Minggu, 03 Juli 2011

Pelajaran Kehidupan Bisa Diperoleh dari Mana Saja, Walaupun Kita Hanya Melihat

Assalamu'alaikum wr.wb.
Wah, sudah lama sekali saya tidak posting. :)
Kangenkah ? (ya enggak lah, followernya dikit)

Sudah akhir semester genap. Setelah susah payah derita dan usaha, akhirnya saya sudah melanglang buana melewati semester yang kelihatannya santai tapi ajaib ini.

Yah, mungkin anda pernah dengar situs keramat buat anak ITS yang namanya integra, situs sistem akademik online ITS, sehingga nilai-nilai yang keluar pasti ada di situ. Itulah yang namanya situs keramat di awal dan akhir semester. Nilai dan pertaruhan mata kuliah semester berikutnya.

Bisa dibilang kotak pandora sih, kita tidak akan tahu nilai yang keluar seperti apa, tergantung dosennya. Dan setiap membuka pasti deg-degan. Namanya juga nilai. Selalu misterius. Kalo dibuka bisa kecewa ataupun senang *sujud syukur mungkin*

Mungkin itu hanya sekilas info yang mengawali postingan saya hari ini. Pelajaran yang saya dapat dari sana adalah ketulusan. Ketulusan mencari ilmu sepertinya suatu topik yang saya resapi di sini.



Pelajaran ini saya dapatkan menghadapi teman-teman saya yang mungkin derita bersedih menghadapi kenyataan si situs kotak pandora (baca: integra). Mungkin nama-namanya tidak saya sebutkan di sini. Hanya beberapa penanda seperti A, B, C dan seterusnya.

Mulai dari si A. Teman sekelas kalkulus saya. Yah biasalah mungkin penyakit anak pandai :D. Ketika mungkin A tidak menerima kenyataan bahwa dia mendapat nilai tidak sebaik teman saya yang A rasa tidak lebih pintar dari A. Di sini saya dan beberapa teman saya yang lain berusaha menyadarkan bahwa segala gerutuan yang A lontarkan tidak seharusnya dia lontarkan. Karena pada awalnya A menggembar-gemborkan orientasi ilmu, bukan orientasi nilai. Tapi, teman-teman yang lain memberikan pendapat bahwa yang A katakan tidak sesuai dengan kata-katanya dulu. Istilahnya ya mungkin mulut tidak sejalan dengan hati.



Iya, hati. Hati teman-teman saya yang lain merasa trenyuh ketika mendengar hal itu. Mereka protes di sana-sini (berusaha mengembalikan kesadaran A dan ingatannya ketika berbicara orientasi ilmu). "Seandainya memang kamu merasa dirimu orientasi ilmu, bukanlah tindakan yang tepat jika kamu sekarang menggerutu, karena ilmu yang didapatkan tidak diukur dari nilai. Tetapi ke dalam dirimu sendiri, apa saja yang kamu dapat ketika proses menimba ilmu itu," ujar salah satu teman saya.
Mungkin si A sekarang sedang berusaha introspeksi diri, dan menyadari bahwa untuk mencari ilmu butuh ketulusan. Ketulusan untuk mencari ilmu tidaklah diukur dari hasil akhir.

Nah, sekarang si B, yang terkesan didzalimi oleh dosennya. Dan masih si imut kalkulus (tapi kelas lain). Sekelas nilainya D sama E semua! (saya juga syok, tapi mau bagaimana lagi). Mungkin ini yang terbaik. Eits, belum saatnya menyesal dan menerima. Si B dan teman-teman sekelas merasa ada sesuatu yang salah dengan ini. Berusaha memperjuangkan kebenaran, berangkatlah si B menuju peraduan (tempat dosen maksudnya). Entah kenapa, dosennya terlalu tidak jelas, si B akhirnya pasrah menunggu keajaiban nilai. Sampai sekarang, si B masih menunggu, dan akhirnya nilai kelasnya tidak banyak berubah.
 
Yang saya salut dari si B ini adalah kesabarannya dalam memperjuangkan nilai, walaupun pada akhirnya tetap menerima karena nilainya tidak banyak berubah, dan si B tetap legawa untuk menghadapi semua ini. Tetap semangat, B!



Lalu, lain cerita si C. Si C curhat ke saya suatu ketika setelah nilai suatu mata kuliah keluar. C bercerita (agak gerutu keluh kesah) mengapa nilainya bisa lebih jelek dari temennya yang sebenernya diajari oleh si C. Mungkin si C tidak terima *yah kasusnya mirip-mirip lah sama si A*. Tapi, yang membedakan begini, si C takut ketika misalkan temennya yang diajari itu tidak membalas budi baiknya. Mungkin inikah yang dinamakan pamrih? Lalu, saya berusaha menjadi manusia baik *manusia baik, katanya*. Berusaha memberi pengertian. Jika ketika berhadapan dengan situasi seperti itu, saya (jika menjadi C) tidak masalah bagaimana akhirnya si yang diajari itu membalas kebaikan kita atau tidak, tetapi kita akan merasa lebih senang ketika yang diajari mengerti apa yang kita beritahukan kepada yang meminta diajari. Cukup itu. Entah si C merasa lebih baik atau bagaimana, paling tidak saya merasa saya sudah memberikan yang terbaik.

Okeh, mungkin sekian. Kesimpulannya, meskipun saya tidak di posisi mereka rasanya saya bisa merasakan kesedihan mereka. Tapi, ada satu kendala yang saya takutkan di sini. Ketika saya ada di posisi mereka, apakah saya bisa menjalani semua yang saya katakan di sini. Sebagai manusia yang sok-sokan baik hati? Mungkin iya, mungkin tidak. Semua tergantung pada diri saya.

Sebelumnya terima kasih juga ke teman-teman yang sudah saya ceritakan di sini. Kalian memberikan pelajaran berharga

Bismillah. Semoga ucapan saya dan hati saya selalu sejalan, sehingga semua amal yang saya ucapkan dan perbuat bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri selalu. Amin.


Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selasa, 19 April 2011

Rembulan di Padang Biru

Ketika di sini...
Seiring langkah kaki ditapakkan menuju cahaya
Cahaya yang berada di ambang pintu
Mengusikku dalam lelah
Namun, tidak menyerah

Semakin lama dan semakin jauh
Namun semakin lelah
Namun semakin terang cahaya-Nya
Sudah dua langkah ku ada di luar pintu tersebut
Oh, apakah yang terjadi

Secercah cerah nan indahnya
Tapi tidak silau
Ketika kupacu langkahku
Aku tidak menjauh
Aku semakin dekat

Betapa indahnya, indah kebesaran-Nya
Ketika suatu cahaya rindang dihadapkan kepadaku
Cahaya bundar di langit biru yang tidak berbintang
Dengan selimut jingga pucat, begitu jelas namun sungguh samar
Sungguh indah kuasa-Nya
dan kuucap Subhanallah

Namun, langkah ini tidak boleh terhenti,
Namun, langkah ini tidak boleh terusik,
Ketika langkah ini sudah mulai melambat
Matilah sudah

Dalam jangkauan keagungan makhluk-Mu,
Sang waktu,
Aku memohon kepada-Mu, wahai Pencipta Yang Maha Esa
Cahaya-Mu di padang biru ini tidak akan pernah pudar
Padang biru ini adalah perjuangan
Padang biru ini adalah kesempatan
Untuk menjadi hamba-Mu yang senantiasa akan selalu bersimpuh di hadapan-Mu

Bismillahirrahmanirrahim

Minggu, 19 Desember 2010

JENUH? Apakah Mungkin Kita KURANG BERSYUKUR?

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jumpa lagi di suatu hari yang baru dan suasana yang baru (karena sudah lamaaaa sekali tidak update, hehe)

Semenjak kuliah, rasanya sudah tidak ada lagi waktu kosong, kecuali jika waktu kosong tersebut dibuat sendiri atau diluangkan (dan bukan bermaksud untuk mengatakan "membolos" karena memang bukan itu kenyataannya). Beratnya kuliah baru sangat terasa di dalam kehidupan sehari-hari. Entah karena tugasnya yang memang amat berat, praktikumnya yang kejam, maupun adaptasinya yang dipaksakan. Namun, di balik semua ITU PASTI ada HIKMAH yang tersadari maupun tidak. Pasti dan selalu ada.

Mungkin pernah terpikir, dari semua badai akademis dan non akademis yang kian keras menerpa diri, ada suatu rasa bosan, jenuh, sumpek, malas, tidak mood, dan lain-lain yang menghambat produktivitas kita untuk beraktivitas, baik tugas dan kehidupan sosial. Mungkin pernah terpikir untuk menyingkirkan diri sebentar (atau lama, pada intinya: selama rentang waktu tertentu) dari semua rutinitas yang ada. Dan sesungguhnya keadaan-keadaan itu bukanlah isapan jempol belaka dan terjadi dalam kehidupan sendiri.

Kuliah, yah... Memang seperti itu adanya...

Tapi, setelah perjalanan 1 hari mengembalikan mood untuk bekerja, sebuah inspirasi pun datang ke dalam pikiran tentang apa yang menyebabkan pemikiran "kuliah" itu "berat". Saya pun mendapat inspirasi dan hidayah, bahwasanya saya mungkin KURANG BERSYUKUR terhadap karunia "kuliah" yang diberikan Allah SWT ini.

Sesekali dan terkadang, rasanya pemikiran ini benar juga. Tiap ada tugas maupun masalah yang banyak dan rumit, sesekali saya menghindar dan merasa malas, suatu kejenuhan bukanlah suatu alasan. Seandainya saya bersyukur atas semua karunia "kuliah" ini dan berusaha menyelesaikannya satu per satu, pastilah kejenuhan itu tidak akan datang. Tiap ada masalah sosial dan interaksi dengan teman kuliah, suatu penghindaran dan pura-pura tidak tahu bukanlah suatu tindakan yang tepat. Seandainya saya lebih bersyukur karena mendapat teman-teman baru dan mendapat kesempatan bagaimana cara menghadapi masyarakat kecil, rasa malas itu tidak akan menghampiri.

Dan jika kita bersyukur masih bisa menginjak bangku kuliah dan mampu mengadakan aktivitas dalam kehidupan, rasa putus asa akan hilang dengan perlahan atas izin-Nya dengan seluruh upaya kita mendekatkan diri kepada-Nya.

Mungkin sedikit pikiran negatif: malas, jenuh, bosan, dan kawan-kawannya, bukanlah musuh-musuh yang tiba-tiba datang sendirinya. Dan sebenarnya, musuh dalam bentuk yang tidak disadari adalah setan-setan dalam diri kita yang memunculkan pikiran-pikiran tidak 'nggenah' itu. Maka, kesimpulannya musuh terbesar dalam menjalani hidup sebenarnya tidak selalu dari luar diri. Tapi, batu sandungan yang sepertinya kecil dan tidak terlihat yang kita keluarkan sendirilah yang sebenarnya menjadi musuh besar kita, dalam mengemban semua amanah yang ada, yang paling utama adalah sebagai khalifatu lil ardl dan tugas-tugas lainnya.

Mungkin hanya itu saja dan baru sesedikit itulah tulisan yang diketik (lewat ponsel, karena laptop sedang rusak) ketika subuh ini karena inspirasi yang datang.

Sekian, semoga bermanfaat, mohon maaf jika terjadi salah kata, atas kelebihan, saya serahkan kepada yang Maha Kuasa, dan atas kekurangannya mohon maaf dan kritik sekaligus saran yang membangun.

Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(jangan lupa dikomen ya..)

Minggu, 12 September 2010

Mohon Maaf Lahir dan Batin (yang terlambat)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mungkin ada sekian juta salah kata terucap dari bibir
Mungkin ada sejumlah daun di bumi salah kelakuan dari tubuh
Mungkin ada sebanyak partikel Hidrogen di alam semesta ini gunjingan buruk dalam hati

Adalah suatu keinginan untuk menghapus itu semua
Adalah suatu kebutuhan untuk mengeringkan semua dosa
Adalah suatu kewajiban untuk meminta maaf untuk semua dosa itu

Meskipun terlambat menggapai momen hari fitri untuk bermaafan dalam blog ini
Namun, tiada kata terlambat untuk saling memaafkan di kemudian hari dan seterusnya...




sekian.. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sabtu, 03 Juli 2010

Masa SMA yang Terlalu berharga jika Tidak Dimanfaatkan

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sehubungan dengan telah berlalunya MPDK V (Malam Perpisahan dan Kesenian Smala) pukul 23.00 kemarin, rasanya sudah suatu kewajiban bagi saya untuk mengabadikan sekelumit kenangan masa putih abu-abu dalam blog ini. Namun, bagaimana pun juga, mungkin saya akan menyertakan banyak sensor yang ditandai dengan —piiiiiiiip—alias tidak boleh ditunjukkan kepada umum. Karena itu, mohon maaf sebesar-besarnya.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para panitia MPDK V 2010 yang membuat penutup saat-saat penuh kenangan yang tercurahkan di masa SMA ini.

Sebelumnya, jika boleh diutarakan sedikit, saya merasa diri saya termasuk orang “seperlunya” saja dalam menghadapi masa SMA ini.
Maksud saya adalah:
1.    Belajar seperlunya
2.    Berorganisasi seperlunya
Tapi, dalam ke-“seperlu”-an yang saya jalani, saya mencurahkan segala yang saya bisa dalam melakukan kegiatan “seperlunya” (bukan bermaksud congkak, tapi saya memang merasa seperti itu). Dalam tanda kutip belajar memang seharusnya seperlunya saja ketika ada kuis, presentasi,dan ujian esok hari.

Semua kegiatan yang seharusnya seorang SMALANE (sebutan bagi warga SMA Negeri 5 Surabaya) sudah saya usahakan sebaik-baiknya. Termasuk yang mulai dari paling awal sekali: MOS (Masa Orientasi Siswa) yang dinamakan PERISAI (Pekan Orientasi Almamater Lima) yang berisi —piiiiiiiip—.

Dalam PERISAI, sudah banyak drama emosi diri yang berulah dalam panggung selama tiga (3) hari, mulai dari air mata, solidaritas, mental, pengabdian, tujuan dan orientasi hidup, dan seterusnya. Bahkan, mulai dari PERISAI itu juga sudah muncul benih-benih pelajaran berharga yang bisa dituai di kemudian hari.

Lalu, berlanjut di pengenalan tentang sesuatu yang bernama “generasi”. Jika di SMALA (sebutan SMA Negeri 5 Surabaya), adalah suatu keluarga besar dari tahun ke tahun,generasi adalah versi kecil keluarga SMALA yang diwakilkan dalam kelas yang ditempati seorang SMALANE per nomor kelas (misal: kelas X-1, maka smalane X-1 tahun sebelumnya merupakan generasi X-1 yang sekarang dan bermula dari X-1 yang paling tua berlanjut hingga X-1 yang paling muda). Sehingga,sangat eratlah rasa kekeluargaan yang tercipta antarangkatan di SMALA ini. Terlebih lagi, mereka yang tergabung dalam satu (1) ruang kelas, akan tercipta ikatan yang sangat berharga melampaui rasa sosial antarindividu biasa.

Dalam lingkungan kelas tersebut, selain samudra waktu yang sudah diarungi bersama-sama, perbukitan kegiatan yang terjal dan berliku menambah ilmu masing-masing SMALANE dalam kacamatanya sendiri-sendiri. Entah itu ilmu secara harfiah (ilmu pelajaran), maupun ilmu kehidupan.

Banyak sekali cobaan yang suatu kelas mungkin jalani. Tapi, ada beberapa hal yang pasti. Yaitu CHEERLIAR (aksi cheerleader dengan peserta laki-laki semua), TG (Temu Generasi), BUBER-GEN atau Buka Bersama Generasi, kegiatan belajar mengajar (ini sesuatu yang wajib [jika tidak, bukan sekolah namanya]), UAS (Ujian Akhir Sekolah), dan lain sebagainya.

Setelah penjelasan umum di atas, saatnya beralih ke pengalaman saya (namanya juga blog, bolehlah berbuku harian sedikit).

PERISAI 2007
—piiiiiiiip—

SEPURONE/SPADE
Nama kelas saya ketika kelas X adalah SEPURONE dan kelas XI dan XII adalah SPADE. Beranggotakan
(postingan sebelumnya)

TG ANGELS
(ANGELS --> Anak Generasi Loro Smala)
Bertempat di rumah Osha, cukup ramai dengan angkatan kelas XI dan XII, tapi alumni yang datang hanya satu (1)

PAS-Q V (Paski Lima)
Sub Seksi (istilah ekstra kurikuler di SMALA) yang paling seru yang pernah saya ikuti (Lha iya, Cuma ini saja yang saya ikuti) karena banyak kejadian dramatis dan penuh perjuangan di sini. —piiiiiiiip—

ANGKATAN 16 PAS-Q V
(postingan sebelumnya)

BUBER ANGELS
Bertempat di rumah Dila, sangat ramai sampai-sampai meluber ke teras dan duduk saling membelakangi. Alumni yang datang banyak.

Tugas-Tugas yang Berkesan
•    Tugas membuat ulasan tentang WAYANG. Bersama Adin, Galuh, Debrina, Vitrho, dan Bela, bekerja keras membuat berlembar-lembar profil wayang yang ada di jagad Mahabarata
•    Tugas FLASH, tiga (3) hari 3 malam sampai berkantung mata. Bersama Adin, Dila, Osha.
•    Tugas SENAM, bersama tim ganjil yang latihannya selalu amburadul tapi berhasil.
•    Tugas BIOLOGI, presentasi per minggu, selalu panik sebelum presentasi siap.
Dan seterusnya...

Kepanitiaan S2EC 2008/2009
Kepanitiaan pertama dan jatuh cinta pada peran PK (Pengawas Kelas). Rasa berpanitia yang rasanya seperti memeras keringat tapi membuahkan kebahagiaan. Jatuh dari kursi dan ditertawakan seruangan (hanya di S2EC 2009).

Dan Kepanitiaan lain (khususnya di SKI)
Saking banyaknya pekerjaan kepanitiaan setengah-setengah karena tidak dibicarakan dengan orang tua dan kejadian-kejadian mendadak lain. Hanya 1 kepanitiaan yang saya bekerja penuh (MUSLIM-MUSLIMAH 2009) sebagai sie konsumsi. Lainnya bisa dibayangkan saja.

SIMKOL 2009
Sim Kolektif 2009: bersama Ratih Puspa Rahmani (sebagai ketua) dan kawan-kawan lainnya, bersusah payah pergi ke COLOMBO,dan menghebohkan karena pesertanya yang cukup banyak dan cukup melelahkan karena menunggu berjam-jam untuk tes dan foto. Bersama Pak Djoko sebagai pembina. (terima kasih,Pak!)

APK (Aspirasi Perwakilan Kelas)
Dengan Cicik sebagai ketua fraksi angkatan saya. Berfungsi sebagai penyetuju atau penolak kegiatan di SMALA ini. —piiiiiiiip—

Apa lagi ya???

Sudahlah... Mungkin cukup sekian buku harian saya yang tidak penting ini. Hanya sebagai momentum saja. Karena semua ini terlalu berharga untuk dilupakan. Oh,ya mungkin bagi kawan-kawan yang tidak tersebut, mohon maaf ya. Mungkin ingatan saya masih mampu menampungnya dan saya tidak tahu bagaimana caranya menuliskannya

Kembali ke topik: Masa SMA yang Terlalu Berharga Jika Tidak Dimanfaatkan

Di masa SMA ini saya mempelajari banyak hal. Mulai dari:
1.    Kenali diri sendiri.
2.     Mengenali orang lain dan sifat yang penting dari mereka, pelajari bagaimana bersikap terhadap sifat-sifat itu.
3.    Berorganisasi itu penting.
(nomor 2 dan 3 saling berkaitan lho)
4.    Cita-cita itu harus dicapai. Tidak ada masa depan tanpa cita-cita (tapi jangan sampai cita-cita menjadi orang menderita)
5.    Keluhuran budi pekerti tetap nomor satu.
Akhirnya.... maafkan saya jika terlalu panjang.

Mohon maaf jika terjadi salah-salah kata, terima kasih.

Sekian,Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....

PAS-Q V angkatan 16

Angkatan yang terbentuk ketika murid baru masuk sebagai anggota PAS-Q V (angkatan saya  16) semoga kompak selalu

(Berurutan per  kelas)
Eben Amadangi Gratias Putra (seperti disebut di postingan SEPURONE ) X/XI/XII-2
Galuh Puspa Ayu Wigansari (seperti disebut di postingan SEPURONE) X/XI/XII-2
Hani Ramadhan (saya) X/XI/XII-2
Tarosa Yodia Urolita (seperti disebut di postingan SEPURONE)X/XI/XII-2
Arifah Diar Yulistianiska (Ipah, si kecil nan manis) X/XI/XII-3)
Chintya Putri Damayanti (Chinty, sering berperan sebagai sie Acara, wakil Sekretaris I OSIS) X/XI/XII-3
Dhika Wahyu Octaviani (Dhika, sering berperan sebagai sie Humas, sekretaris PAS-Q V tahun 2009/2010) X/XI/XII-3
Maulvi Rizka Adzimatullah (Moly, ketua PAS-Q V tahun 2009/2010) X/XI/XII-3
Mutiara Mahardhika Robiatul Barqyah (Muti,wakil ketua PAS-Q V 2009/2010) X/XI/XII-3
Anggitya Larasaty (Anggyt, seorang yang dapat dipercaya sebagai teman maupun pembawa amanah) X/XI/XII-4
Azmi Karima (Rima, wanita bijak si Ketua I MPK 2008/2009) X/XI/XII-4
Cicik Setyo Budi Utami (Cicik,koleris sejati, ketua fraksi APK angkatan saya) X/XI/XII-4
Dimas Budisatyo Yudho Prakoso (Dimbud, terkadang menyebalkan ditambah sifat kolerisnya) X-4/XI-S/XII-S
Alifia Nurrizky Virrayani (Vira, terkadang mencerna informasi membutuhkan waktu –maaf,Vir--) X/XI/XII-5
Ema Fitriana (Ema, pecinta Paduan Suara) X/XI/XII-6
Ibnu Wahyu Cahyono (Ibnu, tipe mengejutkan dan tidak bisa ditebak, ngengkelan) X/XI/XII-6
Aisyah Fitri (Ais, Si kerudung juga, Bendahara PAS-Q V 2009/2010, paketan sama Eja’) X/XI/XII-7
Renatha Yoga Agung Prasetya (Yoga/Rence, Anggota SKI juga) X/XI/XII-7
Reza Claudia Istanto (Eja’, paketnya Ais, Wakil Bendahara I OSIS 2008/2009) X/XI/XII-7
Vladimir Vilardo (Vlad, hobi: ngeluyur ke luar negeri) X/XI/XII-8
Birgita Gloria Tombokan (Birgit/Tomby/Mbok, Si Gendut, suara bagus, hampir selalu berlebihan) X/XI/XII-9
Emir Sukma Ahaddi (Emir, Si Tinggi, Pengawas 2 MPK 2008/2009) X/XI/XII-9
Himas Muhammady Imamullah El Hakim (Himen/Himas, si aktif, Sekbid 2 OSIS 2008/2009) X-9/XI-S/XII-IS

SEPURONE/SPADE

Nama kelas saya ketika kelas X adalah SEPURONE dan kelas XI dan XII adalah SPADE. Beranggotakan

Alfi Zulfiandra Kresna (Alfi, sudah hengkang ke kelas Akselerasi)

Andityo Sidohutomo (Dindit, atlet renang)

Christy Rudita Rivanti (Christy, teman sebangku saya, suara bagus dan pintar bernyanyi, unusual violet-lovers)

Debrina Puspitarini (Debrina,sering dicurhatin teman-teman sekelas)

Dinullah Bayu Ibrahim (Adin, teman dekat rumah, pintarnya subhanallah)

Eben Amadangi Gratias Putra (Eben, teman PAS-Q V (nanti saya jelaskan), badannya besar dan tingkahnya usil)

Edwin Suharlim (Edwin, Papanya terkenal lho, terkadang apatis, sungguh rajin dan pandai jika diperlukan, sepertinya punya affair dengan Dena)

Fadhilah Rahmah Pratiwi (Dila, si kecil, jago desain dan hobi fotografi, makannya astaghfirullah lama –maaf, Dil--)

Galuh Puspa Ayu Wigansari (Galuh, rajin, pintar, sering memberi tumpangan saya –terima kasih, Luuh)

Gilang Ramadhan (Botes, nama belakangnya sama dengan nama saya, baik hati dan tidak sombong)

Glabela Christiana Pandango (Bela, juga sering memberi tumpangan saya, pintar, baik hati, terkadang mengejutkan)

Hani Ramadhan (ini saya)

Ivan Andre Hartono (juga hengkang ke kelas akselerasi juga)

Katarina Dian Andini (Kate (bacanya Ka-Te bukan Ket), sering saya ajak diskusi tentang isu-isu sosial yang ada, walaupun wajahnya memancarkan kemalasan, tapi dia paling rajin)

Mirban Aulia Rahman Singobanga (Mirban, kadang-kadang menyebalkan tapi sangat kritis dan peduli sesama, sering memberi tips tentang going outdoor, pecinta alam sejati)

Mohammad Vitrho Herrinsyah Putra (Vitrho/Vito, sedikit egois dan suka berorganisasi -katanya- , pecinta futsal, juga sering memberi tumpangan kepada saya)

Muhammad Aulia Nurrahman (Rohman, punya kembaran lho, entah bagaimana seperti tidak kelihatan, tapi, seorang ketua kelas yang bertanggung jawab)

Nadia Citranti Andarini (Dena, si manis dari Al-Hikmah, gambarannya selalu kelinci ala Happy Tree Friends, sering terpergok ada affair dengan Edwin)

Nail Abdurrahman Bawazier (Nail, keturunan Arab yang menggilai futsal dan sepak bola, tipe easy-going­)

Nurafiatullah (Afik, ahli fisika, jago olahraga, ada penggemarnya)

Qori Emilia (Qori, salah satu siswi berkerudung, jika sedang panik terkadang menyebalkan)

Radityo Bagus Wicaksono (Bagus/Sinyo, termasuk salah satu yang bercita-cita menjadi dokter, aktif bertanya)

Reza Tirsadi Librawan (Reza, salah satu trendsetter di kelas, sering menancapkan kabel proyektor ke laptopnya untuk nonton bareng sekelas)

Tarosa Yodia Urolita (Osha, teman sebangku saya, sama panikannya seperti Qori, jika tertawa selalu terdengar sampai sekelas)

Vito Adivta Nugraha (Vito, penggila matematika, juga seorang ketua kelas yang bertanggung jawab yang suka menyuruh Botes sebagai wakil jika dia sedang malas)

Wildan Anugrah Erlangga (Wildan, berbadan gendut, kata-katanya sering pedas)

Yusnia Kurniasih (Yusi, seperti “Nyonya Besar” di kelas, sepertinya jika tidak ada Yusi ada yang tidak rapi)

Zainurrahman Kurnia Putra (Inunk, bercita-cita menjadi dokter juga, baik hati dan tidak sombong)

Muhammad Fauzan Aristyo (Ojan,trendsetter rubik di SMALA, si kecil)

Laila Chudory (Leli, speaker yang cukup berisik, murid pindahan)