organisasi. Misal jadi yang ada urusan, ternyata eh ternyata, yang bersangkutan yang jadi target urusan itu tidak datang. Hmmm, mangkel? Ya dan tidak. Sudah capek-capek bikin kan ya? Repot banget. --"

Tapi, seiring waktu dan kawan seperjuangan semakin sibuk... Mau ketemu hampir setiap hari aja susah, mencocokkan jadwal saja apa lagi. Hmmm, tapi semakin hari, semakin naik rasa sabarnya. Enggak tahu kenapa. Mungkin semakin sadar atas kesibukan yang lain. Begitulah namanya maklum. Rasanya... :-)

Dulu mangkel sekarang senang. Nggak tahu. Mungkin hidayah, diberi kesabaran lebih? Nggak tahu lagi, semakin keren dan sibuk orang-orang yang saya dekati, semakin senang saya. Beruntunglah saya ada di sana, menimba ilmu dengan teman lain yang lebih keren. Saya cinta dengan keadaan seperti ini, melihat kesibukan yang lain. Dan, ketika mereka datang di dalam lingkaran ini, bahagia kuadrat dan semakin cinta lah saya.

Karena ketulusan hadir bukan karena ada apa-apa, tapi ketulusan hadir dengan apa adanya.

Sekelumit yang saya sudah gali tentang diri manusia ini.  Mungkin masih banyak kekurangan.

Wassalamu'alaykum wr.wb.