Sabtu, 16 Juni 2012

Bismillah.... KMI 2012-2013

Assalamu'alaikum wr.wb.

...kilas balik waktu itu...
Di penghujung MUBES SITC 2012, dipilihlah Hani Ramadhan sebagai ketua KMI 2012-2013.

...kilas balik selesai...

Syok? iya... jelas. Jantung hampir copot? Tidak juga sebenarnya. Hal ini sudah diwacanakan sebelumnya.

Bagi saya, hal ini merupakan tantangan baru dan sangat "wow". Betapa tidak, mungkin saya seseorang yang bukan "apa-apa", mungkin ilmu agama saya masih kurang, mungkin saya kurang lancar berkomunikasi, dan lain hal sebagainya. Memimpin organisasi, memimpin suatu lembaga dakwah? Kedua hal tersebut merupakan hal yang sangat menakjubkan sekaligus membuat saya takjub.

Jujur, mungkin sekarang masih kalut. Kalut tentang siapkah saya melangkah ke depan? Siapkah saya ber-"luntang-lantung" di dunia itu? Siapkah saya menghadai semua tekanan yang ada? Siapkah saya menghadapi tantangan yang ada?

Tapi, saya percaya. Itu bukan hal yang mudah, tapi tidak mustahil.
Saya percaya saya bisa membawa perubahan. Tidak. Bukan saya, tapi kami. Kami, KMI di sini. Harapan itu selalu ada, tergantung kita mau bergantung terus atau mewujudkan harapan itu.
Saya percaya hal ini tidak sia-sia, karena:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)




Saya akan berjuang terus. Kami tidak akan menyerah. Karena kami akan berusaha menghadirkan kembali keislaman di lingkup dunia ini.

"Meskipun saya tahu saya masih lemah dan kurang, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memaksimalkan amanah ini."


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)

.....................................
Ini bukanlah titik awal
Maupun bukan titik akhir
Ini kelanjutan harapan
Ini perwujudan mimpi

Meskipun ku harus berdarah
Meskipun ku harus menangis
Meskipun ku harus dicemooh
Meskipun ku harus diakhirkan
Insya Allah, ku takkan menyerah

Sederhana, mungkin tujuannya
Bersahabat, mungkin caranya
Terorganisir, mungkin tingkatannya

Ini adalah masanya
Untuk membuka lembaran lain
Yang nantinya muncul kejayaan
Yang berasal dari titik ini

Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, tiap-tiap orang ini yang berusaha
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari tiap orang lain yang merasa dibutuhkan
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari tiap pendukung lain yang merasa bagian dari ini
Mungkin bahkan bukan dari sekumpulan orang ini
Tapi, dari pihak yang bertolak belakang pula

Hal itu sudah cukup mengukir senyum di hati kami
Paling tidak adalah bukti adanya kami adalah manfaat
Paling tidak adalah bukti ada kami
.........................................................

KMI 2012-2013
"Kami Siap Ada di Sini, Membawa Perubahan"
 

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Selasa, 29 Mei 2012

Jika Tidak Bisa Aku Kaffah, Apakah Aku Mengikuti Langkah Setan?

Bismillah...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya, sekali lagi, dan lagi-lagi ingin menulis di blog ini. Mungkin saya galau, selalu kacau. Menghadapi semua deadline yang ada ini. Sedikit cerita boleh lah ya?

Pernah pas sekali saya masuk ke jurusan ini, saya tidak berpikiran untuk masuk LDJ (Lembaga Dakwah Jurusan). Namun, menginjak perjalanan dari hari ke hari dalam lingkungan jurusan. Saya pun tertarik, sedemikian pula takut. Takut akan semua isu yang beredar tentang lembaga dakwah kampus. Takut akan sulitnya izin dari orang tua saya dan sebagainya.

Tapi, hati saya tergelitik. Tulisan di baris KTP "Agama" saya adalah Islam. Apakah memang saya sudah menjadi manusia beragama "Islam" yang sepenuhnya? Apakah bukan suatu kebohongan dan kejatuhan harga diri yang besar jika tulisan itu menjadi suatu kemunafikan belaka. Berkaca kepada diri sendiri. Dan menggali semua yang saya dapat dari ilmu agama dan mentoring.

Kesimpulan: jika saya mengakui diri saya Islam, saya harus menegakkan syariat Islam di mana pun saya berada. Paling tidak saya bisa melakukannya untuk diri sendiri.

Namun, ketika itu pula saya galau (kembali). Berdasarkan temuan-temuan saya, ketika kita salat, kita akan merasakan suatu kesejukan, melakukan penghambaan yang maksimal kepada Sang Pencipta kita. Kemudian saya merasa hampa, apakah salat saya sudah benar? Menilik kembali jauh. Apakah syahadat yang saya ucapkan sudah benar?

Dari semua itu timbul kegalauan (lagi). Ragu. Mungkin.

Apakah sudah keseluruhankah hati saya untuk Islam?


Kembali, saya takut, berdasarkan Surah Al Baqarah 208 : "Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara Kaffah dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithon. Sesungghuhnya syaithon itu mush yang nyat bagimu."

Jika tidak bisa aku kaffah, apakah aku mengikuti langkah setan?

*oke curhatan ini  mungkin membebani teman-teman pembaca sekalian, namun saya memang galau*

Sekian terima kasih. Wassalamu'alaikum wr.wb.

Sabtu, 28 April 2012

Mahasiswa, Hal Tersebut Bernama Pengalaman

"Pengalaman adalah guru yang terbaik". Kutipan makna tersebut sudah terbukti manjur untuk orang-orang yang pernah mengalaminya, termasuk saya.
Memasuki bangku kuliah ini, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan tinggi ini. Namun, satu tersebut tidaklah sama. Mungkin saya sempat berada di sana dengan latar belakang sekolah yang sama dengan beberapa yang lain, mungkin saya berada di kelas yang sama dengan beberapa yang lain, mungkin saya memiliki latar ekonomi yang sama dengan yang lain. Tapi, di sana, masing-masing orang meniti jalannya masing-masing, dengan pandangan masing-masing.
Perjalanan pun berlangsung sampai sekarang. Dengan bertemu orang-orang yang hebat, saya mendapatkan sedikit maupun banyak hal dari orang-orang tersebut. Setiap hal yang didapat selalu dapat diambil maknanya bagi tiap orang yang menyikapinya. Untuk saya, saya berusaha memposisikan diri sebagai orang yang berpikiran positif untuk dapat mengambil semua pelajaran. Karena itu, perjalanan saya ini tidak sia-sia, tidak akan.
Perjalanan bermula ketika di bangku tahun pertama. Saya pendiam, terkadang cerewet. Tapi sifat aslinya pendiam. Saya cenderung mengamati, sebelum melakukan tindakan. Namun, semua hal tersebut harus disingkirkan ketika menuju pengaderan, yang selebihnya tidak bisa dibahas di sini. Saya mungkin terseret menjadi sebagian yang lain. Tapi saya berkata pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi yang lain, karena saya adalah saya. Saya memang berusaha berubah, namun tidak menjadi mereka, saya mengamati pola perilaku mereka, dan saya bertindak lanjut untuk mengakomodasi mereka. Saat itu adalah kala pengalaman untuk menjadi diri sendiri muncul.
Beribu langkah perjalanan terlampaui, beribu pula pengalaman didapat: pengalaman non-kuliah ketika di kelas saat Bapak Ibu Dosen saya bercerita tentang masa lalunya, pengalaman menyikapi seorang teman ketika menghadapi masalah, pengalaman mengatur kegiatan dan organisasi, pengalaman manajemen diri dan waktu, pengalaman manajemen orang dalam kelompok, dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman tersebut memang bukan hal mudah untuk dilakukan, tapi mudah dicari, tergantung beberapa pandangan untuk mengambilnya atau tidak.
Saya pun terhenyak sendiri ke belakang, kembali merasuk diri sendiri lagi. Apakah saya sudah menjadi seorang yang bisa cukup "berharga" mendapatkan pengalaman-pengalaman itu? Saya merasuk lebih dalam, apakah saya memang seorang yang cukup "pantas" untuk pengalaman-pengalaman itu. Saya pun sendiri, saya memang mungkin takut, saya mungkin hanya bisa berkomentar dalam hati.
Lepas dari semua itu, saya tidak ingin mendengarkan sisi kalut saya. Dengan semua itu, saya ingin tetap beraktivitas selayaknya mahasiswa. Berkuliah, berorganisasi, berpendapat, berprestasi. Tanpa henti. Dengan selalu menuju ridho Illahi.

Setiap pengalaman memiliki hikmah. Setiap pengalaman memiliki cerita. Pengalaman terbatasi kesempatan. Pengalaman terbatasi niat. Pengalaman terbatasi waktu. Pengalaman adalah berharga. Pengalaman adalah guru. Pengalaman adalah kenangan.

Janji kepada diri saya, untuk berbagi manfaat dari pengalaman.
29 April 2012, Hani Ramadhan

Jumat, 09 Maret 2012

sedikit corat-coret menjelang sw 104

Temaram.
Temaram kala itu malam.
malam lalu lalang menyelam.
Menyelam di tengah hiruk pikuk alam.
Alam jalan raya yang kejam.

Cantik.
Cantiknya hujan rintik-rintik.
serintik cerah mewarnai titik.
Titik-titik putih warna lampu kota yang menarik.
Tariklah semuanya dalam pesona antik.
Antik perkotaan di masa ini yang pelik.
Pelik mencekik sidik penuh selidik.

Menderu.
Deru kendaraan tiada menentu.
Tentu di pinggir jalan jasadku.
Jasad yang kini berdiri membisu.
Bisunya hati, takutnya ilmu.
Ilmu untuk menyembah-Mu.
Kepada-Mu Ilahku aku beradu.

Manusia.
Memanusiakan semua ciptaan yang setia.
Setialah dalam lagu sia-sia.
Sia-sia kemudian bermakna bagi dunia.
Dunia ini bukan lagi cinta lagi bahagia.
Bahagialah mereka yang memanusiakan manusia.

Merantau.
Perantauan ini hanyalah sedikit kacau.
Kacau semua sedikit, sedikit semua meracau.
Racau ini itu semua galau.
Galau kita malam ini burung berkicau.
Kicau tentang indah, sempurna malam yang lampau.
Lampau maupun kini tiada malam tanpa gurau.
Gurau canda tiada pantau.

Tuhan.
Ku menuhankan-Mu atas semua keindahan.
Keindahan tiada cerminan.
Segala cerminan jiwa dalam iman ini kuberikan.
Berikan tanpa jalan bagi setan.
Setan itu gaib sekarang perkataan.
Kata-kata yang dimulai setan yang kenyataan.
Nyata-nyatanya musuh di keadaan.

Jumat, 02 Maret 2012

IT CONTEST ITS EXPO

Senin, 29 Agustus 2011

Besok Idul Fitri 1432 H, Berikut Kesempatan dan Keputusan yang Sudah Saya Ambil

Assalamu'alaikum wr.wb.
Rasanya sudah berabad-abad saya tidak ngeblog~ (berlebihan mode on)

Sehubungan dengan selama puasaan saya tidak ngeblog. Sebelumnya saya mohon maaf lahir batin kepada semua pembaca. Mulai dari nol lagi ya~ (a la SPBU pertamina)

Meskipun begitu, masa puasa ini saya tidak berleha-leha di rumah saja. Banyak sekali (se-ka-li) kegiatan kampus yang saya kerjakan. Mengurus buka bersama, screening,dan kawan-kawan, dan lain-lain. Yah seru sih.. tapi dalam beberapa kesempatan saya tidak bisa di rumah. Lagipula suasana di rumah agak hambar, tidak ada saudara-saudara. Mas ada di Makassar, Mbak ada di Jakarta, sepupu ada di Probolinggo. Mungkin, buka di kampus malah lebih terasa menyenangkan daripada di rumah. Di rumah hanya ada Ibu, Budhe dan kadang-kadang Bapak.

(ya... tidak seberlebihan ini sih. pic credits to: blogs4funny.com)

Ya... Sebenarnya saya menaruh rasa hormat yang tinggi kepada beliau-beliau. Tapi, terkadang saya merasa tertusuk oleh over-expectation dan pandangan beliau-beliau terhadap saya. Maklum, mungkin beliau-beliau belum bisa menempatkan posisi di kaki saya. Beda zaman juga mungkin.

Namun, setelah H-sekian lebaran (Alhamdulillah) saudara-saudara saya berdatangan ke rumah semua. Dan saya menceritakan sekelumit derita saya kepada mereka. Dan mereka sadar dan berusaha santai saja. Toh, buktinya mereka sukses-sukses saja. (semoga saya juga bisa seperti itu, dengan cita-cita saya yang seperti itu)
(ku ingin menjadi yang kuinginkan. Ingin ku jadi guru, ingin ku jadi menteri pendidikan. Aamiin. pic credits to: ayo-ngaji.blogspot.com)

Dan dalam momen ini saya mencoba berkiprah dalam surat menyurat(Baca: kirim kartu lebaran) ke beberapa teman saya yang mungkin saya anggap ingin keep-in-touch . Teman yang berada jauh di sana, seorang perempuan yang memiliki masa lalu dengan saya, seorang perempuan yang suka menulis, dan seorang perempuan yang sebutlah memiliki janji dengan saya melakukan surat menyurat ini. Saya mengirimnya dengan menggunakan perangko (kantong mahasiswa). Namun, kata pegawai pos-nya sampainya bakal lama. Ya sudahlah, biar waktu yang menjawab semua itu. Bagi banyak teman-teman yang saya tidak kirimi kartu lebaran, saya mohon maaf, karena urusan finansial.
 (kartu lebaran digital... emm yaweslah. pic credits to: suceve.blogspot.com)

Nah, menyangkut lagi tentang lebaran. Di negeri tanah air tercinta saya ini, Indonesia, terjadi gonjang-ganjing akibat penentuan 1 Syawal 1432 H. Di kalender sudah tercetak merah tanggal 30 Agustus 2011 dengan tanda Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Namun, berhubung beberapa pendapat menyatakan terlihatnya hilal belum memenuhi syarat jatuhnya awal bulan baru. Maka, 1 Syawal 1432 H pun diputuskan jatuh hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Yah, Alhamdulillah yah. Mungkin dalam semua perbedaan ini akan tercipta keharmonisan Indonesia, dan juga ukhuwah yang lebih baik lagi antar sesama Muslim. Aamiin

Sebelum kiriman ini saya akhiri, ada baiknya saya meminta maaf lahir batin lagi. Menyangkut Idul Fitri 1432 H, yang akan jatuh esok hari.
Taqoballahu minna wa minkum. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Hani Ramadhan sekeluarga.
 (kembali suci di hari fitri. pic credits to:  edo-ding.blogspot.com)

Terima kasih banyak sudah mau membaca, kurang lebihnya saya mohon maaf. Sekian. Wassalamu'alaikum wr.wb.

Minggu, 03 Juli 2011

Pelajaran Kehidupan Bisa Diperoleh dari Mana Saja, Walaupun Kita Hanya Melihat

Assalamu'alaikum wr.wb.
Wah, sudah lama sekali saya tidak posting. :)
Kangenkah ? (ya enggak lah, followernya dikit)

Sudah akhir semester genap. Setelah susah payah derita dan usaha, akhirnya saya sudah melanglang buana melewati semester yang kelihatannya santai tapi ajaib ini.

Yah, mungkin anda pernah dengar situs keramat buat anak ITS yang namanya integra, situs sistem akademik online ITS, sehingga nilai-nilai yang keluar pasti ada di situ. Itulah yang namanya situs keramat di awal dan akhir semester. Nilai dan pertaruhan mata kuliah semester berikutnya.

Bisa dibilang kotak pandora sih, kita tidak akan tahu nilai yang keluar seperti apa, tergantung dosennya. Dan setiap membuka pasti deg-degan. Namanya juga nilai. Selalu misterius. Kalo dibuka bisa kecewa ataupun senang *sujud syukur mungkin*

Mungkin itu hanya sekilas info yang mengawali postingan saya hari ini. Pelajaran yang saya dapat dari sana adalah ketulusan. Ketulusan mencari ilmu sepertinya suatu topik yang saya resapi di sini.



Pelajaran ini saya dapatkan menghadapi teman-teman saya yang mungkin derita bersedih menghadapi kenyataan si situs kotak pandora (baca: integra). Mungkin nama-namanya tidak saya sebutkan di sini. Hanya beberapa penanda seperti A, B, C dan seterusnya.

Mulai dari si A. Teman sekelas kalkulus saya. Yah biasalah mungkin penyakit anak pandai :D. Ketika mungkin A tidak menerima kenyataan bahwa dia mendapat nilai tidak sebaik teman saya yang A rasa tidak lebih pintar dari A. Di sini saya dan beberapa teman saya yang lain berusaha menyadarkan bahwa segala gerutuan yang A lontarkan tidak seharusnya dia lontarkan. Karena pada awalnya A menggembar-gemborkan orientasi ilmu, bukan orientasi nilai. Tapi, teman-teman yang lain memberikan pendapat bahwa yang A katakan tidak sesuai dengan kata-katanya dulu. Istilahnya ya mungkin mulut tidak sejalan dengan hati.



Iya, hati. Hati teman-teman saya yang lain merasa trenyuh ketika mendengar hal itu. Mereka protes di sana-sini (berusaha mengembalikan kesadaran A dan ingatannya ketika berbicara orientasi ilmu). "Seandainya memang kamu merasa dirimu orientasi ilmu, bukanlah tindakan yang tepat jika kamu sekarang menggerutu, karena ilmu yang didapatkan tidak diukur dari nilai. Tetapi ke dalam dirimu sendiri, apa saja yang kamu dapat ketika proses menimba ilmu itu," ujar salah satu teman saya.
Mungkin si A sekarang sedang berusaha introspeksi diri, dan menyadari bahwa untuk mencari ilmu butuh ketulusan. Ketulusan untuk mencari ilmu tidaklah diukur dari hasil akhir.

Nah, sekarang si B, yang terkesan didzalimi oleh dosennya. Dan masih si imut kalkulus (tapi kelas lain). Sekelas nilainya D sama E semua! (saya juga syok, tapi mau bagaimana lagi). Mungkin ini yang terbaik. Eits, belum saatnya menyesal dan menerima. Si B dan teman-teman sekelas merasa ada sesuatu yang salah dengan ini. Berusaha memperjuangkan kebenaran, berangkatlah si B menuju peraduan (tempat dosen maksudnya). Entah kenapa, dosennya terlalu tidak jelas, si B akhirnya pasrah menunggu keajaiban nilai. Sampai sekarang, si B masih menunggu, dan akhirnya nilai kelasnya tidak banyak berubah.
 
Yang saya salut dari si B ini adalah kesabarannya dalam memperjuangkan nilai, walaupun pada akhirnya tetap menerima karena nilainya tidak banyak berubah, dan si B tetap legawa untuk menghadapi semua ini. Tetap semangat, B!



Lalu, lain cerita si C. Si C curhat ke saya suatu ketika setelah nilai suatu mata kuliah keluar. C bercerita (agak gerutu keluh kesah) mengapa nilainya bisa lebih jelek dari temennya yang sebenernya diajari oleh si C. Mungkin si C tidak terima *yah kasusnya mirip-mirip lah sama si A*. Tapi, yang membedakan begini, si C takut ketika misalkan temennya yang diajari itu tidak membalas budi baiknya. Mungkin inikah yang dinamakan pamrih? Lalu, saya berusaha menjadi manusia baik *manusia baik, katanya*. Berusaha memberi pengertian. Jika ketika berhadapan dengan situasi seperti itu, saya (jika menjadi C) tidak masalah bagaimana akhirnya si yang diajari itu membalas kebaikan kita atau tidak, tetapi kita akan merasa lebih senang ketika yang diajari mengerti apa yang kita beritahukan kepada yang meminta diajari. Cukup itu. Entah si C merasa lebih baik atau bagaimana, paling tidak saya merasa saya sudah memberikan yang terbaik.

Okeh, mungkin sekian. Kesimpulannya, meskipun saya tidak di posisi mereka rasanya saya bisa merasakan kesedihan mereka. Tapi, ada satu kendala yang saya takutkan di sini. Ketika saya ada di posisi mereka, apakah saya bisa menjalani semua yang saya katakan di sini. Sebagai manusia yang sok-sokan baik hati? Mungkin iya, mungkin tidak. Semua tergantung pada diri saya.

Sebelumnya terima kasih juga ke teman-teman yang sudah saya ceritakan di sini. Kalian memberikan pelajaran berharga

Bismillah. Semoga ucapan saya dan hati saya selalu sejalan, sehingga semua amal yang saya ucapkan dan perbuat bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri selalu. Amin.


Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh